Satuan
Tampilan

Cobitidae, Indonesia

Eel Loach

Pangio anguillaris

Nama lain: Kuhli, Kuhli Loach

Suhu
22–29°C
pH
6–7,5
Akuarium minimum
60 cm
Tingkat kesulitan
Sedang

Tabel data

Lihat tabel lengkap
Suhu
22–29°C
pH
6–7,5
Ukuran
12 cm
Tingkat kesulitan
Sedang 4/8 Kenapa?

Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:

  • RuangSedangakuarium mulai 60 cm, ikan sepanjang 12 cm
  • AirMudahpH 6–7,5, 0–8 dGH
  • SuhuMudah22–29°C
  • PerilakuMudahdamai
  • KelompokMudahkelompok mulai 5 ekor

Tingkat kesulitan 4/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung

Sumber dan tingkat keandalan
Suhu
  • Seriously Fish
pH
  • Seriously Fish
Kesadahan (dGH)
  • Seriously Fish
Ukuran
  • Seriously Fish
Akuarium minimum
  • Seriously Fish
Tingkat kesulitan
  • Seriously Fish

Cara tabel memilih satu angka jika sumber-sumber berbeda

Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-10-30.

Layak dibeli?

Akuarium wajib diberi tutup yang rapat karena spesies ini dikenal suka melompat. Pastikan ikan yang masih kecil tidak bisa masuk ke lubang hisap filter, dan tutup akuarium dengan baik karena kebanyakan loach memang sesekali melompat, terutama saat baru dimasukkan ke lingkungan baru.

Diperdagangkan dengan nama 'eel loach', Pangio anguillaris adalah loach dari famili Cobitidae yang berasal dari Kalimantan, Sumatra, Semenanjung Malaysia, serta daerah aliran sungai Chao Phraya dan Mekong. Tubuhnya sangat memanjang seperti cacing, dengan 69-71 ruas tulang belakang dan tanpa sungut hidung, dan paling sering tersedia sebagai ikan ikutan (bycatch) dalam kiriman ikan-ikan lain. Spesies ini, sebagaimana yang diakui saat ini, tampaknya sebenarnya merupakan sebuah kompleks dari beberapa takson yang berkerabat dekat.1

Butuh akuarium seberapa besar?

Disarankan akuarium dengan ukuran alas minimal 60 × 30 cm atau yang setara (sekitar 54 liter).1

Kondisi air seperti apa?

  • Suhu: 22–29 °C
  • pH: 6,0–7,5
  • Kesadahan: 0–8 dGH1
Adult males possess thickened rays in the pectoral fins and some individuals develop what appears to be some form of nuchal hump, both characters clearly visible here.
©

Bagaimana cara merawatnya?

Gunakan substrat pasir yang halus dan lembut, karena spesies ini suka menggali dan cenderung menghabiskan sebagian waktunya dengan membenamkan diri sepenuhnya. Jika memakai kerikil yang lebih kasar, ikan bisa stres atau melukai dirinya sendiri, dan perilaku makannya bisa terganggu.

Beberapa akar dan ranting kayu (driftwood), yang ditata sedemikian rupa sehingga terbentuk banyak tempat teduh, bisa dipakai untuk memberi struktur pada tampilan akuarium, dan penambahan serasah daun kering akan memberi tempat persembunyian tambahan sekaligus membantu meniru kondisi alaminya.

Pencahayaan yang agak redup juga lebih disukai, dan tanaman air seperti Microsorum, Taxiphyllum, dan Cryptocoryne spp. bisa ditambahkan.

Filter yang lembut dengan sedikit riak di permukaan air sudah cukup, dan arus yang kuat sebaiknya dihindari. Pastikan ikan yang masih kecil tidak bisa masuk ke lubang hisap filter, dan tutup akuarium dengan baik karena kebanyakan loach memang sesekali melompat, terutama saat baru dimasukkan ke lingkungan baru.1

Diberi pakan apa?

Pada dasarnya ikan ini adalah predator mikro yang menyaring substrat sesuap demi sesuap melalui mulut dan insangnya untuk mengambil larva serangga, krustasea kecil, dan sejenisnya. Sebagian dari pakan alaminya kemungkinan juga berupa detritus organik dan bahan tumbuhan yang berasal dari isi perut mangsanya.

Di akuarium, ikan ini mau menerima pakan kering yang tenggelam, tetapi sebaiknya juga rutin diberi pakan hidup maupun beku seperti kutu air (Daphnia), artemia, cacing darah, micro worm, grindal worm, dan sebagainya.1

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Pangio spp. bersifat damai, baik terhadap sesamanya maupun terhadap ikan lain, dan belum ada laporan bahwa mereka mengganggu teman satu akuarium, meskipun mereka bisa saja memangsa telur atau burayak.

Di alam, mereka sering ditemukan dalam kelompok besar, dan di akuarium sering berdesakan di satu celah, sudut, atau gua saat beristirahat. Karena itu, sebaiknya beli minimal 5-6 ekor sekaligus.

Teman satu akuarium yang paling cocok adalah spesies kecil dan damai dari lingkungan serupa, termasuk dari genus seperti Boraras, Sundadanio, Rasbora yang berukuran kecil, Trichopsis, Sphaerichthys, Kottelatlimia, dan lain-lain.

Beberapa loach penghuni pasir dari famili Nemacheilidae juga cocok, tetapi riset yang matang sangat penting karena sebagian di antaranya bisa terlalu teritorial, agresif, atau kalah-mengalahkan dalam berebut makanan dan tempat.1

Bagaimana membedakan jantan dan betina?

Betina dewasa biasanya bertubuh lebih berisi dan sedikit lebih besar daripada jantan, sedangkan pada jantan dewasa jari-jari pertama sirip dadanya bercabang dan menebal, dan sirip dadanya sendiri melengkung ke atas serta lebih panjang dibanding milik betina.

Jantan dewasa dari beberapa populasi memiliki semacam punuk di tengkuk kepala.1

Some populations exhibit differences in colour pattern.
©

Bagaimana cara berkembang biaknya?

Sejauh yang diketahui, ikan ini belum pernah berhasil dipijahkan di penangkaran. Menurut Rainboth (1996), pemijahan terjadi di perairan dangkal yang banyak tumbuhannya.1

Di mana habitat aslinya?

Dideskripsikan dari daerah aliran Sungai Kapuas, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia (Borneo), dan sejak itu tercatat juga di sistem Sungai Batang Hari di Sumatra, Semenanjung Malaysia, Sungai Chao Phraya di Thailand, serta Sungai Mekong di Thailand, Laos, Kamboja, dan Vietnam.

Sebaran yang terpencar-pencar ini menunjukkan kemungkinan besar masih ada populasi lain, meskipun spesies ini, sebagaimana yang diakui saat ini, tampaknya merupakan kompleks dari beberapa takson yang berkerabat dekat (Kottelat and Lim,1993; Tan and Kottelat, 2009; Bohlen et al., 2011).1

Habitat alami

Paling sering ditemukan di bagian sungai kecil yang dangkal dan berarus lambat, atau di habitat yang tenang seperti rawa, danau tapal kuda (oxbow), dan perairan tenang di pinggir sungai (backwater).

Habitat ini sering kali bervegetasi lebat atau dipenuhi akar, ranting, dan serasah daun yang terendam, dengan dasar berupa lumpur lunak, pasir, atau endapan halus tempat ikan-ikan ini bersembunyi.

Di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum dan Danau-danau Kapuas, Kalimantan Barat, yang keanekaragaman hayatinya sangat tinggi, P. anguillaris hidup berdampingan (simpatrik) dengan banyak spesies lain, antara lain Cyclocheilichthys janthochir, 'Puntius' anchisporus, 'P.' kuchingensis, 'P.' lineatus, 'P.' rhomboocellatus, 'P.' trifasciatus, Brevibora dorsiocellata, Rasbora cephalotaenia, R. sarawakensis, Trigonopoma gracile, T. pauciperforatum, Barbucca diabolica, Nemacheilus saravacensis, N. spiniferus, Kottelatlimia pristes, Pangio malayana, P. oblonga, P. semicincta, P. shelfordii, Chaca bankanensis, Hemirhamphodon pogonognathus, Betta dimidiata, B. pinguis, dan Luciocephalus pulcher.1

Catatan

Merupakan salah satu dari segelintir Pangio spp. yang diperdagangkan dengan nama umum 'eel loach', meskipun paling sering tersedia sebagai ikan ikutan (bycatch) dalam kiriman ikan-ikan lain.

Populasi liar cenderung sedikit berbeda dalam pola warnanya; misalnya, ada yang memiliki garis samping (lateral) lebih tegas, sementara yang lain menampilkan pola bintik-bintik gelap halus yang tidak beraturan di tubuhnya.

Spesies ini termasuk dalam kelompok P. anguillaris, yaitu kelompok spesies yang berkerabat dekat di dalam genus ini, dan paling mudah dibedakan dari anggota lainnya lewat tubuhnya yang sangat memanjang dengan 69-71 ruas tulang belakang (dibandingkan 54-56 pada P. lumbriciformis), tidak adanya sungut hidung (pada P. bitaimac dan P. lidi ada), serta tidak adanya sisik di pipi (pada P. doriae ada).

Kottelat dan Lim (1993) mengemukakan bahwa kelompok P. anguillaris merupakan salah satu dari empat kelompok di dalam genus ini, bersama kelompok P. kuhlii, P. oblonga, dan P. shelfordii. Sistem tidak resmi ini terus dipakai sampai Bohlen et al. (2011) menerbitkan analisis filogenetik molekuler yang mencakup 18 spesies yang diakui ditambah sejumlah spesies yang belum dideskripsikan.

Hasil mereka menunjukkan adanya tiga, bukan empat, garis keturunan utama di dalam genus ini; kelompok P. anguillaris dan P. shelfordii mewakili dua di antaranya, sedangkan kelompok P. kuhlii dan P. oblonga versi Kottelat dan Lim bersama-sama membentuk yang ketiga.

Di dalam garis keturunan ketiga ini terdapat tiga sub-garis keturunan, yang masing-masing dibentuk oleh P. filinaris, seekor ikan yang tampaknya belum dideskripsikan dari Sungai Temburong di Brunei yang disebut P. cf. oblonga IV, dan semua spesies lain dalam kelompok tersebut.

Lokasi tipe P. anguillaris berada di Kalimantan bagian tengah, tetapi spesimen yang dipakai dalam studi tersebut dikoleksi di Thailand dan Laos, dan terbagi menjadi dua kelompok yang jelas berbeda. Karena itu, kemungkinan besar ada spesies yang belum teridentifikasi dalam kelompok spesies ini, dan bisa jadi tidak satu pun dari yang dianalisis benar-benar merupakan P. anguillaris.

Spesies lain dalam kelompok P. anguillaris antara lain P. bitaimac, P. doriae, P. lidi, P. lumbriciformis, dan mungkin juga P. signicauda. Yang paling jelas membedakan mereka dari anggota kelompok P. shelfordii dan P. kuhlii-oblonga adalah jumlah ruas tulang belakangnya yang tinggi serta tubuhnya yang vermiform (seperti cacing), berwarna keabu-abuan, dan biasanya tanpa pola.

Pangio termasuk genus cobitid dengan jumlah spesies terbanyak dan tersebar luas di seluruh Asia Selatan dan Asia Tenggara, dengan keanekaragaman spesies yang diduga jauh lebih besar daripada yang diakui saat ini.

Di dunia akuarium, spesies Pangio sering disebut secara umum sebagai loach 'kuhli' atau 'coolie'; yang terakhir merupakan variasi dari yang pertama, yang berasal dari nama keluarga naturalis Jerman Heinrich Kuhl (1797-1821). Para ahli iktiologi cenderung menyebut mereka 'eel loach'.

Mereka dibedakan dari cobitid lain oleh bentuk tubuhnya yang panjang dan ramping, jumlah ruas tulang belakang yang relatif banyak, serta posisi sirip punggung yang terletak jauh di belakang pangkal sirip perut (bandingkan dengan cobitid lain yang sirip punggungnya di depan, di atas, atau hanya sedikit di belakangnya).

Beberapa anggota yang sudah dideskripsikan sebelumnya dimasukkan ke dalam genus Acanthophthalmus, yang oleh Kottelat (1987) dibuktikan merupakan sinonim dari Cobitis, dan ia memilih nama pengganti Pangio dibanding sinonim yang terbit bersamaan, Apua (Blyth, 1860).

Myers (1929) menetapkan P. anguillaris sebagai spesies tipe Cobitophis, sebuah kelompok yang berisi spesies-spesies bertubuh sangat memanjang, sementara Perugia (1892) awalnya mendeskripsikan P. doriae dalam genus Eucirrhichthys. Cobitophis dijadikan sinonim Acanthophthalmus oleh Nalbant (1963), dan Eucirrhichthys oleh Roberts (1989).

Famili Cobitidae, yang sering disebut loach 'sejati', tersebar luas di sebagian besar Eurasia, dengan anak benua India, Asia Tenggara, dan Tiongkok sebagai pusat keanekaragaman spesiesnya.

Analisis filogenetik oleh Tang et al. (2006), Šlechtová et al. (2007), dan Šlechtová et al. (2008) mengungkapkan bahwa kelompok ini merupakan garis keturunan genetik yang terpisah dari famili Botiidae (keduanya dulu digabungkan di bawah Cobitidae sebagai subfamili Cobitinae dan Botiinae).

Dalam studi terbaru, Pangio ternyata lebih dekat kekerabatannya dengan Acantopsis, Acanthopsoides, dan Kottelatlimia daripada dengan Lepidocephalichthys, seperti yang sebelumnya diduga.

Semua cobitid memiliki duri tajam yang bisa digerakkan di bawah mata, yang biasanya tersembunyi di dalam lipatan kulit tetapi akan ditegakkan saat ikan stres, misalnya ketika diangkat dari air. Karena itu perlu berhati-hati, sebab duri ini bisa tersangkut di jaring akuarium, dan pada spesies yang lebih besar bahkan bisa melukai kulit manusia.1

Sumber

1 sumber
  1. Seriously Fish seriouslyfish.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.