Satuan
Tampilan

Cyprinidae, Indonesia

Puntigrus anchisporus

Puntigrus anchisporus

Nama lain: Ikan Sumatra, Sumatera, Tiger barb, Barbir sumatra

Suhu
20–26°C
pH
5,5–7
Akuarium minimum
80 cm
Tingkat kesulitan
Mudah

Tabel data

Lihat tabel lengkap
Suhu
20–26°C
pH
5,5–7
Ukuran
6 cm
Tingkat kesulitan
Mudah 2/8 Kenapa?

Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:

  • RuangSedangakuarium mulai 80 cm, ikan sepanjang 6 cm
  • AirMudahpH 5,5–7, 1–10 dGH
  • SuhuMudah20–26°C
  • PerilakuSedangagak agresif
  • KelompokSedangkelompok mulai 8 ekor

Tingkat kesulitan 2/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung

Sumber dan tingkat keandalan
Suhu
  • Seriously Fish
pH
  • Seriously Fish
Kesadahan (dGH)
  • Seriously Fish
Ukuran
  • Seriously Fish
Akuarium minimum
  • Seriously Fish
Tingkat kesulitan
  • Seriously Fish

Cara tabel memilih satu angka jika sumber-sumber berbeda

Diterjemahkan dan dirangkum dari Aquarium Glaser, Seriously Fish. Diperbarui 2026-11-03.

Info singkat

Ikan sumatra (tiger barb) masih sering dikenal dengan nama yang keliru, yaitu Barbus atau Puntius tetrazona. Spesies yang secara benar bernama Puntigrus tetrazona tidak pernah dipelihara di akuarium maupun diperdagangkan. Ikan yang dijual semuanya adalah kerabat dekatnya, Puntigrus anchisporus. Kedua spesies ini mudah dibedakan dari warna sirip perutnya: hitam pekat pada tetrazona dan merah tua pada anchisporus.1

Puntigrus anchisporus adalah ikan cyprinid kecil endemik Kalimantan (Borneo). Spesies ini tercatat di Kalimantan, Indonesia, dan di sebagian besar Sarawak, Malaysia. Ikan ini termasuk salah satu spesies berpita empat yang dulu disebut 'kelompok Puntius tetrazona'. Ciri-cirinya adalah gurat sisi yang lengkap, sirip punggung hitam dengan pita merah di bagian tepi luarnya, dan sirip perut merah. Spesies ini sesekali muncul di dunia ikan hias, tetapi perdagangannya sebagian besar bergantung pada 'ikan sumatra' hasil budidaya komersial yang asal-usulnya diragukan.

  • Pemijahan: Belum tercatat.2

Butuh akuarium seberapa besar?

Dibutuhkan akuarium berukuran minimal 80 × 30 × 30 cm (sekitar 72 liter).2

Kondisi air seperti apa?

  • Suhu: 20–26 °C
  • pH: 5,5–7,0
  • Kesadahan: 1–10 dGH2

Bagaimana cara merawatnya?

Pilihan dekorasi tidak terlalu penting, tetapi warna ikan ini biasanya lebih bagus di akuarium yang didekorasi dengan baik. Tanaman apung atau tanaman yang menjuntai, serta akar atau dahan kayu (driftwood), tampaknya juga disukai oleh anggota genus ini.2

Diberi pakan apa?

Kemungkinan omnivora yang terutama memakan larva serangga dan zooplankton, tetapi juga diketahui mengais bahan tumbuhan dan detritus organik (pengamatan langsung).

Di akuarium, berikan pakan hidup dan beku berukuran kecil secara rutin, seperti larva chironomid (cacing darah), kutu air, dan artemia, ditambah pakan kering berkualitas baik.2

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Karena naluri bermainnya yang sangat kuat, ikan sumatra tidak boleh dicampur dengan jenis ikan yang butuh suasana tenang atau yang bersirip panjang.1

Pengamatan di akuarium yang masih terbatas menunjukkan bahwa spesies ini damai jika diberi akuarium yang cukup besar dan teman satu akuarium yang dipilih dengan baik.

Spesies ini hidup bergerombol dan membentuk hierarki yang longgar. Jantan-jantan yang bersaing terus-menerus bertarung untuk mendapatkan perhatian betina dan posisi dalam kelompok. Karena itu, sebaiknya beli minimal 8–10 ekor.2

Bagaimana membedakan jantan dan betina?

Jantan dewasa cenderung sedikit lebih kecil dan lebih ramping, serta memiliki pola warna yang lebih tegas dibandingkan betina.2

Di mana habitat aslinya?

Endemik Pulau Kalimantan (Borneo). Di wilayah Indonesia, spesies ini tercatat di Sungai Kapuas dan Sungai Mempawah di Provinsi Kalimantan Barat, di daerah aliran sungai Maruwei, Pembuang, Teweh, dan Kahayan di Kalimantan Tengah, serta di daerah aliran Negara dan Jorong di Kalimantan Selatan.

Ikan ini juga ditemukan di sebagian besar Negara Bagian Sarawak di wilayah Malaysia, walaupun catatan resminya belum ada (M. Lo, komunikasi pribadi; pengamatan langsung).

Lokasi tipenya adalah 'Kapuas River, Borneo, Indonesia'.2

Habitat alami

Hidup di sungai dan anak sungai di dalam hutan yang airnya relatif jernih dan dasarnya berpasir hingga berbatu. Vegetasi di tepiannya cenderung lebat, dan airnya bisa berwarna kekuningan karena tanin dan zat organik lainnya.

Di beberapa habitat terdapat hamparan tanaman air dari genus seperti Cryptocoryne atau Barclaya, juga tumpukan serasah daun yang terendam.

Spesies yang hidup di habitat yang sama antara lain anggota genus Desmopuntius, Eirmotus, Rasbora, Gastromyzon, Nemacheilus, Pangio, dan Paracrossocheilus.2

Catatan

Varian "moss green" (hijau lumut) dari P. anchisporus dikembangkan pada tahun 1970-an. Pada varian ini, garis-garis tegak gelap dari bentuk liarnya menyatu menjadi satu bidang gelap yang padat. Dalam hal lainnya, moss green ini tetap ikan sumatra pada umumnya: petarung nekat yang tidak pernah menunjukkan rasa takut.1

Spesies ini sesekali muncul di dunia ikan hias, tetapi perdagangannya sebagian besar bergantung pada 'ikan sumatra' hasil budidaya komersial yang asal-usulnya diragukan.

Spesies ini dibedakan dari kerabat satu genusnya melalui kombinasi ciri berikut: gurat sisi lengkap; 14 sisik di sekeliling batang ekor; 21–23+2 sisik pada barisan gurat sisi; sirip punggung hitam dengan pita merah di tepi luarnya; sirip perut merah.

Genus Puntigrus didirikan oleh Kottelat (2013) untuk menampung sekelompok spesies yang sebelumnya disebut 'kelompok Puntius tetrazona'. Anggota lainnya adalah P. tetrazona, P. navjotsodhii, P. pulcher, dan P. partipentazona. Tiga yang pertama masing-masing berasal dari Kalimantan bagian barat, tengah, dan timur, sedangkan yang terakhir berasal dari Indochina.

Kelompok ini dikenali dari pola warnanya yang khas, yaitu 4 pita hitam pada tubuh yang berwarna pucat, serta pigmen hitam setidaknya pada separuh bagian pangkal sirip punggung. Pita paling depan melewati mata, pita kedua terletak di depan pangkal sirip perut, pita ketiga berada di atas sirip dubur dan berlanjut ke sirip tersebut, dan pita paling belakang terletak di pangkal sirip ekor.

Kombinasi ciri berikut juga membantu identifikasi, walaupun masing-masing ciri tidak khas hanya untuk genus ini: tubuh berbentuk belah ketupat dan tinggi; jari-jari sirip punggung tak bercabang yang terakhir bergerigi di bagian belakang; tidak ada sungut rostral; ada sungut maksila; bibir halus dan tipis, alur postlabial terputus di bagian tengah; gurat sisi lengkap atau tidak lengkap; 18–23 sisik gurat sisi; 9½–10½ [5½/1/3–4½] baris sisik antara awal sirip punggung dan garis tengah perut di depan pangkal sirip perut; 12–14 baris sisik di sekeliling batang ekor; 8–9 tapis insang pada lengkung insang pertama.

Genus Puntius sebelumnya dianggap sebagai kelompok polifiletik "keranjang sampah" yang berisi lebih dari 100 spesies, tetapi masalah ini sebagian besar sudah terselesaikan sejak awal abad ini.2

Sumber

2 sumber dan pustaka
  1. Aquarium Glaser aquariumglaser.de
  2. Seriously Fish seriouslyfish.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.

Referensi

  • Kottelat, M. (1992). The identity of Barbus johorensis Duncker, 1904 (Teleostei: Cyprinidae). Raffles Bulletin of Zoology 40(2), 187-192
  • Alfred, E. R. (1963). Some Colourful Fishes of the Genus Puntius Hamilton. Bulletin of the National Museum of Singapore 32, 135-142
  • Pethiyagoda, R., M. Meegaskumbura, and K. Maduwage (2012). A synopsis of the South Asian fishes referred to Puntius (Pisces: Cyprinidae). Ichthyological Exploration of Freshwaters 23(1), 69-95
  • Collins R. A., K. F. Armstrong, R. Meier, Y. Yi, S. D. J. Brown, R. H. Cruickshank, S. Keeling, and C. Johnston (2012). Barcoding and border biosecurity: identifying cyprinid fishes in the aquarium trade. PLoS ONE 7(1), e28381
  • Kottelat, M. and H-H Tan (2011). Systomus xouthos, a new cyprinid fish from Borneo, and revalidation of Puntius pulcher (Teleostei: Cyprinidae). Ichthyological Exploration of Freshwaters 22(3), 209-214
  • Tan, H-H. (2012). Systomus navjotsodhii, a New Cyprinid Fish from Central Kalimantan, Borneo. Raffles Bulletin of Zoology Supplement 25, 285-289
  • Roberts, T. R. (1989). The freshwater fishes of western Borneo (Kalimantan Barat, Indonesia). Memoirs of the California Academy of Sciences 14, 1-210
  • Kottelat, M. and E. Widjanarti (2005). The fishes of Danau Sentarum National Park and the Kapuas Lakes area, Kalimantan Barat, Indonesia. Raffles Bulletin of Zoology Supplement 13, 139-173
  • Vaillant, L. L. (1902). Résultats zoologiques de l'expédition scientifique Néerlandaise au Bornéo central. Notes from the Leyden Museum 24 (note 1), 1-166, Pls. 1-2
  • Pethiyagoda, R. (2013). Haludaria, a replacement generic name for Dravidia (Teleostei: Cyprinidae). Zootaxa 3646(2), 199
  • Kottelat, M. (2013). The fishes of the inland waters of southeast Asia: a catalogue and core bibiography of the fishes known to occur in freshwaters, mangroves and estuaries. The Raffles Bulletin of Zoology Supplement 27, 1-6632