
Datnioididae, Malaysia
Datz Indo
Datnioides microlepis
Nama lain: Indo datz, Datz Kalimantan, Tiger fish Indonesia, Indonesian tiger perch, Datz Sumatra
- Suhu
- 20–28°C
- pH
- 5,5–7,5
- Kesadahan (dGH)
- 2–15
- Ukuran
- 50 cm
- Akuarium minimum
- 200 cm
- Tingkat kesulitan
- Sedang 5/8
Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-10-30.
Info singkat
Indonesian tiger perch, Datnioides microlepis, adalah ikan tiger perch berukuran besar dari Semenanjung Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan. Tubuhnya punya 6–7 belang gelap yang lebar dan sisik yang kecil. Ikan ini hanya hidup di sungai dataran rendah yang besar dan dalam, dan bisa mencapai 50 cm SL. Anakannya bisa hidup berkelompok, tetapi ikan dewasa tidak suka bergerombol dan bersikap agresif terhadap sesama jenis maupun ikan lain yang bentuk tubuhnya mirip.
Menurut Seriously Fish
Butuh akuarium seberapa besar?
Hanya cocok untuk akuarium publik atau akuarium pribadi yang ukurannya sangat besar.
Menurut Seriously Fish
Kondisi air seperti apa?
Menurut Seriously Fish

Bagaimana cara merawatnya?
Anakan dan ikan remaja sebaiknya dipelihara di akuarium yang dekorasinya lengkap dan ditanami tanaman air, dengan akar serta cabang kayu. Ikan yang lebih besar relatif tidak rewel, tetapi tetap senang kalau ada peneduh di permukaan, berupa tanaman apung, tanaman yang menjuntai ke air, atau cabang kayu. Tidak perlu menambahkan garam laut di tahap umur mana pun.
Datnioides spp. biasanya menghasilkan banyak kotoran, jadi filter eksternal berukuran besar wajib digunakan. Kalau bisa, pilih filter yang sudah dilengkapi pemanas, atau setidaknya pasang pelindung pemanas yang kokoh, karena ikan dewasa diketahui bisa merusak peralatan yang terendam. Sistem sump juga cocok, dan pemanasnya bisa ditaruh di dalam sump.
Ikan ini tidak tahan perjalanan jauh dan bisa sulit distabilkan setelah diimpor. Sering kali ikan menolak makan dan terus menampakkan pola warna yang menandakan stres, meskipun pola ini juga muncul pada malam hari. Pada D. microlepis, belang gelap di tubuh memudar sehingga yang masih terlihat jelas hanya tepiannya atau sederet bintik, sementara sebagian besar tubuh berwarna keabu-abuan, kecokelatan, atau kehitaman.
Menurut Seriously Fish
Diberi pakan apa?
Predator yang efisien dan sebagian besar memangsa ikan, dengan mulut yang bisa dijulurkan jauh ke depan. Di akuarium, anakan bisa diberi larva chironomid (cacing darah), cacing tanah kecil, udang cincang, dan sejenisnya, sedangkan ikan dewasa mau menerima potongan daging ikan, udang utuh, kerang, udang sungai hidup, cacing tanah yang lebih besar, dan lain-lain. Ikan yang lebih tua tidak perlu diberi makan setiap hari; 2–3 kali seminggu sudah cukup.
Jenis ini sebaiknya tidak diberi daging mamalia atau unggas seperti jantung sapi atau ayam, karena sebagian lemak di dalamnya tidak bisa dicerna dengan baik oleh ikan dan dapat menyebabkan penimbunan lemak berlebih, bahkan kerusakan organ. Begitu juga, tidak ada manfaatnya memberi ikan umpan hidup seperti ikan beranak (livebearer) atau ikan mas koki kecil, karena berisiko membawa parasit atau penyakit dan umumnya nilai gizinya tidak tinggi kecuali sudah dikondisikan dengan benar sebelumnya.
Menurut Seriously Fish
Bisa dicampur dengan ikan apa?
Bisa dipelihara bersama ikan yang ukurannya serupa kalau ruangnya cukup, tetapi bisa merasa terintimidasi oleh jenis yang teritorial atau suka bersaing.
Meskipun anakan bisa hidup berkelompok, ikan dewasa tidak suka bergerombol dan cenderung agresif terhadap sesama jenis maupun ikan lain yang bentuk tubuhnya mirip. Sebaiknya dipelihara sendirian atau dalam kelompok berisi 5 ekor atau lebih.
Menurut Seriously Fish

Bagaimana membedakan jantan dan betina?
Belum diketahui.
Menurut Seriously Fish
Bagaimana cara berkembang biaknya?
Belum pernah tercatat berkembang biak di akuarium. Pengamatan nelayan setempat di Sungai Kapuas menunjukkan bahwa ikan ini tidak bermigrasi, memijah pada bulan April dan Mei, dan tidak menjaga anaknya.
Menurut Seriously Fish
Di mana habitat aslinya?
Sebarannya tampaknya terbatas di Semenanjung Malaya dan Indonesia bagian barat. Ikan ini tercatat di sistem Sungai Perak dan Selangor di Semenanjung Malaysia, daerah aliran sungai Batang Hari dan Musi di Sumatra, serta lembah Sungai Kapuas di Kalimantan. Belum jelas apakah sebarannya sampai ke semenanjung Thailand, sedangkan catatan dari lembah Sungai Chao Phraya dan Mekong sebenarnya merujuk pada kerabat satu genusnya, D. pulcher.
Lokasi tipenya adalah 'Kapuas River, Pontianak, Borneo, Indonesia'.
Menurut Seriously Fish

Habitat alami
Ikan ini hanya menghuni sungai air tawar yang besar dan dalam, umumnya di dataran rendah, dan diperkirakan tidak masuk ke perairan payau. Ikan ini pernah ditangkap di hutan yang tergenang saat musim hujan tahunan.
Menurut Seriously Fish
Catatan
Dalam literatur akuarium, jenis ini juga disebut 'fine scaled tiger fish', 'Indonesian tiger fish' (atau 'IT'), 'Sumatran tiger fish', 'Indo datnoid', 'Indo dat', dan 'false Siamese tiger fish'. Nama umum 'tiger fish' juga dipakai untuk genus alestid Afrika, Hydrocynus, sehingga Roberts dan Kottelat (1994) mengusulkan nama 'tiger perch' yang lebih tepat.
D. microlepis dibedakan dari semua kerabat satu genusnya melalui kombinasi ciri berikut: ada 6–7 belang gelap lebar di tubuh, dengan belang pertama biasanya menyambung tanpa putus melintasi tutup insang, ke daerah dada, dan melintasi sisi bawah tubuh (dibandingkan 4–5 belang lebar pada D. pulcher; 4–6 belang lebar dengan tepi kabur pada D. campbelli; sampai 7 belang, kadang dengan 1–4 belang lebih kecil di antaranya pada D. polota; 4 belang yang relatif lebih tipis, belang pertama kadang tidak menyambung di tutup insang dan biasanya tidak sampai ke daerah dada atau sisi bawah tubuh, kadang dengan satu belang tambahan yang tidak utuh pada D. undecimradiatus); ada tanda hitam yang jelas tepat di depan pangkal sirip perut (dibandingkan tidak ada tanda seperti itu pada D. undecimradiatus); sisik tubuh kecil, 70–100 pada deret lateral (dibandingkan besar, 40–60 pada deret lateral pada D. polota dan D. campbelli); profil di depan sirip punggung hampir lurus (dibandingkan jelas cekung pada D. polota dan D. campbelli).
Masih ada perbedaan lain pada pola warna dan ciri meristik, dan dalam praktiknya D. microlepis sulit tertukar dengan jenis lain selain D. pulcher; keduanya dianggap satu spesies sebelum tahun 1998. Pada prinsipnya keduanya bisa dibedakan dari jumlah belang gelap di tubuh, tetapi pengamatan ini tampaknya hanya didasarkan pada spesimen dari Kalimantan, sedangkan pola warna populasi Sumatra dan Malaysia belum didokumentasikan. Ikan dewasa biasanya bisa dibedakan dari warna dasar tubuhnya, yang cenderung cokelat kejinggaan pada D. pulcher dan abu-abu kekuningan kusam pada D. microlepis.
Dalam perdagangan ikan hias, D. microlepis adalah tiger perch yang paling mudah didapat dan kadang dijual sebagai D. pulcher supaya harganya lebih tinggi, karena D. pulcher dianggap sangat terancam punah (critically endangered) di alam dan mungkin sudah punah di Thailand. Kedua jenis ini juga ditangkap untuk dikonsumsi.
Mengikuti Kottelat (2001), genus Datnioides dicirikan oleh kombinasi ciri berikut: jari-jari keras kedua sirip dubur lebih panjang daripada jari-jari pertama dan ketiga; ada gigi halus dan 2–3 duri tumpul di tepi tutup insang; 50 sisik gurat sisi atau lebih; pola warna berbelang.
Pada tahun 1990-an anggota genus ini dimasukkan ke genus Coius, tetapi Coius sekarang dianggap sinonim dari genus Anabas (Kottelat, 2000). Dengan demikian nama famili lama Coiidae merupakan sinonim dari Anabantidae, dan spesies Datnioides membentuk famili monotipik Datnioididae. Dahulu genus ini juga pernah dimasukkan ke famili tripletail laut, Lobotidae, dan analisis filogenetik awal menunjukkan adanya hubungan kekerabatan yang dekat antara kedua kelompok ini.
Menurut Seriously Fish
Referensi
- Tan, H. H. and M. Kottelat (2009). The fishes of the Batang Hari drainage, Sumatra, with description of six new species. Ichthyological Exploration of Freshwaters 20(1), 13-69
- Kottelat, M. (2000). Notes on taxonomy, nomenclature and distribution of some fishes of Laos. Journal of South Asian Natural History 5(1), 83-90
- Kottelat, M. (2013). The fishes of the inland waters of southeast Asia: a catalogue and core bibiography of the fishes known to occur in freshwaters, mangroves and estuaries. The Raffles Bulletin of Zoology Supplement 27, 1-663
- Hashim, Z. H., R. Y. Zainuddin, A. S. R. Md. Shah, S. A. M. Sah, M. S. Mohammad, and M. Mansor (2012). Fish Checklist of Perak River, Malaysia. Check List 8(3), 408-413
- Kottelat, M. and E. Widjanarti (2005). The fishes of Danau Sentarum National Park and the Kapuas Lakes area, Kalimantan Barat, Indonesia. Raffles Bulletin of Zoology Supplement 13, 139-173
- Rainboth, W. J. (1996). FAO species identification field guide for fishery purposes. Fishes of the Cambodian Mekong. Rome, FAO, 1-265
- Roberts, T. R. (1989). The freshwater fishes of western Borneo (Kalimantan Barat, Indonesia). Memoirs of the California Academy of Sciences 14, 1-210
- Bleeker, P. (1854). Zevende bijdrage tot de kennis der ichthyologische fauna van Borneo. Zoetwatervisschen van Sambas, Pontianak en Pangaron. Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indië v. 5, 427-462
- Roberts, T. R. and M. Kottelat (1994). The Indo-Pacific tigerperches, with a new species from the Mekong basin (Pisces: Coiidae). Ichthyological Exploration of Freshwaters 5(3), 257-266
- Kottelat, M. (2000). The type species of the genus-group names Coius Hamilton, 1822 and Datnia Cuvier, 1829 and the type-genus of the family-group name Datnioididae Bleeker, 1858. Journal of South Asian Natural History 5(1), 91-94
- Kottelat, M. (2001). Fishes of Laos. WHT Publications, Colombo, 1-198
Menurut Seriously Fish