Satuan
Tampilan

Blyxa aubertii

Blyxa aubertii

Nama lain: Blyxa, Bamboo plant, Roundfruit blyxa

Tingkat kesulitan
Sulit
Cahaya
Kuat
CO₂
Wajib
Kecepatan tumbuh
Sedang
Posisi
Latar belakang

Info singkat

  • Nama lain: Blyxa, Bamboo plant, Roundfruit blyxa
  • Akuarium minimal: 80 liter
  • Pencahayaan: sedang sampai tinggi
  • Kesadahan: air lunak
  • Bentuk pertumbuhan: roset; laju pertumbuhan sedang
  • Penempatan: latar belakang
  • Butuh CO2 dan pupuk
  • Perbanyakan: vegetatif dan dengan biji

Di Malaysia, Blyxa aubertii dimakan mentah sebagai sayuran. Tanaman ini juga dipakai sebagai bahan baku pembuatan kertas.1

Butuh akuarium seberapa besar?

Karena ukurannya, Blyxa aubertii hanya cocok untuk akuarium yang lebih besar (terutama yang tinggi) mulai dari 80 liter. Itu pun lama-kelamaan tanaman ini bisa menjadi begitu besar sehingga harus dipangkas dan dipecah.1

Kondisi air seperti apa?

Suhu: 22–28 °C. Tanaman ini tidak tahan air dingin maupun suhu yang naik-turun.

pH: 5,5–6,8. pH sedikit asam lebih cocok; air basa merusak sistem akar, jadi pantau pH secara rutin.

Kesadahan: di air sadah tanaman ini sering berhenti tumbuh. Idealnya di bawah 5 GH dan di bawah 3 KH.

Arus: lebih suka air tenang; di alam ditemukan di sungai dan anak sungai yang airnya diam atau mengalir pelan.1

Bagaimana cara merawatnya?

Tanaman ini jelas bukan untuk pemula. Dalam kondisi optimal pertumbuhannya sedang, dan bisa butuh beberapa bulan sampai siap diperbanyak.

  • Jangan biarkan tanaman mencapai permukaan, karena akan membentuk gumpalan kusut. Mulailah memangkas saat jaraknya 10–15 cm dari permukaan; tanaman bisa dipotong sampai separuhnya dengan aman dan akan cepat tumbuh lagi.
  • Cabut tangkai bunganya: tidak ada gunanya dan sangat melemahkan tanaman. Dengan membuangnya, tanaman semusim ini mungkin bisa menjadi tanaman tahunan (perennial).
  • Seiring pertumbuhannya, tanaman sering menjadi longgar di substrat dan mungkin perlu ditanam ulang.

Penanaman: gunakan sebagai tanaman latar belakang; kalau warnanya memerah, bisa dijadikan titik fokus. Tanam dengan jarak minimal 20 cm, pastikan tidak ada tanaman lain yang menaunginya, dan tanam cukup dalam agar tidak mengapung. Kalau akarnya sedikit dan terus mengapung, sebagian aquarist membiarkannya mengapung sampai akarnya tumbuh baru kemudian ditanam.

Perbanyakan: dengan biji (bunganya menyerbuk sendiri) atau secara vegetatif, yang merupakan cara utama di akuarium. Tunas baru bercabang dari pangkal; cabut tanamannya dan pisahkan dengan gunting. Kalau tanaman baru belum berakar, biarkan mengapung sampai akarnya tumbuh. Periksa apakah ada bagian yang membusuk atau daun yang jelek.

Masalah umum:

  • Daun menguning atau melting: cahaya kurang, CO2 kurang, pupuk terlalu sedikit (nitrogen dan Fe) atau terlalu banyak, parameter air tidak stabil. Tanaman ini sangat sensitif terhadap Excel.
  • Akar busuk di air basa (pH di atas 7,0): jaga parameter tetap stabil.
  • Pertumbuhan lambat: tanaman ini lebih suka air lunak sampai sedang; di atas 5 GH tanaman mulai mengapung dan akarnya tumbuh buruk.
  • Daunnya rapuh dan mudah patah saat perawatan.
  • Beberapa jenis siput dan ikan memakan daunnya yang tipis.
  • Tanaman bisa melting setelah dipindah atau dipecah.
  • Sebagai tanaman semusim, tanaman ini perlu diperbanyak secara rutin, kalau tidak akan merosot kondisinya.
  • Tanaman sering mati setelah berbunga; jangan biarkan berbunga.
  • Tanaman bisa merontokkan daun tanpa sebab yang jelas.1

Peralatan apa yang dibutuhkan?

Pencahayaan: sedang sampai tinggi. Dengan cahaya lebih rendah tanaman tidak akan tumbuh dan kemungkinan besar akan membusuk. Bukan untuk akuarium low-tech. Cahaya sedang membuat daun tetap hijau; cahaya kuat dan langsung lambat laun membuatnya kemerahan atau oranye dalam beberapa hari.

Substrat: di alam tanaman ini sering ditemukan di tanah liat. Substrat dua lapis, dengan lapisan dasar tipis yang kaya nutrisi lalu ditutup kerikil halus atau pasir kasar, adalah pilihan yang lebih baik. Kalau hanya memakai soil mineral yang kaya nutrisi, akarnya bisa cepat hancur. Tanaman ini menyerap sebagian besar nutrisi dari kolom air dan sistem akarnya lemah untuk ukuran tubuhnya.

CO2: sangat sulit ditanam tanpa CO2; sistem CO2 bertekanan (tabung) wajib.

Pemupukan: pupuk mikro dan makro secara rutin diperlukan. Zat besi (0,05–0,2 mg/L) sangat penting, terutama di bawah cahaya kuat, karena membantu memunculkan warna kemerahan.

Kalau memelihara udang bersama tanaman ini, perlu diingat bahwa CO2 tinggi dan tembaga (ada di kebanyakan pupuk) sangat berbahaya bagi udang.1

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Manfaat: menambah nilai dekoratif; menghasilkan gelembung oksigen kecil (pearling) di daunnya; memberi tempat berlindung dan naungan bagi invertebrata, katak kecil, dan ikan; serta menjadi tempat tumbuhnya biofilm, pakan pertama yang ideal bagi burayak dan anakan udang yang baru menetas.

Teman setangki: paling cocok dengan ikan komunitas kecil yang damai dan tidak akan merusaknya, misalnya neon tetra, clown killifish, white cloud mountain minnow, zebra danio, cherry barb, platy, molly, otocinclus, dan pygmy corydoras. Untuk udang, pilih spesies yang menyukai air sedikit asam, seperti crystal red shrimp, blue bolt shrimp, dan Caridina cf. babaulti. Siput hias sebaiknya tidak dipelihara lama di air ber-pH rendah; kalau pH mendekati 7,0, hampir semua jenis siput atau udang kerdil bisa dipelihara.

Hindari ikan yang suka mengaduk substrat atau memakan tanaman, misalnya silver dollar, Buenos Aires tetra, koi, ikan mas koki, oscar, rainbowfish, Jack Dempsey, botia (clown loach), dan cichlid Afrika. Lobster air tawar dan kepiting air tawar juga bukan kombinasi yang baik.1

Di mana habitat aslinya?

Blyxa aubertii berasal dari wilayah tropis dan subtropis Asia, Australia bagian utara, serta Afrika Barat dan Tengah.

Tanaman ini ditemukan di India, Sri Lanka, Nepal, Bhutan, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Malaysia, Indonesia, Papua Nugini, Filipina, Vietnam, Tiongkok, Taiwan, Korea, dan Jepang (Kepulauan Ryukyu), juga di Afrika dan Australia.

Spesies ini masuk ke Amerika Utara sekitar 40 tahun lalu. Pertama kali ditemukan di Louisiana, dan sekarang juga sudah tercatat di Mississippi.

Walaupun tersebar di banyak tempat, tanaman ini hampir tidak pernah mendominasi spesies tanaman lain.1

Habitat alami

Blyxa aubertii tumbuh di lahan basah dan dataran rendah. Biasanya ditemukan di air yang tenang dan sangat dangkal di bekas lahan bakau yang sudah dirambah, sawah, dan saluran air.

Ini adalah tanaman air semusim (annual) dengan daun yang membentuk roset di atas rimpang pendek yang tegak. Tingginya bisa mencapai 50 cm dengan lebar sekitar 25 cm. Warna alaminya hijau muda, tetapi di bawah cahaya kuat warnanya berubah menjadi kemerahan/ungu pekat. Helai daunnya duduk (tanpa tangkai), berbentuk pita dengan ujung memanjang dan meruncing, panjangnya sampai 50 cm dan lebarnya 0,5–1 cm; daunnya lembut, tipis, dan mudah patah.

Bunganya biseksual (menyerbuk sendiri) dan tunggal, dengan kelopak putih atau kemerahan. Bunga dan buah bisa terbentuk di bawah maupun di atas permukaan air. Di akuarium, tanaman ini rutin berbunga begitu mencapai permukaan, tetapi bunganya jarang mekar.1

Catatan

Blyxa aubertii adalah istilah kolektif untuk dua varietas: var. aubertii (biji 1,25–1,8 mm, halus atau sedikit bergerigi, berduri jarang, tanpa ekor) dan var. echinosperma (biji 1,5–2,0 mm tanpa ekor, bergerigi dan berduri, dengan ekor sampai 5 mm di salah satu atau kedua ujungnya). "Novoguineensis" (versi merah) dan "Kimberley" adalah nama dagang, bukan subspesies yang diakui.

Dibandingkan dengan Blyxa japonica: B. japonica membentuk batang berdaun, bukan roset, ukurannya lebih kecil, warnanya hijau lebih cerah dan hanya sedikit memerah, serta daunnya tidak setipis dan selembut B. aubertii.

Genus Blyxa ditetapkan pada tahun 1806 oleh Francisco Noroña dalam Genera Nova Madagascariensia karya Louis Marie Aubert Du Petit-Thouars. Genus ini termasuk famili Hydrocharitaceae, dengan 12 spesies yang terdokumentasi.

Blyxa aubertii adalah tanaman yang indah tetapi menantang, cocok untuk aquarist berpengalaman dan tidak disarankan untuk pemula.1

Sumber

1 sumber dan pustaka
  1. Aquarium Breeder aquariumbreeder.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.

Referensi

  • Jiang, Meiyi, and Yasuro Kadono. “Seasonal growth and reproductive ecology of two threatened aquatic macrophytes, Blyxa aubertii and B. echinosperma (Hydrocharitaceae), in irrigation ponds of south-western Japan.” Ecological Research 16 (2001): 249-256.
  • McNair, Daniel M., and Mac H. Alford. “Blyxa aubertii (Hydrocharitaceae) new to Mississippi, USA.” Journal of the Botanical Research Institute of Texas 8, no. 1 (2014): 267-270.
  • Tshewang, Sangay, Brian M. Sindel, Mahesh Ghimiray, and Bhagirath Singh Chauhan. “Weed management challenges in rice (Oryza sativa L.) for food security in Bhutan: A review.” Crop Protection 90 (2016): 117-124.
  • Awing, Suzalina Akma. “Biological and Ecological Aspects of Frestwater Macrophytes in the Coastal Areas of Bintulu and Miri, Sarawak, Malaysia.” PhD diss., Universiti Putra Malaysia, 2008.
  • Zhang, Keliang, Jerry M. Baskin, Carol C. Baskin, Gregory P. Cheplick, Xuejun Yang, and Zhenying Huang. “Amphicarpic plants: definition, ecology, geographic distribution, systematics, life history, evolution and use in agriculture.” Biological Reviews 95, no. 5 (2020): 1442-1466.
  • Zhao, Fei. “Comparison between non-wood fiber paper and Finnish traditional wood-fiber paper by mechanical properties.” (2017).1