Penyakit · sekitar 6 menit baca
Penyakit Velvet (Debu Emas) pada Ikan Hias: Tanda, Penyebab, Cara Mengobati
AquaTome merangkum dari 8 sumber lalu menulisnya sendiri

Ringkasan singkat
- Velvet atau penyakit debu emas disebabkan parasit dinoflagellata (Piscinoodinium/Oodinium di air tawar). Penyakit ini sangat menular, menyerang insang lebih dulu, dan bisa membunuh ikan.
- Langkah pertama: ganti 30–50% air, cek kualitas air, keluarkan karbon aktif dari filter, lalu naikkan suhu perlahan sampai 29 °C dalam 24 jam. Setelah itu mulai pengobatan di akuarium karantina dan akuarium utama sekaligus, dan teruskan cukup lama karena hanya tahap berenang bebas yang bisa dibunuh obat.
Apa itu velvet?
Velvet pada ikan air tawar disebabkan parasit dinoflagellata Piscinoodinium pillulare. Literatur lama menyebutnya Oodinium. Pada ikan laut penyebabnya Amyloodinium. Penyakit ini juga dikenal sebagai gold-dust (debu emas), rust (karat) atau coral disease. Velvet sangat menular dan bisa membunuh ikan.
Parasit ini tercatat menyerang 14 spesies ikan hias tropis dari berbagai famili, juga ikan mas dan crucian carp. Sasaran utamanya insang. Pada infeksi berat, lamela insang sampai menyatu. Ikan yang sudah parah mati karena kekurangan oksigen akibat jaringan insang yang mati (nekrosis). Ikan yang masih sangat muda dan yang sudah sangat tua punya angka kematian tinggi.
Siklus hidup ada tiga tahap:
- Trofon: menempel dan makan di tubuh ikan.
- Tomon: kista yang beristirahat di dasar akuarium dan bisa membelah menjadi sampai 256 tomit.
- Dinospora: tahap berenang bebas yang mencari inang baru.
Hal penting untuk pengobatan: hanya dinospora yang bisa dibunuh obat. Tomon dan trofon tahan bahan kimia, jadi pengobatan biasanya perlu diulang beberapa kali. Dinospora mengandung klorofil, jadi bisa bertahan tanpa inang selama ada cahaya. Tomon bisa dorman di substrat selama berminggu-minggu sampai berbulan-bulan.
| Suhu | Lama tahapan | Sumber |
|---|---|---|
| 23–25 °C | Trofon matang dan lepas jadi tomon dalam 3–4 hari; tomon membelah jadi dinospora dalam 50–70 jam | 3 |
| 25 °C | Trofon butuh sekitar 6 hari untuk matang sebelum lepas | 2 |
| 22–25 °C | Siklus penuh 10–14 hari, lebih lambat di suhu rendah | 2 |
| 15–17 °C | Pembelahan tomon sekitar 11 hari | 3 |
Tanda-tanda
- Di bawah cahaya terang, ikan tampak tertutup debu emas halus di kepala, badan dan sirip.
- Lapisan berwarna cokelat, keemasan atau kehijauan. Ikan bisa terlihat berwarna karat dengan lendir tebal.
- Pada infeksi awal, lapisan keemasan tipis baru terlihat kalau disenter dari samping (miring). Infeksi berat bisa tampak seperti lapisan putih yang rapat.
- Flashing: ikan tiba-tiba menggosokkan badan ke benda di akuarium.
- Sirip menguncup (clamped) dan ikan lesu.
- Ikan berkumpul di dekat permukaan atau di dekat keluaran filter. Kalau insangnya terinfeksi berat, ikan bernapas cepat dengan tutup insang mengembang.
- Kulit bisa berlendir berlebihan, sisik lepas, ada bintik perdarahan kecil dan luka kecil.
- Kasus lanjut: napas berat, megap-megap di permukaan dan tidak mau makan.
Karena infeksi sering mulai dari insang, ikan bisa sudah sakit parah sebelum ada tanda di kulit. Cara memeriksa: matikan lampu ruangan, lalu senter ikan. Lapisan kuning atau warna karat di sirip, badan dan insang jadi lebih mudah terlihat.
Membedakan dengan white spot (ich)
Velvet bisa tertukar dengan white spot. Untuk memastikan, dibuat preparat basah dari kerokan kulit atau insang lalu dilihat di mikroskop. Pada velvet akan terlihat trofon berbentuk kantong berukuran 80–100 µm. Kalau diberi larutan Lugol (iodin), trofon berwarna biru tua sehingga lebih mudah dikenali.
Penyebab dan pemicu
- Menular lewat akuarium, ikan dan peralatan yang tercemar, misalnya serokan. Walaupun jarang, pakan hidup beku bisa membawa bentuk dorman parasit.
- Parasit ini sering sudah ada di akuarium dan baru mewabah saat daya tahan ikan melemah.
- Suhu yang turun sekitar 15 °F dalam satu jam, atau air di bawah sekitar 73 °F, bisa memicu wabah.
- Akuarium kotor, kualitas air buruk, suhu yang naik-turun jauh dan penanganan ikan yang kasar menaikkan risiko.
- Dinospora mungkin bisa menyebar antarakuarium yang letaknya berdekatan lewat butiran air halus di udara (aerosol).
- Betta liar dan ikan blackwater lebih rentan terkena velvet.
Yang perlu dilakukan sekarang
Salah satu sumber (sumber 6) memberi urutan langkah berikut:
- Ganti 30–50% air, lalu cek pH, suhu, klorin, amonia, nitrit dan nitrat.
- Naikkan suhu perlahan sampai 29 °C dalam 24 jam (untuk akuarium tropis) supaya siklus hidup parasit lebih singkat.
- Redupkan atau matikan lampu.
- Keluarkan karbon aktif dari filter supaya obat tidak ikut terserap.
- Tambahkan garam akuarium. Catatan: satu sumber lain menyebut garam hanya sedikit pengaruhnya terhadap velvet (lihat bagian pengobatan).
Pisahkan ikan yang sakit ke air bersih, tetapi obati kedua akuarium, baik karantina maupun akuarium utama, karena penyakit ini mudah menular. Teruskan pengobatan sampai ikan tidak lagi menunjukkan gejala.
Pengobatan
Velvet biasanya tidak mempan diobati dengan obat spektrum luas. Obat yang dimasukkan ke air antara lain tembaga sulfat, methylene blue, formalin, malachite green dan acriflavine. Satu sumber menyarankan pengobatan terus-menerus sekitar seminggu, dan lebih lama kalau airnya dingin.
Tembaga (copper)
- Tembaga sulfat: 0,15 ppm ion tembaga sebagai perendaman sampai 10 hari, diulang bila perlu (sumber 2).
- Rumus dosis tembaga sulfat (mg/L) = alkalinitas total (mg/L) ÷ 100. Jangan dipakai kalau alkalinitas di bawah 50 mg/L.
- Tembaga kelat buatan sendiri: campur 2 bagian asam sitrat dengan 1 bagian tembaga sulfat (perbandingan berat). Dosis dihitung dari berat tembaga sulfatnya saja. Metode tembaga sulfat + asam sitrat untuk Amyloodinium ini menghasilkan 0,15 ppm ion tembaga, dan menurut FAO metode laut semacam ini seharusnya juga bekerja untuk Piscinoodinium dengan dosis yang disesuaikan.
- Pakai tembaga sulfat hanya kalau bisa mengukur alkalinitas, menghitung volume akuarium dengan tepat dan menimbang bahannya. Kalau ragu, jangan dipakai.
- Tembaga terikat ke substrat lalu bisa lepas lagi ke air, jadi kadarnya perlu sering dites.
- Tembaga lebih beracun di air asam, jadi di air asam lebih disarankan tembaga kelat. Di air tawar dengan pH di bawah 7,0, tembaga di atas 0,3 ppm bisa membunuh ikan, misalnya burayak Puntius gonionotus.
- Satu sumber praktisi mengobati betta liar dengan produk tembaga komersial sekitar 5 ml per 5 galon, yang menurutnya setara kira-kira 1,5–2,0 ppm tembaga, pada suhu 84 °F atau lebih selama 30 hari.
Kenaikan suhu
Pendapat sumber soal suhu berbeda-beda:
- Sumber 2: menaikkan suhu ke 33–34 °C dilaporkan bisa mengendalikan serangan.
- Sumber 6: untuk akuarium tropis, naikkan perlahan sampai 29 °C dalam 24 jam.
- Sumber 4: suhu di atas 84 °F mempersingkat siklus hidup, tetapi belum ada bukti bahwa panas saja bisa membunuh parasitnya. Betta liar tahan suhu pertengahan 80-an °F untuk sementara waktu, dan Betta splendens malah menyukainya.
- Sumber 1: suhu tinggi mempercepat siklus, tetapi tidak cocok untuk semua ikan, dan stresnya bisa melemahkan daya tahan ikan.
Garam
- Rendam garam: natrium klorida 30 g/L selama 5–15 menit, hanya untuk spesies yang tahan garam (sumber 2).
- Satu metode berdasarkan pengalaman memakai natrium klorida biasa (bukan garam laut) 1 cangkir per 20 galon, dengan akuarium digelapkan total selama 7 hari (sumber 0).
- Garam diyakini memperlambat perkembangbiakan parasit di air tawar, tetapi tidak bisa membasmi wabah sendirian (sumber 1).
- Sumber 4 berpendapat garam hanya sedikit pengaruhnya terhadap velvet. Menurutnya manfaat kombinasi panas + garam datang dari panasnya, dan garam hanya membantu melawan infeksi sekunder.
Obat lain
- Quinine hydrochloride 30 mg/L, sendiri atau dikombinasikan dengan malachite green sesuai petunjuk pembuatnya.
- Dalam penelitian laboratorium pada ikan swordtail, salinomycin dicampur ke pakan dengan kadar 60 atau 90 ppm, diberikan setiap hari selama 16 atau 19 hari.
Menggelapkan akuarium
Di sini sumber berbeda pendapat. Sebagian sumber (sumber 0 dan 1) menyebut parasit ini butuh cahaya, dan 7 hari gelap total bisa membantu sebagai pelengkap obat. Sumber 4 menyebut menutup akuarium untuk "membuat parasit kelaparan" tidak berhasil, karena dinospora bisa bertahan tanpa inang selama masih ada cahaya.
Lampu UV
UV-C hanya bekerja kalau lampunya bagus, minimal 36 W, dengan panjang gelombang sekitar 250 nm dan aliran air lambat. Unit celup kecil dan lampu sekitar 280 nm tidak bekerja.
Perhatian untuk hewan yang sensitif
- Tembaga sulfat bisa berbahaya bagi sebagian ikan, tanaman air, udang dan siput.
- Udang Caridina sudah terganggu pada sekitar 2 µg Cu/L. Kadar 42 µg Cu/L sangat beracun bagi Denariusa bandata.
- Separuh Melanotaenia dan Ambassis yang diuji mati pada 120–200 µg Cu/L, dan separuh Macrobrachium mati pada 160 µg Cu/L. Siput juga sangat sensitif.
- Malachite green tidak boleh dipakai untuk lele/catfish, loach dan tetra.
- Anchor catfish sangat sensitif terhadap garam.
Kesalahan yang sering terjadi
- Berhenti mengobati terlalu cepat. Tomon di substrat akan melepas dinospora baru dan penyakitnya kambuh.
- Mengira ikan sudah sembuh karena bintiknya hilang. Parasit masih bisa ada di air dan substrat.
- Mengembalikan ikan yang sudah diobati ke akuarium utama yang tidak ikut diobati, sehingga ikan tertular lagi.
- Hanya mengandalkan daun ketapang, padahal daun ini tidak berpengaruh apa pun terhadap parasitnya.
- Memakai UV berdaya rendah atau dengan aliran deras. Alat seperti ini tidak membunuh dinospora.
- Di akuarium yang padat, dinospora bisa menginfeksi ikan lagi sebelum sempat terbunuh tembaga.
Pencegahan
- Karantina ikan baru 10–14 hari sebelum dimasukkan ke akuarium utama. Tanaman air baru juga perlu dikarantina.
- Hindari perubahan suhu mendadak. Apungkan kantong ikan sekitar 15 menit sebelum ikan dilepas.
- Pakai heater supaya suhu stabil.
- Disinfeksi selang sifon, serokan dan sikat yang sudah menyentuh ikan sakit.
- Jaga kebersihan, rutin ganti air, jangan terlalu padat, dan pisahkan ikan yang suka menindas.
- Periksa ikan setiap hari.
Kapan harus khawatir
Tanda bahaya: ikan bernapas cepat dengan tutup insang mengembang, megap-megap di permukaan, napas berat, atau menolak makan. Ini tanda kasus yang sudah lanjut. Kematian pada velvet biasanya karena ikan kekurangan oksigen, kadang disertai infeksi jamur atau bakteri sekunder. Waspadai juga burayak dan ikan tua, karena angka kematian mereka tinggi.
Pertanyaan umum
Apakah velvet itu penyakit jamur?
Bukan. Namanya sering dikira jamur, padahal penyebabnya parasit dinoflagellata, yaitu Oodinium atau Piscinoodinium pada ikan air tawar.
Bintiknya sudah hilang, apakah pengobatan boleh dihentikan?
Belum tentu. Parasit masih bisa ada di air dan substrat, dan tomon di dasar akuarium bisa melepas dinospora baru kalau pengobatan dihentikan terlalu cepat. Satu sumber menyarankan pengobatan terus-menerus sekitar seminggu, lebih lama di air dingin. Sumber lain menyarankan pengobatan diteruskan sampai ikan tidak lagi menunjukkan gejala.
Apakah cukup dengan mematikan lampu akuarium?
Sumber berbeda pendapat. Sebagian menyebut 7 hari gelap total membantu sebagai pelengkap obat. Satu sumber lain menyebut cara ini tidak berhasil karena dinospora bisa bertahan tanpa inang selama masih ada cahaya.
Apakah obat tembaga aman untuk udang dan siput?
Tidak. Udang Caridina sudah terganggu pada sekitar 2 µg Cu/L, separuh Macrobrachium mati pada 160 µg Cu/L, dan siput juga sangat sensitif. Tembaga sulfat juga bisa berbahaya bagi sebagian ikan dan tanaman air.
Apakah daun ketapang bisa menyembuhkan velvet?
Tidak. Mengandalkan daun ketapang tidak berpengaruh apa pun terhadap parasit velvet.
Sumber referensi
- What is velvet (or gold dust disease)? – Aquarium Co-op
- Velvet (fish disease) – Wikipedia
- Piscinoodiniasis – ANGFA Rainbowfish disease prevention and control
- FAO compendium of fish parasites – Piscinoodinium
- Velvet disease (Piscinoodinium sp.) in wild bettas – BW Aquatics
- Dấu hiệu nhận biết cá betta bị bệnh – Mytour (bahasa Vietnam)
- Cách trị và phòng bệnh nhung (Velvet) ở cá – Thế Giới Cá Cảnh (bahasa Vietnam)
- Bệnh nấm velvet ở cá betta – Halfmoon Việt Nam (bahasa Vietnam)

