Satuan
Tampilan

Osphronemidae, Indonesia

Betta chloropharynx

Betta chloropharynx

Nama lain: Cupang chloropharynx, Green throat mouthbrooder, Cupang tenggorokan hijau, Cupang alam Bangka

Suhu
24–28°C
pH
3,5–6
Akuarium minimum
80 cm
Tingkat kesulitan
Sulit

Tabel data

Lihat tabel lengkap
Suhu
24–28°C
pH
3,5–6
Tingkat kesulitan
Sulit 6/8 Kenapa?

Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:

  • RuangSedangakuarium mulai 80 cm
  • AirSulitair asam, air lunak · pH 3,5–6, 0–5 dGH
  • SuhuMudah24–28°C
  • PerilakuMudahdamai

Tingkat kesulitan 6/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung

Sumber dan tingkat keandalan
Suhu
  • Seriously Fish
pH
  • Seriously Fish
Kesadahan (dGH)
  • Seriously Fish
Akuarium minimum
  • Seriously Fish
Tingkat kesulitan
  • Seriously Fish

Cara tabel memilih satu angka jika sumber-sumber berbeda

Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-11-01.

Info singkat

Green throat mouthbrooder (cupang tenggorokan hijau), Betta chloropharynx, adalah ikan labirin yang dideskripsikan dari Bangka, pulau di lepas pantai timur Sumatra, Indonesia. Ikan ini termasuk kelompok Betta waseri dan bisa dibedakan dari semua anggota lain kelompok itu lewat corak terang di tenggorokannya, yang membentuk pola seperti angka delapan yang tidur (mendatar). Umumnya ikan ini menghuni rawa gambut dan sungai kecil berair hitam (blackwater). Satu populasi di Sumatra yang dulu dianggap satu spesies dengannya dideskripsikan sebagai B. pardalotos pada tahun 2009.1

Butuh akuarium seberapa besar?

Akuarium dengan ukuran dasar 80 × 30 cm (sekitar 72 liter) bisa menampung sepasang atau sekelompok kecil ikan ini.1

Kondisi air seperti apa?

  • Suhu: 24–28 °C
  • pH: 3,5–6,0
  • Kesadahan: 0–5 dGH1

Bagaimana cara merawatnya?

Ikan ini bisa dipelihara di akuarium yang didekorasi lengkap, meskipun banyak peternak memilih tidak memakai substrat agar perawatannya lebih mudah. Akar dan dahan kayu apung (driftwood) bisa dipakai dan ditata sedemikian rupa sehingga terbentuk beberapa sudut yang teduh.

Kalau tidak menemukan kayu apung dengan bentuk yang diinginkan, kayu beech (Fagus) atau kayu ek aman dipakai asalkan sudah benar-benar kering dan kulit kayunya dikupas. Pot tanaman dari tanah liat atau potongan pipa juga bisa ditambahkan sebagai tempat berlindung tambahan.

Penambahan serasah daun kering, misalnya daun beech, daun ek, atau daun ketapang, bisa makin menonjolkan kesan alami. Selain memberi tempat berlindung tambahan bagi ikan, serasah ini juga memicu tumbuhnya koloni mikroba seiring proses pembusukan. Koloni ini bisa menjadi sumber pakan tambahan yang berharga bagi burayak, dan tanin serta zat kimia lain yang dilepaskan daun yang membusuk juga dianggap bermanfaat bagi ikan dari perairan blackwater.

Seperti anggota genus lainnya, spesies ini tampaknya paling baik dipelihara dengan pencahayaan yang cukup redup. Bisa ditambahkan tanaman air yang tahan di kondisi seperti itu, misalnya Microsorum pteropus, Taxiphyllum barbieri, atau mungkin beberapa Cryptocoryne spp. dalam pot. Beberapa kelompok tanaman apung juga berguna untuk meredam cahaya yang masuk ke akuarium.

Karena di alam ikan ini menghuni perairan yang alirannya lambat, filtrasi sebaiknya tidak terlalu kuat; filter spons berpenggerak udara (air-powered) yang diatur dengan sirkulasi pelan sudah memadai. Akuarium harus selalu tertutup rapat dan jangan diisi air sampai penuh, karena seperti semua Betta spp., ikan ini sesekali perlu mengakses lapisan udara lembap yang terbentuk di atas permukaan air, dan ikan ini juga pelompat yang handal.1

Diberi pakan apa?

Di alam kemungkinan besar ikan ini memangsa serangga dan invertebrata kecil/zooplankton lainnya. Ikan di akuarium biasanya mau menerima pakan kering setelah mengenalinya sebagai makanan, tetapi tetap harus rutin diberi banyak pakan hidup atau beku berukuran kecil seperti kutu air (Daphnia), artemia, atau cacing darah agar warna dan kondisinya berkembang optimal.

Serangga kecil seperti jangkrik atau lalat buah Drosophila juga cocok diberikan; sebaiknya perut serangga tersebut diisi dulu dengan memberinya pakan serpihan atau sayuran sebelum diberikan ke ikan. Hati-hati jangan memberi pakan berlebihan, karena Betta spp. tampaknya sangat rentan mengalami obesitas.1

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Tidak disarankan untuk akuarium komunitas biasa, karena alasan-alasan yang sudah disinggung di atas. Kebutuhan dan sifatnya membuat ikan ini paling baik dipelihara sendiri atau bersama spesies yang sangat damai, karena ikan yang jauh lebih besar atau lebih agresif kemungkinan akan mengintimidasi dan mengalahkannya dalam berebut pakan. Beberapa ikan kecil dari famili Cyprinidae dan ikan loach yang di alam menghuni lingkungan serupa bisa dipelihara bersamanya.

Ikan ini bisa dipelihara berpasangan atau berkelompok, dan dalam kelompok akan menunjukkan interaksi perilaku yang menarik.1

Bagaimana membedakan jantan dan betina?

Jantan dewasa lebih berwarna, siripnya tumbuh lebih panjang, dan bentuk kepalanya lebih lebar dibandingkan betina.1

Bagaimana cara berkembang biaknya?

Termasuk mouthbrooder (pengeram telur di mulut) oleh pejantan. Idealnya siapkan akuarium terpisah untuk pemijahan, kecuali jika ikan memang sudah dipelihara sendiri, dan tata akuarium tersebut seperti yang disarankan di atas.

Akuarium harus memakai tutup yang paling rapat yang bisa didapatkan (sebagian peternak memakai plastik wrap sebagai gantinya agar tidak ada celah sama sekali), karena burayak membutuhkan akses ke lapisan udara yang hangat dan lembap; tanpa itu, perkembangan organ labirinnya bisa terganggu.

Setelah masa percumbuan yang panjang, telur dan sperma dilepaskan saat 'pelukan' yang khas pada ikan famili Osphronemidae, yaitu ketika jantan melilitkan tubuhnya ke tubuh betina. Mungkin diperlukan beberapa kali pelukan 'latihan' sebelum pemijahan benar-benar dimulai.

Telur yang sudah dibuahi ditampung di sirip anal jantan, lalu dipungut ke mulut betina sebelum disemburkan ke air untuk ditangkap oleh jantan. Setelah semua telur berada di mulut jantan, siklus ini diulang sampai telur betina habis, proses yang bisa memakan waktu cukup lama.

Jantan yang sedang mengeram bisa menelan atau melepaskan telur sebelum waktunya jika stres atau belum berpengalaman, jadi sebaiknya betina dan ikan lain dibiarkan tetap di tempatnya. Masa inkubasi berlangsung 10–21 hari, dan di akhir masa itu jantan akan mulai melepaskan burayak yang sudah terbentuk sempurna dan bisa berenang bebas. Pada tahap ini burayak bisa dipindahkan atau dibiarkan tumbuh bersama induknya; beberapa laporan menyebutkan burayak justru tumbuh lebih cepat dalam kondisi seperti itu.

Namun, ikan lain yang ada, termasuk sesama spesiesnya, tampaknya menjadi ancaman bagi anakan, jadi sebaiknya dipindahkan pada tahap ini jika belum dilakukan. Hal menarik lainnya, jantan yang sedang mengeram tercatat mau menerima pakan, sesuatu yang tidak biasa untuk Betta.

Burayak sudah cukup besar untuk langsung memakan pakan hidup yang bergerak seperti cacing mikro (microworm) dan naupli artemia, meskipun perlu dicatat ada laporan anakan Betta mengalami masalah kesehatan jika diberi naupli artemia secara berlebihan. Berikan sedikit-sedikit berbagai jenis pakan 2–3 kali sehari untuk laju pertumbuhan yang optimal, dan jangan mengganti terlalu banyak air sekaligus; ganti air dalam jumlah kecil secara rutin lebih baik daripada ganti air besar sesekali.1

Sebaran alami

Hidup alami di: Indonesia1

Sungai, danau, wilayah: Bangka1

Apa kata sumber
  • Indonesia · Seriously Fish1: “The green throat mouthbrooder, Betta chloropharynx, is a labyrinth fish described from Bangka, an island off the east coast of Sumatra, Indonesia.”
  • Bangka · Seriously Fish1: “This species was described from Bangka, a small island just off the east coast of Sumatra, Indonesia.”

GBIF punya 2 catatan di alam liar, semuanya di negara-negara di atas.

  • Catatan di negara asal
  • Negara asal
  • Tiap kotak sekitar 160 km.

Data: GBIF.org, 2 catatan, diambil 2026-11-06 · CC0, CC BY 4.0. Peta dasar: Natural Earth.

Di mana habitat aslinya?

Spesies ini dideskripsikan dari Bangka, pulau kecil tepat di lepas pantai timur Sumatra, Indonesia. Satu populasi dari dekat Kota Palembang di Pulau Sumatra sendiri, yang awalnya dianggap satu spesies dengannya, dideskripsikan sebagai B. pardalotos pada tahun 2009.1

Habitat alami

Spesimen tipenya dikumpulkan dari sebuah kolam hutan berair jernih, tetapi kolam itu hanya ada akibat perubahan habitat oleh manusia. Pada umumnya ikan ini menghuni rawa gambut dan sungai kecil berair hitam yang terhubung dengannya.

Biotop purba seperti ini biasanya terdapat di kawasan hutan hujan. Kanopi dahan yang rapat di atasnya membuat sangat sedikit cahaya yang menembus permukaan air, dan vegetasi di tepi perairan juga cenderung tumbuh lebat.

Airnya biasanya berwarna gelap karena asam humat dan zat kimia lain yang dilepaskan oleh bahan organik yang membusuk. Kandungan mineral terlarutnya umumnya nyaris nol, dan pH-nya bisa serendah 3,0 atau 4,0.

Substrat dasarnya biasanya tertutup daun gugur, dahan, dan akar pohon yang terendam. Pada waktu-waktu tertentu dalam setahun, ikan ini mungkin terpaksa bertahan hidup di dalam serasah daun yang lembap selama beberapa minggu, karena air tidak selalu tersedia sepanjang tahun.1

Catatan

B. chloropharynx termasuk dalam kelompok/kompleks Betta waseri, yaitu kumpulan spesies yang berkerabat dekat di dalam genus ini, yang secara tidak resmi juga mencakup segelintir spesies yang mungkin baru, seperti B. sp. 'Medas'. Anggota kelompok ini memiliki kombinasi ciri berikut: warna dasar tubuh kuning tanah liat; sisik operkulum (tutup insang) berwarna emas berkilau pada jantan dewasa semua spesies kecuali B. tomi; tenggorokan dengan corak hitam yang pada beberapa spesies menyatu dengan rahang bawah yang hitam; tanpa garis di dagu.

Cara termudah membedakan anggota kelompok ini satu sama lain adalah dengan memeriksa corak tenggorokannya, yang berbeda-beda menurut spesies. Pada spesies ini, corak yang lebih terang membentuk pola yang kira-kira menyerupai angka delapan yang tidur (mendatar) atau, menurut Tan dan Ng (2005), huruf kecil Yunani 'Mu', yaitu μ. Ada juga berbagai perbedaan morfometrik, tetapi satu ciri ini saja sudah bisa dipakai untuk membedakannya dari semua anggota lain kelompok B. waseri.

Genus Betta adalah genus dengan jumlah spesies terbanyak di famili Osphronemidae, dengan hampir 70 anggota yang diakui, dan tampaknya akan terus bertambah karena spesies baru terus dideskripsikan secara rutin sejak awal abad ini.

Spesies-spesies anggotanya berhasil beradaptasi menghuni beragam relung ekologi, mulai dari parit berair diam hingga sungai perbukitan yang mengalir, termasuk beberapa lingkungan ekstrem seperti hutan rawa gambut yang sangat asam.

Pembagian anggota genus ini ke dalam sejumlah kelompok berisi spesies yang berkerabat dekat kini umumnya diterima, tetapi sebagian besar didasarkan pada ciri morfologi/perilaku. Karena itu masih diperlukan kajian filogenetik molekuler, yang tentu akan berguna untuk menentukan hubungan kekerabatan ikan-ikan ini dengan lebih tepat.

Seperti anggota lain subordo Anabantoidei, spesies ini memiliki organ pernapasan tambahan yang disebut labirin. Dinamakan demikian karena strukturnya yang mirip labirin, organ ini memungkinkan ikan menghirup udara atmosfer sampai batas tertentu.

Organ ini terdiri dari sepasang organ suprabrankial yang terbentuk dari pelebaran bagian epibrankial (atas) lengkung insang pertama dan terletak di dalam rongga di atas insang. Di dalamnya terdapat banyak lipatan kulit yang kaya pembuluh darah, yang berfungsi sebagai permukaan pernapasan yang luas. Tingkat kerumitan strukturnya berbeda-beda antarspesies, dan cenderung lebih berkembang pada spesies yang menghuni lingkungan yang lebih keras.1

Sumber

1 sumber dan pustaka
  1. Seriously Fish seriouslyfish.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.

Referensi

  • Tan, H. H. and P. K. L. Ng (2005). The labyrinth fishes (Teleostei: Anabantoidei, Channoidei) of Sumatra, Indonesia. Raffles Bulletin of Zoology Supplement 13, 115-138
  • Tan, H. H. and P. K. L. Ng (2005). The fighting fishes (Teleostei: Osphronemidae: Genus Betta) of Singapore, Malaysia and Brunei. Raffles Bulletin of Zoology Supplement 13, 43-99
  • Tan, H. H. and P. K. L. Ng (2006). Six new species of fighting fish (Teleostei: Osphronemidae: Betta) from Borneo. Ichthyological Exploration of Freshwaters 17(2), 97-114
  • Kottelat, M. and P. K. L. Ng (1994). Diagnoses of five new species of fighting fishes from Banka and Borneo (Teleostei: Belontiidae). Ichthyological Exploration of Freshwaters 5(1), 65-78
  • Tan, H. H. (2009). Betta pardalotos, a new species of fighting fish (Teleostei: Osphronemidae) from Sumatra, Indonesia. Raffles Bulletin of Zoology 57(2), 501-504
  • Tan, H. H. (1998). Description of two new species of the Betta waseri group (Teleostei: Osphronemidae). Ichthyological Exploration of Freshwaters 8(3), 281-2871