Penyakit · sekitar 5 menit baca

Jamur Mulut & Punggung Ikan (Columnaris): Ciri, Cara Mengobati, Mencegah

AquaTome merangkum dari 5 sumber lalu menulisnya sendiri

Ringkasan singkat

  • Yang sering disebut "jamur mulut" atau "jamur punggung" sebenarnya bukan jamur. Ini infeksi bakteri Flavobacterium columnare (columnaris), jadi yang dibutuhkan obat antibakteri, bukan obat jamur.
  • Kalau muncul jumbai pendek putih keabuan di mulut, kepala, insang atau punggung, segera pindahkan ikan ke wadah terpisah dengan aerasi kuat dan langsung obati. Penyakit ini bisa bergerak sangat cepat, dan kualitas air harus diperbaiki saat itu juga.

Apa itu columnaris?

Nama \"jamur mulut\" sering bikin salah kaprah. Penyakit ini bukan jamur. Penyebabnya bakteri Flavobacterium columnare, yang dulu bernama Flexibacter columnaris, makanya penyakitnya juga disebut columnaris. Bakteri ini berbentuk batang, Gram-negatif, dan bergerak dengan cara meluncur tanpa flagela. Karena itu pengobatannya harus pakai antibakteri. Sebutan \"penyakit kapas\" (cotton wool disease) juga ikut bikin orang mengira ini jamur sungguhan.

Pada prinsipnya semua ikan air tawar bisa kena. Penyakit ini sudah ditemukan pada neon tetra, platy, zebrafish dan koi. Penyakitnya sangat menular, dan ikan muda paling rentan.

Ada dua pola perjalanan penyakit:

  • Akut: luka di kulit menyebar dalam hitungan jam, dan sampai 50% populasi bisa mati dalam 36 jam. Ikan bahkan bisa mati sebelum ada tanda yang kelihatan di permukaan tubuhnya.
  • Kronis: bercak putih membesar pelan-pelan, dan ikan baru mati setelah sakit cukup lama.

Sebagian besar kasus berkembang lambat, tetapi ada strain yang jauh lebih ganas dan bisa membunuh dalam beberapa hari. Kalau dibiarkan, bakteri bisa menggerogoti tulang rawan bibir sampai ikan kelaparan, atau infeksinya menyebar ke seluruh tubuh.

Tanda-tanda

  • Jumbai pendek berwarna putih kusam sampai abu-abu, paling sering di kepala, wajah, insang dan rahang. Kadang juga di badan dan sirip.
  • Bentuk mulut: bibir bengkak dengan lapisan putih keabuan seperti kapas di tepi mulut. Lama-lama rahang terkikis dan muncul luka merah yang dalam, sampai ikan tidak bisa menutup mulutnya.
  • Bentuk punggung (saddleback): pada ikan bersisik, luka bisa mulai dari pangkal sirip punggung atau dari tepi sirip, lalu menyebar ke dalam membentuk pola seperti pelana.
  • Pada ikan tanpa sisik, luka kulitnya berwarna abu-abu kebiruan, jaringannya mati, dan tepinya kemerahan.
  • Tepi sirip hancur sampai jari-jari siripnya kelihatan.
  • Filamen insang rusak dari ujung ke arah lengkung insang. Akibatnya ikan sulit menyerap oksigen dan napasnya cepat.
  • Ikan lesu, bersembunyi di sudut atau diam di dasar, dan berhenti makan.

Membedakan dengan penyakit lain

KondisiCiri pembeda
ColumnarisJumbai pendek, putih kusam sampai abu-abu
Jamur sungguhanBenang putih panjang dan berbulu halus seperti kapas
Busuk siripSering tertukar dengan columnaris, tetapi tidak ada jumbai pendek yang khas
KHV (pada koi)Juga merusak insang, jadi busuk insang karena columnaris pada koi perlu dibedakan dari KHV

Yang bisa memastikan hanyalah pemeriksaan laboratorium. Di bawah mikroskop, bakteri di jaringan sirip terlihat menempel di satu ujung sambil bergoyang dan membentuk kumpulan seperti kolom atau tumpukan jerami. PCR lebih cepat dan lebih sensitif daripada kultur. Satu sumber tentang koi juga menyebut bahwa \"busuk mulut\" berlapis kapas yang dibahasnya kemungkinan disebabkan Aeromonas hydrophila, bukan columnaris.

Penyebab dan faktor risiko

  • Bakteri ini memang biasa ada di akuarium dan bersifat oportunis. Ia masuk lewat luka akibat berkelahi atau sirip yang digigit ikan lain.
  • Amonia atau nitrit di atas nol sangat berkaitan dengan wabah. Stres dan pakan yang kurang bergizi juga menurunkan daya tahan ikan.
  • Kualitas air buruk, amonia tinggi, pH tinggi dan oksigen rendah semuanya memudahkan infeksi.
  • Kepadatan tinggi, bioload besar dan oksigen terlarut rendah menaikkan risiko. Bakteri bisa bertahan di air sampai 32 hari bila kesadahan 50 ppm atau lebih.
  • Sisa pakan dan bahan organik ikut \"memberi makan\" wabah.
  • Suhu: satu sumber menyebut bakteri ini tumbuh di kultur pada 18–30 °C, tidak tumbuh di bawah 14 °C atau di atas 33 °C, dan wabah di kolam memuncak saat musim panas. Sumber lain menyebut bakteri berkembang di air di atas 15 °C dan infeksi makin cepat menyebar kalau air makin hangat. Sumber ketiga menyebut bakteri paling ganas pada 85–90 °F, dan pada suhu tinggi ikan bisa mati dalam hitungan jam.

Ikan yang lebih berisiko: ikan yang terluka atau siripnya digigit, cichlid yang suka adu mulut, ikan livebearer yang dipelihara di air lunak dan asam, cupang tanpa pemanas, dan ikan mas koki di akuarium tanpa filter atau terlalu padat.

Yang perlu dilakukan sekarang

  • Jangan menunda. Obati segera, karena penyakit ini bisa bergerak cepat.
  • Pindahkan ikan yang sakit ke akuarium atau bak terpisah dengan aerasi kuat.
  • Satu sumber menyarankan langkah awal berupa rendaman obat dan menurunkan suhu air ke sekitar 24 °C (75 °F).
  • Cek amonia dan nitrit, lalu perbaiki kualitas air di akuarium utama juga.

Pengobatan

Antibiotik. Pakai antibiotik yang efektif untuk bakteri Gram-negatif, misalnya kanamycin (sumbernya tidak memberi dosis). Golongan tetrasiklin dan kuinolon juga dipakai. Pakan berobat oxytetracycline efektif untuk infeksi di dalam tubuh, tetapi resistansi mulai muncul. Idealnya antibiotik dipilih berdasarkan uji kepekaan (antibiogram), dan perbaikan cara pemeliharaan tetap harus berjalan bersamaan.

Dosis yang disebut sumber:

  • Phenoxyethanol 100 mg/l selama 7 hari.
  • Nifurpirinol (furanace) 0,2 mg/l paling lama 5 hari. Perhatian: obat ini bisa merusak bakteri filter, jadi pantau amonia dan nitrit.
  • Protokol yang dipakai sebagian penghobi: ciprofloxacin ditambah garam 3‰ (3 g per liter) selama 4–5 hari, dengan ganti air 50% dan dosis obat baru setiap hari.

Obat luar. Kalium permanganat, tembaga sulfat dan hidrogen peroksida bisa dipakai untuk pengobatan luar, tetapi ketiganya beracun pada konsentrasi tinggi. Luka bisa ditotol beberapa detik dengan kapas yang dibasahi povidone-iodine atau hidrogen peroksida encer, lalu ikan segera dikembalikan ke air berobat.

pH. Karena bakteri ini menyukai air basa, menurunkan pH ke 6,8 mungkin membantu pengobatan.

Garam. Sumber-sumber tidak sepakat. Satu sumber menyebut garam kurang berguna sebagai obat. Menurutnya, sampai 1 oz per galon AS mungkin membantu mencegah infeksi, tetapi hanya untuk ikan yang tahan garam seperti guppy dan molly. Sumber lain memakai garam 3 g per liter sebagai bagian protokol bersama antibiotik.

Khusus koi di kolam:

  • Busuk insang tahap awal: satu situs koi memberi rendaman garam 100 g per 4,5 liter (1 galon) selama 10 menit. Ini rendaman yang sangat pekat, jadi pastikan dulu sebelum dipakai.
  • Chloramine-T 1 g per 4.500 liter (1.000 galon). Berisiko di air lunak.
  • Kalium permanganat 1,5 g/1.000 liter, disebut lebih cocok untuk air lunak. Angka galon di sumbernya tidak cocok dengan angka liternya, jadi pegang angka liter dan cek ulang.
  • Infeksi mulut parah: ambil swab untuk diuji, lalu pilih antibiotik berdasarkan hasilnya. Antibiotik sering diberikan lewat suntikan karena ikan tidak bisa makan.

Satu sumber menyebut minyak tea tree mungkin membantu mencegah infeksi pada ikan terluka yang sudah dipisahkan.

Langkah perawatan berurutan

  1. Pisahkan ikan ke akuarium karantina dengan aerasi yang baik.
  2. Berikan rendaman obat dan garam selama 4–5 hari, dengan ganti air 50% dan dosis ulang setiap hari.
  3. Totol luka dengan povidone-iodine atau hidrogen peroksida encer, lalu kembalikan ikan ke air berobat.
  4. Setelah sembuh, ganti air 30% setiap minggu dan turunkan kadar garam secara bertahap.

Selama masa pemulihan, beri pakan bubuk halus, artemia yang baru menetas, atau pakan lunak lain yang gampang ditelan.

Pencegahan

  • Selesaikan siklus nitrogen sebelum memasukkan ikan, pakai filter, jangan terlalu padat, dan beri pakan seimbang yang kaya vitamin.
  • Campur spesies yang cocok, dan pisahkan ikan yang suka berkelahi atau menggigit sirip.
  • Sifon kotoran dan ganti air dengan jadwal tetap.
  • Jangan biarkan ada sisa pakan, jaga oksigen terlarut tetap tinggi, dan kendalikan amonia serta nitrit.
  • Awasi ikan lebih ketat saat suhu naik.
  • Untuk ikan catfish budidaya tersedia vaksin hidup yang dilemahkan.

Kesalahan yang sering terjadi

  • Mengandalkan garam sebagai obat utama.
  • Mengobati dengan obat jamur karena mengira ini jamur.
  • Membiarkan sisa pakan membusuk di dasar dan akuarium terlalu padat. Keduanya membantu penyakit menyebar.
  • Memakai chloramine-T di air lunak, yang bisa membahayakan koi.

Kapan harus khawatir

  • Luka menyebar dalam hitungan jam atau beberapa ikan mati mendadak. Ini tanda bentuk akut.
  • Ikan bernapas cepat karena insangnya rusak.
  • Rahang sudah terkikis sampai ikan tidak bisa menutup mulut atau tidak bisa makan.
  • Suhu air tinggi, karena pada suhu tinggi ikan bisa mati dalam hitungan jam.
  • Pada koi dengan insang rusak, KHV juga perlu dipertimbangkan.

Pertanyaan umum

Apakah jamur mulut bisa diobati dengan obat jamur?

Tidak. Meski namanya jamur, penyebabnya bakteri Flavobacterium columnare, jadi yang dibutuhkan obat antibakteri, misalnya antibiotik untuk bakteri Gram-negatif.

Bagaimana membedakan columnaris dengan jamur sungguhan?

Columnaris membentuk jumbai pendek berwarna putih kusam sampai abu-abu. Jamur sungguhan berupa benang putih panjang yang berbulu halus seperti kapas.

Cukupkah diobati dengan garam saja?

Sebaiknya tidak. Satu sumber menyebut garam kurang berguna sebagai obat dan mengandalkannya sebagai obat utama itu keliru. Garam lebih tepat dipakai sebagai pendamping, misalnya 3 g per liter bersama antibiotik dalam satu protokol, dan hanya untuk ikan yang tahan garam.

Apakah suhu air perlu diturunkan?

Bakteri ini lebih ganas di air hangat. Satu sumber menyarankan menurunkan suhu ke sekitar 24 °C (75 °F) sebagai langkah awal, bersamaan dengan rendaman obat.

Apakah ikan lain di akuarium bisa tertular?

Bisa. Penyakit ini sangat menular dan ikan muda paling rentan. Pisahkan ikan yang sakit, lalu perbaiki kualitas air di akuarium utama: amonia dan nitrit harus nol, oksigen cukup, dan tidak ada sisa pakan.

Sumber referensi

  1. Aquarium fish mouth fungus (Chewy Education)
  2. Columnaris disease in koi and aquarium fish (Laboklin)
  3. Columnaris (Wikipedia)
  4. Cá Bị Nấm Miệng, Tróc Môi (Columnaris): Dấu Hiệu & Phác Đồ Điều Trị - Sài Gòn Cá Cảnh (bahasa Vietnam)
  5. Hội chứng bệnh thối vây - thối mang - thối miệng do Columnaris (Koilover) (bahasa Vietnam)