Cyprinidae, Myanmar
Nilem
Osteochilus vittatus
Nama lain: Palau, Magut, Hard-lipped barb, Bonylip barb
- Suhu
- 22–25°C
- pH
- 6–8
- Akuarium minimum
- 180 cm
- Tingkat kesulitan
- Sedang
Tabel data
Lihat tabel lengkap
- Suhu
- 22–25°C
- pH
- 6–8
- Kesadahan (dGH)
- 5–12
- Ukuran
- 32 cm
- Akuarium minimum
- 180 cm
- Tingkat kesulitan
Sedang 4/8 Kenapa?
Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:
- RuangSulitakuarium mulai 180 cm, ikan sepanjang 32 cm
- AirMudahpH 6–8, 5–12 dGH
- SuhuSedangair sejuk, rentang suhu sempit · 22–25°C
- PerilakuMudahdamai
- KelompokMudahkelompok mulai 5 ekor
Tingkat kesulitan 4/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung
Sumber dan tingkat keandalan
- Suhu
- Seriously Fish
- pH
- Seriously Fish
- Kesadahan (dGH)
- Seriously Fish
- Ukuran
- Seriously Fish
- Akuarium minimum
- Seriously Fish
- Tingkat kesulitan
- Seriously Fish
Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-10-30.
Info singkat
- pH: tidak tercatat
Nilem (hard-lipped barb), Osteochilus vittatus, adalah ikan cyprinid dengan wilayah sebaran yang sangat luas, mulai dari Myanmar sampai Vietnam dan ke selatan hingga Kalimantan, Sumatra, dan Jawa. Ikan yang bisa mencapai 32 cm ini menghuni anak sungai berarus lambat dan sungai besar dengan dasar lunak, lalu bermigrasi ke hutan yang tergenang untuk mencari makan dan memijah saat awal musim hujan. Bercak di pangkal ekor (caudal spot), 15–18 jari-jari sirip punggung, dan bintik-bintik oranye di sisi tubuh membantu mengenali spesies ini. Ikan ini masih sering dijual dengan nama Osteochilus hasseltii.1
Butuh akuarium seberapa besar?
Akuarium berukuran 180 × 60 × 60 cm, sekitar 648 liter, sebaiknya menjadi ukuran minimum untuk satu kelompok kecil.1
Kondisi air seperti apa?
Bagaimana cara merawatnya?
Ikan ini lebih suka lingkungan yang redup, dan substrat pasir yang halus sangat dianjurkan agar ikan bisa menunjukkan perilaku makan alaminya (lihat di bawah). Menambahkan beberapa potong kayu apung berukuran cukup besar akan memberi area teduh yang akan sering didatangi, karena ikan ini suka diam melayang di area seperti itu saat tidak sedang mencari makan. Jika kayu apung dengan bentuk yang diinginkan sulit didapat, kayu beech (Fagus) atau oak aman dipakai asalkan sudah benar-benar kering dan kulit kayunya dikupas. Tanaman yang ditanam di substrat kemungkinan besar akan tercabut, tetapi tanaman air asal Asia yang tahan kondisi seperti itu bisa ditambahkan, misalnya Microsorum pteropus, Vesicularia dubyana, atau mungkin beberapa Cryptocoryne dalam pot. Spesies berdaun lebar sangat ideal karena ikan ini suka merumput di daunnya untuk mencari makan. Beberapa area tanaman apung juga akan membantu meredam cahaya yang masuk ke akuarium dan memberi kesan yang lebih alami.1

Diberi pakan apa?
Analisis isi lambung ikan tangkapan alam menunjukkan bahwa ikan ini omnivora yang hanya memakan makanan berukuran kecil, termasuk zooplankton, fitoplankton, invertebrata air, dan detritus. Di akuarium, ikan ini sering terlihat menyisir daun tanaman untuk memakan aufwuchs dan alga, atau mengais substrat dengan moncong menghadap ke bawah. Ikan ini hampir tidak pernah mengambil makanan dari permukaan, jadi sebaiknya diberi pelet tenggelam berbutir halus ditambah pakan hidup atau beku berukuran kecil setiap hari, seperti cacing darah, kutu air, atau artemia. Usahakan memakai pakan kering yang mengandung tambahan Spirulina atau bahan nabati lain agar lebih mendekati pakan alaminya. Karena ikan ini cenderung terus-menerus merumput, memberi pakan sedikit-sedikit beberapa kali sehari lebih baik daripada satu kali porsi besar.1
Bisa dicampur dengan ikan apa?
Meskipun ukuran dewasanya besar, spesies ini sebenarnya cukup pemalu dan akan mudah kalah bersaing dalam berebut makanan dengan spesies yang jauh lebih agresif. Ikan penghuni akuarium yang sama yang berukuran lebih kecil kemungkinan besar tidak akan dimangsa, tetapi pilihan yang mungkin lebih baik adalah cyprinid, characin, dan catfish yang ukurannya sebanding, dan mungkin juga botia badut (clown loach) berukuran besar. Akuarium komunitas bertema Mekong bisa menjadi proyek yang menarik, dengan pilihan antara lain Barbonymus altus, B. schwanenfeldii, berbagai Cyclocheilichthys dan spesies Osteochilus lainnya, Hypsibarbus wetmorei, dan masih banyak lagi. Melihat cara makannya, ikan ini juga seharusnya cocok dipelihara bersama cichlid pengayak pasir seperti Geophagus atau Satanoperca. Walaupun secara alami suka berkelompok, ikan ini termasuk spesies yang hidup bergerombol longgar (shoaling), bukan berenang serempak dalam formasi rapat (schooling), dan membentuk hierarki yang jelas. Karena itu, ikan ini sebaiknya selalu dipelihara dalam kelompok berisi lima ekor atau lebih. Jika hanya dibeli dua atau tiga ekor, ikan yang kalah dominan bisa terus-menerus ditindas, sedangkan ikan yang dipelihara sendirian bisa menjadi agresif terhadap spesies yang penampilannya mirip.1
Teman satu akuarium
- Perilaku
- Damai
- Kelompok minimal
- 5 ekor
Hindari
Saran berdasarkan suhu, pH, ukuran, dan sifat tiap spesies. Cek kecocokan dengan spesies lain →
Bagaimana membedakan jantan dan betina?
Betina yang sudah matang kelamin kemungkinan bertubuh lebih tebal daripada jantan.1
Bagaimana cara berkembang biaknya?
Sejauh ini diperkirakan belum pernah berhasil dipijahkan di akuarium.1

Di mana habitat aslinya?
Spesies ini punya wilayah sebaran alami yang sangat luas, membentang ke timur dari Myanmar melalui Thailand, Laos, dan Kamboja sampai Vietnam, serta ke selatan melalui Semenanjung Malaysia hingga Kepulauan Sunda Besar, yaitu Kalimantan, Sumatra, dan Jawa. Jadi, ikan ini ditemukan di seluruh daerah aliran sungai Salween, Mekong, dan Chao Phraya, juga di banyak daerah aliran sungai yang lebih kecil, danau, dan waduk. Lokasi spesifiknya terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu di sini. Kemungkinan besar ada beberapa bentuk warna, karena ikan yang dikumpulkan dalam survei spesies ikan penghuni Danau Tonlé Sap di Kamboja memiliki sirip bening, bukan merah. Ikan ini juga dibudidayakan sebagai ikan konsumsi di beberapa negara dan mungkin telah diintroduksi ke Singapura.1
Habitat alami
Terutama menghuni anak sungai berarus lambat dan sungai besar dengan dasar lunak, tempat ikan ini suka menggali untuk mencari makanan. Saat awal musim hujan, ikan ini bermigrasi ke kawasan hutan yang tergenang untuk mencari makan dan memijah, lalu kembali ke anak-anak sungai yang lebih kecil di akhir musim hujan. Migrasi yang dilakukan biasanya cukup pendek, sehingga makin mendukung dugaan bahwa spesies ini terdiri dari banyak subpopulasi yang relatif terlokalisasi. Kini ikan ini juga ditemukan di banyak perairan yang lebih tenang dan/atau permanen akibat aktivitas manusia, termasuk pertanian dan pembendungan alur sungai, dan dalam beberapa kasus juga tercatat di habitat rawa gambut.1
Catatan
Saat ini ada 34 spesies Osteochilus yang sudah dideskripsikan, tetapi tidak satu pun bisa dibilang populer di hobi akuarium. Menurut buku 'Fishes of the Cambodian Mekong' karya Rainboth, anggota genus ini dicirikan oleh tidak adanya duri pada sirip punggung, adanya 11–18 jari-jari sirip punggung, sungut moncong (rostral) dan sungut rahang atas (maksila) yang besar, papila (tonjolan kecil) pada bibir atas maupun bawah, sirip median yang gelap tetapi tidak hitam, serta bibir bawah yang tidak dipisahkan dari tenggorokan (isthmus) oleh alur dalam di belakang bibir. O. vittatus bisa dibedakan lebih lanjut dari 15–18 jari-jari sirip punggung, 16 baris sisik di sekeliling batang ekor, bercak di pangkal ekor (caudal spot), serta tidak adanya garis hitam di tengah sisi tubuh. Ciri pengenal yang kurang berguna bagi penghobi akuarium adalah adanya 25–30 tapis insang dan tanda gelap tambahan di atas sirip dada yang tidak dimiliki semua individu. Selain O. jeruk, ini juga satu-satunya spesies dalam genus ini yang diketahui memiliki bintik-bintik oranye di sisi tubuh. Kelompok ini secara keseluruhan kadang disebut 'shark minnow' (ikan hiu-hiuan kecil).1
Sumber
1 sumber dan pustaka
- Seriously Fish seriouslyfish.com
Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.
Referensi
- Rainboth, W. J. (1996). Fishes of the Cambodian Mekong. FAO Species Identification Field Guide for Fishery Purposes. FAO, Rome, 1-265
- Motomura, H., S. Tsukawaki, and T. Kamiya (2002). A preliminary survey of the fishes of Lake Tonle Sap near Siem Reap, Cambodia. Bulletin of the National Science Museum, Tokyo, Series A 28(4), 233-2461
Foto pembaca
Belum ada foto. Anda memelihara Nilem? Kirim fotonya agar semua bisa ikut melihat.

Diskusi
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman.
Pemeriksaan antispam gagal dimuat sehingga komentar belum terkirim. Coba muat ulang halaman.
Sesuai ketentuan, komentar memerlukan verifikasi pengguna; fitur ini akan segera tersedia.