Cyprinidae, Laos
Siamese Algae Eater
Crossocheilus cobitis
Nama lain: SAE, Crossocheilus
- Suhu
- 20–26°C
- pH
- belum ada
- Akuarium minimum
- 100 cm
- Tingkat kesulitan
- Sedang
Tabel data
Lihat tabel lengkap
- Suhu
- 20–26°C
- Ukuran
- 5,2 cm
- Akuarium minimum
- 100 cm
- Tingkat kesulitan
Sedang 4/8 Kenapa?
Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:
- RuangSedangakuarium mulai 100 cm, ikan sepanjang 5,2 cm
- SuhuMudah20–26°C
Tingkat kesulitan 4/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung
Sumber dan tingkat keandalan
- Suhu
- Seriously Fish
- Ukuran
- Seriously Fish
- Akuarium minimum
- Seriously Fish
- Tingkat kesulitan
- Seriously Fish
Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-11-03.
Info singkat
Crossocheilus cobitis adalah ikan cyprinid yang sebarannya mulai dari daerah aliran Sungai Mekong di Laos, Vietnam, dan Thailand ke selatan sampai Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Ikan ini terutama hidup di dataran rendah, yaitu di bagian hilir sungai yang airnya keruh, di atas dasar berlumpur, dekat kayu yang terendam dan benda-benda serupa. Karena sebarannya luas, ikan ini kemungkinan besar sudah masuk ke perdagangan dengan nama tidak sah 'Crossocheilus siamensis', dan kemungkinan sebenarnya merupakan sekelompok spesies yang mirip penampilannya dan berkerabat dekat.1
Butuh akuarium seberapa besar?
Ukuran dasar akuarium minimal yang disarankan adalah 100 × 30 cm (sekitar 90 liter).1
Kondisi air seperti apa?
Diberi pakan apa?
Di alam, spesies Crossocheilus adalah pemakan aufwuchs, yaitu merumput alga, diatom, dan fitoplankton lainnya, beserta mikroorganisme yang menyertainya. Karena itu, pakan berprotein tinggi sebaiknya tidak diberikan di akuarium, sebab ikan ini tidak bisa mencerna sebagian komponennya dengan efisien; kalau dikonsumsi rutin dalam waktu lama, bisa terjadi penumpukan lemak berlebihan, bahkan kerusakan organ.
Pakan kering berkualitas baik yang ditambah Spirulina atau sejenisnya sangat ideal, tetapi menunya juga harus banyak berisi sayuran segar. Kacang polong kupas, zukini yang sudah direbus sebentar (blansir), bayam, dan potongan buah semuanya bagus sebagai tambahan menu. Setelah betah di akuarium, ikan ini kadang naik ke bagian tengah air untuk makan, dan di akuarium dengan susunan seperti dijelaskan di atas sering terlihat merumput biofilm yang biasanya tumbuh di bebatuan.1
Sebaran alami
Hidup alami di: Laos, Vietnam, Thailand, Malaysia, Indonesia1
Sungai, danau, wilayah: Mekong, Chao Phraya, Mae Klong, Sumatra, Kalimantan, Jawa1
Apa kata sumber
- Laos, Vietnam, Thailand, Malaysia, Mekong, Chao Phraya, Mae Klong, Sumatra, Kalimantan, Jawa · Seriously Fish1: “This species is currently accepted to be the most common member of the genus with a wide distribution extending southwards from the Mekong river drainage in Laos, Vietnam, and Thailand to the Greater Sunda Islands of Sumatra, Borneo, and Java, via the Chao Phraya and Mae Klong river systems in central and western Thailand and numerous fluvial systems in Peninsular Malaysia.”
- Indonesia · Seriously Fish1: “Type locality is 'Padang, Sumatra, Indonesia; Jakarta, Java, Indonesia'.”
GBIF punya 12 catatan di alam liar, semuanya di negara-negara di atas.
- Catatan di negara asal
- Negara asal
- Tiap kotak sekitar 160 km.
Data: GBIF.org, 12 catatan, diambil 2026-11-07 · CC0, CC BY 4.0. Peta dasar: Natural Earth.
Di mana habitat aslinya?
Saat ini spesies ini dianggap sebagai anggota genusnya yang paling umum, dengan sebaran luas yang membentang ke selatan dari daerah aliran Sungai Mekong di Laos, Vietnam, dan Thailand sampai Kepulauan Sunda Besar, yaitu Sumatra, Kalimantan, dan Jawa, melewati sistem Sungai Chao Phraya dan Mae Klong di Thailand tengah dan barat serta banyak sistem sungai di Semenanjung Malaysia.
Lokasi tipenya adalah 'Padang, Sumatra, Indonesia; Jakarta, Jawa, Indonesia'.1
Habitat alami
C. cobitis terutama hidup di dataran rendah, di bagian hilir sungai, dan sering ditemukan di air keruh dengan dasar berlumpur. Ikan ini biasanya tertangkap di dekat benda padat yang terendam, seperti kayu gelondongan, rumah apung, dan perahu yang sedang tertambat.1
Catatan
Mengingat sebaran alaminya yang luas, masuk akal kalau spesies ini sudah atau pernah tersedia di hobi akuarium, meskipun mungkin tidak pernah dijual dengan nama yang benar. Sebagian besar spesies Crossocheilus bergaris samping yang masuk pasar ikan hias diperdagangkan sebagai 'Crossocheilus siamensis', yaitu sinonim tidak sah dari Epalzeorhynchos siamensis, yang sendiri merupakan sinonim dari Crossocheilus oblongus.
Meski begitu, kemungkinan juga C. cobitis sebenarnya merupakan sekelompok spesies yang mirip penampilannya dan berkerabat dekat, dan nantinya akan diklasifikasi ulang.
Untuk saat ini, spesies ini dibedakan dari kerabat segenusnya lewat kombinasi ciri berikut: dua pasang sungut; garis tengah samping yang menyambung dari ujung moncong sampai pangkal sirip ekor, dengan bercak kecil yang mencolok di ujung belakangnya dan tampak samar di sirip ekor; tanda samar di antara anus dan pangkal sirip anal pada ikan muda; mulut yang sempit.
Anggota Crossocheilus dicirikan oleh 8 jari-jari bercabang pada sirip punggung, lobus rostral yang tidak bisa digerakkan, tidak adanya duri sirip punggung, serta bibir atas dan bawah yang tidak menyambung, dengan bibir atas melekat ke rahang bawah melalui selaput tipis.1
Sumber
1 sumber dan pustaka
- Seriously Fish seriouslyfish.com
Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.
Referensi
- Kottelat, M. (2013). The fishes of the inland waters of southeast Asia: a catalogue and core bibiography of the fishes known to occur in freshwaters, mangroves and estuaries. The Raffles Bulletin of Zoology Supplement 27, 1-663
- Su, R.-F., J.-X. Yang and Y.-R. Chen (2000). A review of the Chinese species of Crossocheilus, with description of a new species (Ostariophysi: Cyprinidae). The Raffles Bulletin of Zoology 48(2), 215-221
- Bănărescu, P. M. (1986). A review of the species of Crossocheilus, Epalzeorhynchos and Paracrossochilus (Pisces, Cyprinidae). Travaux du Muséum d'Histoire Naturelle 28, 141-161
- Rainboth, W. J. (1996). Fishes of the Cambodian Mekong. FAO Species Identification Field Guide for Fishery Purposes. FAO, Rome, 1-265
- Kottelat, M. (2001). Fishes of Laos. WHT Publications, Colombo, 1-198
- Tan, H. H. and M. Kottelat (2009). The fishes of the Batang Hari drainage, Sumatra, with description of six new species. Ichthyological Exploration of Freshwaters 20(1), 13-69
- Kottelat, M. and H. H. Tan (2011). Crossocheilus elegans, a new species of fish from northern Borneo (Teleostei: Cyprinidae). The Raffles Bulletin of Zoology 59(2), 195-199
- Kottelat, M. and E. Widjanarti (2005). The fishes of Danau Sentarum National Park and the Kapuas Lakes area, Kalimantan Barat, Indonesia. Raffles Bulletin of Zoology Supplement 13, 139-173
- Roberts, T. R. (1989). The freshwater fishes of western Borneo (Kalimantan Barat, Indonesia). Memoirs of the California Academy of Sciences 14, 1-210
- Bleeker, P. (1854). Nieuwe tientallen diagnostische beschrijvingen van nieuwe of weinig bekende vischsoorten van Sumatra. Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indië v. 5, 495-5341
Foto pembaca
Belum ada foto. Anda memelihara Siamese Algae Eater? Kirim fotonya agar semua bisa ikut melihat.
Diskusi
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman.
Pemeriksaan antispam gagal dimuat sehingga komentar belum terkirim. Coba muat ulang halaman.
Sesuai ketentuan, komentar memerlukan verifikasi pengguna; fitur ini akan segera tersedia.