Satuan
Tampilan

Osphronemidae, Indonesia

Betta rutilans

Betta rutilans

Nama lain: Cupang rutilans, Betta Anjungan, Betta sp. 'Anjungan', Cupang alam rutilans

Suhu
22–27°C
pH
3–6
Akuarium minimum
45 cm
Tingkat kesulitan
Sedang

Tabel data

Lihat tabel lengkap
Suhu
22–27°C
pH
3–6
Ukuran
3,5 cm
Tingkat kesulitan
Sedang 4/8 Kenapa?

Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:

  • RuangMudahakuarium mulai 45 cm, ikan sepanjang 3,5 cm
  • AirSulitair asam, air lunak · pH 3–6, 1–5 dGH
  • SuhuMudah22–27°C
  • PerilakuSedangagak agresif

Tingkat kesulitan 4/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung

Sumber dan tingkat keandalan
Suhu

Tiap sumber mencantumkan angka berbeda

  • BW Aquatics: 24–28°C
  • Seriously Fish: 22–27°C
pH

Tiap sumber mencantumkan angka berbeda

  • BW Aquatics: 5–6,5
  • Seriously Fish: 3–6
Kesadahan (dGH)
  • Seriously Fish
Ukuran

Tiap sumber mencantumkan angka berbeda

  • BW Aquatics: 3,8 cm
  • Seriously Fish: 3,5 cm
Akuarium minimum
  • Seriously Fish
Tingkat kesulitan

Tiap sumber mencantumkan angka berbeda

  • BW Aquatics: 5
  • Seriously Fish: 4

Cara tabel memilih satu angka jika sumber-sumber berbeda

Diterjemahkan dan dirangkum dari BW Aquatics, Seriously Fish. Diperbarui 2026-10-31.

Info singkat

  • Termasuk kompleks Betta coccina.
  • Daftar Merah IUCN: Kritis (Critically Endangered), yaitu risiko kepunahan di alam yang sangat tinggi.
  • Dijual sebagai Betta rutilans Green tangkapan alam.
  • TDS: 60–100.1

Betta rutilans adalah ikan labirin kecil berwarna merah tua dari rawa gambut di sekitar Anjungan, Kalimantan Barat, Borneo, Indonesia. Sebelum dideskripsikan, ikan ini dikenal di kalangan hobiis sebagai B. sp. 'Anjungan'. Ikan ini termasuk kelompok B. coccina, yang anggotanya bisa sulit diidentifikasi karena pola tubuhnya mirip dan bervariasi sehingga membingungkan. B. rutilans memiliki tubuh berwarna merah tua yang merata tanpa bercak di tengah sisi tubuh. Ikan ini membuat sarang busa dan hidup di sungai air hitam (blackwater) yang pH-nya bisa serendah 3,0 atau 4,0.2

Butuh akuarium seberapa besar?

Akuarium dengan ukuran dasar 45 × 30 cm sebaiknya menjadi ukuran minimal. Volumenya sekitar 41 liter.2

Kondisi air seperti apa?

  • Suhu: 22–27 °C
  • pH: 3,0–6,0
  • Kesadahan: 1–5 dGH2

Bagaimana cara merawatnya?

Bisa dipelihara di akuarium yang didekorasi lengkap, meskipun banyak peternak memilih tidak memakai substrat agar perawatannya lebih mudah.

Akar dan dahan kayu apung (driftwood) bisa digunakan dan ditata sedemikian rupa sehingga terbentuk beberapa sudut yang teduh, sementara pot tanah liat atau potongan pipa juga bisa ditambahkan sebagai tempat persembunyian tambahan.

Penambahan serasah daun kering makin menonjolkan kesan alami, dan selain memberi tempat berlindung tambahan bagi ikan, juga memicu tumbuhnya koloni mikroba seiring proses pembusukan.

Koloni ini bisa menjadi sumber pakan sekunder yang berharga bagi burayak, dan tanin serta zat kimia lain yang dilepaskan daun yang membusuk juga dianggap bermanfaat bagi ikan dari lingkungan air hitam.

Namun, tidak perlu memakai gambut alami, karena pengambilannya tidak berkelanjutan dan merusak lingkungan.

Seperti anggota genus lainnya, spesies ini tampaknya paling baik dipelihara di bawah pencahayaan yang cukup redup.

Anda bisa menambahkan tanaman air yang mampu bertahan dalam kondisi seperti itu, misalnya Microsorum, Taxiphyllum, atau Cryptocoryne spp., dan beberapa kelompok tanaman apung juga akan berguna.

Spesies ini membutuhkan air asam dengan kesadahan karbonat (KH) yang hampir nol dan kesadahan umum (GH) yang sangat rendah, sehingga mungkin perlu memakai unit reverse osmosis (RO) atau cara lain untuk mendapatkan air lunak, dan bila perlu air ini bisa diasamkan lagi dengan asam fosfat atau bahan serupa.

Karena di alam ikan ini menghuni perairan yang alirannya lambat, filtrasi sebaiknya tidak terlalu kuat; filter spons bertenaga aerator yang diatur agar sirkulasinya pelan sudah memadai.

Tutup akuarium dengan rapat dan jangan isi air sampai penuh, karena seperti semua Betta spp. ikan ini sesekali perlu mengakses lapisan udara lembap yang terbentuk di atas permukaan air, dan ikan ini juga pelompat ulung.2

Diberi pakan apa?

Karnivora. Saat ini diberi pakan cacing hitam (blackworm) hidup, cacing darah beku, dan pelet.1

Di alam kemungkinan memangsa serangga dan invertebrata kecil lainnya.

Ikan di akuarium biasanya mau menerima pakan kering setelah mengenalinya sebagai makanan, tetapi sebaiknya rutin diberi banyak pakan hidup atau beku berukuran kecil seperti kutu air, artemia, atau cacing darah agar warna dan kondisinya berkembang optimal.

Hati-hati jangan memberi pakan berlebihan, karena Betta spp. tampaknya sangat rentan mengalami obesitas.2

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Cukup agresif; jantan bisa bersifat teritorial saat membangun area pemijahan. Namun, karena ukurannya kecil, beberapa pasang bisa dipelihara bersama asalkan ruangnya cukup. Disarankan 1 pasang per 19 liter.1

Tidak disarankan untuk akuarium komunitas biasa karena alasan-alasan yang sudah disinggung sebelumnya.

Kebutuhan perawatan dan sifatnya membuat ikan ini paling baik dipelihara sendiri atau bersama spesies yang sangat damai, karena ikan yang jauh lebih besar atau lebih aktif kemungkinan akan mengintimidasi dan mengalahkannya dalam berebut makanan.

Beberapa jenis cyprinid kecil dan loach yang di alam menghuni lingkungan serupa cocok dijadikan teman, tetapi pengecekan yang cermat sebelum membeli sangat penting.

Laporan yang ada beragam mengenai apakah ikan ini bisa dipelihara dalam beberapa pasang atau dalam kelompok tipe harem yang terdiri dari satu jantan dan beberapa betina.

Sebagian hobiis mengamati bahwa meskipun terjadi kejar-kejaran dan cekcok memperebutkan wilayah, luka fisik yang nyata jarang terjadi, sementara yang lain menyarankan memeliharanya hanya sepasang setelah melihat agresi terus-menerus dari individu dominan terhadap sesamanya dalam kelompok.2

Bagaimana membedakan jantan dan betina?

Betina dewasa cenderung sedikit lebih bulat perutnya dibanding jantan dan warnanya sedikit lebih kusam.

Jantan dewasa juga memiliki sirip perut, sirip anal, dan sirip punggung yang sedikit lebih panjang.2

Bagaimana cara berkembang biaknya?

Pembuat sarang busa.1

Pembuat sarang busa. Sangat penting menyediakan banyak tempat berlindung bagi betina, dan wadah film kamera bekas atau potongan selang plastik sering dipakai sebagai calon lokasi sarang.

Jika ada tanaman apung, tanaman itu mungkin ikut dijadikan bagian dari sarang.

Akuarium harus ditutup serapat mungkin (sebagian peternak memakai plastik wrap agar tidak ada celah sama sekali), karena burayak membutuhkan akses ke lapisan udara hangat dan lembap; tanpa itu, perkembangan organ labirinnya bisa terganggu.

Pasangan tidak perlu dipisahkan sebelum memijah.

Jantan mungkin membangun sarang di dalam selang atau wadah, di bawah daun tanaman yang lebar, atau di antara tanaman permukaan berdaun halus, dan biasanya tidak membiarkan betina berada di dekatnya sampai sarangnya selesai.

Menjelang pemijahan, warna tubuh betina memucat dan muncul garis-garis gelap di sisi tubuhnya. Pemijahan sendiri biasanya terjadi di bawah sarang dalam bentuk 'pelukan' yang khas pada osphronemid, dengan jantan melilitkan tubuhnya pada betina.

Pada puncaknya, cairan sperma (milt) dan beberapa butir telur dilepaskan, lalu betina menangkap telur-telur itu di antara sirip perut dan tubuhnya.

Jantan kemudian memindahkannya ke sarang, sementara betina memungut telur yang jatuh.

Siklus ini diulang sampai telur betina habis, proses yang bisa memakan waktu cukup lama.

Spesies ini tidak terlalu produktif; biasanya kurang dari 20 telur, meskipun sarang berisi hingga 50 telur tidak jarang ditemukan.

Setelah memijah, induk biasanya bisa dibiarkan di tempat, meskipun betina tidak lagi berperan aktif dan jantan menjadi satu-satunya yang menjaga dan merawat sarang.

Telur menetas dalam 24–48 jam dan tetap berada di sarang selama 3–4 hari berikutnya sampai kuning telurnya terserap sepenuhnya, sementara jantan terus memungut dan mengembalikan burayak yang jatuh.

Begitu burayak mulai berenang bebas, jantan akan kehilangan minat, tetapi induk biasanya tidak memakan anaknya.

Burayak sudah cukup besar untuk langsung menerima pakan hidup yang bergerak seperti microworm dan naupli artemia, tetapi perlu dicatat ada laporan anakan Betta mengalami masalah kesehatan jika diberi naupli artemia dalam jumlah berlebihan.

Berikan berbagai jenis pakan dalam jumlah sedikit 2–3 kali sehari agar pertumbuhannya optimal, dan jangan mengganti terlalu banyak air sekaligus; ganti air sedikit-sedikit secara rutin lebih baik daripada ganti air dalam jumlah besar sesekali.2

Sebaran alami

Hidup alami di: Indonesia2

Sungai, danau, wilayah: Kalimantan, Mempawah, Kepayang2

Apa kata sumber
  • Indonesia · Seriously Fish2: “Betta rutilans is a small, deep red labyrinth fish from peat swamps near Anjungan in West Kalimantan, Borneo, Indonesia.”
  • Kalimantan, Mempawah, Kepayang · Seriously Fish2: “The species has been collected from localities connected with the rivers Mempawah and Kepayang close to the town of Anjungan in Kalimantan Barat (West Kalimantan) province, Borneo, Indonesia.”

GBIF punya 1 catatan di alam liar, semuanya di negara-negara di atas.

  • Catatan di negara asal
  • Negara asal
  • Tiap kotak sekitar 160 km.

Data: GBIF.org, 1 catatan, diambil 2026-11-06 · CC0, CC BY 4.0. Peta dasar: Natural Earth.

Di mana habitat aslinya?

Spesies ini telah dikoleksi dari lokasi-lokasi yang terhubung dengan Sungai Mempawah dan Sungai Kepayang di dekat kota Anjungan, Provinsi Kalimantan Barat, Borneo, Indonesia.

Lokasi tipenya adalah 'Sungei Kepayang, 7 kilometer di sebelah tenggara Anjungan di jalan menuju Pontianak, 0°20'LU, 109°08'BT, Kalimantan Barat, Borneo'.2

Habitat alami

Penghuni khas hutan rawa gambut dan sungai-sungai air hitam yang terkait dengannya.

Kanopi dahan yang rapat di atasnya membuat sangat sedikit cahaya yang menembus permukaan air di lingkungan seperti ini, dan vegetasi di tepi sungai juga cenderung tumbuh lebat.

Airnya biasanya berwarna gelap karena asam humat dan zat kimia lain yang dilepaskan oleh bahan organik yang membusuk.

Kandungan mineral terlarutnya umumnya sangat rendah dan pH-nya bisa serendah 3,0 atau 4,0.

Dasarnya biasanya tertutup daun-daun gugur, ranting, dan akar pohon yang terendam, dan pada waktu-waktu tertentu dalam setahun ikan ini mungkin terpaksa bertahan hidup di dalam serasah daun yang lembap selama beberapa minggu karena air tidak selalu tersedia sepanjang tahun.2

Catatan

Spesies ini termasuk kelompok B. coccina, yaitu kelompok spesies yang berkerabat dekat di dalam genus ini, dan sebelum dideskripsikan dikenal di kalangan hobiis akuarium sebagai B. sp. 'Anjungan'.

Kelompok ini sebagian besar terdiri dari ikan kecil berwarna merah, kecuali B. hendra, B. persephone, dan B. miniopinna yang berwarna kehijauan atau gelap, dan mengidentifikasi sebagian di antaranya bisa sulit karena pola luarnya bisa mirip sekaligus bervariasi sehingga membingungkan.

Anggota kelompok B. coccina memiliki ciri-ciri bersama berikut: ukuran dewasa kecil (hingga 40 mm SL); warna tubuh merah atau hitam; pada beberapa spesies terdapat bercak di tengah sisi tubuh; 9 ruas tulang belakang abdominal (dibandingkan 10–12 pada semua spesies Betta lainnya); penghuni khas rawa gambut hutan.

B. rutilans bisa dibedakan dari anggota kelompok lainnya melalui kombinasi ciri berikut: tubuh berwarna merah tua merata; tidak ada bercak di tengah sisi tubuh; tidak ada garis vertikal keemasan yang sejajar pada tutup insang (operkulum); sirip perut merah dengan ujung berupa filamen putih; jari-jari sirip punggung 11–12; jari-jari sirip anal 27–28; sisik subdorsal 8–10 (modus 9); sisik lateral 30–31; sisik predorsal 25–27.

Genus Betta adalah genus dengan jumlah spesies terbanyak dalam famili Osphronemidae, dengan hampir 70 anggota yang diakui, dan tampaknya akan terus bertambah karena spesies baru terus dideskripsikan secara rutin sejak awal abad ini.

Spesies-spesies anggotanya telah berhasil beradaptasi menghuni berbagai relung ekologi, mulai dari parit berair tenang hingga sungai perbukitan yang berarus, termasuk beberapa lingkungan ekstrem seperti hutan rawa gambut yang sangat asam.

Pengelompokan anggota-anggotanya ke dalam sejumlah kelompok berisi spesies yang berkerabat dekat kini umumnya diterima, tetapi sebagian besar didasarkan pada ciri morfologi dan perilaku.

Karena itu, penelitian filogenetik molekuler mungkin berguna untuk menentukan hubungan kekerabatan ikan-ikan ini dengan lebih tepat.

Seperti anggota subordo Anabantoidei lainnya, spesies ini memiliki organ pernapasan tambahan yang disebut labirin.

Dinamakan demikian karena strukturnya yang menyerupai labirin, organ ini memungkinkan ikan menghirup udara langsung dari atmosfer sampai batas tertentu.

Organ ini terdiri dari sepasang organ suprabranchial yang terbentuk dari perluasan bagian epibranchial (atas) lengkung insang pertama dan terletak di dalam rongga di atas insang. Di dalamnya terdapat banyak lipatan kulit yang kaya pembuluh darah dan berfungsi sebagai permukaan pernapasan yang luas.

Tingkat kerumitan strukturnya berbeda-beda antarspesies, dan cenderung lebih berkembang pada spesies yang menghuni lingkungan yang lebih keras.2

Sumber

2 sumber dan pustaka
  1. BW Aquatics bwaquatics.com
  2. Seriously Fish seriouslyfish.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.

Referensi

  • Tan, H. H. and P. K. L. Ng (2005). The fighting fishes (Teleostei: Osphronemidae: Genus Betta) of Singapore, Malaysia and Brunei. Raffles Bulletin of Zoology Supplement 13, 43-99
  • Kottelat, M. (1991). Notes on the taxonomy and distribution of some western Indonesian freshwater fishes, with diagnoses of a new genus and six new species (Pisces: Cyprinidae, Belontiidae, and Chaudhuriidae). Ichthyological Exploration of Freshwaters 2(3), 273-287
  • Schindler, I. and J. Schmidt (2006). Review of the mouthbrooding Betta (Teleostei, Osphronemidae) from Thailand, with descriptions of two new species. Zeitschrift für Fischkunde 8(1/2), 47-69
  • Witte, K.-E. and J. Schmidt (1992). Betta brownorum, a new species of anabantoids (Teleostei: Belontiidae) from northwestern Borneo, with a key to the genus. Ichthyological Exploration of Freshwaters 2(4), 305-3302