Satuan
Tampilan

Parastacidae, Indonesia

Lobster Blue Moon

Cherax boesemani

Nama lain: Lobster air tawar Blue Moon, Cherax Blue Moon, Blue Moon crayfish, Lobster Ayamaru

Suhu
24–31°C
pH
7–8
Akuarium minimum
belum ada
Tingkat kesulitan
Mudah

Tabel data

Lihat tabel lengkap
Suhu
24–31°C
pH
7–8
Ukuran
15 cm
Umur hidup
4–5 tahun
Tingkat kesulitan
Mudah 3/8 Kenapa?

Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:

  • RuangSedangikan sepanjang 15 cm
  • AirMudahpH 7–8, 3–25 dGH
  • SuhuMudah24–31°C
  • PerilakuSulitagresif

Tingkat kesulitan 3/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung

Sumber dan tingkat keandalan
Suhu
  • Aquarium Breeder
pH
  • Aquarium Breeder
Kesadahan (dGH)
  • Aquarium Breeder
Ukuran
  • Aquarium Breeder
Umur hidup
  • Aquarium Breeder
Tingkat kesulitan
  • Aquarium Breeder

Cara tabel memilih satu angka jika sumber-sumber berbeda

Diterjemahkan dan dirangkum dari Aquarium Breeder. Diperbarui 2026-11-04.

Info singkat

  • Nama: lobster Blue Moon (Cherax boesemani)
  • Nama lain: Cherax Blue Moon, Blue Papuan crayfish, Rainbow crayfish, Supernova crayfish, Blue Marble crayfish
  • Ukuran akuarium (optimal): ±80 liter
  • Pemijahan: mudah sampai sedang
  • Pakan: omnivora/karnivora saat juvenil, omnivora/herbivora saat dewasa
  • Sifat: agresif
  • Variasi warna: krem, cokelat zaitun, hijau zaitun, cokelat kemerahan, keunguan, abu-abu kebiruan, merah hingga hitam dengan tepi merah muda1

Layak dibeli?

Cherax boesemani tidak terlalu umum di perdagangan ikan hias, tetapi bisa direkomendasikan bahkan untuk pemula. Lobster ini tangguh, mudah dirawat, dan bisa berkembang biak di akuarium. Umumnya tersedia di Eropa dan jarang ditemukan di Amerika Serikat.

Pastikan spesies ini tidak dilarang di wilayah Anda dan jangan membeli atau menjualnya secara ilegal. Contohnya, Florida Fish and Wildlife Conservation Commission (2017) tidak mengizinkan spesies ini dimiliki secara pribadi, dibawa masuk, dibeli, dijual, dikembangbiakkan, diangkut, atau dipakai untuk kegiatan komersial, karena dianggap berisiko tinggi menjadi spesies invasif. Meskipun di tempat Anda tidak dilarang, JANGAN PERNAH melepaskannya ke alam.1

Butuh akuarium seberapa besar?

Karena bisa tumbuh cukup besar, Cherax boesemani butuh banyak ruang. Disarankan akuarium memanjang berukuran sekitar 80 liter untuk setiap ekor lobster dewasa.

Semua lobster air tawar sangat lihai kabur: mereka bisa memanjat permukaan tegak dan cukup kuat untuk menggeser tutup yang ringan, jadi tutup akuarium yang rapat wajib ada.1

Kondisi air seperti apa?

  • Suhu: 24–31 °C, rata-rata 26 °C. Pada suhu lebih rendah metabolismenya melambat dan lobster jadi makin kurang aktif.
  • pH: 7,0–8,0 di akuarium. Di alam, karena fluktuasi musiman, mereka juga ditemukan di air dengan pH sekitar 6,4.
  • Kesadahan: KH 3–20 dan GH 3–25.1

Bagaimana cara merawatnya?

Memelihara Cherax boesemani tidak rumit; spesies ini tangguh dan toleran terhadap berbagai parameter air. Pastikan siklus nitrogen di akuarium sudah matang dan lakukan ganti air 15–20% seminggu sekali.

Untuk tumbuh dan memulihkan kaki yang hilang, lobster harus ganti kulit (molting) secara rutin, dan pembentukan eksoskeleton baru membutuhkan banyak kalsium. Saat molting mereka sangat rentan, jadi sediakan banyak tempat sembunyi; dalam beberapa kasus, sekat di tengah akuarium bisa melindungi mereka dari teman setangki. Jangan buang kulit bekas molting.

Tanaman: Cherax boesemani tidak aman untuk tanaman. Hampir semua tanaman akan dimakan, dipotong, dicabik, dan dicabut, jadi akuarium bertanaman (aquascape) tidak disarankan. Pilihannya adalah tanaman plastik, tanaman apung, atau tanaman murah yang siap direlakan.

Umur: belum ada data untuk di alam; di akuarium mereka bisa hidup 4–5 tahun bila dirawat dengan baik.1

Peralatan apa yang dibutuhkan?

Substrat: tidak ada syarat khusus; substrat apa pun bisa dipakai.

Pencahayaan: tidak ada syarat khusus; spesies ini aktif di malam hari (nokturnal).

Filter: hanya filter gantung (hang-on-back) dan filter kanister yang cocok. Filter spons bukan pilihan bagus karena akan dicuil, dikunyah, dan dirusak oleh lobster.

Dekorasi dan tempat sembunyi: tempat berlindung buatan wajib ada dan harus banyak. Tempat ini memberi perlindungan saat molting dan musim kawin, melindungi indukan dari pemangsaan, serta mengurangi agresivitas. Contohnya: tumpukan pipa PVC, rumah batok kelapa, gulungan jaring, kayu (driftwood), batu. Lobster tidak suka tempat sembunyi yang hanya punya satu jalan keluar dan lebih suka tempat yang sempit dan pas dengan tubuhnya.1

Diberi pakan apa?

Cherax boesemani adalah omnivora oportunis. Di alam ia memakan siput, serangga, telur ikan, ikan kecil, sayuran, tanaman air, alga, dan detritus.

Di akuarium ia butuh campuran pakan hewani dan nabati yang seimbang, dengan kandungan protein sekitar 15–20%. Lobster dewasa lebih herbivora, sedangkan juvenil lebih karnivora; juvenil mengandalkan protein untuk tumbuh cepat dan bisa jadi kanibal jika kekurangan protein.

Pakan yang disarankan:

  • daun dan tanaman
  • sayuran yang direbus sebentar (brokoli, kubis, wortel, mentimun, selada, jagung, bayam, kacang polong, labu, sayuran hijau, dll.)
  • siput yang dihancurkan
  • cacing tanah
  • cacing sutra
  • cacing hitam (blackworm)
  • cacing darah, termasuk yang beku
  • artemia
  • ikan atau udang mati
  • pakan udang (pelet udang, granul, pakan krustasea seperti Hikari Shrimp Cuisine)

Frekuensi pemberian pakan: 3–4 kali seminggu.

  • Beri pakan sebelum lampu dimatikan.
  • Biarkan pakan selama 24 jam sebelum diangkat; sifon sisa pakan sebelum memberi pakan baru. Daun boleh dibiarkan di akuarium selama beberapa hari.
  • Periksa tempat sembunyi sesekali, karena lobster suka menyeret dan menyimpan pakan di sana, yang bisa memicu kontaminasi bakteri.
  • Variasikan menu secara berkala.1

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Cherax boesemani punya perilaku sosial yang kompleks. Ia soliter dan teritorial, tetapi sering ditemukan berdekatan dengan individu lain. Agresivitasnya rendah dibandingkan banyak lobster hias populer lainnya (lobster biru, lobster merah, marbled crayfish, Cherax destructor, dll.), tetapi kalau agresi terjadi, prosesnya cepat. Ia memamerkan capitnya untuk menunjukkan dominasi sebelum terjadi kontak fisik yang keras. Jantan lebih agresif dan kemungkinan besar akan menyerang teman setangki.

Meski ukurannya besar, mereka penakut dan pemalu serta tidak suka berada di tempat terbuka. Mereka nokturnal: mulai aktif saat senja dan perlahan berhenti beraktivitas sebelum matahari terbit. Mereka bukan penggali alami, tetapi bisa menggali di substrat yang lembut, dan sangat lihai kabur.

Teman setangki: memelihara beberapa lobster bersama itu berisiko; biasanya lebih baik dipelihara sendirian. Jika dipelihara berkelompok, gunakan satu jantan dengan 1–2 betina, beri pakan yang cukup, dan sediakan banyak tempat sembunyi; meski begitu, agresi tetap tidak bisa sepenuhnya dihindari.

Ikan: jangan dengan ikan agresif, ikan penghuni dasar, atau ikan yang berenang lambat. Hidup bersama ikan cepat yang berenang di permukaan masih mungkin, tetapi tidak disarankan.

Siput dan udang: siput akan jadi santapan. Lobster dewasa biasanya mengabaikan udang hias kecil (dwarf shrimp) karena terlalu gesit, tetapi udang yang sedang molting jadi mangsa empuk.

Teman setangki yang buruk: lobster air tawar lain, kepiting air tawar, dan katak.1

Bagaimana membedakan jantan dan betina?

Spesies ini memiliki dimorfisme seksual.

  • Capit: jantan punya capit yang jauh lebih besar dan panjang daripada betina, dan hanya jantan yang punya bercak putih di bagian kuning capitnya.
  • Bentuk tubuh: betina punya ekor yang lebar dan karapas yang sedikit lebih besar.
  • Bagian perut: jantan punya dua tonjolan berbentuk L (clasper) di belakang pasangan kaki jalan ke-5 (terakhir). Betina punya lubang penampung sperma berbentuk bulat di antara pangkal dua pasang kaki jalan terakhir.1

Bagaimana cara berkembang biaknya?

  • Kematangan: tergantung suhu, mereka matang kelamin pada umur sekitar 8–10 bulan.
  • Kawin: jantan yang memulai dan menggunakan capitnya untuk memegang dan menahan betina.
  • Setelah pembuahan, telur berkembang di dalam tubuh induk selama 4–6 minggu, lalu berpindah ke luar, ke bagian ekor betina.
  • Telurnya cukup besar: panjang 3 mm, lebar 2 mm. Betina membersihkan telur dan menjaga pasokan oksigennya dengan kaki-kaki renangnya.
  • Rata-rata seekor betina membawa sedikit di atas 100 butir telur; jumlahnya sebanding dengan ukuran tubuhnya.
  • Tergantung suhu, telur menetas dalam 40–50 hari.
  • Juvenil sebaiknya dipindah ke akuarium terpisah dengan parameter air yang sama. Mereka butuh protein lebih banyak daripada lobster dewasa dan bisa cepat jadi kanibal jika tidak ada pakan.
  • Anakan suka bersembunyi dan hampir selalu tersembunyi. Mereka mulai berwarna pada umur sekitar 2 bulan.1

Sebaran alami

Hidup alami di: Indonesia1

Sungai, danau, wilayah: Danau Ajamaru, Kais River, Ajamaru River1

Apa kata sumber
  • Indonesia · Aquarium Breeder1: “Cherax boesemani is a crayfish endemic to West Papua, Indonesia.”
  • Danau Ajamaru, Kais River, Ajamaru River · Aquarium Breeder1: “It is found only in the Ajamaru Lakes and the Ajamaru River, which belongs to the Kais River drainage.”

GBIF punya 3 catatan di alam liar, semuanya di negara-negara di atas.

  • Catatan di negara asal
  • Negara asal
  • Tiap kotak sekitar 160 km.

Data: GBIF.org, 3 catatan, diambil 2026-11-07 · CC0, CC BY 4.0. Peta dasar: Natural Earth.

Di mana habitat aslinya?

Cherax boesemani adalah lobster air tawar endemik Papua Barat, Indonesia. Spesies ini hanya ditemukan di Danau Ayamaru dan Sungai Ayamaru, yang termasuk daerah aliran Sungai Kais.1

Habitat alami

Lobster ini hidup di bagian danau yang dangkal (jarang lebih dari 3 m) dengan banyak tanaman, juga di lahan basah dan anak-anak sungai. Air danaunya keras, kaya mineral, dengan pH netral.

Nama genus Cherax diduga berasal dari salah tulis kata Yunani 'charax', yang berarti tiang runcing, atau sesuatu yang menggaruk. Nama spesiesnya diambil dari Dr. Marinus Boeseman, yang berjasa menambah pengetahuan tentang lobster Cherax di Irian Jaya (Papua Barat) dan pertama kali mengoleksinya pada tahun 1955.1

Catatan

Cherax boesemani bisa tumbuh hingga 12–15 cm, meski ada laporan beberapa individu mencapai 25 cm. Ada beberapa variasi warna (oranye, merah, krem, abu-abu kehijauan), tetapi yang paling umum adalah biru atau merah gelap hingga cokelat. Warna capitnya bervariasi: krem, cokelat zaitun, hijau zaitun, cokelat kemerahan, keunguan, abu-abu kebiruan, merah hingga hitam dengan tepi merah muda dan ujung hitam; bagian yang tidak berkapur berwarna kekuningan atau pucat hingga putih. Kedua capit sama bentuk dan ukurannya. Selain pola warna dan ukurannya, secara morfologi spesies ini sangat mirip dengan Cherax pulcher.

Popularitasnya tampaknya terus meningkat. Dengan warnanya yang mencolok dan sifatnya yang tangguh, lobster ini jadi peliharaan akuarium yang bagus asalkan pakan dan perilakunya dipahami. Periksa aturan setempat, karena di beberapa tempat spesies ini dilarang.1

Sumber

1 sumber dan pustaka
  1. Aquarium Breeder aquariumbreeder.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.

Referensi

  • Lukhaup, C., and R. Pekny. “Cherax (Astaconephrops) boesemani, a new species of crayfish (Crustacea: Decapoda: Parastacidae) from the centre of the Vogelkop Peninsula in Irian Jaya (West New Guinea), Indonesia.” Zoologische Mededelingen 82, no. 33 (2008): 331-340.
  • Lukhaup, Christian. “Cherax (Astaconephrops) pulcher, a new species of freshwater crayfish (Crustacea, Decapoda, Parastacidae) from the Kepala Burung (Vogelkop) Peninsula, Irian Jaya (West Papua), Indonesia.” ZooKeys 502 (2015): 1.
  • Patoka, Jiří. “Crayfish of New Guinea: Current status, exploitation and threats.” Evolution, Habitat and Conservation Strategies. Nova (2020): 43-70.
  • Hidayah, Taufiq, MarsonMarson, Muhammad Ali, Ni Komang Suryati, and Dina Muthmainnah. “Fish Diversity and Water Quality of Ayamaru Lake, West Papua.” Sriwijaya Journal of Environment 6, no. 1 (2021): 1-7.
  • vanKuijk, Tiedo, Jacobus C. Biesmeijer, Berry B. van der Hoorn, and Piet FM Verdonschot. “Functional traits explain crayfish invasive success in the Netherlands.” Scientific reports 11, no. 1 (2021): 1-12.
  • Faulkes Z. 2015. The global trade in crayfish as pets. Crustacean Res 44: 75–92.
  • S. Fish and Wildlife Service. 2017. Cherax boesemani (a crayfish, no common name). Ecological Risk Screening Summary. Revised Edition.1