Cyprinidae, Indonesia
Crossocheilus langei
Crossocheilus langei
Nama lain: Siamese Algae Eater, SAE, Siamese flying fox, Crossocheilus siamensis
- Suhu
- 20–26°C
- pH
- 6–7,5
- Akuarium minimum
- 150 cm
- Tingkat kesulitan
- Sedang
Tabel data
Lihat tabel lengkap
- Suhu
- 20–26°C
- pH
- 6–7,5
- Kesadahan (dGH)
- 1–15
- Ukuran
- 15 cm
- Akuarium minimum
- 150 cm
- Tingkat kesulitan
Sedang 4/8 Kenapa?
Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:
- RuangSulitakuarium mulai 150 cm, ikan sepanjang 15 cm
- AirMudahpH 6–7,5, 1–15 dGH
- SuhuMudah20–26°C
- PerilakuMudahdamai
- KelompokSedangkelompok mulai 6 ekor
Tingkat kesulitan 4/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung
Sumber dan tingkat keandalan
- Suhu
- Seriously Fish
- pH
- Seriously Fish
- Kesadahan (dGH)
- Seriously Fish
- Ukuran
- Seriously Fish
- Akuarium minimum
- Seriously Fish
- Tingkat kesulitan
- Seriously Fish
Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-11-03.
Info singkat
Crossocheilus langei adalah ikan cyprinid dari Kalimantan, Semenanjung Malaysia, dan Thailand. Ikan ini salah satu dari beberapa ikan yang hampir identik dan dijual sebagai Siamese algae eater. Nama dagang 'Crossocheilus siamensis' yang dipakai untuk ikan-ikan ini tidak valid. C. langei bisa dibedakan dari bercak gelap di depan sirip anal dan gurat sisi yang lurus melewati garis gelap di badannya.
- Butuh arus kuat, dengan filter yang memutar volume air akuarium 8–12 kali per jam
- Butuh akuarium yang sangat besar1
Butuh akuarium seberapa besar?
Untuk satu kelompok dibutuhkan akuarium dengan ukuran alas 150 × 45 cm atau yang setara (sekitar 304 liter).1
Kondisi air seperti apa?
Bagaimana cara merawatnya?
Spesies ini bisa hidup baik di sebagian besar akuarium yang terawat, tetapi paling cocok di setup yang dibuat menyerupai sungai berarus, dengan dasar berupa batu berbagai ukuran, kerikil, dan beberapa bongkahan batu besar yang halus terkikis air.
Setup ini bisa dilengkapi lagi dengan akar dan ranting yang disusun membentuk jaringan celah, ceruk, dan tempat-tempat teduh. Sebagian besar jenis tanaman air tidak akan tumbuh baik di lingkungan seperti ini, tetapi jenis yang kuat seperti Microsorum, Bolbitis, atau Anubias spp. bisa ditanam menempel di dekorasi. Pencahayaan terang akan memicu tumbuhnya alga yang akan dimakan ikan ini. Di lingkungan seperti ini ikan akan menunjukkan perilaku yang lebih alami dan bisa dipelihara bersama spesies lain yang menyukai kondisi serupa.
Seperti banyak ikan yang di alam hidup di air mengalir, ikan ini tidak tahan terhadap penumpukan limbah organik dan butuh air yang selalu sangat bersih agar bisa tumbuh baik. Ikan ini juga paling baik dipelihara dengan kadar oksigen terlarut yang tinggi dan pergerakan air yang cukup di akuarium, jadi sebaiknya gunakan filter eksternal, powerhead, atau alat sejenis untuk mendapatkan kondisi tersebut.1
Diberi pakan apa?
'Crossocheilus siamensis' (lihat 'Catatan') terkenal sebagai pemakan alga 'black brush' (BBA), yang juga dikenal sebagai alga 'merah' atau alga 'janggut'. Alga dari Divisi Rhodophyta ini kalau sudah terlanjur tumbuh di akuarium bisa sulit dibasmi dengan cara lain, sehingga 'spesies' ini menjadi sangat populer di kalangan penghobi yang memelihara akuarium tanaman.
Kemungkinan besar karena laku dijual inilah beberapa jenis ikan, termasuk C. langei, ditawarkan dengan nama tersebut. Ikan-ikan ini memang memakan BBA, tetapi seberapa banyak berbeda-beda tergantung spesiesnya dan, dalam beberapa kasus, tergantung ada atau tidaknya sumber pakan lain. C. atrilimes, misalnya, lebih suka tanaman tingkat tinggi berdaun halus seperti Vesicularia spp., tetapi juga memakan berbagai jenis alga. C. langei sensu amplo adalah pemakan BBA yang paling efektif, walaupun beberapa laporan menyebutkan bahwa hanya pertumbuhan alga yang masih muda dan lunak yang dimakan, sehingga ikan sebaiknya dimasukkan sebelum alga berpotensi mewabah.
Di alam, spesies Crossocheilus adalah pemakan aufwuchs yang memakan alga, diatom, dan fitoplankton lain, beserta mikroorganisme yang ada di dalamnya. Karena itu pakan berprotein tinggi sebaiknya dihindari di akuarium, karena ikan ini tidak mampu mencerna sebagian komponennya dengan efisien; jika dikonsumsi secara rutin dan dalam jangka panjang, bisa terjadi penumpukan lemak berlebihan dan bahkan kerusakan organ.
Pakan kering berkualitas baik dengan tambahan Spirulina atau sejenisnya sangat ideal, tetapi menu juga perlu banyak berisi sayuran segar. Kacang polong yang dikupas, zukini yang direbus sebentar (blanching), bayam, dan potongan buah semuanya bagus sebagai tambahan menu. Setelah betah di akuarium, ikan kadang naik ke bagian tengah kolom air untuk makan, dan di setup seperti yang dijelaskan di atas sering terlihat menyusuri biofilm yang biasanya terbentuk di bebatuan.1
Bisa dicampur dengan ikan apa?
Umumnya damai dan bisa dipelihara bersama banyak spesies populer dalam hobi ini, walaupun mungkin lebih baik memilih ikan dari salah satu negara atau sungai asalnya. Pilihan dari Thailand saja antara lain Botia rostrata dan Crossocheilus reticulatus, ditambah berbagai spesies Cyclocheilichthys, Devario, Mystacoleucus, Rasbora, Garra, Homaloptera, Lepidocephalichthys, Nemacheilus, Syncrossus, Yasuhikotakia, dan Schistura.
Di alam, Crossocheilus spp. biasanya ditemukan berenang dalam kelompok longgar, dan bisa menjadi pemalu atau gampang kaget jika dipelihara sendirian atau dalam jumlah sedikit. Ikan ini hidup berkelompok longgar (shoaling), bukan bergerombol rapat (schooling), dan membentuk hierarki yang jelas. Ikan ini paling baik dipelihara dalam kelompok enam ekor atau lebih, karena jika jumlahnya lebih sedikit, individu yang lebih lemah bisa terus-menerus ditindas. Dengan begitu, Anda akan mendapatkan tampilan akuarium yang lebih alami dan perilaku menarik dari ikan-ikan yang saling berinteraksi.1
Teman satu akuarium
- Perilaku
- Damai
- Kelompok minimal
- 6 ekor
Hindari
Saran berdasarkan suhu, pH, ukuran, dan sifat tiap spesies. Cek kecocokan dengan spesies lain →

Bagaimana membedakan jantan dan betina?
Betina yang sudah matang kelamin biasanya bertubuh lebih tebal daripada jantan, tetapi ikan muda tidak mungkin dibedakan jenis kelaminnya secara akurat dari ciri luarnya.1
Bagaimana cara berkembang biaknya?
Diduga belum pernah berhasil dipijahkan di kalangan penghobi, walaupun ikan muda yang banyak beredar di pasaran diperkirakan dibudidayakan dengan bantuan hormon. Anggota genus ini diketahui melakukan migrasi pemijahan musiman di alam, bergerak ke hulu selama bulan-bulan yang lebih kering dan ke arah sebaliknya saat permukaan air naik.1
Sebaran alami
Apa kata sumber
GBIF punya 14 catatan di alam liar: 11 di negara-negara di atas, 3 di tempat lain (terbanyak: Kanada 3). Catatan di tempat lain bisa jadi ikan yang dilepas orang, atau salah identifikasi.
- Catatan di negara asal
- Catatan di tempat lain
- Negara asal
- Tiap kotak sekitar 620 km.
Data: GBIF.org, 14 catatan, diambil 2026-11-07 · CC0, CC BY 4.0. Peta dasar: Natural Earth.
Di mana habitat aslinya?
Saat ini dianggap tersebar di Kalimantan, Semenanjung Malaysia, Thailand bagian selatan dan barat, dan mungkin juga Myanmar bagian selatan. Sebaran Crossocheilus spp. yang bergaris di sisi badan, terutama di Thailand, masih perlu diteliti lebih lanjut karena sebagian populasinya mungkin merupakan spesies yang belum dideskripsikan.
Habitat alami
Hidup di sungai kecil dan anak sungai berarus dengan dasar berupa bongkahan batu, kerikil kecil, kerikil, dan pasir, sering di area yang ada kayu atau akar pohon yang terendam. Airnya jernih dan sering dangkal, sehingga sinar matahari bisa menembus permukaan dan tumbuh lapisan biofilm yang melimpah di permukaan benda-benda yang terendam. Biofilm inilah yang dicari dan dimakan ikan ini.
Ikan ini diduga melakukan migrasi musiman, dan selama itu bisa ditemukan di perairan yang lebih dalam dan lebih keruh.1
Catatan
Spesies ini termasuk beberapa kerabat segenus yang hampir identik yang diperdagangkan sebagai 'Siamese algae-eater' (sering disingkat 'SAE'), 'Siamese flying fox', dan 'Crossocheilus siamensis'. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa nama tersebut adalah sinonim dari Epalzeorhynchos siamensis, yang dideskripsikan dari provinsi Tadi, Thailand selatan (semenanjung) oleh Smith (1931) sebelum dipindahkan ke Crossocheilus oleh Bănărescu (1986).
Namun, nama Crossocheilus siamensis itu tidak valid, dan merupakan sinonim dari Epalzeorhynchos siamensis, yang sendiri merupakan sinonim dari Crossocheilus oblongus, spesies yang dideskripsikan dari Jawa. C. oblongus saat ini diterima tersebar di seluruh Indochina dan Kepulauan Sunda, tetapi identitasnya belum jelas walaupun namanya rutin dipakai untuk ikan di perdagangan akuarium. Ikan ini dideskripsikan sebagai ikan kebiruan dengan sirip kuning dan hampir pasti bukan 'SAE' yang ada di hobi akuarium.
Membedakan spesies-spesies yang dijual sebagai 'C. siamensis' memang sulit, tetapi perbedaannya ada jika kombinasi beberapa ciri diperhatikan. C. atrilimes paling mudah dikenali dengan melihat jarak antara anus dan sirip anal, yang pada spesies ini hanya selebar 1,5-2 sisik, dibanding 2-3,5 pada spesies lain.
Garis hitam di sisi badannya membentang dari moncong sampai ujung sirip ekor; mata berwarna cokelat pucat di atas pupil dan putih di bawahnya; sungut rahang atas (maxillary barbel) tidak terlihat; gurat sisinya melengkung; sirip berwarna kuning kusam pucat. Bergantung pada kondisinya, spesies ini bisa mengubah tampilan garis gelap di badannya, paling jelas saat sedang adu (sparring), ketika garis itu menjadi jauh lebih lebar dan warnanya lebih pucat.
C. langei sensu amplo tampaknya adalah Crossocheilus bergaris sisi lain yang umum diperdagangkan, dan bisa dibedakan dari C. atrilimes dari ciri-ciri berikut: mata berwarna emas kemerahan di atas pupil dan putih di bawahnya; memiliki dua pasang sungut; gurat sisinya praktis lurus dan melewati bagian tengah garis gelap di badan; siripnya kecokelatan.
Walaupun garis badannya menjadi lebih pucat saat ikan sedang adu, lebarnya tidak berubah. Ciri pembeda sederhana lainnya adalah adanya bercak gelap tepat di depan sirip anal di bagian bawah tubuh ikan. Ikan inilah yang paling sering disebut 'Siamese algae eater' di literatur dan di internet, tetapi karena sedikit berbeda dari C. langei sensu stricto, kemungkinan bahwa ikan ini spesies yang belum dideskripsikan tidak bisa dikesampingkan.
Ikan ketiga dalam kelompok ini adalah spesies yang belum dideskripsikan dan kadang disebut C. sp. 'citripinnis'. Ikan ini lebih besar, tumbuh hingga 15 cm SL, dan memiliki sepasang sungut rahang atas yang terlihat jelas. Siripnya berwarna kuning lemon, makin pekat seiring ikan menjadi dewasa; garis gelap di badannya tidak berubah lebar maupun warnanya saat ikan sedang adu; gurat sisinya melengkung dan bentuk tubuh secara keseluruhan mirip C. atrilimes, sehingga keduanya mudah tertukar saat masih anakan. Mungkin juga ada spesies lain dari Thailand, yang mungkin belum dideskripsikan, yang diperdagangkan sebagai C. siamensis, tetapi sejauh ini belum ada penelitian mendetail.
Pada tahun 2009 Tan dan Kottelat mendeskripsikan spesies baru yang bergaris sisi, C. obscurus, dari daerah aliran sungai Batang Hari di Sumatra. Spesies ini juga tumbuh relatif besar (hingga "setidaknya" 14,2 cm) dan dibedakan lebih lanjut sebagai berikut: "sepasang sungut rostral, tanpa sungut rahang atas; garis tengah sisi badan dengan tepi yang tidak kontras tajam, sedikit melengkung ke bawah, samar pada individu terbesar, berlanjut ke jari-jari tengah sirip ekor, mencapai tepi belakang; tidak ada tanda hitam antara anus dan sirip anal; mulut lebar (30-36% HL)". Ada kemungkinan spesies ini sudah muncul di perdagangan dengan label nama lain.
C. oblongus adalah nama lain yang banyak salah dipakai di perdagangan, tetapi spesies itu tampaknya belum pernah diekspor dan dideskripsikan sebagai ikan kebiruan dengan sirip kuning. Ikan ini berasal dari sungai-sungai di Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Indonesia, tempat penangkapan ikan hias hampir tidak ada. Spesies Crossocheilus bergaris sisi lainnya juga ada dan sesekali mungkin tersedia, tetapi lebih mudah dibedakan dari kelompok yang dijelaskan di atas.
Pada C. nigriloba, misalnya, garis gelap di badannya secara khas terpecah menjadi deretan bercak saat ikan sedang adu, stres, atau tidur, dan cuping bawah sirip ekornya memiliki pigmen gelap bercampur merah, sedangkan C. burmicanus memiliki bercak warna biru di pangkal sirip dada.
Yang menambah kebingungan, Garra cambodgiensis yang agak mirip (yang sendiri sering salah disebut G. taeniata) biasanya dijual dengan nama 'false SAE', walaupun ikan ini mudah dikenali karena garis gelap di sisi badannya berakhir di batang ekor, semua sungutnya sangat kecil, dan rahang bawahnya berbentuk seperti cakram yang kadang memiliki warna merah terang di bibir luarnya.
Epalzeorhynchos kalopterus kadang salah diidentifikasi sebagai Crossocheilus sp., tetapi memiliki beberapa ciri pembeda, yang paling jelas adalah siripnya yang khas berwarna merah dan hitam dengan tepi putih. Yang juga mirip adalah spesies Paracrossochilus dari Pulau Kalimantan, tetapi ikan-ikan ini hampir tidak dikenal di akuarium.
Anggota Crossocheilus dicirikan dengan 8 jari-jari bercabang pada sirip punggung, cuping rostral yang tidak bisa digerakkan, tidak memiliki duri sirip punggung, dan bibir atas serta bibir bawah yang tidak tersambung, dengan bibir atas melekat ke rahang bawah melalui selaput tipis.1
Sumber
1 sumber dan pustaka
- Seriously Fish seriouslyfish.com
Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.
Referensi
- Niederle, J. (2009). My anabasis with red-algae eaters known as Crossocheilus siamensis. The Aquarium Gazette 8
- Kottelat, M. (2003). Nomenclatural status of Crossocheilus burmanicus, C. horai and C. multirastellatus (Osteichthyes: Cyprinidae). Raffles Bulletin of Zoology 51(2), 399-401
- Rainboth, W. J. (1996). Fishes of the Cambodian Mekong. FAO Species Identification Field Guide for Fishery Purposes. FAO, Rome, 1-265
- Tan, H. H. and M. Kottelat (2009). The fishes of the Batang Hari drainage, Sumatra, with description of six new species. Ichthyological Exploration of Freshwaters 20(1), 13-69
- Kottelat, M. (2013). The fishes of the inland waters of southeast Asia: a catalogue and core bibiography of the fishes known to occur in freshwaters, mangroves and estuaries. The Raffles Bulletin of Zoology Supplement 27, 1-663
- Bănărescu, P. M. (1986). A review of the species of Crossocheilus, Epalzeorhynchos and Paracrossochilus (Pisces, Cyprinidae). Travaux du Muséum d'Histoire Naturelle 28, 141-161
- Su, R.-F., J.-X. Yang and Y.-R. Chen (2000). A review of the Chinese species of Crossocheilus, with description of a new species (Ostariophysi: Cyprinidae). The Raffles Bulletin of Zoology 48(2), 215-221
- Ng, H. H. and H.-H. Tan (1999). The fishes of the Endau drainage, Peninsular Malaysia with descriptions of two new species of catfishes (Teleostei: Akysidae, Bagridae). Zoological Studies 38(3), 350-366
- Bleeker, P. (1860). De visschen van den Indischen Archipel, Beschreven en Toegelicht. Deel II. Acta Societatis Regiae Scientiarum Indo-Neêrlandicae v. 7 (N. S., v. 2), 1-492 + i-xiii1
Artikel yang menyebut spesies ini
- Lumut & Alga di Aquascape: Cara Mengenali Jenisnya dan Membasminya Perawatan tanaman
Foto pembaca
Belum ada foto. Anda memelihara Crossocheilus langei? Kirim fotonya agar semua bisa ikut melihat.

Diskusi
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman.
Pemeriksaan antispam gagal dimuat sehingga komentar belum terkirim. Coba muat ulang halaman.
Sesuai ketentuan, komentar memerlukan verifikasi pengguna; fitur ini akan segera tersedia.