Adrianichthyidae, Indonesia
Ikan padi Jawa
Oryzias javanicus
Butuh air payau: air tawar yang dicampur garam laut.
Nama lain: Ikan padi, Medaka Jawa, Javanese ricefish, Javanese medaka, Blue-eyed ricefish
- Suhu
- 24–29°C
- pH
- 7–9
- Akuarium minimum
- 45 cm
- Tingkat kesulitan
- Mudah
Tabel data
Lihat tabel lengkap
- Suhu
- 24–29°C
- pH
- 7–9
- Kesadahan (dGH)
- 5–25
- Ukuran
- 3,5 cm
- Akuarium minimum
- 45 cm
- Tingkat kesulitan
Mudah 2/8 Kenapa?
Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:
- RuangMudahakuarium mulai 45 cm, ikan sepanjang 3,5 cm
- AirMudahpH 7–9, 5–25 dGH
- SuhuMudah24–29°C
- PerilakuMudahdamai
- KelompokSedangkelompok mulai 8 ekor
Tingkat kesulitan 2/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung
Sumber dan tingkat keandalan
- Suhu
- Seriously Fish
- pH
- Seriously Fish
- Kesadahan (dGH)
- Seriously Fish
- Ukuran
Tiap sumber mencantumkan angka berbeda
- Aquarium Glaser: 4 cm
- Seriously Fish: 3,5 cm
- Akuarium minimum
- Seriously Fish
- Tingkat kesulitan
- Seriously Fish, Aquarium Glaser · setingkat
Diterjemahkan dan dirangkum dari Aquarium Glaser, Seriously Fish. Diperbarui 2026-11-03.
Info singkat
Aquarium Glaser mencatat angka yang berbeda dari tabel data: ukuran 4 cm (tabel: 3,5 cm).
Oryzias javanicus adalah ikan padi (ricefish) yang cantik, damai, berukuran kecil (3–4 cm) dan mudah dirawat.1
Ukuran maksimal 35 mm SL. Ukuran akuarium 45 × 30 cm. Suhu 24–29 °C. pH 7,0–9,0. Kesadahan 5–25 dGH.
Ikan padi Jawa (Javanese ricefish), Oryzias javanicus, tersebar di Semenanjung Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia hingga ke timur sejauh Lombok dan Sulawesi. Biasanya ditemukan di sungai kecil, kolam, dan rawa mangrove di daerah pesisir yang umumnya berair payau. Ikan ini tahan terhadap rentang salinitas yang lebar dan juga pernah tercatat di air tawar. Sesekali diekspor dan kadang disebut 'blue-eyed ricefish'.2
Butuh akuarium seberapa besar?
Untuk satu kelompok, disarankan akuarium dengan ukuran alas 45 × 30 cm atau lebih (sekitar 41 liter).2
Kondisi air seperti apa?
- Suhu: 24–29 °C
- pH: 7,0–9,0; kemungkinan tidak akan tumbuh baik bila dipelihara dalam jangka panjang di air yang asam.
- Kesadahan: 5–25 dGH2
Bagaimana cara merawatnya?
Spesies ini tidak memerlukan dekorasi khusus, meskipun warnanya cenderung kurang cerah bila dipelihara di akuarium yang dekorasinya minim.
Ikan ini bisa dibilang tampil paling bagus di akuarium yang meniru habitat aslinya, misalnya dengan substrat pasir, beberapa akar dan ranting kayu yang terkikis air, ditambah beberapa genggam serasah daun.
Akuarium tanaman juga cocok dan bisa memberi burayak peluang hidup yang lebih baik bila dipelihara bersama induknya, meskipun sebagian besar jenis tanaman air tidak akan tumbuh baik dalam kondisi air payau.
Usahakan mencari tahu asal ikan Anda, karena sebagian populasi paling cocok di air tawar. Namun, bila ragu, disarankan menambahkan garam laut dengan takaran 1–3 g/L.2
Diberi pakan apa?
Di alam, ikan ini adalah predator mikro yang memakan serangga kecil, cacing, krustasea, dan zooplankton lainnya.
Di akuarium, ikan ini mau menerima pakan kering dengan ukuran yang sesuai, tetapi sebaiknya diberi pakan hidup dan beku berukuran kecil setiap hari, seperti kutu air (Daphnia), artemia, cacing darah yang dicacah, dan sebagainya, bersama pakan serpihan dan pelet butiran berkualitas baik dengan ukuran yang sesuai.2
Bisa dicampur dengan ikan apa?
Umumnya damai, tetapi kurang ideal untuk banyak akuarium komunitas karena ukurannya yang kecil.
Bila ingin memeliharanya bersama ikan lain, pilihan terbaik adalah spesies mungil yang menyukai kondisi serupa, seperti beberapa spesies Dermogenys, Pseudomugil, dan Brachygobius, sementara banyak jenis siput neritid juga cocok.
Bila tujuannya untuk dipijahkan, idealnya ikan ini dipelihara sendiri, dan tidak disarankan memeliharanya bersama spesies Oryzias lain karena berpotensi terjadi persilangan (hibridisasi), yang sudah terbukti dalam percobaan laboratorium.
Ikan ini sebagian besar tidak agresif terhadap spesies Oryzias lain, meskipun para jantan yang bersaing saat mendekati betina bisa agresif satu sama lain. Ikan ini cenderung tampil paling menarik dan berperilaku lebih percaya diri dalam kelompok berisi 8 ekor atau lebih.2
Teman satu akuarium
- Perilaku
- Damai
- Kelompok minimal
- 8 ekor
Hindari
Saran berdasarkan suhu, pH, ukuran, dan sifat tiap spesies. Cek kecocokan dengan spesies lain →
Bagaimana membedakan jantan dan betina?
Oryzias dancena dan O. javanicus sangat mirip, dan betinanya hampir tidak bisa dibedakan. Pada O. dancena, jantannya memiliki tepi sirip berwarna putih keperakan, tetapi tidak memiliki garis kuning pada sirip ekor yang menjadi ciri jantan O. javanicus. Pada kedua spesies, jantan mengembangkan jari-jari sirip yang panjang dan terpisah pada sirip anal, sedangkan tepi sirip anal pada betina rata.1
Jantan dewasa memiliki pita kuning di dekat tepi kedua lobus sirip ekor, memiliki jari-jari sirip yang memanjang seperti filamen pada sirip punggung dan sirip anal, serta bentuk tubuh yang lebih ramping daripada betina.
Sirip anal jantan memiliki serangkaian organ kontak bertulang serta tepi luar yang cembung, dan papila genitalnya berbentuk tabung pendek, sedangkan pada betina tepi sirip analnya sedikit cekung dan papila genitalnya berlobus dua.2
Bagaimana cara berkembang biaknya?
Ikan ini mudah dipijahkan. Seperti umumnya Oryzias, betina membawa telurnya dalam bentuk gumpalan seperti untaian anggur selama beberapa waktu sebelum melepaskannya di tanaman dan sebagainya.1
Cukup mudah dipijahkan dan cukup produktif; betina yang kondisinya baik mampu menghasilkan telur setiap beberapa hari sekali, bahkan setiap hari.
Pemijahan biasanya terjadi pada pagi hari. Warna jantan menjadi lebih gelap, dan mereka mempertahankan wilayah kecil yang bersifat sementara dari jantan lain sambil berusaha memikat betina.
Telur yang lengket biasanya dikeluarkan sebagai satu gumpalan dan dibuahi secara bersamaan, lalu tetap menggantung di lubang genital betina selama beberapa waktu sebelum akhirnya diletakkan satu per satu atau dalam gumpalan kecil di antara tanaman atau media lain yang sesuai.
Tanaman berdaun halus seperti Cabomba, Ceratophyllum, atau Taxiphyllum spp. sangat ideal, tetapi mop pemijahan sintetis atau alternatif buatan lainnya juga bisa dipakai.
Masa inkubasi sampai batas tertentu bergantung pada suhu, tetapi biasanya 1–3 minggu. Induk cenderung tidak mengganggu telur, tetapi akan memangsa burayak yang sudah berenang bebas. Meski begitu, bila akuarium ditanami rapat, biasanya ada sebagian burayak yang bertahan hidup.
Sebagai alternatif, telur atau burayak bisa dipindahkan ke wadah pembesaran terpisah yang diisi air dari akuarium induk. Setelah berenang bebas, burayak sudah bisa diberi cacing mikro (microworm), naupli artemia, dan sebagainya.2
Di mana habitat aslinya?
Sebagian besar spesies dari genus Oryzias, yang mencakup lebih dari 30 spesies, hanya ditemukan di wilayah yang cukup terbatas. Namun, dua spesies memiliki sebaran yang luas karena sangat tahan garam, bahkan sanggup hidup di air laut murni: Oryzias dancena dan O. javanicus. Karena itu, di alam keduanya ditemukan tidak hanya di air tawar, tetapi juga di air payau dan di sepanjang pesisir Asia Selatan dan Asia Tenggara. Oryzias tangkapan alam yang diimpor dari Sumatra teridentifikasi sebagai O. javanicus.1
Spesies ini tersebar luas di Semenanjung Thailand, Malaysia (Semenanjung Malaya serta negara bagian Sabah dan Sarawak di Kalimantan), Singapura, dan Indonesia. Di Indonesia terdapat catatan dari Kepulauan Riau, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Lombok, dan Sulawesi.
Lokalitas tipenya adalah 'Panimbang River, Perdana, Indonesia'.2
Habitat alami
Biasanya ditemukan di sungai kecil dan kolam di daerah pesisir yang umumnya berair payau, termasuk rawa dan hutan mangrove, tetapi juga pernah tercatat di habitat air tawar dan diketahui tahan terhadap rentang salinitas yang lebar.2
Catatan
Kedua spesies ini bisa saling kawin silang, dan hasil silangannya sering mengalami banyak cacat bentuk serta dalam jangka panjang tidak bisa dikembangbiakkan, jadi sebaiknya kedua spesies ini tidak dicampur dalam satu akuarium.1
Spesies ini jarang terlihat di dunia hobi, tetapi sesekali diekspor dan kadang disebut 'blue-eyed ricefish'.
Ikan ini memiliki sirip ekor berbentuk rata (truncate), bukan bulan sabit (lunate) atau sedikit berlekuk (emarginate), yang membedakannya dari kerabat segenusnya O. bonneorum, O. nebulosus, O. nigrimas, O. orthognathus, dan O. sarasinorum. Dalam hal ini, ikan ini tampaknya termasuk dalam satu klade besar tanpa nama atau 'kelompok spesies' yang mencakup semua anggota genus lainnya.
Ikan ini juga bisa dibedakan dari kerabat segenusnya melalui kombinasi ciri berikut: 10–13 jari-jari sirip dada; 18–25 (biasanya 23) jari-jari sirip anal; jari-jari sirip anal pada jantan memiliki organ kontak bertulang; 6–8 (biasanya 7) jari-jari sirip punggung; sirip ekor dengan pita kuning di dekat tepi pada kedua lobusnya; premaksila dengan gigi yang membesar di sisi belakang; tubuh relatif tinggi.
Anggota famili Adrianichthyidae sering disebut secara kolektif sebagai 'ricefish' atau ikan padi, dan secara tradisional dianggap sebagai anggota ordo Cyprinodontiformes sehingga berkerabat dekat dengan ikan karper bergigi (toothcarp).
Anggapan keliru ini kadang masih dipegang, padahal Rosen dan Parenti sudah mengklasifikasikan ulang kelompok ini ke dalam Beloniformes, kelompok saudara dari Cyprinodontiformes, sejak tahun 1981.
Anggota famili yang paling terkenal adalah medaka atau ikan padi Jepang (Japanese ricefish), Oryzias latipes, yang telah digunakan secara luas sebagai organisme model dalam biologi genomik dan eksperimental selama lebih dari satu abad, dan merupakan hewan vertebrata pertama yang kawin di luar angkasa pada pertengahan 1990-an.
Saat ini hanya ada dua genus dalam famili ini, yaitu Oryzias dan Adrianichthys, sedangkan kelompok Xenopoecilus dan Horaichthys yang dulu diakui telah disinonimkan dengan Oryzias oleh Parenti (2008).
Dari tiga spesies yang sebelumnya dimasukkan ke dalam Xenopoecilus yang bersifat parafiletik, X. oophorus dan X. poptae dipindahkan ke Adrianichthys, sedangkan yang ketiga, X. sarasinorum, saat ini diakui sebagai Oryzias sarasinorum.
Selain itu, spesies India Horaichthys setnai yang dulunya monotipik saat ini diklasifikasikan sebagai O. setnai.2
Sumber
2 sumber dan pustaka
- Aquarium Glaser aquariumglaser.de
- Seriously Fish seriouslyfish.com
Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.
Referensi
- Herder, F. and S. Chapuis (2010). Oryzias hadiatyae, a new species of ricefish (Atherinomorpha: Belonifornes: Adrianichthyidae) endemic to Lake Masapi, Central Sulawesi, Indonesia. The Raffles Bulletin of Zoology 58(2), 269-280
- Magtoon, W. (2010). Oryzias songkhramensis, a new species of ricefish (Beloniformes; Adrianichthyidae) from northeast Thailand and central Laos. Tropical Natural History 10(1), 107-129
- Magtoon, W. and A. Termvidchakorn (2009). A Revised Taxonomic Account of Ricefish Oryzias (Beloniformes; Adrianichthyidae), in Thailand, Indonesia and Japan. The Natural History Journal of Chulalongkorn University 9(1), 35-68
- Parenti, L. R. (2008). A phylogenetic analysis and taxonomic revision of ricefishes, Oryzias and relatives (Beloniformes, Adrianichthyidae). Zoological Journal of the Linnean Society 154(3), 494-610
- Parenti, L. R. and B. Soeroto (2004). Adrianichthys roseni and Oryzias nebulosus, two new ricefishes (Atherinomorpha: Beloniformes: Adrianichthyidae) from Lake Poso, Sulawesi, Indonesia. Ichthyological Research 51(1), 10-19
- Parenti, L. R. and R. K. Hadiaty (2010). A new, remarkably colorful, small ricefish of the genus Oryzias (Beloniformes, Adrianichthyidae) from Sulawesi, Indonesia. Copeia 2010 (2), 268-273
- Roberts, T. R. (1998). Systematic observations on tropical Asian medakas or ricefishes of the genus Oryzias, with descriptions of four new species. Ichthyological Research 45(3), 213-224
- Rosen, D. E. and L. R. Parenti (1981). Relationships of Oryzias, and the groups of atherinomorph fishes. American Museum Novitates 2719, 1–25
- Takehana, Y., K. Naruse K and M. Sakaizumi (2005). Molecular phylogeny of the medaka fishes genus Oryzias (Beloniformes: Adrianichthyidae) based on nuclear and mitochondrial DNA sequences. Molecular Phylogenetics and Evolution 36(2), 417–428
- Uwa, H. and L. Parenti (1988). Morphometric and meristic variation in ricefishes, genus Oryzias: a comparison with cytogenetic data. Japanese Journal of Ichthyology 35(2), 159-1662
Foto pembaca
Belum ada foto. Anda memelihara Ikan padi Jawa? Kirim fotonya agar semua bisa ikut melihat.
Diskusi
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman.
Pemeriksaan antispam gagal dimuat sehingga komentar belum terkirim. Coba muat ulang halaman.
Sesuai ketentuan, komentar memerlukan verifikasi pengguna; fitur ini akan segera tersedia.