Cyprinidae, Indonesia
Puntigrus pulcher
Puntigrus pulcher
Nama lain: Puntius pulcher, ikan sumatra, tiger barb
- Suhu
- 20–26°C
- pH
- 5–7,5
- Akuarium minimum
- 80 cm
- Tingkat kesulitan
- Mudah
Tabel data
Lihat tabel lengkap
- Suhu
- 20–26°C
- pH
- 5–7,5
- Kesadahan (dGH)
- 1–10
- Ukuran
- 6 cm
- Akuarium minimum
- 80 cm
- Tingkat kesulitan
Mudah 2/8 Kenapa?
Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:
- RuangSedangakuarium mulai 80 cm, ikan sepanjang 6 cm
- AirMudahpH 5–7,5, 1–10 dGH
- SuhuMudah20–26°C
- PerilakuMudahdamai
- KelompokSedangkelompok mulai 8 ekor
Tingkat kesulitan 2/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung
Sumber dan tingkat keandalan
- Suhu
- Seriously Fish
- pH
- Seriously Fish
- Kesadahan (dGH)
- Seriously Fish
- Ukuran
- Seriously Fish
- Akuarium minimum
- Seriously Fish
- Tingkat kesulitan
- Seriously Fish
Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-10-30.
Info singkat
Puntigrus pulcher adalah ikan cyprinid kecil yang endemik di wilayah Indonesia di Kalimantan bagian timur. Ada catatan keberadaannya dari Sungai Kayan dan Sungai Mahakam. Sejak Alfred (1963), selama puluhan tahun spesies ini dianggap sinonim P. anchisporus, sampai akhirnya divalidasi ulang oleh Kottelat dan Tan (2011). Gurat sisinya tidak lengkap, sirip punggungnya hitam seluruhnya, dan sirip perutnya juga hitam. Ikan ini sesekali muncul di hobi akuarium, tetapi perdagangannya sebagian besar mengandalkan 'tiger barb' (ikan sumatra) hasil budidaya komersial.1
Butuh akuarium seberapa besar?
Diperlukan akuarium berukuran minimal 80 × 30 cm (sekitar 72 liter).1
Kondisi air seperti apa?
Bagaimana cara merawatnya?
Pilihan dekorasi tidak terlalu menentukan, tetapi ikan ini akan menampilkan warna yang lebih baik di akuarium yang didekorasi dengan baik. Anggota genus ini juga tampaknya menyukai tambahan tanaman air yang mengapung atau menjuntai, serta akar atau cabang kayu apung (driftwood).1
Diberi pakan apa?
Kemungkinan omnivora yang memakan larva serangga, zooplankton, bahan tumbuhan, dan detritus organik.
Di akuarium, berikan secara rutin pakan hidup dan beku berukuran kecil seperti larva chironomid (cacing darah), kutu air (Daphnia), dan artemia, di samping pakan kering berkualitas baik.1
Bisa dicampur dengan ikan apa?
Pengamatan yang terbatas di akuarium menunjukkan bahwa spesies ini damai bila diberi akuarium yang cukup besar dan penghuni lain (tankmates) yang dipilih dengan tepat.
Ikan ini hidup berkelompok dan membentuk hierarki yang longgar; para jantan saingan terus-menerus bertarung satu sama lain untuk mendapatkan perhatian betina dan posisi dalam hierarki kelompok. Karena itu, kelompok berisi minimal 8-10 ekor sebaiknya dianggap jumlah pembelian paling sedikit.1
Teman satu akuarium
- Perilaku
- Damai
- Kelompok minimal
- 8 ekor
Hindari
Saran berdasarkan suhu, pH, ukuran, dan sifat tiap spesies. Cek kecocokan dengan spesies lain →
Bagaimana membedakan jantan dan betina?
Jantan dewasa cenderung sedikit lebih kecil, lebih ramping, dan memiliki pola warna yang lebih pekat dibanding betina.1
Bagaimana cara berkembang biaknya?
Pernah berhasil dipijahkan di akuarium, setidaknya satu kali.1
Di mana habitat aslinya?
Endemik di wilayah Indonesia di Kalimantan bagian timur. Batas sebarannya yang pasti belum jelas, tetapi ada catatan resmi dari Sungai Kayan di Provinsi Kalimantan Utara dan Sungai Mahakam di Kalimantan Timur.
Lokalitas tipenya adalah 'Sungai Kayan, dekat Bulungan, Kalimantan bagian timur laut, Indonesia'.1
Habitat alami
Belum dapat dipastikan, tetapi spesies lain dalam genus yang sama biasanya menghuni sungai kecil dan anak sungai di hutan dengan air yang relatif jernih serta dasar berpasir hingga berbatu.1
Catatan
Spesies ini sesekali muncul di hobi akuarium, tetapi perdagangannya sebagian besar mengandalkan 'tiger barb' (ikan sumatra) hasil budidaya komersial yang asal-usulnya diragukan.
Sejak Alfred (1963), selama beberapa dekade spesies ini dianggap sinonim P. anchisporus, tetapi kemudian divalidasi ulang oleh Kottelat dan Tan (2011).
P. pulcher dibedakan dari spesies lain dalam genusnya oleh kombinasi ciri berikut: gurat sisi tidak lengkap dengan 10-11 sisik berpori; 12 baris sisik di sekeliling batang ekor; 19-21+2 sisik pada baris lateral; sirip punggung hitam seluruhnya, dengan bagian depan bawah berwarna abu-abu; sirip perut hitam; pita hitam di tubuh selebar 1,5 sisik.
Genus Puntigrus dibentuk oleh Kottelat (2013) untuk menampung sekelompok spesies yang sebelumnya disebut 'kelompok Puntius tetrazona'. Anggota lainnya adalah P. tetrazona, P. navjotsodhii, P. pulcher, dan P. partipentazona; tiga yang pertama berasal dari Kalimantan bagian barat, tengah, dan timur secara berurutan, sedangkan yang terakhir berasal dari Indochina.
Kelompok ini dicirikan oleh pola warna khas berupa 4 pita hitam pada tubuh yang pucat, serta pigmen hitam setidaknya pada separuh bagian pangkal sirip punggung. Pita paling depan melewati mata, pita kedua berada di depan pangkal sirip perut, pita ketiga berada di atas sirip dubur dan berlanjut ke sirip tersebut, dan pita paling belakang berada di pangkal sirip ekor.
Kombinasi ciri berikut juga membantu identifikasi, meskipun masing-masing tidak khas hanya untuk genus ini: tubuh berbentuk belah ketupat dan tinggi; jari-jari keras terakhir sirip punggung bergerigi di sisi belakang; tidak ada sungut rostral; ada sungut maksila; bibir halus dan tipis, alur pascalabial terputus di bagian tengah; gurat sisi lengkap atau tidak lengkap; 18–23 sisik gurat sisi; 9½–10½ [5½/1/3–4½] baris sisik antara awal sirip punggung dan garis tengah perut di depan pangkal sirip perut; 12–14 baris sisik di sekeliling batang ekor; 8–9 saringan insang (gill rakers) pada lengkung insang pertama.
Genus Puntius dulu dipandang sebagai kelompok polifiletik yang menampung banyak spesies (catch-all), dengan lebih dari 100 spesies, tetapi masalah ini sebagian besar sudah terselesaikan sejak awal abad ini.1
Sumber
1 sumber dan pustaka
- Seriously Fish seriouslyfish.com
Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.
Referensi
- Rendahl, H. (1922). Fische, gesammelt von Herrn Carl Lumholtz in Bulugan, Northost-Borneo, 1914. Nytt Magazin for Naturvideenskapen 5(60), 199-204
- Roberts, T. R. (1989). The freshwater fishes of western Borneo (Kalimantan Barat, Indonesia). Memoirs of the California Academy of Sciences 14, 1-210
- Kottelat, M. and H-H Tan (2011). Systomus xouthos, a new cyprinid fish from Borneo, and revalidation of Puntius pulcher (Teleostei: Cyprinidae). Ichthyological Exploration of Freshwaters 22(3), 209-214
- Kottelat, M. (2013). The fishes of the inland waters of southeast Asia: a catalogue and core bibiography of the fishes known to occur in freshwaters, mangroves and estuaries. The Raffles Bulletin of Zoology Supplement 27, 1-663
- Alfred, E. R. (1963). Some Colourful Fishes of the Genus Puntius Hamilton. Bulletin of the National Museum of Singapore 32, 135-1421
Foto pembaca
Belum ada foto. Anda memelihara Puntigrus pulcher? Kirim fotonya agar semua bisa ikut melihat.

Diskusi
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman.
Pemeriksaan antispam gagal dimuat sehingga komentar belum terkirim. Coba muat ulang halaman.
Sesuai ketentuan, komentar memerlukan verifikasi pengguna; fitur ini akan segera tersedia.