Satuan
Tampilan

Osphronemidae, Indonesia

Paros Bintan

Parosphromenus bintan

Nama lain: Licorice gourami Bintan, Bintan licorice gourami, Liquorice gourami, Paros

Suhu
22–28°C
pH
3–6,5
Akuarium minimum
40 cm
Tingkat kesulitan
Sedang

Tabel data

Lihat tabel lengkap
Suhu
22–28°C
pH
3–6,5
Ukuran
2,6 cm
Tingkat kesulitan
Sedang 4/8 Kenapa?

Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:

  • RuangMudahakuarium mulai 40 cm, ikan sepanjang 2,6 cm
  • AirSulitair asam, air lunak · pH 3–6,5, 1–4 dGH
  • SuhuMudah22–28°C

Tingkat kesulitan 4/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung

Sumber dan tingkat keandalan
Suhu
  • Seriously Fish
pH
  • Seriously Fish
Kesadahan (dGH)
  • Seriously Fish
Ukuran
  • Seriously Fish
Akuarium minimum
  • Seriously Fish
Tingkat kesulitan
  • Seriously Fish

Cara tabel memilih satu angka jika sumber-sumber berbeda

Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-11-03.

Info singkat

Parosphromenus bintan adalah licorice gourami asal Indonesia. Keberadaannya baru terkonfirmasi di Pulau Bintan (Kepulauan Riau) dan di Bangka. Ikan yang mirip dari Sumatra dan Kalimantan belum tentu satu spesies dengannya, dan nama ini kadang keliru dipakai untuk kiriman komersial spesies lain. Ikan jantan punya sirip ekor membulat dengan pita-pita konsentris berwarna keputihan, hitam, kebiruan, serta pita lebar hitam atau hitam kemerahan.1

Butuh akuarium seberapa besar?

Akuarium dengan ukuran alas 40 × 20 cm atau yang setara (sekitar 16 liter) sudah cukup untuk sepasang ikan.1

Kondisi air seperti apa?

  • Suhu: 22–28 °C
  • pH: 3,0–6,5
  • Kesadahan: 1–4 dGH1

Bagaimana cara merawatnya?

Bisa dipelihara di akuarium yang didekorasi lengkap, walaupun banyak breeder memilih tidak memakai substrat supaya perawatannya lebih mudah.

Akar dan dahan kayu (driftwood) bisa dipakai dan diatur sedemikian rupa sehingga terbentuk beberapa sudut teduh. Pot tanah liat, potongan pipa, atau bahkan wadah film kamera dari plastik bisa ditambahkan sebagai tempat sembunyi sekaligus calon tempat bertelur.

Tambahan daun kering makin menonjolkan kesan alami, selain memberi tempat berlindung tambahan bagi ikan, dan saat daun terurai akan tumbuh koloni mikroba.

Koloni mikroba ini bisa menjadi sumber pakan tambahan yang berharga bagi burayak, dan tanin serta zat kimia lain yang dilepaskan daun yang membusuk juga dianggap bermanfaat bagi ikan dari perairan blackwater. Alder cone juga bisa dipakai untuk tujuan yang sama.

Seperti anggota genus lainnya, spesies ini paling baik dipelihara di bawah pencahayaan yang cukup redup. Tanaman air yang tahan kondisi seperti itu bisa ditambahkan, misalnya Microsorum, Taxiphyllum, atau Cryptocoryne spp., sementara tanaman apung, terutama Ceratopteris spp., juga berguna.

Filter tidak perlu terlalu kuat; filter spons bertenaga aerator atau yang sejenis sudah memadai. Karena spesies ini biasanya dipelihara berpasangan, filter mungkin sama sekali tidak diperlukan, asalkan ikan tidak diberi pakan berlebihan dan perawatannya disiplin.

Perawatan tersebut harus mencakup ganti air kecil setiap minggu sebanyak 5–10 % volume akuarium. Ganti air yang tidak teratur atau dalam jumlah besar tidak disarankan.

Semua Parosphromenus spp. membutuhkan air asam dengan kesadahan karbonat (KH) nyaris nol dan kesadahan umum (GH) sangat rendah, jadi mungkin perlu memakai unit reverse osmosis (RO) atau cara lain untuk mendapatkan air lunak. Bila perlu, air ini bisa diasamkan lagi dengan asam fosfat atau yang sejenis.

Tidak perlu memakai gambut alami, karena pengambilannya tidak berkelanjutan dan merusak lingkungan.

Sudah jelas bahwa ikan-ikan ini sensitif terhadap naik-turunnya limbah organik dan tidak boleh dimasukkan ke akuarium yang siklus nitrogennya belum matang.1

Diberi pakan apa?

Spesies ini pada dasarnya mikropredator yang memangsa invertebrata air berukuran sangat kecil. Karena itu, di akuarium ia harus diberi berbagai pakan hidup berukuran kecil seperti burayak artemia (nauplii), kutu air (daphnia, moina), jentik nyamuk, cacing mikro (micro worm), dan sebagainya.

Pakan beku kadang mau dimakan, tetapi dianggap kurang bergizi, sedangkan sebagian besar pakan kering biasanya ditolak.1

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Tidak disarankan untuk akuarium komunitas umum, karena alasan-alasan yang sudah disinggung sebelumnya.

Kebutuhan perawatan, sifat, dan terutama status konservasinya menuntut agar spesies ini dipelihara sendiri atau bersama sekelompok ikan cyprinid kecil yang damai seperti Boraras atau Sundadanio spp.

Begitu pula, Parosphromenus spp. yang berbeda sebaiknya tidak dicampur, karena betina dari banyak spesies sangat sulit dibedakan dan beberapa spesies jelas bisa saling kawin silang (hibrida).

Kelompok campuran jantan dan betina bisa saja dipelihara, walaupun kebanyakan breeder lebih suka memeliharanya berpasangan, karena sebagian burayak bisa bertahan hidup bersama induknya, tetapi biasanya tidak jika ada ikan dewasa lain.1

Bagaimana membedakan jantan dan betina?

Pada jantan, sirip punggung, sirip dubur, dan sirip ekor memiliki tepi tipis berwarna keputihan hingga kebiruan, dengan pita hitam di dekat tepi yang di sisi dalamnya dibatasi pita kebiruan atau biru kehijauan yang berkilau.

Bagian pangkal sirip-sirip ini berwarna hitam, dan tepi bawah bagian belakang sirip punggung kadang memiliki bercak kecil kebiruan atau kehijauan yang berkilau.

Sirip perut berwarna hijau atau biru berkilau dengan ujung berupa filamen putih, sedangkan sirip dada bening.

Jantan yang sedang dalam masa kawin menampilkan pola warna yang secara keseluruhan lebih pekat.

Betina jauh kurang berwarna dan tidak memiliki pita-pita berwarna di sirip punggung, sirip dubur, dan sirip ekor.

Betina yang sedang dalam masa kawin kehilangan sebagian besar coraknya dan berubah menjadi krem pucat. Baik jantan maupun betina dalam masa kawin juga menunjukkan garis gelap miring yang melintasi mata.

Kedua jenis kelamin juga bisa berganti warna dengan cepat tergantung suasana hatinya, misalnya menjadi jauh lebih gelap saat agresif.1

Bagaimana cara berkembang biaknya?

Biasanya bertelur di gua-gua kecil atau di antara serasah daun, dan membentuk pasangan sementara. Hanya jantan yang mengurus telur dan anakan.

Parosphromenus spp. dikelompokkan secara arbitrer berdasarkan perilaku jantan saat merayu, yaitu posisi 'kepala di bawah' (head-down), 'kepala di atas' (head-up), atau 'horizontal', tergantung spesiesnya.

P. bintan termasuk kelompok pertama yang beranggotakan lebih banyak spesies, di mana saat memamerkan diri jantan mengambil posisi hampir tegak dengan kepala di bawah dan sirip terkembang.

Jantan yang sudah aktif secara seksual membentuk teritori kecil yang di tengahnya terdapat gua kecil, yang di alam biasanya terbentuk dari serasah daun. Di akuarium, struktur apa pun yang cocok bisa dipilih (lihat 'Perawatan').

Jantan lalu berusaha memikat betina di sekitarnya untuk masuk ke gua lewat atraksi memukau seperti yang dijelaskan di atas.

Telur dan sperma dikeluarkan bertahap dalam serangkaian pelukan, di mana jantan melilitkan tubuhnya ke tubuh betina.

Sebagian jantan membuat sarang busa sederhana di dalam gua, sebagian lagi tidak. Bagaimanapun juga, jantan dan betina sama-sama berusaha menempelkan telur ke langit-langit gua setelah telur dikeluarkan.

Pelukan pemijahan berikutnya bisa membuat telur terlepas dari langit-langit gua, dan induk yang belum berpengalaman kadang langsung memakannya, jadi mungkin perlu sedikit kesabaran sampai ikan-ikan ini berhasil melakukannya dengan benar.

Setelah pemijahan berhasil, betina keluar dari gua dan menjaga area di sekitarnya, sementara jantan merawat telur dan anakan.

Masa inkubasi biasanya 24–36 jam, dan burayak mulai bergerak sekitar 4–6 hari kemudian.

Awalnya burayak berenang tanpa arah dan jantan akan mengumpulkan serta mengembalikannya ke 'sarang', tetapi setelah 3–5 hari berikutnya burayak sudah berenang bebas sepenuhnya dan meninggalkan gua. Pada saat itu, pengasuhan induk berakhir.

Sebagai pakan pertama, burayak mungkin membutuhkan paramecium, rotifera, atau yang sejenis, tetapi cepat bisa menerima burayak artemia (nauplii) dan sejenisnya.

Jika akuarium tertata dengan baik, burayak sering bisa dibesarkan bersama induknya, tetapi pada setup yang lebih sederhana sebaiknya dipindahkan dan dibesarkan di tempat lain.1

Di mana habitat aslinya?

Lokasi tipenya ada di Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia, tepatnya 'sesaat sebelum km 45 di jalan dari Tanjung Uban ke Tanjung Pinang; 1°06'40.1"N, 104°30'09.8"E'. Satu-satunya lokasi lain yang sudah terkonfirmasi ada di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Meski begitu, ikan yang mirip juga pernah dikoleksi dari Sumatra dan Kalimantan, sehingga sebaran lengkapnya saat ini belum jelas (lihat 'Catatan').1

Habitat alami

Spesies stenotipik yang hanya menghuni hutan rawa gambut dan sungai-sungai air hitam (blackwater) di sekitarnya.

Di habitat yang masih alami, kanopi dahan yang rapat di atasnya membuat sangat sedikit cahaya yang tembus ke permukaan air, dan vegetasi di tepian juga cenderung tumbuh lebat.

Airnya biasanya berwarna gelap karena asam humat dan zat kimia lain yang dilepaskan bahan organik yang membusuk. Kandungan mineral terlarutnya umumnya nyaris nol, dan pH-nya bisa serendah 3,0 atau 4,0.

Sayangnya, kini di sebagian besar tempat spesies ini hanya bertahan di sisa-sisa rawa gambut yang sudah banyak berubah, seperti parit irigasi dan kanal di pinggir jalan.1

Catatan

Spesies ini umumnya tidak tersedia secara komersial di dunia akuarium, tetapi sesekali dikoleksi dan disebarkan oleh penghobi perorangan.

Namanya kadang keliru dipakai untuk kiriman komersial spesies lain, dan ada juga sejumlah ikan lain bersirip ekor membulat yang belum tentu satu spesies dengannya, termasuk P. sp. 'blue line' dan P. sp. 'Selatan' dari Sumatra.

Spesies ini bisa dibedakan dari kerabat segenusnya lewat kombinasi ciri berikut: sirip ekor membulat dengan jari-jari tengah yang tidak memanjang menjadi filamen; sirip perut dengan ujung berupa filamen putih; sirip dubur dan sirip punggung jantan bergaris dan sirip ekor dengan pita konsentris berurutan dari tepi ke pangkal: keputihan sempit, hitam sempit, kebiruan atau biru kehijauan berkilau sempit, hitam atau hitam kemerahan lebar; 11–13 jari-jari keras dan 5–7 jari-jari lunak pada sirip punggung (modus 12, 6); 11–13 jari-jari keras dan 8–10 jari-jari lunak pada sirip dubur (modus 12, 9).

Para penghobi sering menyebut Parosphromenus spp. secara kolektif sebagai 'liquorice/licorice gourami' atau 'paros'.

Genus ini tersebar di Thailand selatan (semenanjung), Semenanjung Malaysia, Sumatra (Indonesia, termasuk Pulau Bintan, Bangka, dan Kepulauan Riau), serta Kalimantan (Malaysia dan Indonesia).

Semua anggotanya berukuran kecil dan menghuni rawa air tawar serta sungai-sungai di sekitarnya. Selama hampir satu abad, genus ini dianggap monotipik, hanya berisi P. deissneri (Bleeker, 1859).

Takson-takson lain dideskripsikan sesekali sejak tahun 1950-an, dan saat ini ada 20 anggota yang diakui, dengan kemungkinan akan bertambah lagi.

Terlepas dari nama genusnya, hasil analisis filogenetik oleh Rüber et al. (2006) menunjukkan bahwa secara evolusi Parosphromenus paling dekat kekerabatannya dengan Betta atau Trichopsis.

Ketiganya kadang dimasukkan ke dalam subfamili dugaan Macropodusinae bersama Macropodus, Pseudosphromenus, dan Malpulutta.

Seperti anggota subordo Anabantoidei lainnya, ikan-ikan ini memiliki organ pernapasan tambahan yang disebut labirin, yang terbentuk dari modifikasi lengkung insang pertama dan terdiri dari banyak lipatan kulit yang kaya pembuluh darah.

Dinamai demikian karena strukturnya yang mirip labirin, organ ini memungkinkan ikan menghirup udara dari atmosfer sampai batas tertentu.

Kerumitan struktur organ ini berbeda-beda antarspesies, dan cenderung lebih berkembang pada spesies yang menghuni perairan yang sangat miskin oksigen.

Sebagian ikan labirin terlihat rutin mengambil udara dari permukaan, sementara yang lain, termasuk Parosphromenus spp., lebih jarang melakukannya.1

Sumber

1 sumber dan pustaka
  1. Seriously Fish seriouslyfish.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.

Referensi

  • Kottelat, M. and P. K. L. Ng (2005). Diagnoses of six new species of Parosphromenus (Teleostei: Osphronemidae) from Malay Peninsula and Borneo, with notes on other species. Raffles Bulletin of Zoology Supplement 13, 101-113
  • Schindler, I. and H. Linke (2012). Two new species of the genus Parosphomenus (Teleostei: Osphonemidae) from Sumatra. Vertebrate Zoology 62(3), 399-406
  • Kottelat, M. and P. K. L. Ng (1998). Parosphromenus bintan, a new osphronemid fish from Bintan and Bangka islands, Indonesia, with redescription of P. deissneri. Ichthyological Exploration of Freshwaters 8(3), 263-272
  • Finke, P. (ed.) The Parosphromenus Project. World Wide Web electronic publication, http://www.parosphromenus-project.org, Accessed on 13.02.10
  • Rüber, L, R. Britz and R. Zardoya (2006). Molecular phylogenetics and evolutionary diversification of labyrinth fishes (Perciformes: Anabantoidei). Systematic Biology 55(3), 374-397
  • Linke, H. (2012). Traveling in Licorice Gourami biotopes. Amazonas Sep/Oct 2012, 29-341