Badidae, Myanmar
Badis juergenschmidti
Badis juergenschmidti
Nama lain: Badis sp. East Myanmar, Badis sp. Ost Myanmar, Badis
- Suhu
- belum ada
- pH
- 6–7
- Akuarium minimum
- 60 cm
- Tingkat kesulitan
- Sedang
Tabel data
Lihat tabel lengkap
- pH
- 6–7
- Ukuran
- 5 cm
- Akuarium minimum
- 60 cm
- Tingkat kesulitan
Sedang 4/8 Kenapa?
Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:
- RuangMudahakuarium mulai 60 cm, ikan sepanjang 5 cm
- AirSulitair lunak · pH 6–7, 1–5 dGH
- PerilakuMudahdamai
Tingkat kesulitan 4/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung
Sumber dan tingkat keandalan
- pH
- Seriously Fish
- Kesadahan (dGH)
- Seriously Fish
- Ukuran
- Seriously Fish
- Akuarium minimum
- Seriously Fish
- Tingkat kesulitan
- Seriously Fish
Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-10-31.
Info singkat
Badis juergenschmidti adalah ikan badid yang sejauh ini hanya diketahui dari sistem sungai Ka Dat Chaung di Negara Bagian Mon, Myanmar bagian tenggara. Sungai ini termasuk daerah aliran Sungai Sittaung. Spesies ini ditemukan oleh akuaris Jerman Horst Linke pada awal 2010. Sebelum dideskripsikan secara resmi, ikan ini dikenal dengan nama B. sp. East Myanmar. Ikan ini tidak punya bercak di operkulum (tutup insang) maupun bercak kleitral. Jantan dewasa punya pita lebar yang solid di pangkal sirip ekor, dan tepi sirip ekornya berwarna putih. Lokasi tipenya berupa sungai dangkal berarus lambat dengan dasar bongkahan batu, batu kecil, dan pasir.1
Butuh akuarium seberapa besar?
Sepasang ikan atau satu kelompok kecil bisa dipelihara di akuarium dengan alas berukuran 60 × 30 cm atau lebih (sekitar 54 liter).1
Kondisi air seperti apa?
Bagaimana cara merawatnya?
B. juergenschmidti akan tumbuh baik di akuarium yang tertata rapi, dengan substrat pasir atau kerikil serta banyak batu dan kerikil yang permukaannya halus terkikis air sebagai tempat berlindung. Tanaman yang bisa ditempel di dekorasi, seperti Microsorum, Taxiphyllum, atau Anubias, boleh ditambahkan kalau mau, tetapi tidak wajib.
Ranting dan cabang kayu apung, tanaman apung, serta serasah daun juga bisa dipakai agar suasananya lebih alami. Filter dan pencahayaan tidak perlu terlalu kuat. Sediakan beberapa struktur mirip gua sebagai calon tempat bertelur. Banyak peternak memakai batok kelapa yang dibelah dua atau pot tanah liat yang dibalik, diberi lubang bor atau sebagian bibirnya dibuang supaya ikan bisa masuk.1
Diberi pakan apa?
Spesies Badis adalah mikropredator. Di alam mereka memakan krustasea air kecil, cacing, larva serangga, dan zooplankton lainnya. Di akuarium mereka bisa agak pemilih dan mungkin tidak mau makan pakan kering, walaupun ada juga yang lama-lama belajar menerimanya. Bagaimanapun, mereka sebaiknya rutin diberi pakan hidup atau beku berukuran kecil seperti artemia, kutu air, atau cacing darah supaya warnanya keluar maksimal dan kondisinya prima.
Ikan ini agak pemalu dan makannya pelan-pelan (lihat bagian 'kompatibilitas'). Perlu juga dicatat bahwa semua spesies Badis cenderung mengalami kegemukan dan lebih mudah terserang penyakit kalau diberi larva chironomid (cacing darah) dan/atau cacing sutra, jadi kedua pakan ini sebaiknya tidak diberikan.1
Bisa dicampur dengan ikan apa?
Karena ikan ini masih jarang ada di dunia akuarium, fokus pemeliharaannya sebaiknya pada pembiakan di penangkaran, dan sangat disarankan untuk memeliharanya sendiri tanpa spesies lain. Ikan ini sebenarnya bukan ikan yang suka bergerombol, dan sesama jantan bisa sangat agresif satu sama lain, terutama di akuarium yang lebih kecil. Untuk akuarium kecil, cukup beli sepasang atau satu jantan dengan beberapa betina. Di akuarium yang lebih lega, satu kelompok bisa hidup bersama, asalkan setiap jantan punya ruang untuk membentuk teritori dan ada banyak penghalang pandangan. Penempatan gua yang cerdik sangat membantu di sini. Misalnya, jangan menumpuk semua tempat bertelur di satu sudut akuarium.
Kalau memang ingin memeliharanya di akuarium komunitas, teman setangkinya harus dipilih dengan hati-hati. Gerakannya lambat dan sifatnya pemalu, jadi ikan ini mungkin tertekan atau kalah berebut makanan dengan ikan lain yang lebih besar atau lebih agresif. Cyprinid yang damai seperti Trigonostigma atau spesies Rasbora yang lebih kecil kemungkinan pilihan yang baik, begitu juga gurami dan spesies lain yang hidup di permukaan. Memeliharanya dalam komunitas bergaya biotop berisi ikan-ikan dari Myanmar lebih sulit, tetapi ada dua spesies yang cocok dari cekungan Sittaung, yaitu Danio nigrofasciatus dan Acanthocobitis zonalternans.1
Teman satu akuarium
- Perilaku
- Damai
Bagaimana membedakan jantan dan betina?
Betina lebih kecil, coraknya lebih kusam, dan bentuk tubuhnya jelas lebih pendek dan membulat dibanding jantan. Seiring bertambah dewasa, sirip jantan juga sedikit lebih panjang.1
Bagaimana cara berkembang biaknya?
B. juergenschmidti sudah berhasil dibiakkan di penangkaran setidaknya satu kali sejak pertama kali dikoleksi pada Maret 2010. Anggota genus ini bertelur di gua dan membentuk pasangan sementara. Biasanya mereka tidak terlalu sulit dibiakkan, asalkan akuariumnya ditata dengan benar. Kalau ingin membesarkan burayak dalam jumlah banyak, sebaiknya jangan dicampur spesies lain, walaupun di akuarium komunitas yang sudah matang dan penuh dekorasi beberapa burayak mungkin bisa bertahan sampai dewasa. Bisa memakai sepasang atau sekelompok indukan, tetapi kalau ada beberapa jantan, pastikan masing-masing punya gua untuk dipertahankan. Parameter air sebaiknya sesuai nilai yang disarankan di atas. Beri ikan banyak pakan hidup dan beku, dan pemijahan biasanya tidak akan terlalu bermasalah.
Saat mulai siap kawin, sesama jantan akan makin sering bertarung dan mulai menunjukkan perilaku merayu pada betina yang masuk ke teritori pilihannya. Selama proses ini coraknya berubah dengan indah dan warna tubuhnya makin pekat. Saling mengunci mulut juga sering terjadi. Jantan benar-benar berusaha menarik pasangannya masuk ke gua. Betina yang sudah siap akan masuk, lalu terjadi pemijahan. Biasanya telurnya berjumlah 30–100 butir.
Setelah bertelur, betina diusir dan jantan mengurus telur dan burayak sendirian. Jantan menjaga teritori dari penyusup dan mengipasi telur dengan siripnya. Kalau mau, ikan dewasa lainnya bisa dipindahkan pada tahap ini, walaupun belum benar-benar perlu. Telur biasanya menetas dalam 2–3 hari, tetapi burayak baru berenang bebas pada umur 6–8 hari. Setelah itu mereka mungkin masih belum meninggalkan sekitar gua selama kira-kira seminggu lagi.
Sejak saat itu, ikan dewasa (termasuk jantan induknya) mungkin mulai menganggap burayak sebagai makanan, jadi sebaiknya burayak dipindahkan ke akuarium terpisah. Selama beberapa hari pertama burayak cenderung diam di tempat, jadi microworm adalah pakan awal yang ideal. Begitu mereka terlihat berenang di kolom air, naupli artemia bisa mulai diberikan.1
Sebaran alami
Apa kata sumber
GBIF punya 5 catatan di alam liar, semuanya di negara-negara di atas.
- Catatan di negara asal
- Negara asal
- Tiap kotak sekitar 160 km.
Data: GBIF.org, 5 catatan, diambil 2026-11-06 · CC0, CC BY 4.0. Peta dasar: Natural Earth.
Di mana habitat aslinya?
Saat ini spesies ini hanya diketahui dari lokasi tipenya di sistem sungai Ka Dat Chaung, Negara Bagian Mon, Myanmar bagian tenggara. Sungai ini merupakan bagian dari daerah aliran Sungai Sittaung yang lebih besar.1
Habitat alami
Menurut deskripsi ilmiahnya, lokasi tipenya adalah sungai kecil berarus lambat dengan lebar sekitar 50 meter dan air yang sangat dangkal (kedalaman 20–30 cm). Dasarnya terdiri dari bongkahan batu, batu-batu kecil, dan pasir. Tidak disebutkan adanya tanaman air, tetapi di beberapa bagian terdapat lapisan biofilm. Satu-satunya spesies lain yang hidup di lokasi yang sama adalah loach Acanthocobitis zonalternans.
Pengambilan sampel dilakukan pada musim kemarau. Iklim Mon tropis, dengan musim hujan yang jelas antara Juni dan November. Pada musim hujan, sungai-sungai meluap, arusnya jauh lebih deras, dan airnya jauh lebih keruh.1
Catatan
Saat tulisan ini dibuat, spesies ini praktis belum dikenal di dunia akuarium. Ikan ini ditemukan oleh akuaris Jerman Horst Linke pada awal 2010. Sebelum dideskripsikan secara resmi, ikan ini dikenal sebagai B. sp. East Myanmar (di Jerman: Ost Myanmar). Spesies ini bisa dibedakan dari anggota genus lainnya lewat kombinasi ciri berikut:
- tidak ada bercak di sudut atas belakang operkulum;
- tidak ada bercak kleitral;
- pada jantan dewasa, pita 1 (di pangkal sirip ekor) lebar dan solid, bukan menyusut menjadi satu bercak di tengah batang ekor atau terpecah menjadi tiga bercak terpisah;
- pita 2 tanpa bercak di bagian atas samping batang ekor;
- sirip ekor jantan dewasa bertepi putih di bagian atas belakang dan bawah belakang.
Ringkasan yang lebih rinci ada di bagian Comparative notes pada deskripsi aslinya.
Sebelum 2002, famili Badidae hanya berisi lima spesies. Dari kelimanya, hanya B. badis dan, dalam skala lebih kecil, Badis dario (oleh beberapa sumber disebut B. bengalensis) yang populer di dunia akuarium. Namun, makalah revisi besar dari Kullander dan Britz yang terbit tahun itu menghasilkan tidak kurang dari sepuluh spesies baru. Revisi itu juga membentuk genus Dario, dan B. dario dipindahkan ke sana sebagai spesies tipenya. Saat ini Dario hanya punya tiga anggota. Cara termudah membedakannya dari Badis adalah dari ciri-ciri berikut: ukuran dewasanya kecil (biasanya kurang dari 2,5 cm), warnanya didominasi merah, beberapa jari-jari sirip punggung pertama dan sirip dada pada jantan memanjang, sirip ekornya bertepi lurus (bukan membulat), gurat sisinya tidak terlihat, dan pengasuhan anaknya tidak seintensif Badis. Jumlah spesies Badis kini lima belas. Beberapa di antaranya baru saja dideskripsikan, dan masih ada spesies lain yang menunggu deskripsi.
Beberapa spesies Badis tidak selalu mudah diidentifikasi dengan benar. Contohnya, B. badis, B. chittagongis, B. ferrarisi, B. kanabos, B. khwae, B. ruber, B. siamensis, dan B. tuivaiei semuanya punya bintik kleitral gelap tepat di atas pangkal sirip dada. Namun, B. khwae, B. ruber, dan B. siamensis punya bercak tambahan di batang ekor. Sementara itu, B. badis bisa dibedakan dari B. kanabos lewat dua ciri. Pertama, B. badis punya serangkaian tanda gelap di sirip punggung dan/atau di pangkalnya, sedangkan B. kanabos hanya punya satu tanda di bagian depan sirip. Kedua, pita tegak di sisi tubuh B. badis hanya samar atau tidak jelas, sedangkan B. kanabos punya serangkaian pita gelap yang sempit. B. badis, B. chittagongis, B. dibruensis, B. tuivaiei, dan B. ferrarisi hanya berbeda pada beberapa hitungan morfologis. Meski begitu, B. ferrarisi punya corak yang sangat khas, yaitu serangkaian pita hitam tegak di sepanjang bagian tengah sisi tubuhnya.
Dulu badid dianggap anggota famili Nandidae atau Pristolepididae. Baru pada 1968 Barlow mengusulkan pengelompokan tersendiri untuk mereka. Badid punya beberapa kesamaan ciri dengan anabantoid, nandid, dan channid. Yang paling menarik bagi akuaris adalah pelukan saat memijah yang khas, ketika jantan melingkarkan tubuhnya ke tubuh betina. Studi-studi yang lebih baru menyimpulkan bahwa perilaku ini adalah sifat kuno warisan dari nenek moyang yang sama bagi semua famili tersebut.
Dalam makalah revisi 2002, semua spesies Badis, Dario, dan Nandus ternyata sama-sama punya duri hemal yang bercabang dua (terbelah) secara unik pada ruas tulang belakang kedua dari terakhir. Para penulisnya berhipotesis bahwa ini mungkin bukti bahwa kelompok ini monofiletik. Mereka juga mengusulkan agar famili Nandidae dibatasi hanya untuk spesies Nandus, sedangkan genus lainnya (Polycentrus, Monocirrhus, Afronandus, dan Polycentropsis) dikelompokkan dalam Polycentridae. Menurut sistem ini, Nandidae dan Badidae hanya dipisahkan oleh perbedaan morfologi dan struktur telur, walaupun hubungan filogenetik di antara keduanya belum dipelajari secara menyeluruh.
Studi-studi terbaru ini juga menunjukkan bahwa di dalam genus Badis ada beberapa kelompok/klad, dan setiap klad berisi spesies yang paling dekat kekerabatannya satu sama lain. Kelompok B. badis hanya dicirikan oleh bintik kleitral, dan anggotanya adalah B. badis, B. chittagongis, B. dubruensis, B. ferrarisi, B. kanabos, dan B. tuivaiei. B. ruber, B. siamensis, dan B. khwae membentuk kelompok B. ruber. Kelompok ini paling mudah dikenali dari kombinasi bintik kleitral dan bercak di batang ekor.
Kelompok B. assamensis terdiri dari B. assamensis dan B. blosyrus, yang punya corak tubuh unik berupa belang terang dan gelap. Kelompok B. corycaeus mencakup B. corycaeus dan B. pyema. Keduanya punya tanda berbentuk mata (oselus) di pangkal sirip ekor dan jumlah pori sensorik di kepala yang lebih sedikit.
Ada dua spesies unik yang tidak masuk ke kelompok mana pun. B. kyar dibedakan oleh bentuk tubuhnya yang relatif memanjang, pola pita tegaknya, dan tanda berbentuk pita di sirip ekor. B. juergenschmidti mirip B. kyar dalam beberapa hal, tetapi berbeda dalam tiga ciri berikut:
- pita tegak pertama di tubuhnya lurus (bukan melengkung);
- pita tegak 5, 6, dan 7 solid (bukan terbelah secara vertikal);
- pada jantan, sirip punggung dan cuping bawah sirip ekor bertepi putih (bukan tanpa corak putih).
Dalam studi filogenetik, B. kyar ternyata merupakan kelompok saudara (sister group) dari klad B. ruber atau dari klad B. badis/B. assamensis, tergantung uji yang dipakai. Masih diperlukan studi lanjutan untuk memastikan posisi kedua spesies ini di dalam genus.1
Sumber
1 sumber dan pustaka
- Seriously Fish seriouslyfish.com
Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.
Referensi
- Geetakumari, K.H. and W. Vishwanath (2010). Badis dibruensis, a new species (Teleostei: Badidaae) from northeastern India. Journal of Threatened Taxa 2(1), 644-647
- Kullander, S. O. and R. Britz (2002). Revision of the family Badidae (Teleostei: Perciformes), with description of a new genus and ten new species. Ichthyological Exploration of Freshwaters 13(4), 295-372
- Rüber, L., R. Britz, S. O. Kullander and R. Zardoya (2004). Evolutionary and biogeographic patterns of the Badidae (Teleostei: Perciformes) inferred from mitochondrial and nuclear DNA sequence data. Molecular Phylogenetics and Evolution 32(3), 1010-1022
- Schindler, I. and H. Linke (2010). Badis juergenschmidti - a new species of the Indo-Burmese fish family Badidae (Teleostei: Perciformes) from Myanmar. Vertebrate Zoology 60(3), 209-216
- van der Voort, S. (2009). Badis ferrarisi, Badis kyar, Badis sp. 'Wahumiam River' & Badis sp. 'Buxar'. Der Makropode 31, 141-147
- Vishwanath, W. and K. Shanta (2004). A new fish species of the Indo-Burmese genus Badis Bleeker (Teleostei: Perciformes) from Manipur, India. Zoos' Print Journal 19(9), 1619-16211
Foto pembaca
Belum ada foto. Anda memelihara Badis juergenschmidti? Kirim fotonya agar semua bisa ikut melihat.
Diskusi
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman.
Pemeriksaan antispam gagal dimuat sehingga komentar belum terkirim. Coba muat ulang halaman.
Sesuai ketentuan, komentar memerlukan verifikasi pengguna; fitur ini akan segera tersedia.