Pemijahan · sekitar 5 menit baca
Cara Menetaskan Artemia untuk Burayak: Langkah, Panen, dan Penyimpanan
AquaTome merangkum dari 10 sumber lalu menulisnya sendiri

Ringkasan singkat
- Anakan artemia (nauplius) yang baru menetas dan sudah dibilas dari garamnya adalah pakan hidup untuk burayak yang baru menetas. Kista artemia direndam dalam air garam sekitar 30 g per liter, diberi aerasi terus-menerus, cahaya, dan suhu sekitar 25–28 °C. Penetasan selesai dalam 20–24 jam.
- Setelah itu matikan aerasi, sifon lapisan nauplius kemerahan di dekat dasar, saring, bilas, lalu berikan ke burayak selagi masih muda.
Apa itu artemia dan kenapa ditetaskan sendiri
Kista artemia kering tidak aktif selama masih kering. Begitu direndam dalam air garam, kista menyerap air dan embrionya kembali berkembang. Nauplius yang baru menetas (tahap instar I) panjangnya sekitar 400–500 µm dan belum makan karena masih hidup dari cadangan kuning telurnya. Setelah sekitar 8 jam, nauplius berganti kulit menjadi instar II dan mulai memakan partikel berukuran sekitar 1–50 µm.
Setelah dibilas dari garamnya, nauplius ini bisa diberikan sebagai pakan hidup untuk burayak yang baru menetas.
Peralatan
- Wadah: toples atau wadah bening 1–4 liter dengan diameter tidak lebih dari 13–16 cm. Wadah dengan dasar kerucut yang diaerasi dari bawah memberi hasil terbaik, sedangkan wadah silinder atau kotak punya titik mati tempat air tidak bergerak. Botol plastik 2 liter yang dibalik bisa dipakai sebagai kerucut penetas buatan sendiri.
- Aerasi: pompa udara dengan selang plastik kaku yang dipasang di titik terendah wadah, bukan batu aerasi.
- Garam: garam kasar non-yodium, bukan garam meja beryodium.
- Lampu untuk penerangan, misalnya lampu yang dipasang sekitar 20 cm di atas permukaan air.
- Untuk panen: jaring halus, selang sifon kecil (sekitar 3 mm), dan saringan plankton 100–150 µm.
Parameter air
| Parameter | Angka dari sumber |
|---|---|
| Salinitas | Sekitar 30 g NaCl per liter (28–30 ppt). Satu sumber lain menyebut kisaran optimal umumnya 5–35 g/l, dan salinitas yang lebih rendah mempercepat penetasan. |
| Suhu | Satu sumber: 25–28 °C, di bawah 25 °C kista menetas lebih lambat. Sumber lain: 22–30 °C. Sumber ketiga: 23–28 °C (74–82 °F). Di atas 33 °C metabolisme kista berhenti dan tidak bisa pulih lagi. |
| pH | Di atas 8, idealnya 8–8,5. |
| Oksigen terlarut | Di atas 2 mg/l, sebaiknya 5 mg/l. |
| Cahaya | Sekitar 2000 lux di permukaan air, terutama pada jam-jam pertama setelah kista terhidrasi penuh. |
Langkah menetaskan
- Siapkan air garam. Ada beberapa takaran dari sumber yang berbeda:
- Sekitar 30 g NaCl per liter, kira-kira 1 sendok makan garam per liter air keran.
- Tanpa air laut: larutkan 30 g garam kasar non-yodium dalam 1 liter air. Hilangkan dulu klorin air keran dengan cara mengaerasinya.
- Resep lain: sekitar 2 liter air, 2 sendok makan garam akuarium (atau garam laut kalau airnya lunak), dan paling banyak 1 sendok makan telur artemia. Kalau air keran mengandung kloramin, tambahkan 1–2 tetes dechlorinator.
- Versi rendah garam: 2 sendok teh garam kasar dalam 2 liter air keran yang sudah bebas klorin, lalu aerasi sekitar 1 jam sebelum telur dimasukkan.
- Cek pH. Usahakan di atas 8. Kalau perlu, tambahkan sodium bikarbonat. Satu bagian lembar kerja panduan teknis menyebut paling banyak 2 g/l, sedangkan bagian lain di panduan yang sama menyebut paling banyak 1 g/l.
- Masukkan kista. Takaran kepadatannya berbeda antarsumber:
- 1–3 sendok teh kista per liter.
- Paling banyak 5 g/l untuk volume di bawah 20 liter, dan paling banyak 2 g/l untuk volume yang lebih besar.
- Sekitar 1 g telur per liter. Untuk botol 2 liter, kira-kira 1/4 sendok teh sudah cukup.
- Nyalakan aerasi terus-menerus, cukup kuat supaya telur tidak mengendap. Setelah telur mengembang, kecilkan aliran udara supaya gelembung tidak membawa telur keluar wadah.
- Jaga suhu. Bisa memakai suhu ruangan, lampu pijar atau halogen kecil, atau pemanas kecil. Kalau suhunya sejuk, tunggu lebih lama.
- Beri cahaya sesuai angka di tabel di atas, misalnya dengan lampu sekitar 20 cm di atas permukaan air.
- Tunggu. Penetasan selesai setelah 20–24 jam, tergantung suhu.
Tanda-tanda penetasan
- Setelah 12–15 jam embrio mulai keluar dan menggantung di bawah cangkang. Pada jam ke-24 nauplius sudah berenang bebas.
- Menurut sumber lain, membran luar kista biasanya pecah setelah sekitar 20 jam. Setelah itu muncul tahap "payung", lalu nauplius terlepas dan berenang bebas.
- Pada uji standar (33 g/l, 25 °C), nauplius pertama muncul setelah 12–16 jam dan 90% seharusnya sudah menetas dalam 24 jam.
- Nauplius tertarik pada cahaya dan berenang mendekatinya.
Panen dan pemberian pakan
- Panen saat sekitar 90% sudah menetas supaya nauplius masih punya energi paling banyak. Kalau panen terlambat, hasilnya campuran instar I, II, dan III.
- Matikan aerasi. Nauplius akan berkumpul sebagai lapisan kemerahan tepat di atas dasar. Dalam 5–8 menit telur yang tidak menetas tenggelam dan cangkang kosong naik.
- Ambil nauplius. Sumber-sumber memberi beberapa cara:
- Angkat batu aerasi, lalu sifon pelan-pelan lapisan nauplius di dekat dasar tanpa ikut menyedot telur atau cangkang.
- Ambil cangkang yang mengapung dengan jaring halus, lalu sifon nauplius memakai selang berdiameter sekitar 3 mm.
- Matikan pompa, sorotkan cahaya di dekat saluran keluar bawah supaya nauplius berkumpul di sana, lalu buka katupnya.
- Saring dan bilas. Tuang hasil sifon melalui saringan plankton 100–150 µm dan bilas garamnya sebelum diberikan ke burayak. Satu sumber menyebut nauplius boleh diberikan bersama air garamnya kalau akuarium berisi tanaman air hidup yang butuh mineral atau ikan air sadah.
- Berikan selagi masih muda. Untuk burayak yang sangat kecil, pakai nauplius yang umurnya di bawah sekitar 30 jam. Setelah sekitar 24 jam, kuning telurnya sudah habis.
- Jadwalkan batch berikutnya. Satu batch habis dalam 2–3 hari pemberian pakan, jadi mulai batch baru sekitar hari ke-2.
Dekapsulasi (melepas cangkang kista), opsional
Cangkang atau telur tidak menetas yang termakan ikan kecil bisa menyumbat usus dan membunuhnya. Dekapsulasi menghilangkan risiko ini. Pendapat soal seberapa besar risikonya berbeda: sebagian penghobi meragukannya, dan satu pengguna forum memperkirakan risikonya sekitar 1 dari 1.000 burayak, tetapi sebuah panduan universitas menganggapnya risiko nyata.
Prosesnya memakai pemutih (hipoklorit) dan NaOH, jadi kerjakan dengan hati-hati:
- Hidrasi kista dulu selama sekitar 1 jam dalam air dengan kadar garam di bawah 100 g/l, diaerasi, pada suhu 25 °C.
- Dosisnya 0,5 g hipoklorit aktif per gram kista. Kalau memakai pemutih cair, tambahkan 0,15 g NaOH per gram kista supaya pH tetap di atas 10. Volume akhirnya 14 ml per gram kista.
- Jaga suhu di 15–20 °C dan jangan sampai di atas 40 °C karena reaksinya menghasilkan panas. Tambahkan es kalau perlu. Proses ini memakan sekitar 3–15 menit, sampai cangkangnya larut. Dengan pemutih cair kista berubah oranye, sedangkan dengan kaporit bubuk kista berubah abu-abu.
- Bilas sampai bau klorinnya hilang. Netralkan dengan celupan kurang dari 1 menit dalam sodium thiosulfate 0,1% (atau HCl 0,1 N).
Kista yang terlalu lama di hipoklorit atau proses yang suhunya lewat 40 °C akan membunuh embrio. Sisa klorin juga berbahaya. Kista hasil dekapsulasi tetap bisa menetas selama beberapa hari kalau disimpan pada 0–4 °C.
Alternatif tanpa dekapsulasi adalah disinfeksi dengan hipoklorit sekitar 200 ppm selama 30 menit. Cara ini tidak membunuh semua kuman di cangkang.
Kesalahan yang sering terjadi
- Aerasi kurang atau ada titik mati di wadah kotak atau silinder, sehingga daya tetas turun.
- Aerasi terlalu kuat sampai airnya berbusa.
- Memakai batu aerasi, bukan selang kaku, atau tetap mengaerasi dengan kuat setelah telur mengembang. Akibatnya telur terlempar keluar botol.
- Kista terlalu padat per liter.
- Menetaskan di tempat teduh atau dengan cahaya terlalu sedikit, sehingga daya tetas turun.
- Suhu di atas 33 °C. Suhu di bawah 25 °C memperlambat penetasan.
- Memakai garam meja beryodium, bukan garam kasar non-yodium.
- Memberikan nauplius yang sudah terlalu tua.
- Anggota forum juga menyebut garam terlalu banyak atau terlalu sedikit, panen terlambat, dan telur yang sudah tua sebagai penyebab hasil yang kurang baik.
Menyimpan kista
- Simpan kista kering di tempat sejuk, idealnya dalam kemasan vakum atau nitrogen, karena oksigen merusaknya.
- Hindari membasahi lalu mengeringkan kista berulang kali. Jauhkan dari sinar matahari langsung karena sinar UV menurunkan daya tetas.
- Kista beku sebaiknya didiamkan pada suhu ruang paling tidak satu minggu sebelum dipakai.
- Telur yang belum ditetaskan dan disimpan dingin bisa dipakai selama 6 bulan sampai 1 tahun.
Mengecek hasil
Daya tetas dan kecepatan menetas berbeda antar-batch kista, tergantung cara kista dipanen, diproses, dan disimpan. Coba tetaskan sedikit dulu dari setiap kemasan baru sebelum mengandalkannya. Sebagai patokan, pada uji standar 90% kista seharusnya sudah menetas dalam 24 jam.
Pertanyaan umum
Berapa lama artemia menetas?
Penetasan selesai setelah 20–24 jam, tergantung suhu. Pada uji standar (33 g/l, 25 °C), nauplius pertama muncul setelah 12–16 jam dan 90% seharusnya sudah menetas dalam 24 jam. Kalau suhunya sejuk, tunggu lebih lama.
Boleh pakai garam dapur?
Pakai garam kasar non-yodium, bukan garam meja beryodium. Takaran umumnya sekitar 30 g per liter (28–30 ppt). Kisaran salinitas optimal umumnya 5–35 g/l, dan salinitas yang lebih rendah mempercepat penetasan.
Kenapa telur artemia saya tidak menetas atau hasilnya sedikit?
Faktor yang disebut menurunkan daya tetas antara lain aerasi kurang atau ada titik mati di wadah, kista terlalu padat, cahaya terlalu sedikit, dan suhu di atas 33 °C. Anggota forum juga menyebut garam terlalu banyak atau terlalu sedikit, panen terlambat, dan telur tua. Kualitas kista juga berbeda antar-batch. Suhu di bawah 25 °C hanya memperlambat penetasan.
Apakah artemia harus dibilas dulu sebelum diberikan?
Umumnya iya: saring dengan saringan plankton 100–150 µm lalu bilas garamnya. Satu sumber menyebut nauplius boleh diberikan bersama air garamnya kalau akuarium berisi tanaman air hidup yang butuh mineral atau ikan air sadah.
Apakah cangkang artemia berbahaya untuk burayak?
Cangkang atau telur tidak menetas yang termakan ikan kecil bisa menyumbat usus dan membunuhnya, dan dekapsulasi menghilangkan risiko ini. Pendapat berbeda soal seberapa sering terjadi: satu pengguna forum memperkirakan sekitar 1 dari 1.000 burayak, sedangkan sebuah panduan universitas menganggapnya risiko nyata.
Sumber referensi
- FAO – Hatching of Artemia (brine shrimp) eggs and feeding of nauplii
- FAO Manual on the Production and Use of Live Food for Aquaculture – Artemia cyst use (hatching, decapsulation)
- FAO Manual on the Production and Use of Live Food for Aquaculture – Artemia biology
- Aquarium Co-op – What recipe do you use to hatch baby brine shrimp?
- Khải Nhật – Cách ấp Artemia bung dù đến 95% cho người mới (bahasa Vietnam)
- Kỹ thuật nuôi trồng – Hướng dẫn cách ấp ấu trùng artemia nhanh tại nhà (bahasa Vietnam)
- Diễn đàn cá cảnh – Hướng dẫn cách ấp artemia (bahasa Vietnam)
- UF/IFAS EDIS FA023 – Brine shrimp for ornamental fish
- University of Guelph – Artemia culture SOP
- Aquarium Co-op forum – What happens to brine shrimp eggs




Diskusi
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman.
Pemeriksaan antispam gagal dimuat sehingga komentar belum terkirim. Coba muat ulang halaman.
Sesuai ketentuan, komentar memerlukan verifikasi pengguna; fitur ini akan segera tersedia.