Satuan
Tampilan

Adrianichthyidae, Indonesia

Buntingi Sarasin

Oryzias sarasinorum

Nama lain: Sarasin's buntingi, Sarasin's minnow, Sarasin's ricefish, Buntingi Lindu, Ikan padi Sarasin

Suhu
24–29°C
pH
7–8
Akuarium minimum
100 cm
Tingkat kesulitan
Sedang

Tabel data

Lihat tabel lengkap
Suhu
24–29°C
pH
7–8
Ukuran
6 cm
Tingkat kesulitan
Sedang 4/8 Kenapa?

Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:

  • RuangSedangakuarium mulai 100 cm, ikan sepanjang 6 cm
  • AirMudahpH 7–8, 5–20 dGH
  • SuhuMudah24–29°C
  • PerilakuMudahdamai
  • KelompokSedangkelompok mulai 6 ekor

Tingkat kesulitan 4/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung

Sumber dan tingkat keandalan
Suhu
  • Seriously Fish
pH
  • Seriously Fish
Kesadahan (dGH)
  • Seriously Fish
Ukuran
  • Seriously Fish
Akuarium minimum
  • Seriously Fish
Tingkat kesulitan
  • Seriously Fish

Cara tabel memilih satu angka jika sumber-sumber berbeda

Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-11-03.

Info singkat

Buntingi Sarasin, Oryzias sarasinorum, adalah ikan padi (ricefish) endemik Danau Lindu di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah, Indonesia. Ikan ini juga dikenal sebagai Sarasin's minnow dan sangat langka, baik di alam maupun di dunia ikan hias. Dulu spesies ini dimasukkan ke genus Xenopoecilus. Garis lateral keperakan yang lebar serta 70-75 sisik lateral membedakannya dari semua Oryzias lain.1

Butuh akuarium seberapa besar?

Untuk satu kelompok, disarankan akuarium dengan ukuran alas minimal 100 × 30 cm (sekitar 90 liter).1

Kondisi air seperti apa?

  • Suhu: 24–29 °C
  • pH: 7,0–8,0
  • Kesadahan: 5–20 dGH1

Bagaimana cara merawatnya?

Spesies ini tidak membutuhkan dekorasi khusus, meskipun warnanya cenderung lebih cerah bila dipelihara di akuarium yang luas dan ditata dengan aquascape.

Akuarium bertanaman memberi burayak peluang hidup yang lebih baik di samping ikan dewasa. Di akuarium kecil atau yang dekorasinya minim, ikan bisa gelisah dan dapat melukai diri karena menabrak kaca (B. Nicca, pers. comm.).1

Diberi pakan apa?

Di alam kemungkinan merupakan mikropredator yang memakan serangga kecil, cacing, krustasea, dan zooplankton lainnya.

Di akuarium, ikan ini mau menerima pakan kering yang ukurannya sesuai, tetapi sebaiknya diberi pakan hidup dan beku berukuran kecil setiap hari, seperti kutu air, artemia, cacing darah yang dicacah, dan sebagainya, ditambah pakan serpihan dan pelet butiran berkualitas baik dengan ukuran yang sesuai.1

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Umumnya tidak agresif, tetapi mengingat kelangkaannya, fokus pemeliharaan idealnya pada pembiakan di penangkaran, sehingga sangat disarankan memeliharanya sendiri tanpa spesies lain.

Ikan ini paling baik dipelihara bersama sesamanya dan menunjukkan perilaku 'bergerombol' yang khas, yang menandakan bahwa di alam ia hidup dalam kelompok yang cukup besar. Karena itu, membeli minimal enam ekor sebaiknya dianggap wajib.1

Bagaimana membedakan jantan dan betina?

Jantan memiliki jari-jari sirip punggung dan sirip anal yang memanjang seperti filamen, bentuk tubuh yang relatif seragam, dan papila genital berbentuk tabung agak kerucut.

Pada betina, sirip perut memanjang, papila genital hanya terdiri dari satu lobus, dan terdapat cekungan dalam, kadang disebut 'rongga perut', di antara sirip perut dan sirip anal.1

Bagaimana cara berkembang biaknya?

Ikan ini menggunakan strategi yang dikenal sebagai 'pelvic brooding' (mengerami telur dengan sirip perut).

Pemijahan biasanya terjadi pagi-pagi sekali. Jantan dominan warnanya menjadi lebih gelap dan mempertahankan wilayahnya dengan mengusir pesaing, sambil mendekati betina yang sudah matang telur dengan posisi kaku 'kepala menunduk'.

Jumlah telur biasanya 8-12 butir dan dikeluarkan sebagai satu gumpalan sambil langsung dibuahi. Setelah itu, telur tetap menggantung di lubang genital betina melalui filamen perekat.

Namun, tidak seperti kebanyakan spesies Oryzias, telur ini tidak dilepaskan setelah beberapa jam. Betina justru membawanya di rongga perut dan menahannya dengan sirip perutnya yang panjang.

Betina yang sedang membawa telur tidak akan memijah lagi sampai telur menetas, tetapi sering kembali memijah dalam beberapa hari setelah burayak keluar.

Masa inkubasi sedikit banyak bergantung pada suhu, tetapi biasanya 14-20 hari.

Ikan dewasa cenderung tidak mengganggu telur, tetapi akan memangsa burayak yang sudah berenang bebas. Meski begitu, jika akuarium ditanami rapat dengan tanaman berdaun halus atau tanaman apung seperti Cabomba, Ceratophyllum, atau Taxiphyllum spp., biasanya sebagian burayak akan selamat.

Sebagai alternatif, burayak dapat dipindahkan ke wadah pembesaran terpisah yang diisi air dari akuarium induk, atau betina dipisahkan dari kelompok dewasa lainnya sampai telur menetas.

Begitu berenang bebas, burayak langsung bisa menerima microworm, naupli artemia, dan sebagainya.1

Di mana habitat aslinya?

Endemik Danau Lindu di Taman Nasional Lore Lindu, Provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi, Indonesia.1

Habitat alami

Taman Nasional Lore Lindu adalah kawasan konservasi berhutan seluas sekitar 2.180 km² yang mencakup hutan dataran rendah maupun hutan pegunungan.

Sejak 1978 kawasan ini ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Dunia UNESCO dan menjadi rumah bagi banyak hewan dan tumbuhan langka, termasuk lebih dari 70 spesies burung endemik Sulawesi.

Iklimnya tropis dengan kelembapan tinggi. Suhu rata-rata tahunan di dataran rendah berkisar 26,1–32,2 °C, dan ada musim hujan (monsun) tahunan antara November dan April.

Di bagian barat taman nasional terdapat rangkaian lembah yang bersama-sama membentuk Lembah Kulawi. Di antaranya, Lembah Palolo, Napu, Lindu, dan Besoa dulunya adalah danau, tetapi kini sebagian telah terisi sedimen. Danau Lindu, yang terletak di ketinggian 960 meter dpl, adalah satu-satunya badan air besar yang tersisa.

Danau ini telah mengalami kerusakan lingkungan yang cukup parah, dengan banyak ikan introduksi seperti Barbonymus, Oreochromis (nila), Channa, dan Clarias spp.

Selain itu, ada limpasan pupuk kimia dari lahan pertanian di sekitarnya, dan air danau juga diambil untuk irigasi.

Status konservasi ikan-ikan asli danau ini, termasuk O. sarasinorum, saat ini belum dipastikan. Namun, tampaknya spesies ini setidaknya sudah menjadi sangat langka dan sangat terancam punah, sehingga populasi di akuarium idealnya diprioritaskan untuk penangkaran dan pemeliharaan jangka panjang.

Preferensi habitat dan riwayat hidupnya di alam masih sedikit dipahami, tetapi diketahui ikan ini hidup pelagis (di kolom air terbuka) dan kemungkinan hidup berdampingan (simpatrik) dengan kerabat segenusnya, O. bonneorum, yang juga endemik Danau Lindu.1

Catatan

Spesies ini juga dikenal sebagai Sarasin's minnow dan sangat langka, baik di alam maupun di dunia ikan hias.

Dulu spesies ini dimasukkan ke genus Xenopoecilus yang kini sudah tidak berlaku. Genus tersebut berisi tiga spesies, tetapi ternyata parafiletik sehingga dipecah oleh Parenti (2008).

Dua spesies lainnya (kini A. oophorus dan A. poptae) dipindahkan ke genus Adrianichthys, yang keempat anggotanya endemik Danau Poso di Sulawesi Tengah.

Spesies ini juga dapat dibedakan dari kerabat segenusnya melalui kombinasi ciri berikut: memiliki garis lateral keperakan yang lebar, membentang dari belakang kepala hingga pangkal batang ekor; jumlah sisik lateral yang banyak (70-75 vs. 24-54 pada semua Oryzias spp. lainnya); 15 (vs. 14 atau kurang) ruas tulang belakang prakaudal; strategi reproduksi pelvic brooding; 11-12 jari-jari sirip punggung; 21-22 jari-jari sirip anal tanpa organ kontak bertulang; 10-11 jari-jari sirip dada; tulang palatin dan kuadrat terhubung di bagian depan melalui tonjolan (flange) yang memanjang.

Anggota famili Adrianichthyidae sering disebut secara kolektif sebagai 'ricefish' (ikan padi) dan secara tradisional dianggap termasuk ordo Cyprinodontiformes sehingga berkerabat dekat dengan toothcarp (ikan bergigi seperti killifish).

Anggapan keliru ini kadang masih dipegang, padahal Rosen dan Parenti sudah mengklasifikasikan ulang mereka ke dalam Beloniformes, kelompok saudara dari cyprinodontiformes, sejak 1981.

Anggota famili yang paling terkenal adalah medaka atau Japanese ricefish, Oryzias latipes, yang telah banyak dipakai sebagai organisme model dalam biologi genomik dan eksperimental selama lebih dari satu abad, dan merupakan hewan vertebrata pertama yang kawin di luar angkasa pada pertengahan 1990-an.

Saat ini famili ini hanya mencakup dua genus, Oryzias dan Adrianichthys. Kelompok yang dulu diakui, Xenopoecilus dan Horaichthys, telah disinonimkan dengan Oryzias oleh Parenti (2008).

Dari tiga spesies yang sebelumnya dimasukkan ke Xenopoecilus yang parafiletik, X. oophorus dan X. poptae dipindahkan ke Adrianichthys, sedangkan yang ketiga, X. sarasinorum, kini diakui sebagai Oryzias sarasinorum.

Selain itu, spesies India yang dulunya monotipik, Horaichthys setnai, kini diklasifikasikan sebagai O. setnai.1

Sumber

1 sumber dan pustaka
  1. Seriously Fish seriouslyfish.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.

Referensi

  • Herder, F. and S. Chapuis (2010). Oryzias hadiatyae, a new species of ricefish (Atherinomorpha: Belonifornes: Adrianichthyidae) endemic to Lake Masapi, Central Sulawesi, Indonesia. The Raffles Bulletin of Zoology 58(2), 269-280
  • Magtoon, W. (2010). Oryzias songkhramensis, a new species of ricefish (Beloniformes; Adrianichthyidae) from northeast Thailand and central Laos. Tropical Natural History 10(1), 107-129
  • Magtoon, W. and A. Termvidchakorn (2009). A Revised Taxonomic Account of Ricefish Oryzias (Beloniformes; Adrianichthyidae), in Thailand, Indonesia and Japan. The Natural History Journal of Chulalongkorn University 9(1), 35-68
  • Parenti, L. R. (2008). A phylogenetic analysis and taxonomic revision of ricefishes, Oryzias and relatives (Beloniformes, Adrianichthyidae). Zoological Journal of the Linnean Society 154(3), 494-610
  • Parenti, L. R. and B. Soeroto (2004). Adrianichthys roseni and Oryzias nebulosus, two new ricefishes (Atherinomorpha: Beloniformes: Adrianichthyidae) from Lake Poso, Sulawesi, Indonesia. Ichthyological Research 51(1), 10-19
  • Parenti, L. R. and R. K. Hadiaty (2010). A new, remarkably colorful, small ricefish of the genus Oryzias (Beloniformes, Adrianichthyidae) from Sulawesi, Indonesia. Copeia 2010 (2), 268-273
  • Popta, C. M. L. (1905). Haplochilus sarasinorum, n. sp. Notes from the Leyden Museum 25(4), 239-247
  • Roberts, T. R. (1998). Systematic observations on tropical Asian medakas or ricefishes of the genus Oryzias, with descriptions of four new species. Ichthyological Research 45(3), 213-224
  • Rosen, D. E. and L. R. Parenti (1981). Relationships of Oryzias, and the groups of atherinomorph fishes. American Museum Novitates 2719, 1–25
  • Takehana, Y., K. Naruse K and M. Sakaizumi (2005). Molecular phylogeny of the medaka fishes genus Oryzias (Beloniformes: Adrianichthyidae) based on nuclear and mitochondrial DNA sequences. Molecular Phylogenetics and Evolution 36(2), 417–428
  • Uwa, H. and W. Magtoon (1986). Description and karyotype of a new ricefish, Oryzias mekongensis from Thailand. Copeia 1986 (2), 473-478
  • Uwa, H. and L. Parenti (1988). Morphometric and meristic variation in ricefishes, genus Oryzias: a comparison with cytogenetic data. Japanese Journal of Ichthyology 35(2), 159-1661