Satuan
Tampilan

Tetraodontidae, Indonesia

Buntal Palembang

Pao palembangensis

Nama lain: Humpback Puffer, Dragon Puffer, Palembang Puffer, Buntal air tawar

Suhu
24–28°C
pH
6,8–7,6
Akuarium minimum
120 cm
Tingkat kesulitan
Sedang

Tabel data

Lihat tabel lengkap
Suhu
24–28°C
pH
6,8–7,6
UkuranSumber-sumber berbeda pendapat
19,5 cm
Tingkat kesulitan
Sedang 4/8 Kenapa?

Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:

  • RuangSulitakuarium mulai 120 cm, ikan sepanjang 19,5 cm
  • AirSedangrentang pH sempit · pH 6,8–7,6, 8–20 dGH
  • SuhuMudah24–28°C
  • PerilakuSulitpredator

Tingkat kesulitan 4/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung

Sumber dan tingkat keandalan
Suhu
  • Seriously Fish
pH
  • Seriously Fish
Kesadahan (dGH)
  • Seriously Fish
Ukuran

Tiap sumber mencantumkan angka berbeda

  • Aquarium Glaser: 15 cm
  • Seriously Fish: 19,5 cm
Akuarium minimum
  • Seriously Fish
Tingkat kesulitan
  • Seriously Fish

Cara tabel memilih satu angka jika sumber-sumber berbeda

Diterjemahkan dan dirangkum dari Aquarium Glaser, Seriously Fish. Diperbarui 2026-11-03.

Info singkat

Aquarium Glaser mencatat angka yang berbeda dari tabel data: ukuran 15 cm (tabel: 19,5 cm).

Pao palembangensis (= Tetraodon palembangensis) adalah ikan buntal air tawar murni yang tidak pernah masuk ke perairan payau maupun laut. Panjang maksimalnya mencapai 12-15 cm.1

Humpback puffer, Pao palembangensis, adalah buntal predator yang berasal dari Thailand, Laos, Malaysia, dan Indonesia. Sebagai predator penyergap, ikan ini sangat pasif dan sebagian individu baru bergerak saat diberi pakan. Karena itu ikan ini jarang muncul di pasaran dan lebih cocok untuk penghobi yang benar-benar serius. Ikan ini tidak cocok untuk akuarium komunitas, tetapi beberapa ekor bisa dipelihara bersama dalam akuarium besar yang punya banyak tempat persembunyian.2

Butuh akuarium seberapa besar?

Karena bukan buntal yang terlalu aktif, satu ekor sudah bisa dipelihara dengan nyaman di akuarium berukuran 120 × 30 × 30 cm, sekitar 108 liter.2

Kondisi air seperti apa?

  • Suhu: 24–28 °C
  • pH: 6,8–7,6
  • Kesadahan: 8–20 dGH2

Bagaimana cara merawatnya?

Spesies ini suka tempat berlindung, karena tidak seperti beberapa buntal predator lain, ikan ini tidak cenderung membenamkan diri ke dalam substrat. Potongan kayu apung (driftwood), batu besar, dan pot tanah liat semuanya cocok untuk keperluan ini. Ikan ini bisa dipelihara di akuarium bertanaman tanpa masalah, meskipun tanaman air tidak wajib. Seperti semua buntal, ikan ini sangat sensitif terhadap kualitas air yang menurun, jadi ganti air sebagian secara rutin adalah keharusan.2

Diberi pakan apa?

Sangat menyukai segala jenis kerang-kerangan dan krustasea, juga cacing serta pakan hidup dan beku lainnya. Ikan ini sebaiknya rutin diberi siput dan kerang-kerangan/krustasea yang masih bercangkang (misalnya kaki kepiting, kerang hijau, dan sebagainya) untuk menjaga giginya yang tajam. Seperti buntal lainnya, giginya tumbuh terus-menerus dan akan menjadi masalah bagi ikan kalau tidak terkikis. Di awal kadang ikan ini agak enggan menerima pakan mati, tetapi biasanya bisa dibiasakan dengan sedikit kesabaran. Karena sifatnya yang pasif, ikan ini tidak perlu diberi makan setiap hari. Untuk ikan muda, dua hari sekali sudah cukup, sedangkan ikan dewasa hanya perlu diberi makan satu atau dua kali seminggu.2

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Pola yang tidak biasa di bagian perutnya berfungsi untuk memancing mangsa. Pao palembangensis adalah predator yang berpura-pura menjadi ikan mati saat berburu. Ikan ini diam melayang seperti bangkai. Kalau ada ikan kecil atau udang yang mencoba memakan "bangkai" itu, justru ia sendiri yang menjadi santapan.1

Tidak cocok untuk akuarium komunitas karena sifatnya yang pemakan ikan. Kadang ikan ini bisa dipelihara bersama spesies aktif yang berukuran sama atau lebih besar, seperti karasin (characin) atau ikan keluarga cyprinid yang lebih besar, tetapi risikonya selalu ada. Yang mengejutkan, meskipun paling baik dipelihara sendirian, ikan ini tidak terlalu agresif terhadap sesamanya, dan beberapa ekor bisa dipelihara di akuarium besar asalkan disediakan banyak tempat persembunyian dan penghalang pandangan. Pertengkaran kecil pasti akan terjadi, jadi kalau memutuskan memelihara berkelompok, awasi terus keadaannya.2

Bagaimana membedakan jantan dan betina?

Kabarnya, punuk di punggung ikan betina jauh lebih kecil daripada punuk ikan jantan.1

Tidak diketahui.2

Bagaimana cara berkembang biaknya?

Spesies ini sudah pernah berhasil dipijahkan di akuarium, dan terbukti merupakan ikan yang mengerami telur di dalam gua.1

Pemijahan pernah terjadi di akuarium, meskipun sangat jarang. Ikan ini memijah di substrat, dengan telur diletakkan di dalam lubang yang sudah digali sebelumnya di dalam gua. Setelah memijah, ikan jantan menjaga telur sampai menetas, dan pada saat itu ikan dewasa sebaiknya dipindahkan. Burayak bisa diberi naupli artemia, bahkan cacing darah, sejak menetas. Burayak cukup suka berkelahi satu sama lain, jadi perlu banyak tempat berlindung.2

Di mana habitat aslinya?

Spesies ini cukup terspesialisasi. Ikan ini hanya ditemukan di Sumatra dan Kalimantan.1

Thailand, Laos, Malaysia, dan Indonesia.2

Habitat alami

Ikan ini hidup di air yang sangat lunak dan asam.1

Menghuni sungai kecil air tawar, sungai berarus lambat, dan kolam.2

Catatan

Dalam literatur akuarium lama, Pao palembangensis (dulu Tetraodon palembangensis) sering tertukar dengan "Figure eight puffer", Dichotomyctere ocellatus (dulu dikenal sebagai Tetraodon biocellatus), padahal kedua spesies ini tampangnya sama sekali berbeda. Spesies yang disebut terakhir mencapai panjang maksimal sekitar 8 cm dan merupakan ikan air payau. Akibat kerancuan ini, Pao palembangensis juga dikenal sebagai "dragon puffer" di perdagangan internasional.1

Ikan buntal dinamai demikian karena mampu menggembungkan lambungnya yang elastis dengan air atau udara. Biasanya ini merupakan respons terhadap suatu ancaman, meskipun di akuarium banyak individu tampak menggembung tanpa alasan yang jelas. Ukuran ikan menjadi 2 atau 3 kali ukuran normalnya, sehingga ikan cukup besar untuk menakuti banyak calon pemangsa sekaligus sulit ditelan.

Banyak bagian tubuh ikan buntal mengandung neurotoksin mematikan bernama tetrodotoksin. Racun ini sama dengan yang terdapat pada gurita cincin biru yang terkenal berbahaya. Jika tertelan dalam jumlah yang cukup, racun ini dapat menyebabkan kelumpuhan dan kematian. Sampai saat ini belum diketahui ada penawarnya, dan bagi manusia racun ini lebih dari 1000 kali lebih mematikan daripada sianida. Mengerikannya, korban biasanya tetap sadar saat tubuhnya menjadi lumpuh. Ikan buntal adalah hidangan istimewa yang terkenal di Jepang, tetapi hanya diolah oleh koki yang sangat terlatih, dan meski begitu sudah banyak orang meninggal setelah memakannya.

Sebagai predator penyergap, P. palembangensis adalah ikan yang sangat pasif, dan sebagian individu hanya bergerak saat diberi pakan. Karena itu ikan ini sebenarnya hanya cocok untuk penghobi yang benar-benar serius. Sejalan dengan itu, palembangensis tidak terlalu sering terlihat di pasaran.2

Sumber

2 sumber
  1. Aquarium Glaser aquariumglaser.de
  2. Seriously Fish seriouslyfish.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.