Cobitidae, Malaysia
Kuhli malayana
Pangio malayana
Nama lain: Kuhli loach, Malayan kuhli loach, Ikan kuli, Coolie loach
- Suhu
- 21–26°C
- pH
- 3,5–7
- Akuarium minimum
- 45 cm
- Tingkat kesulitan
- Sedang
Tabel data
Lihat tabel lengkap
- Suhu
- 21–26°C
- pH
- 3,5–7
- Ukuran
- 6 cm
- Akuarium minimum
- 45 cm
- Tingkat kesulitan
Sedang 4/8 Kenapa?
Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:
- RuangMudahakuarium mulai 45 cm, ikan sepanjang 6 cm
- AirMudahpH 3,5–7, 0–8 dGH
- SuhuMudah21–26°C
- PerilakuMudahdamai
- KelompokMudahkelompok mulai 5 ekor
Tingkat kesulitan 4/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung
Sumber dan tingkat keandalan
- Suhu
- Seriously Fish
- pH
- Seriously Fish
- Kesadahan (dGH)
- Seriously Fish
- Ukuran
- Seriously Fish
- Akuarium minimum
- Seriously Fish
- Tingkat kesulitan
- Seriously Fish
Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-11-04.
Info singkat
- Pemijahan: Belum tercatat.1
Layak dibeli?
Akuarium perlu tutup yang rapat karena spesies ini dikenal suka melompat. Pastikan ikan yang masih kecil tidak bisa masuk ke lubang hisap filter, dan tutup akuarium dengan baik karena sebagian besar loach memang sesekali melompat, terutama saat baru dimasukkan ke lingkungan baru.
Pangio malayana adalah kuhli loach bercorak belang dari Semenanjung Malaysia, daerah aliran Sungai Batang Hari di Sumatra, dan sistem Sungai Kapuas di Kalimantan. Ikan ini punya 10–16 pelana gelap di separuh atas tubuhnya dan sebuah pita hitam di pangkal sirip ekor, dan paling mirip dengan P. cuneovirgata, yang sirip ekornya berujung rata (truncate). Ikan ini paling sering ditemukan sebagai ikan ikutan (bycatch) dalam kiriman kerabat satu genus yang penampilannya mirip.1
Butuh akuarium seberapa besar?
Panjang standar: 60 mm SL.
Disarankan akuarium dengan ukuran dasar minimal 45 × 30 cm atau yang setara (sekitar 41 liter).1
Kondisi air seperti apa?
Bagaimana cara merawatnya?
Gunakan substrat pasir yang halus karena spesies ini suka menggali dan cenderung menghabiskan sebagian waktunya dengan membenamkan diri sepenuhnya. Jika memakai kerikil yang lebih kasar, ikan bisa stres atau melukai dirinya sendiri, dan perilaku makannya bisa terhambat.
Beberapa akar dan cabang kayu apung (driftwood), yang ditata sedemikian rupa sehingga terbentuk banyak tempat teduh, bisa dipakai untuk memberi struktur pada tampilan akuarium. Tambahan serasah daun kering akan memberi tempat berlindung ekstra dan membantu meniru kondisi alaminya.
Pencahayaan yang cukup redup juga lebih baik, dan tanaman air seperti Microsorum, Taxiphyllum, dan Cryptocoryne spp. bisa ditambahkan.
Filter yang lembut dengan sedikit riak di permukaan air sudah cukup, dan arus yang kuat sebaiknya dihindari. Pastikan ikan yang masih kecil tidak bisa masuk ke lubang hisap filter, dan tutup akuarium dengan baik karena sebagian besar loach memang sesekali melompat, terutama saat baru dimasukkan ke lingkungan baru.1
Diberi pakan apa?
Pada dasarnya ikan ini adalah mikropredator yang menyaring substrat sesuap demi sesuap lewat mulut dan insangnya untuk mengambil larva serangga, krustasea kecil, dan sejenisnya. Sebagian dari pakan alaminya kemungkinan juga terdiri dari detritus organik dan bahan tumbuhan dari isi perut mangsanya.
Di akuarium, ikan ini mau menerima pakan kering yang tenggelam, tetapi sebaiknya juga rutin diberi pakan hidup dan beku seperti kutu air, artemia, cacing darah, microworm, cacing grindal, dan sebagainya.1

Bisa dicampur dengan ikan apa?
Pangio spp. bersifat damai, baik terhadap sesamanya maupun terhadap ikan lain, dan tidak ada laporan bahwa mereka menyakiti teman satu akuarium, meskipun mereka mungkin memangsa telur atau burayak.
Di alam, mereka sering ditemukan dalam kumpulan besar, dan di akuarium sering berdesakan di satu celah, sudut, atau gua saat beristirahat. Karena itu, sebaiknya beli minimal satu kelompok berisi 5–6 ekor.
Teman satu akuarium yang paling cocok adalah spesies kecil dan damai dari lingkungan serupa, seperti Boraras, Sundadanio, Rasbora yang berukuran lebih kecil, Trichopsis, Sphaerichthys, Kottelatlimia, dan sebagainya.
Beberapa loach penghuni dasar berpasir dari famili Nemacheilidae juga cocok, tetapi riset yang matang wajib dilakukan karena sebagian di antaranya bisa terlalu agresif berebut makanan, teritorial, atau galak dengan cara lain.1
Teman satu akuarium
- Perilaku
- Damai
- Kelompok minimal
- 5 ekor
Hindari
Saran berdasarkan suhu, pH, ukuran, dan sifat tiap spesies. Cek kecocokan dengan spesies lain →
Bagaimana membedakan jantan dan betina?
Betina dewasa biasanya bertubuh lebih berisi dan sedikit lebih besar daripada jantan, sedangkan pada jantan dewasa jari-jari pertama sirip dadanya bercabang dan menebal.1
Di mana habitat aslinya?
Habitat alami
Paling sering ditemukan di bagian sungai hutan yang dangkal dan berarus lambat, atau di habitat tenang lainnya seperti rawa, danau tapal kuda (oxbow), dan perairan mati di tepi sungai (backwater).
Banyak lingkungan seperti ini berkaitan dengan rawa gambut purba dan berair hitam (blackwater). Habitat semacam ini biasanya teduh, terlindung dari sinar matahari oleh vegetasi di tepian dan kanopi pepohonan di atasnya.
Kandungan mineral terlarut di airnya sangat rendah, daya penyangganya (buffer) lemah, dan pH bisa serendah 3,0 atau 4,0 akibat tanin dan asam organik yang dilepaskan oleh bahan organik yang membusuk.
Tergantung lokasinya, substrat bisa berupa gambut, lumpur, atau pasir, dan ikan ini biasanya melimpah di tumpukan serasah daun.
P. malayana hidup bersama di tempat yang sama (sintopik) dengan P. semicincta di sebagian besar wilayah sebarannya. Di daerah aliran Sungai Endau, bagian tenggara Semenanjung Malaysia, ikan-ikan yang hidup sewilayah dengannya antara lain Brevibora dorsiocellata, Rasbora cephalotaenia, R. einthovenii, R. dusonensis, R. paucisqualis, 'Puntius' johorensis, 'P.' partipentazona, Trigonopoma gracile, T. pauciperforatum, Betta pugnax, Sphaerichthys osphromenoides, Acanthopsoides molobrion, Vaillantella maassi, Pangio cuneovirgata, P. doriae, P. filinaris, P. piperata, dan P. shelfordii.1
Catatan
Spesies ini paling sering ditemukan sebagai ikan ikutan (bycatch) dalam kiriman kerabat satu genus yang penampilannya mirip.
Ikan ini termasuk dalam kelompok P. kuhlii-oblonga, yaitu kelompok spesies yang berkerabat dekat di dalam genus ini, dan bisa dibedakan dari anggota lainnya lewat kombinasi ciri berikut: memiliki sungut hidung (nasal barbel) panjang yang pangkalnya ditembus lubang hidung depan; 10–16 pelana gelap yang hanya terdapat di separuh atas tubuh dan sedikit lebih lebar daripada jarak di antaranya, kecuali di batang ekor, tempat pelana biasanya lebih sempit dan lebih panjang; sebuah pita hitam di pangkal sirip ekor; bagian sirip ekor lainnya bening; tiga pita gelap di kepala, dengan pita yang melewati mata tidak bertemu di bawah bibir bawah; sirip ekor sedikit berlekuk (emarginate); garis lateral berwarna keabu-abuan.
Di dalam kelompok ini, P. malayana paling mirip dengan P. cuneovirgata, tetapi keduanya cukup mudah dibedakan karena P. malayana tidak memiliki sungut hidung (vs. memiliki) dan sirip ekornya sedikit berlekuk (vs. berujung rata).
Kottelat dan Lim (1993) mengemukakan bahwa kelompok P. kuhlii dan P. oblonga merupakan dua dari empat kumpulan semacam itu di dalam genus ini, bersama kelompok P. anguillaris dan P. shelfordii. P. malayana dimasukkan ke dalam kelompok P. kuhlii berdasarkan pola warnanya yang belang dan tidak adanya sungut bibir (labial barbel).
Sistem tidak resmi ini terus diikuti sampai Bohlen et al. (2011) menerbitkan analisis filogenetik molekuler yang mencakup 18 spesies yang diakui ditambah sejumlah spesies yang belum dideskripsikan.
Hasilnya menunjukkan adanya tiga, bukan empat, garis keturunan utama di dalam genus ini; kelompok P. anguillaris dan P. shelfordii mewakili dua di antaranya, sedangkan kelompok P. kuhlii dan P. oblonga versi Kottelat dan Lim bersama-sama membentuk yang ketiga.
Di dalam garis keturunan ketiga ini terdapat tiga subgaris keturunan, yang masing-masing dibentuk oleh P. filinaris, seekor ikan yang tampaknya belum dideskripsikan dari Sungai Temburong di Brunei yang disebut P. cf. oblonga IV, dan semua spesies lain dalam kelompok tersebut.
Spesies dalam kelompok P. kuhlii dan P. oblonga sebelumnya dipisahkan terutama berdasarkan pola warna, yaitu belang vs. cokelat polos, tetapi dalam analisis molekuler spesies yang belang justru masuk ke dalam kelompok yang cokelat. Mereka juga menunjukkan kemiripan morfologi yang tinggi, dengan kesamaan bentuk tubuh dan jumlah ruas tulang belakang.
Bahkan ada satu spesimen cokelat yang mengelompok bersama P. malayana belang yang dikoleksi dari lokasi yang sama, bukan dengan ikan polos lainnya, yang menunjukkan bahwa variasi fenotipe di dalam satu spesies mungkin juga berperan.
Pangio termasuk genus cobitid dengan jumlah spesies terbanyak dan tersebar luas di seluruh Asia Selatan dan Asia Tenggara, dengan keragaman spesies yang diduga jauh lebih besar daripada yang diakui saat ini.
Di dunia akuarium, spesies Pangio sering disebut secara umum sebagai 'kuhli' atau 'coolie' loach. Nama yang kedua adalah variasi dari yang pertama, yang berasal dari nama keluarga naturalis Jerman Heinrich Kuhl (1797-1821). Para ahli iktiologi cenderung menyebutnya 'eel loach'.
Mereka dibedakan dari cobitid lain oleh bentuk tubuhnya yang panjang dan ramping, jumlah ruas tulang belakang yang relatif banyak, dan posisi sirip punggung yang terletak jauh di belakang pangkal sirip perut (vs. di depan, di atas, atau hanya sedikit di belakangnya).
Beberapa anggota yang sudah dideskripsikan sebelumnya dimasukkan ke dalam genus Acanthophthalmus, yang oleh Kottelat (1987) dibuktikan sebagai sinonim dari Cobitis, dan ia memilih nama pengganti Pangio dibandingkan sinonim yang muncul bersamaan, yaitu Apua (Blyth, 1860).
Myers (1929) menetapkan P. anguillaris sebagai spesies tipe Cobitophis, sebuah pengelompokan yang berisi spesies-spesies yang sangat memanjang, sedangkan Perugia (1892) awalnya mendeskripsikan P. doriae dalam genus Eucirrhichthys. Yang pertama disinonimkan dengan Acanthophthalmus oleh Nalbant (1963) dan yang kedua oleh Roberts (1989).
Famili Cobitidae, yang sering disebut loach 'sejati', tersebar luas di sebagian besar Eurasia, dengan anak benua India, Asia Tenggara, dan Tiongkok sebagai pusat utama keragaman spesiesnya.
Analisis filogenetik oleh Tang et al. (2006), Šlechtová et al. (2007), dan Šlechtová et al. (2008) mengungkapkan bahwa kelompok ini merupakan garis keturunan genetik yang terpisah dari famili Botiidae (sebelumnya keduanya digabung di bawah Cobitidae sebagai subfamili Cobitinae dan Botiinae).
Dalam studi terbaru, Pangio ternyata lebih dekat kekerabatannya dengan Acantopsis, Acanthopsoides, dan Kottelatlimia daripada dengan Lepidocephalichthys seperti yang diduga sebelumnya.
Semua cobitid memiliki duri tajam yang dapat digerakkan di bawah mata, yang biasanya tersembunyi di dalam kantong kulit tetapi akan ditegakkan saat ikan stres, misalnya ketika diangkat dari air. Karena itu perlu berhati-hati, sebab duri ini bisa tersangkut di jaring akuarium dan pada spesies yang lebih besar bahkan bisa menembus kulit manusia.1
Sumber
1 sumber dan pustaka
- Seriously Fish seriouslyfish.com
Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.
Referensi
- Burridge, M. E. (1992). Systematics of the Acanthophthalmus kuhlii complex (Teleostei: Cobitidae), with the description of a new species from Sarawak and Brunei. Copeia 1992(1), 172-186
- Britz, R. and J. Maclaine (2007). A review of the eel-loaches, genus Pangio, from Myanmar (Teleostei: Cypriniformes: Cobitidae). Ichthyological Exploration of Freshwaters 18(1), 17-30
- Britz, R. and M. Kottelat (2010). Pangio longimanus, a miniature species of eel-loach from central Laos (Teleostei: Cypriniformes: Cobitidae). Ichthyological Exploration of Freshwaters 20(4), 317-376
- Hadiaty, R. K. and M. Kottelat (2009). Pangio lidi, a new species of loach from eastern Borneo, Indonesia. Zootaxa 2171, 65-68
- Kottelat, M. and K. K. P. Lim (1993). A review of the eel-loaches of the genus Pangio (Teleostei: Cobitidae) from the Malay Peninsula, with descriptions of six new species. Raffles Bulletin of Zoology 41(2), 203-249
- Ng, H. H. and H.-H. Tan (1999). The fishes of the Endau drainage, Peninsular Malaysia with descriptions of two new species of catfishes (Teleostei: Akysidae, Bagridae). Zoological Studies 38(3), 350-366
- Tan, H. H. and M. Kottelat (2009). The fishes of the Batang Hari drainage, Sumatra, with description of six new species. Ichthyological Exploration of Freshwaters 20(1), 13-69
- Tang, Q., H. Liu, R. Mayden and B. Xiong (2006). Comparison of evolutionary rates in the mitochondrial DNA cytochrome b gene and control region and their implications for phylogeny of the Cobitoidea (Teleostei: Cypriniformes). Molecular Phylogenetics and Evolution 39(2), 347-357
- Šlechtová, V., J. Bohlen and H. H. Tan (2007). Families of Cobitoidea (Teleostei; Cypriniformes) as revealed from nuclear genetic data and the position of the mysterious genera Barbucca, Psilorhynchus, Serpenticobitis and Vaillantella. Molecular Phylogenetics and Evolution 44(3), 1358-1365
- Šlechtová, V., J. Bohlen and A. Perdices (2008). Molecular phylogeny of the freshwater fish family Cobitidae (Cypriniformes: Teleostei): delimitation of genera, mitochondrial introgression and evolution of sexual dimorphism. Molecular Phylogenetics and Evolution 47(2), 812-831
- Tweedie, M. W. F. (1956). Notes on Malayan fresh-water fishes Nos. 6-8. Bulletin of the Raffles Museum 27, 56-64
- Kottelat, M. (2012). Conspectus cobitidum: an inventory of the loaches of the world (Teleostei: Cypriniformes: Cobitoidei). Raffles Bulletin of Zoology Supplement 26, 1-199
- Bohlen, J., V, Šlechtová, H. H. Tan and R. Britz (2011). Phylogeny of the Southeast Asian freshwater fish genus Pangio (Cypriniformes; Cobitidae). Molecular Phylogenetics and Evolution 61(3), 854-8651
Artikel yang menyebut spesies ini
Foto pembaca
Belum ada foto. Anda memelihara Kuhli malayana? Kirim fotonya agar semua bisa ikut melihat.

Diskusi
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman.
Pemeriksaan antispam gagal dimuat sehingga komentar belum terkirim. Coba muat ulang halaman.
Sesuai ketentuan, komentar memerlukan verifikasi pengguna; fitur ini akan segera tersedia.