Satuan
Tampilan

Osphronemidae, Indonesia

Betta cracens

Betta cracens

Nama lain: cupang cracens, cupang alam cracens, Betta sp. 'Bangka'

Suhu
22–27°C
pH
5,5–6,5
Akuarium minimum
80 cm
Tingkat kesulitan
Sulit

Tabel data

Lihat tabel lengkap
Suhu
22–27°C
pH
5,5–6,5
Ukuran
6 cm
Tingkat kesulitan
Sulit 6/8 Kenapa?

Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:

  • RuangSedangakuarium mulai 80 cm, ikan sepanjang 6 cm
  • AirSulitair asam, air lunak · pH 5,5–6,5, 0–5 dGH
  • SuhuMudah22–27°C

Tingkat kesulitan 6/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung

Sumber dan tingkat keandalan
Suhu
  • Seriously Fish
pH
  • Seriously Fish
Kesadahan (dGH)
  • Seriously Fish
Ukuran
  • Seriously Fish
Akuarium minimum
  • Seriously Fish
Tingkat kesulitan
  • Seriously Fish

Cara tabel memilih satu angka jika sumber-sumber berbeda

Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-11-01.

Info singkat

Betta cracens adalah ikan labirin pengeram mulut (mouthbrooder) dari daerah Jambi, Sumatra, Indonesia, dan mungkin juga terdapat di Pulau Bangka yang berada di dekatnya. Ikan ini adalah anggota paling ramping dari kompleks B. pugnax dan jarang ditemukan di kalangan penghobi. Sebagian besar ikan yang dijual dengan nama ini sebenarnya B. pugnax, B. raja atau spesies kerabatnya yang salah diidentifikasi atau salah diberi label. Ikan hasil tangkapan di Bangka sudah beredar di kalangan penghobi dengan nama Betta sp. 'Bangka'.1

Butuh akuarium seberapa besar?

Panjang standar: 60 mm SL (6 cm). Ukuran dasar akuarium: 80 × 30 cm. Volume: ~72 liter.

Akuarium dengan ukuran dasar 80 × 30 cm bisa menampung sepasang atau sekelompok kecil ikan.1

Kondisi air seperti apa?

  • Suhu: 22–27 °C
  • pH: 5,5–6,5
  • Kesadahan: 0–5 dGH1

Bagaimana cara merawatnya?

Ikan ini bisa dipelihara di akuarium yang didekorasi lengkap, meskipun banyak peternak memilih tidak memakai substrat supaya perawatannya lebih mudah. Akar dan cabang kayu apung (driftwood) bisa dipakai dan ditata sedemikian rupa sehingga terbentuk beberapa tempat yang teduh.

Kalau tidak menemukan kayu apung dengan bentuk yang diinginkan, kayu beech atau oak aman dipakai asalkan sudah benar-benar kering dan kulitnya dikupas. Pot tanaman dari tanah liat atau potongan pipa juga bisa ditambahkan sebagai tempat persembunyian tambahan.

Menambahkan serasah daun kering, misalnya daun beech, oak atau ketapang, bisa membuat suasananya terasa lebih alami. Selain memberi tempat berlindung tambahan bagi ikan, daun-daun ini juga memicu tumbuhnya koloni mikroba saat proses pembusukan berlangsung.

Koloni mikroba ini bisa menjadi sumber pakan tambahan yang berharga bagi burayak, dan tanin serta zat kimia lain yang dilepaskan daun yang membusuk juga dianggap bermanfaat bagi ikan dari perairan blackwater (air hitam).

Seperti anggota genus lainnya, spesies ini tampaknya paling cocok dengan pencahayaan yang cukup redup. Tanaman air asal Asia yang tahan kondisi seperti itu bisa ditambahkan, misalnya Microsorum pteropus, Taxiphyllum barbieri atau mungkin beberapa Cryptocoryne spp. dalam pot. Beberapa kelompok tanaman apung juga berguna untuk meredam cahaya yang masuk ke akuarium.

Filtrasi tidak perlu terlalu kuat; filter spons bertenaga aerator yang diatur agar sirkulasinya lembut sudah cukup. Akuarium harus ditutup rapat dan jangan diisi air sampai penuh, karena seperti semua Betta spp., ikan ini sesekali perlu mengakses lapisan udara lembap yang terbentuk di atas permukaan air, dan ikan ini juga jago melompat.1

Diberi pakan apa?

Di alam kemungkinan memangsa serangga dan invertebrata kecil/zooplankton lainnya.

Ikan di akuarium biasanya mau menerima pakan kering setelah mengenalinya sebagai makanan, tetapi tetap sebaiknya rutin diberi banyak pakan hidup atau beku berukuran kecil seperti kutu air, artemia atau cacing darah agar warna dan kondisinya berkembang optimal. Hati-hati jangan memberi pakan berlebihan, karena Betta spp. tampaknya sangat rentan mengalami obesitas.1

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Tidak disarankan untuk akuarium komunitas biasa karena alasan-alasan yang sudah disinggung sebelumnya. Kebutuhan dan sifatnya membuat ikan ini paling baik dipelihara sendiri atau bersama spesies yang sangat damai, karena ikan yang jauh lebih besar atau lebih agresif kemungkinan akan mengintimidasinya dan mengalahkannya dalam berebut pakan. Beberapa cyprinid kecil dan loach yang di alam menghuni lingkungan serupa bisa dicampur dengannya.

Ikan ini bisa dipelihara berpasangan atau berkelompok, dan dalam kelompok akan memperlihatkan interaksi perilaku yang menarik.1

Bagaimana membedakan jantan dan betina?

Jantan tumbuh lebih besar, memiliki lebih banyak sisik berkilau (iridescent) di kepala, bentuk kepala lebih lebar, dan sirip lebih panjang dibanding betina.1

Bagaimana cara berkembang biaknya?

Pengeram mulut oleh induk jantan. Siapkan akuarium terpisah untuk pemijahan, kecuali ikan memang sudah dipelihara tersendiri, dan tata akuariumnya seperti yang dijelaskan di atas.

Akuarium harus memakai penutup serapat mungkin (beberapa peternak memakai plastik wrap agar tidak ada celah), karena burayak membutuhkan akses ke lapisan udara hangat dan lembap; tanpa itu perkembangan organ labirinnya bisa terganggu.

Betina berperan lebih aktif dalam memulai percumbuan dan mempertahankan wilayah dari penyusup. Telur dan sperma dilepaskan saat 'pelukan' khas ikan anabantoid, di mana jantan melilitkan tubuhnya ke tubuh betina. Bisa jadi diperlukan beberapa kali 'pelukan kosong' sebelum ada telur yang keluar.

Setelah pemijahan dimulai, telur dikeluarkan dalam kelompok kecil dan dipungut ke dalam mulut betina, lalu disemburkan ke air untuk ditangkap jantan. Setelah semua telur berada di mulut jantan, siklus ini diulang sampai telur betina habis, proses yang bisa memakan waktu cukup lama.

Masa inkubasinya 12–18 hari, dan di akhir masa itu jantan akan mulai melepaskan burayak yang sudah terbentuk sempurna dan bisa berenang bebas. Sebagian peternak tidak pernah mengalami masalah spesies ini memakan anaknya sendiri, sementara yang lain kehilangan seluruh anakan karena dimangsa; namun banyak yang memindahkan betina (dan ikan lain yang ada) beberapa hari setelah pemijahan.

Pemindahan ini perlu dilakukan sehati-hati mungkin agar tidak mengganggu jantan, karena jika stres ia bisa menelan anakan atau melepaskannya sebelum waktunya. Setelah burayak berenang dan mencari makan sendiri, jantan juga boleh dipindahkan bila diinginkan.

Burayak sudah cukup besar untuk langsung menerima pakan hidup yang bergerak seperti microworm dan naupli artemia, namun perlu dicatat ada laporan bahwa anakan Betta mengalami masalah kesehatan bila diberi naupli artemia secara berlebihan. Berikan berbagai jenis pakan dalam jumlah sedikit 2–3 kali sehari agar pertumbuhannya optimal, dan jangan mengganti terlalu banyak air sekaligus; lebih baik ganti air sedikit-sedikit secara rutin.1

Sebaran alami

Hidup alami di: Indonesia1

Sungai, danau, wilayah: Sumatra, Bangka1

Apa kata sumber
  • Indonesia, Sumatra · Seriously Fish1: “Betta cracens is a mouthbrooding labyrinth fish from the Jambi area of Sumatra, Indonesia, and it may also occur on nearby Bangka island.”
  • Bangka · Seriously Fish1: “The type specimens were collected from the area of Bertam south of Jambi City, Jambi province, Sumatra, Indonesia and it may also occur on Pulau Bangka (Bangka island).”

Di mana habitat aslinya?

Spesimen tipe dikumpulkan dari daerah Bertam di selatan Kota Jambi, Provinsi Jambi, Sumatra, Indonesia. Spesies ini mungkin juga terdapat di Pulau Bangka. Bangka terletak tidak jauh dari pantai timur Sumatra, dan ikan yang dikumpulkan di sana sudah beredar di dunia akuarium dengan nama Betta sp. 'Bangka'.1

Habitat alami

Lokasi tipenya adalah sebuah anak sungai di rawa hutan yang di beberapa bagiannya ditumbuhi Barclaya motleyi dengan rapat. Sebagian kawasan tersebut sudah dialihfungsikan menjadi kebun karet pada tahun 1997.

Kedalaman airnya bervariasi antara 5–80 cm, pH 5,8, dan spesies yang hidup di lokasi yang sama antara lain 'Puntius' banksi, Rasbora einthoveni, Trigonopoma pauciperforatum, Hemirhamphodon pogonognathus, Betta pugnax, Sphaerichthys osphromenoides, Trichogaster trichopterus, Channa gachua dan C. lucius.

Betta sp. 'Bangka' dikumpulkan dari anak sungai perbukitan di dalam hutan, dengan air jernih ber-pH 5,5. Dalam foto salah satu lokasinya, airnya tampak cukup dangkal dengan banyak serasah daun dan ranting yang berjatuhan.1

Catatan

B. cracens jarang ditemukan di kalangan penghobi, dan sebagian besar ikan yang dijual dengan nama ini cenderung merupakan B. pugnax, B. raja atau spesies kerabat lainnya yang salah diidentifikasi atau sengaja diberi label keliru. Spesies ini termasuk dalam kompleks B. pugnax, yaitu kelompok spesies berkerabat dekat dalam genus ini yang anggotanya terkenal sulit diidentifikasi.

Kombinasi ciri unik yang membedakan B. cracens dari anggota lain kelompok ini adalah sebagai berikut: tubuh paling ramping di antara anggotanya (tinggi tubuh di pangkal sirip punggung 21,2–24,2% SL, dibanding 24,8–36,9); jari-jari sirip anal 27–29 dibanding 24–27; sisik gurat sisi 32–33 dibanding 27–31; tepi luar sirip anal berwarna biru tipis pada kedua jenis kelamin; panjang predorsal 65,0–67,1% SL; panjang kepala 30,8–31,7% SL.

Genus Betta adalah genus dengan jumlah spesies terbanyak dalam famili Osphronemidae, dengan hampir 70 anggota yang diakui, dan tampaknya akan terus bertambah karena spesies baru terus dideskripsikan secara rutin sejak awal abad ini.

Anggota genus ini berhasil beradaptasi menghuni berbagai relung ekologi, mulai dari parit berair tenang hingga sungai perbukitan yang berarus, termasuk beberapa lingkungan ekstrem seperti hutan rawa gambut yang sangat asam.

Pengelompokan anggota genus ini ke dalam sejumlah kelompok berisi spesies berkerabat dekat kini umumnya sudah diterima, tetapi sebagian besar didasarkan pada ciri morfologi/perilaku. Karena itu masih diperlukan kajian filogenetik molekuler, yang pasti akan berguna untuk menentukan hubungan kekerabatan ikan-ikan ini dengan lebih tepat.

Seperti anggota subordo Anabantoidei lainnya, spesies ini memiliki organ pernapasan tambahan yang disebut labirin. Dinamakan demikian karena strukturnya yang mirip labirin, organ ini memungkinkan ikan menghirup udara langsung dari atmosfer sampai batas tertentu.

Organ ini terdiri dari sepasang organ suprabranchial yang terbentuk dari perluasan bagian epibranchial (atas) lengkung insang pertama dan terletak di dalam rongga di atas insang. Di dalamnya terdapat banyak lipatan kulit yang kaya pembuluh darah dan berfungsi sebagai permukaan pernapasan yang luas. Tingkat kerumitan strukturnya berbeda-beda antarspesies, dan cenderung lebih berkembang pada spesies yang menghuni lingkungan yang lebih keras.1

Sumber

1 sumber dan pustaka
  1. Seriously Fish seriouslyfish.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.

Referensi

  • Tan, H. H. and P. K. L. Ng (2005). The labyrinth fishes (Teleostei: Anabantoidei, Channoidei) of Sumatra, Indonesia. Raffles Bulletin of Zoology Supplement 13, 115-138
  • Tan, H. H. and P. K. L. Ng (2005). The fighting fishes (Teleostei: Osphronemidae: Genus Betta) of Singapore, Malaysia and Brunei. Raffles Bulletin of Zoology Supplement 13, 43-991