Satuan
Tampilan

Cyprinidae, Myanmar

Striped Flying Barb

Esomus metallicus

Suhu
20–26°C
pH
6–7
Akuarium minimum
120 cm
Tingkat kesulitan
Sulit

Nama lain: Flying Barb, Esomus

Suhu
20–26°C
pH
6–7
Kesadahan (dGH)
1–12
Ukuran
7,5 cm
Akuarium minimum
120 cm
Tingkat kesulitan
Sulit 6/8
Sumber dan tingkat keandalan
Suhu
  • Seriously Fish
pH
  • Seriously Fish
Kesadahan (dGH)
  • Seriously Fish
Ukuran
  • Seriously Fish
Akuarium minimum
  • Seriously Fish
Tingkat kesulitan
  • Seriously Fish

Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-10-30.

Teman satu akuarium

Kelompok minimal
8 ekor

Saran berdasarkan suhu, pH, ukuran, dan sifat tiap spesies. Cek kecocokan dengan spesies lain →

Info singkat

Striped flying barb, Esomus metallicus, adalah ikan siprinid yang tersebar dari daerah aliran sungai Salween di Myanmar ke arah timur melintasi Thailand hingga Laos dan Kamboja. Ikan ini melimpah di sebagian besar wilayah sebarannya. Saat musim hujan tiba, ikan ini masuk ke sawah dan lahan lain yang tergenang, lalu kembali ke perairan permanen ketika banjir surut. Garis lateral di tubuhnya makin tegas ke arah ekor dan berakhir di pangkal sirip ekor.1

Layak dibeli?

  • Butuh tutup akuarium yang rapat karena spesies ini dikenal suka melompat. Ikan ini pelompat ulung dan bisa lolos lewat celah sekecil apa pun.1

Butuh akuarium seberapa besar?

Akuarium terkecil yang disarankan adalah akuarium dengan alas berukuran 120 × 30 cm, sekitar 108 liter.1

Kondisi air seperti apa?

  • Suhu: 20–26 °C
  • pH: 6,0–7,0
  • Kesadahan: 1–12 dGH1

Bagaimana cara merawatnya?

Pilihan dekorasi tidak sepenting kualitas air, meskipun spesies ini memang tampak sangat menarik di akuarium yang penuh tanaman air dengan substrat gelap. Menambahkan beberapa tanaman apung serta akar atau cabang kayu (driftwood) untuk meredam cahaya tampaknya bisa mengurangi sifat gampang kaget, sekaligus membuat tampilan akuarium lebih alami.

Arus air tidak perlu terlalu kuat karena ikan ini umumnya berasal dari perairan yang arusnya lambat. Jangan memasukkan ikan ini ke akuarium yang belum matang secara biologis, karena ikan ini bisa rentan terhadap perubahan kimia air. Pastikan juga akuarium diberi tutup yang rapat, karena ikan ini pelompat ulung dan bisa lolos lewat celah sekecil apa pun.1

Diberi pakan apa?

Di alam, ikan ini memakan invertebrata darat dan air beserta larvanya. Di akuarium, ikan ini mau menerima pakan kering dengan ukuran yang sesuai, tetapi sebaiknya juga diberi pakan hidup dan beku secara rutin, seperti kutu air, artemia, larva chironomid (cacing darah), dan sebagainya.1

Wild specimen from Penang state, northwestern Peninsular Malaysia.
©

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Laporan tentang cocok tidaknya spesies ini untuk akuarium komunitas masih beragam. Ada yang mengamati kecenderungan kuat untuk menggigit sirip ikan lain, sementara yang lain tidak melaporkan masalah apa pun. Perilaku agresif kemungkinan lebih menonjol bila ikan ini dipelihara dalam jumlah yang kurang, atau dicampur dengan spesies yang gerakannya lambat atau bersirip panjang.

Meskipun suka berkelompok, ikan ini termasuk ikan shoaling (berkumpul longgar), bukan schooling (berenang serempak), dan membentuk hierarki atau urutan dominasi. Karena itu, ikan ini sebaiknya selalu dipelihara dalam kelompok berisi 8 ekor atau lebih, karena individu yang lebih lemah bisa terus-menerus ditindas bila jumlahnya lebih sedikit. Dengan kelompok yang cukup besar, tampilan akuarium akan terlihat lebih alami dan ikan-ikannya akan menunjukkan perilaku menarik saat berinteraksi satu sama lain.1

Bagaimana membedakan jantan dan betina?

Jantan dewasa jelas lebih ramping dan biasanya sedikit lebih kecil daripada betina.1

Bagaimana cara berkembang biaknya?

Belum jelas apakah ikan ini sudah pernah dibiakkan dalam penangkaran, meskipun pemijahannya pernah dirangsang dengan hormon untuk keperluan percobaan.1

Di mana habitat aslinya?

Dideskripsikan dari 'Phet Buri', yang sekarang menjadi Provinsi Phetchaburi di Thailand barat daya. Namun saat ini sebarannya diketahui mulai dari daerah aliran sungai Salween di Myanmar ke arah timur melintasi Thailand, di daerah aliran sungai Mae Klong, Chao Phraya, dan Mekong. Di daerah aliran sungai Mekong, ikan ini juga tercatat di Laos, Kamboja, dan Vietnam.

Ikan ini juga diketahui ada di sistem danau dan sungai Tonlé Sap di Kamboja, di Thailand bagian semenanjung, dan di ujung utara Semenanjung Malaysia.

Ikan ini melimpah di sebagian besar wilayah sebarannya. Salah satu populasi yang menarik ada di pulau Don Khong, pulau terbesar di gugusan Si Phan Don atau "empat ribu pulau" yang terkenal itu. Pulau ini terletak di alur utama sungai Mekong, tepat di bawah air terjun Khone, Provinsi Champasak, Laos. Selain itu, ada populasi liar hasil introduksi di Pulau Singapura dan Pulau Borneo.1

Habitat alami

Ditemukan di berbagai tipe habitat, tetapi jelas lebih menyukai perairan dangkal yang arusnya lambat atau tenang, seperti sawah dan lingkungan lain yang tergenang sementara. Menurut Rainboth (1996), ikan ini masuk ke habitat tersebut saat musim hujan mulai dan baru kembali ke perairan permanen ketika banjir surut. Satu penelitian menemukan bahwa ikan ini termasuk tiga spesies paling melimpah di sawah-sawah Laos selatan.

Ikan ini juga pernah dikoleksi dari parit berlumpur, kanal yang agak tercemar, dan sungai kecil, tetapi umumnya tidak ada di alur sungai besar.1

Catatan

Saat ini ada belasan spesies Esomus yang sudah dideskripsikan, tetapi hanya sedikit yang muncul di perdagangan ikan hias dan tidak ada yang terlalu populer. Sebagian besar umum dijumpai di negara asalnya, tetapi biasanya diabaikan oleh kolektor karena warnanya relatif polos. Di beberapa daerah, ikan ini justru paling sering dimanfaatkan sebagai ikan pakan dalam budidaya spesies yang lebih besar. Ciri khasnya adalah sirip dada yang sangat besar dan dua pasang sungut; sungut maksila (rahang atas) sangat panjang dan biasanya mencapai sirip dada.

E. metallicus dapat dibedakan dari spesies lain dalam genusnya lewat kombinasi ciri berikut: dua pasang sungut, dengan sungut rostral (moncong) memanjang melewati mata dan sungut maksila melewati pangkal sirip perut; tidak ada alur supraorbital (di atas mata); gurat sisi tunggal dan tidak lengkap, memanjang hingga daerah antara sirip perut dan sirip anal; ada garis di sisi tubuh yang makin tegas ke arah belakang dan berakhir di pangkal sirip ekor; sirip tanpa corak.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah penelitian filogenetik tentang Esomus dan kerabat dekatnya telah dilakukan dan hasilnya saling bertentangan. Misalnya, penelitian Fang et al. tahun 2003 menyimpulkan bahwa genus ini merupakan kelompok saudara (sister group), yaitu kerabat paling dekat, dari Danio. Sebaliknya, Mayden et al. (2007) menempatkan genus Chela, Microrasbora, Devario, dan Inlecypris sebagai saudara Danio, sedangkan Esomus ditempatkan sebagai kelompok saudara yang paling awal bercabang (basal) dari kelompok besar tersebut.

Analisis lanjutan oleh Fang et al. yang terbit tahun 2009 kembali menempatkan Esomus sebagai saudara Danio, tetapi mencatat bahwa posisi pastinya belum pasti karena hasilnya berbeda-beda tergantung jenis analisis yang dipakai. Para penulis penelitian tersebut juga menyatakan bahwa perlu penelitian yang lebih rinci tentang karakter molekuler dan morfologi genus ini untuk memastikan hubungannya dengan kerabat terdekatnya.

Beberapa penghobi akuarium mencatat sejenis penyakit penyusutan tubuh (wasting disease) yang bisa muncul pada Esomus spp., dengan ciri berat tubuh ikan yang terserang berkurang dengan cepat. Gejala awalnya berupa menipisnya bagian bawah tubuh tepat di belakang insang, dan biasanya berakhir dengan kematian dalam beberapa minggu. Sejauh ini belum diketahui cara pengobatannya.1

Referensi

  • Nguyen Khoa, S., K. Lorenzen, C. Garaway, B. Chamsinhg, D. Siebert and M. Randone (2005). Impacts of irrigation on fisheries in rain-fed rice-farming landscapes. Joornal of Applied Ecology 42(5), 892-900
  • Rainboth, W. J. (1996). Fishes of the Cambodian Mekong. FAO Species Identification Field Guide for Fishery Purposes. FAO, Rome, 1-265
  • Mayden, R. L., K. L. Tang, K. W. Conway, J. Freyhof, S. Chamberlain, M. Haskins, L. Schneider, M. Sudkamp, R. M. Wood, M. Agnew, A. Bufalino, Z. Sulaiman, M. Miya, K. Saitoh, S. He (2007). Phylogenetic relationships of Danio within the order Cypriniformes: a framework for comparative and evolutionary studies of a model species. Journal of Experimental Zoology, Molecular Development and Evolution 308B, 642-654
  • Fang, F. (2003). Phylogenetic Analysis of the Asian Cyprinid Genus Danio (Teleostei, Cyprinidae). Copeia 2003(4), 714-728
  • Fang, F., M. Norén, T. Y. Liao, M. Källersjö and S. O. Kullander (2009). Molecular phylogenetic interrelationships of the south Asian cyprinid genera Danio, Devario and Microrasbora (Teleostei, Cyprinidae, Danioninae). Zoologica Scripta 38(1), 1-20
  • Kottelat, M. (2013). The fishes of the inland waters of southeast Asia: a catalogue and core bibiography of the fishes known to occur in freshwaters, mangroves and estuaries. The Raffles Bulletin of Zoology Supplement 27, 1-6631

Sumber

  1. Seriously Fish seriouslyfish.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini dengan izin mereka. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.