Satuan
Tampilan

Cyprinidae, Indonesia

Checker barb

Oliotius oligolepis

Nama lain: Checkered barb, Checkerboard barb, Island barb, Puntius oligolepis

Suhu
18–25°C
pH
5,5–7,5
Akuarium minimum
75 cm
Tingkat kesulitan
Mudah

Tabel data

Lihat tabel lengkap
Suhu
18–25°C
pH
5,5–7,5
Ukuran
4,5 cm
Tingkat kesulitan
Mudah 2/8 Kenapa?

Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:

  • RuangSedangakuarium mulai 75 cm, ikan sepanjang 4,5 cm
  • AirMudahpH 5,5–7,5, 2–12 dGH
  • SuhuSedangair sejuk · 18–25°C
  • PerilakuMudahdamai
  • KelompokSedangkelompok mulai 6 ekor

Tingkat kesulitan 2/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung

Sumber dan tingkat keandalan
Suhu
  • Seriously Fish
pH
  • Seriously Fish
Kesadahan (dGH)
  • Seriously Fish
Ukuran
  • Seriously Fish
Akuarium minimum
  • Seriously Fish
Tingkat kesulitan
  • Seriously Fish

Cara tabel memilih satu angka jika sumber-sumber berbeda

Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-11-04.

Info singkat

Checkered barb, Oliotius oligolepis, adalah ikan cyprinid kecil yang tampaknya endemik di Sumatra bagian barat-tengah, Indonesia. Ikan ini juga dijual dengan nama 'checker barb', 'checkerboard barb' atau 'island barb', dibudidayakan secara komersial dalam jumlah sangat besar, dan spesimen tangkapan alam jarang sekali tersedia, bahkan mungkin tidak pernah. Kottelat (2013) membuat genus Oliotius khusus untuk spesies ini. Salah satu ciri pembeda genus ini adalah tanda hitam berbentuk bulan sabit di semua sisiknya.1

Butuh akuarium seberapa besar?

Panjang standar: 45 mm SL. Alas akuarium: 75 × 30 cm. Volume: ~68 liter.

Dibutuhkan akuarium berukuran 75 × 30 × 30 cm atau lebih besar.1

Kondisi air seperti apa?

  • Suhu: 18–25 °C
  • pH: 5,5–7,5
  • Kesadahan: 2–12 dGH1

Bagaimana cara merawatnya?

Pemilihan dekorasi tidak terlalu penting, walaupun warnanya cenderung lebih bagus di akuarium yang tertata dengan baik. Tambahan tanaman mengapung atau tanaman yang menjuntai di atas air, serta akar atau cabang kayu (driftwood), juga tampaknya disukai.1

Diberi pakan apa?

Di alam kemungkinan besar omnivora yang terutama memakan invertebrata air, ditambah sedikit bahan tumbuhan dan detritus organik.

Di akuarium ikan ini mudah diberi makan, tetapi kondisi dan warna terbaik didapat dengan pemberian rutin pakan hidup dan beku berukuran kecil seperti larva chironomid (cacing darah), kutu air, dan artemia, bersama pakan serpihan dan pakan granul kering berkualitas baik.1

Lake Maninjau in Western Sumatra; type locality of this species.
©

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Umumnya sangat damai, sehingga ideal sebagai penghuni akuarium komunitas yang penghuninya dipilih dengan cermat.

Secara alami ikan ini hidup bergerombol, jadi sebaiknya dibeli minimal 6–10 ekor. Memeliharanya dalam jumlah seperti itu tidak hanya membuat ikan kurang mudah kaget, tetapi juga menghasilkan tampilan yang lebih menarik dan alami, dan ikan jantan akan menampilkan warna lebih bagus bila ada pejantan pesaing dari spesies yang sama.1

Bagaimana membedakan jantan dan betina?

Jantan dewasa jelas lebih kecil, lebih ramping, dan lebih berwarna daripada betina. Perbedaan warna ini lebih terlihat pada ikan yang sedang dalam masa kawin.1

Bagaimana cara berkembang biaknya?

Ikan ini memijah dengan menebar telur secara bebas dan tidak menjaga anaknya.

Bila kondisinya bagus, ikan ini akan sering memijah, dan di akuarium yang sudah matang ada kemungkinan sejumlah kecil burayak muncul tanpa campur tangan. Namun, jika ingin hasil maksimal, diperlukan cara yang lebih terkontrol.

Kelompok indukan bisa dikondisikan bersama-sama, tetapi perlu disiapkan akuarium tambahan yang diisi air matang. Akuarium ini sebaiknya diberi pencahayaan redup dan dasarnya ditutup semacam jaring dengan lubang yang cukup besar agar telur bisa jatuh melewatinya, tetapi cukup kecil agar indukan tidak bisa menjangkaunya. Matras plastik jenis 'rumput' yang banyak dijual juga bisa dipakai dan hasilnya bagus, begitu pula lapisan kelereng kaca. Sebagai alternatif, mengisi sebagian besar akuarium dengan tanaman berdaun halus seperti Taxiphyllum spp. atau spawning mop juga bisa memberi hasil yang lumayan.

Airnya sebaiknya ber-pH sedikit asam hingga netral dengan suhu mendekati batas atas kisaran di atas, dan perlu dipasang filter spons bertenaga aerator atau batu aerasi untuk menyediakan oksigen dan pergerakan air.

Ketika betina terlihat penuh telur, satu atau dua pasang bisa dimasukkan, dan pemijahan biasanya terjadi keesokan paginya. Pilihan kedua adalah memijahkan ikan secara berkelompok, dengan jumlah yang baik sekitar enam ekor dari masing-masing jenis kelamin, meskipun mungkin diperlukan akuarium yang lebih besar.

Pada kedua cara tersebut, indukan sebaiknya dipindahkan setelah memijah. Telur akan menetas dalam 24–48 jam dan burayak mulai berenang bebas sekitar 24 jam kemudian. Burayak sebaiknya diberi pakan seukuran infusoria selama beberapa hari pertama sampai cukup besar untuk menerima microworm, naupli artemia, atau pakan sejenis.1

Di mana habitat aslinya?

Tampaknya endemik di Sumatra bagian barat-tengah, Indonesia, tetapi luas sebaran sebenarnya belum jelas. Beberapa catatan terbaru yang ada berasal dari daerah hilir sungai Aek Sibundung, Aek Sumuran, dan Aek Garoga di Provinsi Sumatera Utara. Daerah aliran sungai Batang Gadis beserta taman nasionalnya mungkin merupakan batas utara sebarannya (D. Lumbantobing, komunikasi pribadi).

Lokasi tipenya adalah 'Lake Meninju, Sumatra, Indonesia', yang sesuai dengan danau kawah Danau Maninjau di Provinsi Sumatera Barat.1

Catatan

Spesies ini juga dijual dengan nama 'checker barb', 'checkerboard barb', atau 'island barb', dan termasuk salah satu spesies yang paling umum tersedia di perdagangan ikan hias. Ikan ini dibudidayakan secara komersial dalam jumlah sangat besar, sedangkan spesimen tangkapan alam jarang sekali tersedia, bahkan mungkin tidak pernah.

Dulu spesies ini dimasukkan ke dalam genus Puntius, genus 'keranjang sampah' yang polifiletik dan berisi lebih dari 100 spesies, tetapi masalah ini sebagian besar sudah terselesaikan sejak awal abad ini.

Oliotius dibuat oleh Kottelat (2013) untuk menampung O. oligolepis karena spesies ini memiliki kombinasi ciri pembeda yang unik dibandingkan anggota Puntius lama lainnya dari Asia Tenggara. Diagnosisnya sebagai berikut: pola warna berupa tanda hitam berbentuk bulan sabit di semua sisik; sisik besar, dengan 8 baris sisik sekeliling batang ekor (circumpeduncular), 17 sisik pada deret gurat sisi; 3,5/1/3,5 sisik antara pangkal sirip punggung dan garis tengah perut di depan pangkal sirip perut.

Ciri-ciri berikut juga membantu identifikasi: adanya deretan papila di sisi moncong, daerah infraorbital, tutup insang (operkulum), daerah interorbital dan tenggorokan, yang di antara genus kerabatnya di kawasan ini hanya dimiliki juga oleh Striuntius; jari-jari sirip punggung tak bercabang yang paling belakang tidak bergerigi; tidak ada sungut rostral; ada sungut maksila; bibir halus dan tipis, alur pascabibir terputus di bagian tengah; gurat sisi tidak lengkap, dengan 6–7 sisik berpori; 3–5 tapis insang pada lengkung insang pertama.1

Sumber

1 sumber dan pustaka
  1. Seriously Fish seriouslyfish.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.

Referensi

  • Kottelat, M. and H-H Tan (2011). Systomus xouthos, a new cyprinid fish from Borneo, and revalidation of Puntius pulcher (Teleostei: Cyprinidae). Ichthyological Exploration of Freshwaters 22(3), 209-214
  • Tan, H-H. and M. Kottelat (2008). Revision of the cyprinid fish genus Eirmotus, with description of three new species from Sumatra and Borneo. Raffles Bulletin of Zoologhy 56(2), 423-433
  • Bleeker, P. (1853). Diagnostische beschrijvingen van nieuwe of weinig bekende vischsoorten van Sumatra. Tiental V-X. Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indië v. 4, 243-3
  • Pethiyagoda, R., M. Meegaskumbura, and K. Maduwage (2012). A synopsis of the South Asian fishes referred to Puntius (Pisces: Cyprinidae). Ichthyological Exploration of Freshwaters 23(1), 69-95
  • Pethiyagoda, R. (2013). Haludaria, a replacement generic name for Dravidia (Teleostei: Cyprinidae). Zootaxa 3646(2), 199
  • Kottelat, M. (2013). The fishes of the inland waters of southeast Asia: a catalogue and core bibiography of the fishes known to occur in freshwaters, mangroves and estuaries. The Raffles Bulletin of Zoology Supplement 27, 1-6631