Satuan
Tampilan

Cyprinidae, Indonesia

Desmopuntius endecanalis

Systomus endecanalis

Nama lain: Puntius endecanalis, barbir endecanalis

Suhu
19–26°C
pH
4–7
Akuarium minimum
75 cm
Tingkat kesulitan
Mudah

Tabel data

Lihat tabel lengkap
Suhu
19–26°C
pH
4–7
Ukuran
5 cm
Tingkat kesulitan
Mudah 2/8 Kenapa?

Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:

  • RuangSedangakuarium mulai 75 cm, ikan sepanjang 5 cm
  • AirMudahpH 4–7, 1–8 dGH
  • SuhuMudah19–26°C

Tingkat kesulitan 2/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung

Sumber dan tingkat keandalan
Suhu
  • Seriously Fish
pH
  • Seriously Fish
Kesadahan (dGH)
  • Seriously Fish
Ukuran
  • Seriously Fish
Akuarium minimum
  • Seriously Fish
Tingkat kesulitan
  • Seriously Fish

Cara tabel memilih satu angka jika sumber-sumber berbeda

Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-11-06.

Info singkat

Desmopuntius endecanalis adalah ikan cyprinid yang tampaknya endemik di daerah aliran Sungai Kapuas di Kalimantan Barat, Borneo, termasuk kawasan Danau Sentarum. Warna dasar tubuh yang keputihan dan 8 (jarang 7) jari-jari bercabang pada sirip anal membedakannya dari kerabat satu genusnya. Penempatannya dalam genus Desmopuntius pun baru bersifat sementara. Habitatnya belum dapat dipastikan, tetapi spesies yang berkerabat dekat biasanya ditemukan di rawa gambut dan sungai berair hitam (blackwater).

  • Pemijahan: Belum tercatat.1

Butuh akuarium seberapa besar?

Panjang standar: 50 mm SL. Ukuran dasar akuarium: 75 × 30 cm. Volume: ±68 liter.

Diperlukan ukuran dasar akuarium minimal 75 × 30 cm atau yang setara.1

Kondisi air seperti apa?

  • Suhu: 19–26 °C
  • pH: 4,0–7,0
  • Kesadahan: 1–8 dGH1

Bagaimana cara merawatnya?

Ikan ini seharusnya tumbuh baik di akuarium yang penuh tanaman air atau di akuarium bertema sungai hutan. Untuk tema sungai hutan, bisa digunakan substrat lembut, pencahayaan redup, akar, ranting, dan serasah daun.

Bisa juga ditambahkan tanaman air yang mampu bertahan dalam kondisi seperti itu, misalnya Microsorum, Taxiphyllum, atau Cryptocoryne spp.

Filter tidak perlu terlalu kuat karena ikan ini sebagian besar berasal dari perairan yang arusnya lambat.1

Diberi pakan apa?

Di alam, ikan ini kemungkinan adalah mikropredator yang memakan serangga kecil, cacing, krustasea, dan zooplankton lainnya.

Di akuarium, ikan ini mau menerima pakan kering dengan ukuran yang sesuai, tetapi sebaiknya tidak hanya diberi pakan kering saja.

Pemberian pakan hidup dan beku berukuran kecil setiap hari, seperti kutu air, artemia, dan sejenisnya, akan menghasilkan warna terbaik dan mendorong ikan masuk ke kondisi siap memijah.1

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Ikan ini seharusnya sangat cocok untuk akuarium komunitas damai berisi ikan-ikan Asia Tenggara, seperti cyprinid berukuran serupa, loach dari famili Nemacheilidae atau Cobitidae, dan beberapa jenis anabantoid.

Hindari teman satu akuarium yang ribut atau sangat lincah, karena ikan ini bisa kalah bersaing mendapatkan pakan.

Pada dasarnya ini adalah ikan yang hidup bergerombol, dan sebaiknya dipelihara dalam kelompok minimal 8–10 ekor.

Memeliharanya dalam jumlah yang cukup tidak hanya membuat ikan tidak terlalu mudah kaget, tetapi juga menghasilkan tampilan yang lebih menarik dan alami. Selain itu, ikan jantan akan menampilkan warna terbaiknya saat bersaing satu sama lain untuk menarik perhatian betina.1

Bagaimana membedakan jantan dan betina?

Belum dapat dipastikan, tetapi betina dewasa kemungkinan sedikit lebih besar daripada jantan dan tubuhnya tampak jelas lebih bulat, terutama saat sedang mengandung telur.1

Di mana habitat aslinya?

Catatan keberadaannya belum banyak, tetapi D. endecanalis tampaknya endemik di daerah aliran Sungai Kapuas di Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia, Borneo, termasuk sistem danau Sentarum.

Lokasi tipenya disebutkan sebagai 'sungai kecil di hutan pada titik alirannya masuk ke Sungai Mandai, 2–3 km ke arah hulu dari pertemuannya dengan aliran utama Kapuas'.1

Habitat alami

Belum dapat dipastikan, tetapi anggota genus ini yang berkerabat dekat biasanya ditemukan di rawa gambut dan sungai berair hitam di sekitarnya, juga di perairan tenang lainnya, sering kali di area yang ditumbuhi rumput terendam atau tanaman air serta vegetasi tepian yang lebat.

Airnya biasanya berwarna cokelat akibat asam humat dan zat kimia lain yang dilepaskan oleh bahan organik yang membusuk. Kandungan mineral terlarutnya umumnya sangat kecil, dan pH-nya bisa serendah 3,0 atau 4,0.

Dasar perairannya biasanya dipenuhi daun gugur, ranting, dan akar pohon yang terendam, meskipun di beberapa tempat bisa dijumpai tanaman air dari genus seperti Cryptocoryne atau Barcalaya.1

Catatan

Spesies ini termasuk dalam sekelompok ikan yang berkerabat dekat dan mirip penampilannya, yang dipindahkan ke genus baru Desmopuntius oleh Kottelat (2013), meskipun untuk D. endecanalis keputusan ini baru bersifat sementara.

Ikan ini dibedakan dari kerabat satu genusnya oleh warna dasar tubuh yang keputihan dan 8 (jarang 7) jari-jari bercabang pada sirip anal, dibandingkan 5–6 pada anggota genus lainnya.

Spesies ini sebelumnya dimasukkan ke dalam genus Puntius, yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai kelompok polifiletik "tempat menampung semua" berisi lebih dari 100 spesies cyprinid berukuran kecil hingga sedang, sampai Pethiyagoda et al. (2012) menerbitkan tinjauan parsial yang mencakup anggota-anggotanya dari Asia Selatan.

Sebagian besar spesies Puntius dari kawasan sub-Himalaya diklasifikasikan ulang, dan genus-genus baru Dawkinsia, Dravidia (kemudian diganti menjadi Haludaria), serta Pethia dibentuk untuk menampung sebagian di antaranya. Sisanya tetap di Puntius atau dipindahkan ke kelompok Systomus yang sudah ada, meskipun definisi Systomus diubah sehingga beberapa spesies Asia Tenggara yang sebelumnya ditempatkan di sana tidak bisa lagi dianggap sebagai anggotanya.

Kottelat (2013) menerbitkan pembaruan tata nama yang menyeluruh untuk ikan-ikan Asia Tenggara, yang di dalamnya genus Desmopuntius dibentuk dan didiagnosis sebagai berikut: pola warna khas berupa 4–6 pita vertikal, setidaknya pada ikan muda; pita pertama melintasi mata, pita ke-2 di belakang celah insang, pita ke-3 di pangkal depan sirip punggung, pita ke-4 di pangkal depan sirip anal, pita ke-5 di tengah batang ekor, dan pita ke-6 di pangkal sirip ekor; sering terdapat bintik hitam di ujung belakang pangkal sirip punggung. Pada D. gemellus, D. johorensis, dan D. trifasciatus, pola pita vertikal ini hanya ada pada ikan muda dan seiring bertambahnya ukuran berubah menjadi pola garis memanjang.

Selain itu, ciri-ciri berikut berguna untuk identifikasi Desmopuntius spp.: jari-jari sirip punggung tidak bercabang yang terakhir bergerigi di bagian belakang; terdapat sungut rostral dan sungut maksila; bibir halus dan tipis, alur pascalabial terputus di bagian tengah; gurat sisi lengkap, dengan 25–27 sisik berpori di tubuh; ½4/1/4½ baris sisik antara pangkal depan sirip punggung dan garis tengah perut di depan pangkal sirip perut; 12 baris sisik di sekeliling batang ekor; 7–11 tapis insang pada lengkung insang pertama.1

Sumber

1 sumber dan pustaka
  1. Seriously Fish seriouslyfish.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.

Referensi

  • Kottelat, M. (1992). The identity of Barbus johorensis Duncker, 1904 (Teleostei: Cyprinidae). Raffles Bulletin of Zoology 40(2), 187-192
  • Kottelat, M. and H-H Tan (2011). Systomus xouthos, a new cyprinid fish from Borneo, and revalidation of Puntius pulcher (Teleostei: Cyprinidae). Ichthyological Exploration of Freshwaters 22(3), 209-214
  • Roberts, T. R. (1989). The freshwater fishes of western Borneo (Kalimantan Barat, Indonesia). Memoirs of the California Academy of Sciences 14, 1-210
  • Kottelat, M. and E. Widjanarti (2005). The fishes of Danau Sentarum National Park and the Kapuas Lakes area, Kalimantan Barat, Indonesia. Raffles Bulletin of Zoology Supplement 13, 139-173
  • Pethiyagoda, R., M. Meegaskumbura, and K. Maduwage (2012). A synopsis of the South Asian fishes referred to Puntius (Pisces: Cyprinidae). Ichthyological Exploration of Freshwaters 23(1), 69-95
  • Pethiyagoda, R. (2013). Haludaria, a replacement generic name for Dravidia (Teleostei: Cyprinidae). Zootaxa 3646(2), 199
  • Kottelat, M. (2013). The fishes of the inland waters of southeast Asia: a catalogue and core bibiography of the fishes known to occur in freshwaters, mangroves and estuaries. The Raffles Bulletin of Zoology Supplement 27, 1-6631