Satuan
Tampilan

Pachychilidae, Indonesia

Keong Susuh Kura

Sulcospira testudinaria

Nama lain: Susuh Kura, Black Panther Snail, Javanese Snail, Keong Batu

Suhu
26–32°C
pH
7–8,5
Akuarium minimum
belum ada
Tingkat kesulitan
Mudah

Tabel data

Lihat tabel lengkap
Suhu
26–32°C
pH
7–8,5
Ukuran
7,5 cm
Umur hidup
5 tahun
Tingkat kesulitan
Mudah 3/8 Kenapa?

Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:

  • RuangMudahikan sepanjang 7,5 cm
  • AirMudahpH 7–8,5, 6–15 dGH
  • SuhuSedangair hangat · 26–32°C
  • PerilakuMudahdamai

Tingkat kesulitan 3/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung

Sumber dan tingkat keandalan
Suhu
  • Aquarium Breeder
pH
  • Aquarium Breeder
Kesadahan (dGH)
  • Aquarium Breeder
Ukuran
  • Aquarium Breeder
Umur hidup
  • Aquarium Breeder
Tingkat kesulitan
  • Aquarium Breeder

Cara tabel memilih satu angka jika sumber-sumber berbeda

Diterjemahkan dan dirangkum dari Aquarium Breeder. Diperbarui 2026-11-01.

Info singkat

  • Nama umum: Black Panther Snail
  • Nama lain: Javanese snail, keong susuh kura
  • Nama ilmiah: Sulcospira testudinaria
  • Ukuran akuarium ideal: sekitar 40 liter
  • Nitrat: kurang dari 60 ppm
  • Pakan: pemakan alga/omnivora
  • Sifat: damai
  • Warna: cokelat tua hingga hitam1

Butuh akuarium seberapa besar?

Ukuran akuarium minimum yang disarankan adalah 40 liter. Keong ini butuh banyak ruang untuk merayap, makan, dan menjelajah.

Di akuarium yang lebih kecil bisa muncul masalah pakan kalau tidak diberi pakan tambahan, karena alga dan biofilm yang ada mungkin tidak cukup untuk menopang hidupnya.1

Kondisi air seperti apa?

  • Suhu: keong ini membutuhkan air hangat. Di alam keong ini hidup pada suhu sekitar 30 °C, jadi suhu optimal di akuarium adalah 26–32 °C. Kadang keong ini dapat ditemukan pada suhu serendah 22–24 °C, tetapi kondisi itu tidak ideal.
  • pH: usahakan 7,0–8,5. Keong ini tidak suka air asam (di bawah 7,0), yang perlahan melarutkan cangkang dan membuatnya rapuh.
  • Kesadahan: 6–15 GH. Air yang lebih sadah baik untuk cangkangnya.
  • Oksigen terlarut: di atas 6 mg/l.
  • Salinitas: keong air tawar yang kurang tahan terhadap air payau/asin. Ketika dipindahkan ke air tawar, biasanya keong masuk ke dalam cangkang lalu segera aktif kembali.
  • Nitrat: kurang dari 60 ppm.

Aerasi dan arus: keong ini bisa dipelihara di akuarium tanpa arus kuat, tetapi pasokan oksigen yang cukup mutlak diperlukan pada setup seperti itu.1

Bagaimana cara merawatnya?

Perawatannya cukup mudah dan tidak ribet. Keong ini tidak banyak menuntut dan tahan terhadap kisaran parameter air yang beragam. Menurut salah satu penelitian, Sulcospira testudinaria cukup toleran bahkan terhadap perairan yang tercemar.

Agar tetap sehat, kebutuhan dasarnya tetap harus dipenuhi. Selesaikan siklus nitrogen di akuarium sebelum membawa pulang keong, lalu periksa kualitas air dengan test kit.

Aklimatisasi: jangan langsung memasukkan keong ke akuarium, karena perubahan mendadak bisa membahayakannya. Lakukan aklimatisasi secara bertahap seperti pada semua invertebrata, dan lakukan dengan sangat perlahan untuk mencegah stres yang tidak perlu.1

Peralatan apa yang dibutuhkan?

Pencahayaan: tidak ada kebutuhan khusus. Keong ini aktif di malam hari (nokturnal), jadi pencahayaan disesuaikan saja dengan kebutuhan tanaman air (dan/atau alga bila diperlukan) di akuarium.

Filter: tidak ada kebutuhan khusus. Filter yang sesuai dengan ukuran akuarium sudah cukup.

Substrat: keong ini bisa dipelihara di akuarium apa pun dengan substrat apa pun, tetapi kerikil halus adalah pilihan yang lebih baik karena alga lebih mudah tumbuh di atasnya. Keong ini tidak banyak menggali dan tidak terlalu dalam, jadi substrat soil atau pasir tidak diperlukan.

Dekorasi: tujuan dekorasi adalah meniru habitat alaminya. Kayu (driftwood), pipa PVC, daun, batu, tanaman air hidup, tanaman palsu, dan dekorasi lain menyediakan banyak permukaan untuk tumbuhnya alga dan biofilm, jadi dekorasi apa pun merupakan pilihan yang baik.1

Diberi pakan apa?

Keong ini omnivora dan pemakan sisa yang sangat baik. Menurut salah satu penelitian, Black Panther Snail dapat mengurangi total bahan organik dalam limbah hingga 87%. Keong ini bukan pengganti perawatan akuarium sepenuhnya, tetapi membantu menjaga akuarium tetap bersih.

Di akuarium, pakannya terutama berupa hasil merumput dari:

  • detritus,
  • biofilm,
  • berbagai jenis alga (termasuk diatom (alga cokelat), green spot algae, green dust algae)

Pakannya bisa ditambah dengan sayuran dan pakan komersial. Keong ini mau memakan pakan yang sama dengan yang diberikan untuk ikan dan udang (pakan serpihan, algae wafer, pelet, dan granul).

Kalsium berperan sangat besar bagi keong: kalsium dibutuhkan untuk beberapa proses hidup yang vital, yang paling jelas adalah pembentukan cangkang.

  • Jenis pakan: omnivora
  • Frekuensi pemberian pakan: 1–2 kali seminggu

Akuarium tanaman: tidak ditemukan catatan bahwa keong ini memakan tanaman hidup yang sehat, jadi seharusnya tidak ada masalah di akuarium tanaman.1

Sulcospira testudinaria juvenile, the largest one is ca. 21 mm height. From Ciliwung River, Bogor, West Java, Indonesia.
©

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Black Panther Snail sama sekali tidak agresif. Keong ini tidak punya cara untuk menyerang penghuni akuarium lain dan hanya mengandalkan operkulum (penutup cangkang) serta cangkangnya untuk berlindung.

Keong ini bukan penggali sejati. Meskipun bisa membenamkan diri di substrat lunak, umumnya keong ini tidak bergerak di bawah substrat.

Keong ini nokturnal: pada malam hari merayap di permukaan dan mungkin bersembunyi pada siang hari. Perilaku nokturnal cukup umum pada invertebrata perumput dan terutama berkaitan dengan upaya menghindari predator yang berburu dengan penglihatan saat sedang makan.

  • Sosial: Ya
  • Tingkat aktivitas: Sedang
  • Damai: Ya
  • Penggali: Ya

Keong ini sama sekali tidak berbahaya dan bisa menjadi pilihan yang sangat bagus untuk akuarium komunitas yang damai, selama teman setangkinya cocok dengan kondisi air yang serupa dan tidak mengganggunya.

Ikan: ikan yang tenang dan damai seperti Danio rerio, guppy Endler, Least Killifish, Brilliant Rummynose Tetra, Southern platy, Pygmy Swordtail, Ghost Glass Catfish, Medaka, dan lain-lain.

Udang hias kecil: spesies udang yang menyukai air sedikit basa adalah pilihan terbaik, misalnya Vampire shrimp, Bamboo Shrimp, Amano Shrimp, Ghost shrimp, Cherry shrimp, Blue tiger shrimp, Snowball shrimp, Caridina cf. babaulti, Blue Velvet Shrimp, Malawa Shrimp, dan lain-lain.

Keong: semua jenis keong air tawar cocok sebagai teman setangki, kecuali keong Assassin.

Hindari: semua jenis lobster air tawar (bahkan Dwarf Mexican crayfish), sebagian besar kepiting air tawar, dan beberapa udang predator seperti kelompok Macrobrachium (Red Claw Shrimp, Whisker shrimp, dan lain-lain). Jauhkan juga dari ikan besar atau ikan pemakan keong, seperti buntal, termasuk Dwarf puffer.1

Bagaimana membedakan jantan dan betina?

Saat ini belum diketahui bagaimana perbedaan jantan dan betina pada keong ini.1

Bagaimana cara berkembang biaknya?

Sangat sedikit yang diketahui tentang kebutuhan siklus hidup keong ini. Informasi berikut berasal dari literatur ilmiah:

  • Sulcospira testudinaria bukan spesies hermafrodit.
  • Betina dibuahi secara internal.
  • Keong ini vivipar (melahirkan anak).
  • Rata-rata, betina dapat menghasilkan 100 hingga 150 cangkang embrio dengan ukuran serupa.
  • Setelah menetas, embrio berukuran panjang sekitar 1,00 mm.

Lama masa kehamilan dan kecepatan mencapai kematangan seksual saat ini belum diketahui.1

Di mana habitat aslinya?

Sulcospira testudinaria adalah spesies endemik Indonesia yang tersebar luas di berbagai habitat air tawar, terutama di Pulau Jawa.

Keong ini bisa dijumpai di lokasi seperti Jawa Tengah (Sungai Code, Pegunungan Sewu), Jawa Barat (Bogor, Jakarta, Sungai Cikeruh), dan Jawa Timur (Taman Nasional Meru Betiri, Sungai Brantas).1

Habitat alami

Di alam, Black Panther Snail terutama hidup di perairan yang arusnya relatif deras, seperti sungai, aliran sungai kecil, atau kali. Kadang keong ini juga ditemukan di danau, bahkan di saluran irigasi sawah.

Habitatnya adalah sungai dengan dasar berpasir, berlumpur, dan berbatu. Keong ini hidup di sungai dan aliran yang dangkal dengan arus sedang hingga deras, bentuk tubuhnya memang sesuai untuk hidup di aliran sungai, dan membutuhkan kadar oksigen yang tinggi agar bisa hidup dengan baik.1

Catatan

Sulcospira testudinaria adalah spesies gastropoda air tawar berinsang (famili Pachychilidae). Sulcospira merupakan salah satu genus tertua yang diakui secara taksonomi dalam famili ini, tetapi juga salah satu yang paling sedikit diketahui.

Etimologi: "Sulcospira" berasal dari bahasa Latin "sulcus" (alur) dan "spira" (spiral). "Testudinaria" berasal dari bahasa Latin Baru "testudo" (kura-kura) dan "-aria" (berkaitan dengan), sehingga bisa diartikan menyerupai kura-kura.

  • Ukuran: keong yang relatif besar, panjangnya hingga sekitar 7,5 cm. Panjang cangkang rata-rata biasanya 2,5–5 cm, dengan lebar 1–2 cm.
  • Cangkang: cukup bervariasi, berbentuk menara atau kerucut memanjang, dengan sudut puncak sekitar 30 derajat. Permukaannya halus, sutura sempit dan dangkal. Cangkang biasanya memiliki 7 hingga 9 ulir yang pipih. Pada keong dewasa, ujung cangkang (apex) sering kali terkikis seluruhnya.
  • Operkulum: oval, dengan 3 hingga 4 ulir yang diameternya makin membesar.
  • Mulut cangkang (aperture): oval dengan bibir luar yang lurus.
  • Warna cangkang: cokelat tua hingga hitam, atau kekuningan hingga cokelat, sering dihiasi corak seperti nyala api berwarna kecokelatan.
  • Warna tubuh: kepala dan kaki biasanya abu-abu gelap hingga hitam. Tepi mantel abu-abu gelap atau berpigmen pucat. Kepala, tentakel, dan leher berwarna abu-abu gelap hingga hitam.

Umur: belum ada data tentang umur maksimum di alam. Berdasarkan ukurannya, dengan perawatan yang tepat perkiraan umur rata-ratanya 3 hingga 5 tahun.

Kekurangan:

  • Keong ini sangat menyukai suhu hangat dan lebih suka arus air yang relatif kuat.
  • Keong ini mirip dengan Black devil snail.
  • Seiring bertambahnya umur, ujung cangkang sering terkikis seluruhnya, sehingga sangat mengurangi keindahan tampilannya.1

Sumber

1 sumber dan pustaka
  1. Aquarium Breeder aquariumbreeder.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.

Referensi

  • Marwoto, Ristiyanti M., and Nur R. Isnaningsih. “The freshwater snail genus Sulcospira Troschel, 1857 from Java, with description of a new species from Tasikmalaya, West Java, Indonesia (Mollusca: Gastropoda: Pachychilidae).” The raffles bulletin of zoology60, no. 1 (2012): 1-10.
  • Hertika, Asus Maizar Suryanto, Diana Arfiati, Evellin Dewi Lusiana, and Renanda BDS Putra. “Performance of Metallothionein Biomarker from Sulcospira testudinaria to Assess Heavy Metal Pollution in the Brantas River Watershed, Indonesia.” Journal of Ecological Engineering24, no. 3 (2023).
  • Adharini, Ratih Ida, and Putri Latifa Arumsari. “Structure and Distribution of Macrobenthos Community in Code River, Yogyakarta, Indonesia.” Indonesian Journal of Limnology2, no. 2 (2021): 21-27.
  • Susilo, V. E., V. Doviyana, and N. Mujiono. “The diversity of gastropoda in meru betiri national park.” In Journal of Physics: Conference Series, vol. 1465, no. 1, p. 012011. IOP Publishing, 2020.
  • Lailiyah S, Arfiati D, Hertika AMS, Arum NDK, Noviya CB. 2021. The effectiveness of Filopaludina javanica and Sulcospira testudinaria in reducing organic matter in catfish (Clarias sp.) aquaculture wastewater. Jurnal Ilmiah Perikanan Kelautan 13 (1): 106-113. DOI: 10.20473/jipk.v13i1.23085.1