Osphronemidae, Indonesia
Licorice gourami linkei
Parosphromenus linkei
Nama lain: Moonspot licorice gourami, Linke's licorice gourami, Paro linkei, Liquorice gourami
- Suhu
- 22–28°C
- pH
- 3–6,5
- Akuarium minimum
- 40 cm
- Tingkat kesulitanSumber-sumber berbeda pendapat
- Sedang
Tabel data
Lihat tabel lengkap
- Suhu
- 22–28°C
- pH
- 3–6,5
- Ukuran
- 3,5 cm
- Akuarium minimum
- 40 cm
- Tingkat kesulitanSumber-sumber berbeda pendapat
Sedang 4/8 Kenapa?
Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:
- RuangMudahakuarium mulai 40 cm, ikan sepanjang 3,5 cm
- AirSulitair asam, air lunak · pH 3–6,5, 1–4 dGH
- SuhuMudah22–28°C
Tingkat kesulitan 4/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung
Sumber dan tingkat keandalan
- Suhu
- Seriously Fish, BW Aquatics · setingkat
- pH
Tiap sumber mencantumkan angka berbeda
- BW Aquatics: 3,5–6,5
- Seriously Fish: 3–6,5
- Kesadahan (dGH)
- Seriously Fish, BW Aquatics · setingkat
- Ukuran
- Seriously Fish, BW Aquatics · setingkat
- Akuarium minimum
- Seriously Fish
- Tingkat kesulitan
Tiap sumber mencantumkan angka berbeda
- BW Aquatics: 8
- Seriously Fish: 4
Diterjemahkan dan dirangkum dari BW Aquatics, Seriously Fish. Diperbarui 2026-11-06.
Info singkat
Daftar Merah IUCN: Genting/Endangered (sangat terancam akibat pengeringan rawa gambut, penggundulan hutan, dan alih fungsi lahan untuk pertanian).
Catatan penting: Ikan ini hasil tangkapan alam, sangat terspesialisasi, dan terancam punah. Harap berhati-hati.
Parosphromenus linkei (“Linke’s Licorice Gourami” / “Moonspot Licorice Gourami”) adalah ikan labirin air hitam yang khas, berasal dari Kalimantan Tengah, Kalimantan (Borneo) bagian Indonesia. Tubuhnya ramping, warnanya bervariasi dari krem muda dan perunggu hingga cokelat tua atau merah marun. Di bagian tengah setiap sisi tubuh biasanya terdapat dua, kadang tiga, bercak hitam besar yang berurutan. Bercak gelap ini dilapisi kilau hijau-biru yang memantulkan cahaya, yang bisa tampak toska, biru metalik, hijau, atau keperakan tergantung pencahayaan dan sudut pandang. Beberapa populasi juga memiliki banyak bintik kecil merah atau merah-oranye di sekitar bercak tersebut.
Jantan maupun betina memiliki deretan bintik biru-hijau berkilau di sirip punggung, sirip dubur, dan sirip ekor. Sirip ekornya berbentuk seperti mata tombak, dengan jari-jari tengah yang memanjang menjadi filamen yang khas.
Dikenal beberapa varian warna geografis, antara lain varian yang dominan keperakan, cokelat, dan kemerahan. Warnanya sangat bervariasi tergantung populasi, jenis kelamin, umur, suasana hati, kondisi saat pacaran, pencahayaan, dan kimia air.
Ukuran: Ikan dewasa biasanya mencapai panjang standar sekitar 3–3,5 cm. Individu besar yang sudah matang bisa mendekati 4,5 cm panjang total tubuh. Jika filamen ekor yang memanjang ikut dihitung, jantan yang istimewa bisa mencapai hampir 5 cm secara keseluruhan.1
Parosphromenus linkei adalah licorice gourami dari Provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan bagian Indonesia, yang dideskripsikan dari anak-anak sungai dekat Sukamara. Konon sedikit lebih mudah dipelihara dibanding kebanyakan kerabat segenusnya, dan pernah diperdagangkan dengan nama 'moonspot licorice gourami'. Jantan memiliki satu hingga tiga bercak hitam pada garis tengah tubuh dan sirip ekor berbentuk mata tombak, dan populasi yang warnanya berbeda sebaiknya dipelihara terpisah. Spesies ini tampaknya terancam punah.2
Layak dibeli?
Meskipun P. linkei kadang disebut sebagai salah satu anggota genusnya yang lebih mudah beradaptasi, hal ini relatif. Ikan ini tetap spesies air hitam tingkat lanjut yang tidak boleh dimasukkan ke air yang sadah, basa, tidak stabil, atau yang secara biologis belum matang.1

Butuh akuarium seberapa besar?
Panjang standar: 3,5 cm SL. Alas akuarium: 40 × 20 cm. Volume: ~16 liter.
Akuarium dengan ukuran alas 40 × 20 cm atau yang setara sudah cukup untuk sepasang ikan.2
Kondisi air seperti apa?
BW Aquatics mencatat angka yang berbeda dari tabel data: pH 3,5–6,5 (tabel: 3–6,5).
Air yang sangat lunak dan asam mutlak diperlukan untuk ikan hasil tangkapan alam.
Untuk pemijahan, lebih disukai pH sekitar 4,0–5,0 dengan kesadahan dan konduktivitas yang sangat rendah. Biasanya diperlukan air reverse osmosis (RO) atau air lain yang kandungan mineralnya sama rendahnya.
Suhu di bagian bawah hingga tengah kisaran ini cocok untuk pemeliharaan sehari-hari. Kenaikan suhu sementara bisa mendorong pemijahan, tetapi kestabilan jangka panjang lebih penting daripada mempertahankan suhu tertentu.1
Bagaimana cara merawatnya?
Siapkan akuarium dengan serasah daun, buah alder (alder cone), kayu apung (driftwood), dan bahan botani lain yang sesuai yang melepaskan tanin dan zat humat. Sediakan cahaya redup, tempat berlindung yang rapat, beberapa gua kecil, dan arus air yang sangat lembut.
Lakukan ganti air dalam jumlah kecil secara rutin, dengan air pengganti yang suhu, pH, dan TDS-nya sangat mirip. Hindari ganti air dalam jumlah besar atau tidak teratur. Jangan pernah mencoba menurunkan pH secara cepat. Siapkan kimia air yang dibutuhkan sebelum ikan dimasukkan, dan pantau pH dengan cermat ketika KH hampir nol.
Gunakan tutup akuarium yang rapat untuk menahan udara hangat dan lembap di atas permukaan air dan mencegah ikan melompat.1
Bisa dipelihara di akuarium yang didekorasi lengkap, meskipun banyak peternak lebih memilih tanpa substrat agar perawatannya lebih mudah.
Akar dan cabang kayu apung bisa digunakan dan ditata sedemikian rupa sehingga terbentuk beberapa titik teduh, dan pot tanah liat, potongan pipa, atau bahkan wadah plastik bekas film kamera bisa ditambahkan sebagai tempat berlindung tambahan dan calon tempat bertelur.
Penambahan serasah daun kering makin menonjolkan nuansa alami, dan selain memberi tempat berlindung tambahan bagi ikan, juga mendorong tumbuhnya koloni mikroba seiring proses pembusukan.
Koloni ini bisa menjadi sumber pakan sekunder yang berharga bagi burayak, dan tanin serta zat kimia lain yang dilepaskan daun yang membusuk juga dianggap bermanfaat bagi ikan dari lingkungan air hitam. Buah alder juga bisa digunakan untuk tujuan yang sama.
Seperti anggota genus lainnya, spesies ini paling baik dipelihara dengan cahaya yang cukup redup. Anda bisa menambahkan tanaman air yang mampu bertahan dalam kondisi seperti itu, misalnya Microsorum, Taxiphyllum, atau Cryptocoryne spp., sementara tanaman apung, terutama Ceratopteris spp., juga berguna.
Filtrasi tidak perlu terlalu kuat; filter spons bertenaga aerator atau sejenisnya sudah memadai, dan karena spesies ini cenderung dipelihara berpasangan (lihat 'Perilaku dan Kecocokan'), filter mungkin sama sekali tidak diperlukan asalkan ikan tidak diberi pakan berlebihan dan perawatannya ketat.
Perawatan tersebut harus mencakup ganti air kecil setiap minggu sebanyak 5–10% volume akuarium; ganti air yang tidak teratur atau dalam jumlah besar tidak disarankan.
Semua Parosphromenus spp. membutuhkan kondisi asam dengan kesadahan karbonat nyaris nol dan kesadahan umum (GH) sangat rendah, sehingga mungkin perlu menggunakan unit reverse osmosis (RO) atau cara lain untuk mendapatkan air lunak, dan air ini bisa diasamkan lebih lanjut dengan asam fosfat atau sejenisnya bila perlu.
Tidak perlu menggunakan gambut alami, yang pengambilannya tidak berkelanjutan dan merusak lingkungan.
Sudah jelas bahwa ikan ini sensitif terhadap fluktuasi limbah organik dan tidak boleh dimasukkan ke akuarium yang secara biologis belum matang.2

Peralatan apa yang dibutuhkan?
Filter spons bertenaga aerator adalah pilihan ideal. Sediakan cahaya redup dan arus air yang sangat lembut. Gunakan tutup akuarium yang rapat.1
Diberi pakan apa?
Mikropredator terspesialisasi yang di alam memakan invertebrata air yang sangat kecil. Berikan pakan yang bervariasi, antara lain:
- Baby artemia hidup
- Moina dan kutu air (daphnia) kecil
- Cacing grindal
- Microworm
- Jentik nyamuk kecil
- Cyclops dan krustasea hidup kecil lainnya
Pakan beku berukuran kecil kadang diterima, tetapi tidak bisa dianggap sebagai pengganti penuh pakan hidup. Sebagian besar ikan hasil tangkapan alam menolak pakan serpihan, pelet, dan pakan kering lainnya.
Beri pakan dalam porsi kecil sekali atau dua kali sehari, dan pastikan kedua ikan mendapat cukup makanan.1
Spesies ini terutama adalah mikropredator yang memakan invertebrata air yang sangat kecil, sehingga di akuarium harus diberi berbagai pakan hidup berukuran kecil seperti nauplii artemia, Daphnia, Moina, jentik nyamuk, microworm, dan sebagainya.
Pakan beku kadang diterima tetapi dianggap kurang bergizi, sedangkan sebagian besar pakan kering biasanya ditolak.2
Bisa dicampur dengan ikan apa?
Paling baik dipelihara sepasang (jantan dan betina) di akuarium khusus spesies. Kelompok campuran jantan dan betina bisa dipelihara di akuarium yang lebih besar dengan tata letak yang rapat, tetapi peternak umumnya lebih memilih pasangan karena sebagian burayak bisa bertahan hidup bersama induknya.
Jika memang perlu teman satu akuarium, pilih hanya ikan air hitam yang sangat kecil dan damai, seperti:
- Boraras
- Sundadanio
- Rasbora mungil lain yang pasif
Hindari ikan besar, spesies agresif, perenang aktif, dan ikan yang berebut makanan.
Jangan pernah mencampur spesies Parosphromenus yang berbeda. Betina dari spesies yang berkerabat dekat bisa sulit dibedakan, dan bisa terjadi hibridisasi. Populasi geografis P. linkei yang berbeda juga sebaiknya dipelihara terpisah bila informasi lokasinya tersedia.1
Tidak disarankan untuk akuarium komunitas umum, dengan alasan yang sudah disinggung sebelumnya.
Kebutuhan perawatan, sifat, dan terutama status konservasinya menuntut agar ikan ini dipelihara sendiri atau bersama sekelompok ikan cyprinid kecil yang damai seperti Boraras atau Sundadanio spp.
Demikian pula, Parosphromenus spp. yang berbeda tidak boleh dipelihara bersama karena betina dari banyak spesies sangat sulit dibedakan dan beberapa di antaranya jelas mampu kawin silang.
Kelompok campuran jantan dan betina bisa dipelihara jika diinginkan, meskipun sebagian besar peternak lebih memilih memeliharanya berpasangan karena sebagian burayak bisa bertahan hidup bersama induknya, tetapi biasanya tidak jika ada ikan dewasa lain.2
Teman satu akuarium
Hindari
Saran berdasarkan suhu, pH, ukuran, dan sifat tiap spesies. Cek kecocokan dengan spesies lain →

Bagaimana membedakan jantan dan betina?
Jantan dewasa umumnya lebih besar dan memiliki perpanjangan sirip punggung, sirip dubur, sirip perut, dan sirip ekor yang lebih panjang. Pada jantan dewasa, filamen ekornya bisa mendekati 1,5 cm. Betina tetap memiliki bercak samping dan bintik berkilau yang khas, tetapi siripnya biasanya lebih pendek dan perpanjangannya tidak sedramatis jantan.1
Jantan dewasa cenderung tumbuh lebih besar daripada betina dan memiliki sirip perut, sirip punggung, sirip dubur, dan sirip ekor yang lebih memanjang.
Jantan maupun betina juga mampu berganti warna dengan cepat tergantung suasana hati, dan warnanya menjadi jauh lebih pekat saat agresif, misalnya.2
Bagaimana cara berkembang biaknya?
Spesies pemijah gua dengan perawatan telur dan anak oleh jantan. Jantan membentuk wilayah di sekitar sebuah gua kecil, yang di alam biasanya terbentuk di dalam serasah daun. Tempat pemijahan buatan yang cocok antara lain gua keramik yang sempit, potongan pipa pendek, atau wadah kecil yang ditelungkupkan dengan pintu masuk yang sempit.
Saat pacaran, warna jantan menjadi makin pekat, ia membentangkan siripnya yang berbintik berkilau dan mengambil posisi hampir tegak dengan kepala menghadap ke bawah. Kemudian ia berusaha menggiring betina masuk ke gua pilihannya. Pasangan ini melepaskan telur dan sperma dalam serangkaian pelukan. Awalnya kedua induk berusaha menempelkan telur ke langit-langit gua. Jantan mungkin membangun sarang busa kecil yang sederhana untuk membantu menahan telur di tempatnya.
Setelah pemijahan berhasil, betina meninggalkan gua dan mungkin mempertahankan wilayah di sekitarnya, sementara jantan tetap di dalam untuk merawat telur dan larva. Telur biasanya menetas setelah sekitar 24–36 jam. Larva mulai bergerak sekitar empat hingga enam hari setelah menetas. Jantan memungut larva yang berkeliaran dan mengembalikannya ke sarang sampai larva benar-benar berenang bebas sekitar tiga hingga lima hari kemudian.
Pakan pertama bisa berupa:
- Paramecium
- Infusoria (mikroorganisme kecil)
- Rotifer
- Vinegar eel (Turbatrix aceti)
- Microworm (Panagrellus redivivus)
- Baby artemia (Artemia) yang baru menetas seiring burayak tumbuh
Di akuarium yang matang dengan tata letak yang rapat, sebagian burayak bisa dibesarkan bersama induknya.1
Biasanya memijah di gua-gua kecil atau di antara serasah daun dan membentuk ikatan pasangan sementara, dengan jantan sebagai satu-satunya yang merawat telur dan anak.
Parosphromenus spp. telah dikelompokkan secara arbitrer berdasarkan perilaku pacaran jantan, yang mengambil posisi 'kepala ke bawah', 'kepala ke atas', atau 'horizontal' tergantung spesiesnya.
P. linkei termasuk kelompok pertama, yang jumlah spesiesnya lebih banyak, di mana jantan mengambil posisi hampir tegak dengan kepala di bawah dan sirip terbentang saat memamerkan diri untuk kawin.
Jantan yang aktif secara seksual membentuk wilayah kecil yang di tengahnya terdapat sebuah gua kecil, yang di alam biasanya terbentuk dari serasah daun, meskipun di akuarium struktur apa pun yang sesuai bisa dipilih (lihat 'Perawatan').
Kemudian jantan berusaha memikat betina di sekitarnya agar masuk ke gua melalui pameran yang spektakuler seperti dijelaskan di atas.
Telur dan sperma dilepaskan bertahap dalam serangkaian pelukan, di mana jantan melilitkan tubuhnya ke tubuh betina.
Sebagian jantan membangun sarang busa sederhana di dalam gua sementara yang lain tidak, dan kadang dibangun sarang yang sangat besar, tetapi bagaimanapun juga jantan dan betina sama-sama berusaha menempelkan telur ke langit-langit gua setelah dilepaskan.
Pelukan pemijahan berikutnya bisa membuat telur terlepas dari langit-langit gua, dan induk yang belum berpengalaman kadang langsung memakannya, sehingga mungkin perlu sedikit kesabaran sampai ikan berhasil melakukannya dengan benar.
Setelah pemijahan berhasil, betina meninggalkan gua dan mempertahankan area di sekitarnya, sementara jantan merawat telur dan anak.
Masa inkubasi biasanya 24–36 jam, dan burayak mulai bergerak sekitar 4–6 hari kemudian.
Awalnya burayak berenang tanpa arah dan jantan akan memungut serta mengembalikannya ke 'sarang', tetapi setelah 3–5 hari tambahan burayak sudah benar-benar berenang bebas dan meninggalkan gua, dan pada saat itu perawatan oleh induk berakhir.
Burayak mungkin membutuhkan Paramecium, rotifer, atau sejenisnya sebagai pakan pertama, tetapi dengan cepat bisa menerima nauplii artemia dan sejenisnya.
Jika akuarium tertata dengan baik, burayak sering bisa dibesarkan bersama induknya, tetapi pada setup yang lebih sederhana sebaiknya dipindahkan dan dibesarkan di tempat lain.2
Di mana habitat aslinya?
Dideskripsikan dari 'Creeks in Pudukuali, 2 kilometers north of Sukamara and Tarantang, Kalimantan Tengah, Borneo', yang merujuk pada Desa Pudu di wilayah Sukamara, Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia (Kalimantan).
Spesies ini juga pernah dikoleksi sedikit lebih ke timur, dekat kota Pangkalan Bun yang lebih besar, meskipun batas penuh sebarannya masih belum jelas.
Varian kemerahan diperdagangkan sebagai P. sp. 'Seruyan', yang tampaknya merujuk pada Kabupaten Seruyan yang letaknya jauh lebih ke timur.
Beberapa populasi ini menunjukkan perbedaan fenotipe (lihat 'Catatan') dan mungkin mewakili garis keturunan genetik yang berbeda, sehingga sebaiknya dipelihara terpisah di akuarium.2

Habitat alami
Di alam, P. linkei menghuni kolam rawa gambut yang sangat teduh dan sungai air hitam yang alirannya lambat. Lingkungan ini berair sangat lunak dan asam, berwarna cokelat gelap akibat zat humat yang dilepaskan gambut, akar, dan serasah daun yang membusuk.1
Penghuni stenotipik hutan rawa gambut dan sungai air hitam di sekitarnya; di sebagian lokasi, spesies ini hidup simpatrik dengan kerabat segenusnya, P. opallios.
Di habitat yang belum terganggu, kanopi ranting yang rapat di atasnya membuat sangat sedikit cahaya yang menembus permukaan air, dan vegetasi di tepi perairan juga cenderung tumbuh lebat.
Airnya biasanya berwarna gelap oleh asam humat dan zat kimia lain yang dilepaskan bahan organik yang membusuk, kandungan mineral terlarutnya umumnya nyaris nol, dan pH bisa serendah 3,0 atau 4,0.
Sayangnya, di banyak tempat spesies ini kini hanya bertahan di sisa-sisa rawa gambut yang sudah banyak diubah, seperti parit irigasi dan saluran di pinggir jalan, dan tampaknya terancam punah.
Habitat di Sukamara, tempat spesies ini hidup simpatrik dengan kerabat segenusnya P. opallios, berupa sebuah kolam yang sebagian besar vegetasi di sekitarnya sudah dibuka untuk pertanian, dengan jembatan kayu untuk pejalan kaki dibangun melintasinya.2
Catatan
Spesies ini konon sedikit lebih mudah dipelihara dibanding sebagian besar kerabat segenusnya, sehingga menjadi pilihan yang disarankan bagi yang baru mulai memelihara Parosphromenus spp. di akuarium.
Spesies ini sesekali tersedia secara komersial dan dulu pernah diperdagangkan dengan nama 'moonspot licorice gourami'.
Setidaknya ada tiga varian warna: satu dengan pola warna keseluruhan keperakan, satu lagi lebih kecokelatan, dan yang ketiga memiliki deretan bintik kecil kemerahan yang tersebar di sekitar tanda gelap di setiap sisi tubuh.
Dalam deskripsi aslinya, spesies ini didiagnosis dengan ciri 1–3 bercak hitam mencolok di tengah garis tengah tubuh, sirip punggung, sirip ekor, dan sirip dubur berwarna cokelat keabuan dengan deretan bintik bening, serta sirip ekor berbentuk mata tombak dengan jari-jari tengah yang memanjang menjadi filamen.
Mengikuti Kottelat dan Ng (2005), spesies ini juga bisa dibedakan dari anggota genus lainnya dengan adanya 10–12 jari-jari bersegmen pada sirip dubur.
Para akuaris sering menyebut Parosphromenus spp. secara kolektif sebagai 'liquorice/licorice gourami' atau 'paro'.
Genus ini terdapat di Thailand bagian selatan (semenanjung), Semenanjung Malaysia, Sumatra (Indonesia, termasuk Pulau Bintan, Bangka, dan Kepulauan Riau), serta Kalimantan/Borneo (Malaysia dan Indonesia).
Semua anggotanya berukuran kecil dan menghuni rawa air tawar serta sungai di sekitarnya, dan selama hampir satu abad kelompok ini dianggap monotipik, hanya berisi P. deissneri (Bleeker, 1859).
Takson tambahan dideskripsikan secara sporadis sejak tahun 1950-an, dan saat ini ada 20 anggota yang diakui, dengan kemungkinan masih akan bertambah.
Terlepas dari nama genusnya, hasil analisis filogenetik oleh Rüber et al. (2006) menunjukkan bahwa secara evolusi Parosphromenus paling dekat kekerabatannya dengan Betta atau Trichopsis.
Ketiganya kadang dimasukkan ke dalam subfamili dugaan Macropodusinae bersama Macropodus, Pseudosphromenus, dan Malpulutta.
Seperti anggota subordo Anabantoidei lainnya, anggota genus ini memiliki organ pernapasan tambahan yang disebut organ labirin, yang terbentuk dari modifikasi lengkung insang pertama dan terdiri dari banyak lipatan kulit yang kaya pembuluh darah.
Dinamakan demikian karena strukturnya yang menyerupai labirin, organ ini memungkinkan ikan menghirup udara atmosfer sampai batas tertentu.
Kerumitan struktur organ ini berbeda-beda antarspesies, cenderung lebih berkembang pada spesies yang menghuni perairan yang sangat miskin oksigen.
Sementara sebagian ikan labirin terlihat rutin mengambil udara dari permukaan, yang lain, termasuk Parosphromenus spp., lebih jarang melakukannya.2
Sumber
2 sumber dan pustaka
- BW Aquatics bwaquatics.com
- Seriously Fish seriouslyfish.com
Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.
Referensi
- Kottelat, M. and P. K. L. Ng (2005). Diagnoses of six new species of Parosphromenus (Teleostei: Osphronemidae) from Malay Peninsula and Borneo, with notes on other species. Raffles Bulletin of Zoology Supplement 13, 101-113
- Schindler, I. and H. Linke (2012). Two new species of the genus Parosphomenus (Teleostei: Osphonemidae) from Sumatra. Vertebrate Zoology 62(3), 399-406
- Finke, P. (ed.) The Parosphromenus Project. World Wide Web electronic publication, http://www.parosphromenus-project.org, Accessed on 13.02.10
- Rüber, L, R. Britz and R. Zardoya (2006). Molecular phylogenetics and evolutionary diversification of labyrinth fishes (Perciformes: Anabantoidei). Systematic Biology 55(3), 374-397
- Linke, H. (2012). Traveling in Licorice Gourami biotopes. Amazonas Sep/Oct 2012, 29-34
- Kottelat, M. (1991). Notes on the taxonomy and distribution of some western Indonesian freshwater fishes, with diagnoses of a new genus and six new species (Pisces: Cyprinidae, Belontiidae, and Chaudhuriidae). Ichthyological Exploration of Freshwaters 2(3), 273-2872
Video
Parosphromenus linkei in biotope inspired botanical aquarium #aquascape #natureaquarium #blackwater0:34, EN
HALTUNG PRACHTGURAMIS - Parosphromenus linkei21:32, DE-DE
PRACHTGURAMI ZUCHT - Expertenfische I Parosphromenus linkei33:25, DE-DE
Parosphromenus linkei spawning embrace..0:52, EN
Foto pembaca
Belum ada foto. Anda memelihara Licorice gourami linkei? Kirim fotonya agar semua bisa ikut melihat.

Diskusi
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman.
Pemeriksaan antispam gagal dimuat sehingga komentar belum terkirim. Coba muat ulang halaman.
Sesuai ketentuan, komentar memerlukan verifikasi pengguna; fitur ini akan segera tersedia.