Satuan
Tampilan

Vaillantellidae, Malaysia

Dragon Loach

Vaillantella maassi

Nama lain: Fork-tailed Loach, Chocolate Scissortail Loach, Chocolate Long-finned Loach, Red Line Cobra Loach, Spiny Eel Loach

Suhu
23–29°C
pH
3,5–7,2
Akuarium minimum
120 cm
Tingkat kesulitan
Mudah

Tabel data

Lihat tabel lengkap
Suhu
23–29°C
pH
3,5–7,2
Ukuran
12,5 cm
Tingkat kesulitan
Mudah 2/8 Kenapa?

Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:

  • RuangSulitakuarium mulai 120 cm, ikan sepanjang 12,5 cm
  • AirMudahpH 3,5–7,2, 1–12 dGH
  • SuhuMudah23–29°C
  • PerilakuSedangagak agresif

Tingkat kesulitan 2/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung

Sumber dan tingkat keandalan
Suhu
  • Seriously Fish
pH
  • Seriously Fish
Kesadahan (dGH)
  • Seriously Fish
Ukuran

Tiap sumber mencantumkan angka berbeda

  • Aquarium Glaser: 15 cm
  • Seriously Fish: 12,5 cm
Akuarium minimum
  • Seriously Fish
Tingkat kesulitan
  • Seriously Fish

Cara tabel memilih satu angka jika sumber-sumber berbeda

Diterjemahkan dan dirangkum dari Aquarium Glaser, Seriously Fish. Diperbarui 2026-11-04.

Info singkat

Aquarium Glaser mencatat angka yang berbeda dari tabel data: ukuran 15 cm (tabel: 12,5 cm).

Ini jelas salah satu loach paling unik yang pernah ada. Genus Vaillantella, yang saat ini terdiri dari tiga spesies, punya sirip punggung berbentuk pita yang membentang di sepanjang punggung. Loach lain umumnya punya sirip punggung yang relatif pendek dan berbentuk segitiga.

Vaillantella adalah penghuni perairan blackwater dan bisa mencapai panjang 12–15 cm, tetapi biasanya tetap jauh lebih kecil.1

Fork-tailed loach, Vaillantella maassi, adalah loach yang berasal dari Sumatra, Kalimantan, Semenanjung Malaysia, dan Thailand selatan. Ikan ini diperdagangkan dengan berbagai nama, antara lain 'chocolate scissor-tailed loach' dan 'dragon loach'. Tubuhnya cokelat kebiruan dengan garis oranye sampai kuning di sepanjang punggung. Ikan ini jarang masuk ke pasaran dalam jumlah banyak. Sifatnya termasuk yang paling suka bersembunyi di antara jenis loach, dan bisa agresif terhadap sesamanya maupun ikan lain.2

Layak dibeli?

  • Akuarium perlu tutup yang rapat karena spesies ini dikenal suka melompat. Pastikan ikan yang masih kecil tidak bisa masuk ke lubang hisap filter, dan tutup akuarium dengan baik karena kebanyakan loach memang sesekali melompat, terutama saat baru dipindahkan ke lingkungan baru.2

Butuh akuarium seberapa besar?

Panjang standar: 125 mm SL. Ukuran alas akuarium: 120 × 30 cm. Volume: ~108 liter.

Ukuran alas minimal 120 × 30 cm atau yang setara disarankan, walaupun satu ekor saja bisa dipelihara di akuarium yang lebih kecil.2

Kondisi air seperti apa?

  • Suhu: 23–29 °C
  • pH: 3,5–7,2
  • Kesadahan: 1–12 dGH2

Bagaimana cara merawatnya?

Sejauh ini Vaillantella maassi masih sangat jarang dipelihara di akuarium. Perawatannya bisa disamakan dengan kuhli loach (Pangio) yang sudah banyak dikenal.

Sirip ekornya yang sangat besar dan bercagak membuat Vaillantella bisa melesat dengan sangat cepat. Karena itu akuarium harus ditutup rapat tanpa celah sedikit pun, supaya ikan tidak terlempar ke luar saat muncul naluri berkelana yang sudah dikenal dan sesekali ditunjukkan banyak loach di akuarium.1

Kalau berniat memelihara lebih dari satu ekor, dekorasi keras sebaiknya ditata sedemikian rupa sehingga setiap ikan bisa membentuk wilayahnya sendiri (lihat 'Perilaku dan Kecocokan').

Idealnya gunakan substrat pasir yang lembut karena spesies ini suka menggali dan bisa menghabiskan sebagian waktunya terkubur sepenuhnya, walaupun kerikil halus juga bisa menjadi alternatif yang cukup baik.

Beberapa akar dan cabang kayu apung (driftwood) yang ditempatkan sehingga terbentuk banyak area teduh bisa dipakai untuk menambah struktur pada tampilan akuarium. Penambahan serasah daun kering (daun beech, oak, atau ketapang semuanya cocok, dan campuran ketiganya terlihat sangat menarik) akan makin menonjolkan kesan alami.

Serasah daun tidak hanya memberi tempat berlindung bagi ikan, tetapi juga membantu berkembangnya koloni mikroba saat daun membusuk.

Organisme kecil ini bisa menjadi sumber pakan tambahan yang berharga, sementara tanin dan zat kimia lain yang dilepaskan oleh daun yang membusuk dianggap bermanfaat bagi ikan-ikan blackwater.

Pencahayaan yang agak redup juga lebih disukai. Anda bisa menambahkan beberapa tanaman air yang mampu bertahan di kondisi seperti ini, misalnya Microsorum, Taxiphyllum, atau Cryptocoryne spp. Beberapa kelompok tanaman apung untuk meredam cahaya yang masuk ke akuarium juga akan bermanfaat.

Arus yang kuat sebaiknya dihindari, jadi filtrasi yang lembut dengan sedikit riak di permukaan air sudah cukup. Pastikan ikan yang masih kecil tidak bisa masuk ke lubang hisap filter, dan tutup akuarium dengan baik karena kebanyakan loach memang sesekali melompat, terutama saat baru dipindahkan ke lingkungan baru.2

Diberi pakan apa?

Pada dasarnya ikan ini adalah mikropredator yang di alam mencari larva serangga, krustasea kecil, dan sejenisnya dari dalam substrat. Di akuarium, biasanya ikan ini bisa belajar menerima pelet tenggelam atau pakan serpihan berkualitas baik, tetapi mungkin belum tertarik pada pakan seperti itu tepat setelah diimpor atau baru dipindahkan ke akuarium baru.

Selama masa awal ini, berikan pakan hidup dan beku berukuran kecil seperti kutu air (daphnia), artemia, cacing darah, dan sebagainya, lalu perkenalkan pakan kering setelah ikan mulai tenang.

Pakan yang bervariasi adalah kunci agar ikan tetap dalam kondisi paling sehat. Jadi kombinasi semua pakan di atas adalah solusi ideal untuk jangka panjang, dan pakan berbasis gel buatan sendiri yang berisi campuran bahan alami juga sangat dianjurkan.2

Young specimen.
©

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Termasuk loach yang paling suka bersembunyi dan jarang terlihat di siang hari.

Ikan dari lingkungan serupa yang menempati bagian atas kolom air, seperti Trichopodus, Trichogaster, Trichopsis, dan Sphaerichthys, serta banyak ikan cyprinid kecil, seharusnya menjadi teman satu akuarium yang ideal.

Namun, teman satu akuarium yang hidup di dasar harus dipilih dengan hati-hati, karena Vaillantella spp. bisa agresif terhadap sesamanya maupun ikan lain, dan juga bisa memangsa telur atau burayak.

Setiap individu cenderung membentuk wilayah kecil, biasanya berdiameter 10–15 cm, yang berpusat pada satu tempat persembunyian tertentu dan dipertahankan dengan agresif dari penyusup.

Begitu ikan lain sudah belajar menghindari wilayah tersebut, biasanya tidak ada masalah, tetapi spesies yang kurang tangguh mungkin sebaiknya tidak dicampur. Riset yang cermat akan membantu Anda menentukan pilihan yang tepat.2

Bagaimana membedakan jantan dan betina?

Betina dewasa kemungkinan bertubuh jelas lebih gemuk dan mungkin lebih besar daripada jantan, tetapi sejauh yang diketahui belum ada perbedaan luar lain yang dilaporkan.2

Bagaimana cara berkembang biaknya?

Belum pernah dilaporkan berkembang biak di akuarium, dan hampir tidak ada yang diketahui tentang sejarah hidup alami spesies ini.2

Di mana habitat aslinya?

V. maassi tersebar luas di kawasan rawa gambut Malaysia dan Kalimantan. Habitat ini sangat terancam karena dirusak untuk perkebunan kelapa sawit. Sayangnya, karena itu semua ikan (dan makhluk hidup lain) yang hidup di sana harus digolongkan sangat terancam punah. Penangkapan ikan hias bisa membantu melestarikan setidaknya sebagian biotop ini sebagai kawasan bernilai ekonomi, sehingga turut menjadi upaya aktif perlindungan lingkungan dan spesies.1

Spesies ini dideskripsikan dari sistem Sungai Kampar Kiri, Sumatra bagian tengah, Indonesia. Sejak itu, ikan ini juga tercatat di daerah aliran Sungai Batang Hari yang letaknya sedikit lebih ke selatan di pulau yang sama, di DAS Kapuas di Provinsi Kalimantan Barat, serta di sungai-sungai kecil yang mengalir ke Kalimantan dari negara bagian Sarawak, Malaysia, yang berbatasan langsung.

Populasi dari Sungai Endau dan Sungai Terengganu di Semenanjung Malaysia awalnya dideskripsikan sebagai V. flavofasciata oleh Tweedie (1956), tetapi saat ini dianggap termasuk V. maassi. Hal yang sama berlaku untuk populasi yang menghuni Sungai Tapi dan Sungai Saiburi di Thailand selatan (bagian semenanjung).

Ada juga setidaknya satu catatan dari Provinsi Chanthaburi, Thailand timur. Namun, sejauh yang diketahui, keberadaan spesies ini di sana belum dikonfirmasi lewat koleksi terbaru.2

Habitat alami

Paling sering ditemukan di bagian tepi sungai hutan yang relatif dangkal. Banyak di antaranya berhubungan dengan rawa gambut purba dan berair hitam (blackwater). Meski begitu, ikan ini juga ditemukan di perairan yang jernih sampai keruh, yang bisa saja atau tidak sedikit berwarna kecokelatan karena tanin.

Habitat seperti ini biasanya terlindung dari sinar matahari oleh vegetasi di tepi sungai dan kanopi pohon yang rapat di atasnya.

Kandungan mineral terlarut di airnya umumnya sangat rendah, kapasitas buffernya lemah, dan pH bisa serendah 3,0 atau 4,0 karena tanin dan asam organik yang perlahan dilepaskan oleh bahan tumbuhan yang membusuk.

Tergantung lokasinya, dasar perairan bisa berupa gambut, lumpur, atau pasir, dan ikan ini biasanya tinggal di antara tumpukan serasah daun. Arus air bisa bervariasi tergantung musim, dan bisa cukup deras saat musim hujan atau di lingkungan dataran yang lebih tinggi.

Di seluruh wilayah sebarannya, V. maassi hidup berdampingan (simpatrik) dengan sejumlah spesies lain. Di satu lokasi di Sarawak, dekat perbatasan dengan Kalimantan Barat, ikan ini tercatat bersama Pangio shelfordii, 'Puntius' kuchingensis, Rasbora caudimaculata, R. cf. tuberculata, Oxygaster anomalura, dan ikan pipefish Doryichthys martensii.

Roberts (1989) menyatakan bahwa V. maassi maupun kerabat segenusnya, V. euepiptera, sama-sama ada di sistem Sungai Kapuas, tetapi V. maassi terbatas pada habitat di dataran yang lebih tinggi dibanding V. euepiptera.2

Catatan

Spesies ini diperdagangkan dengan berbagai nama, antara lain 'chocolate scissor-tailed loach', 'chocolate long-finned loach', 'red line cobra loach', 'spiny eel loach', dan 'dragon loach'.

Ikan ini tampaknya sulit ditemukan di habitat aslinya sehingga butuh waktu lama untuk menangkapnya. Akibatnya, ikan ini jarang masuk ke pasaran dalam jumlah banyak, banyak dicari para penggemar, dan harganya cenderung relatif mahal saat tersedia.

Genus ini saat ini hanya berisi tiga spesies. V. maassi bisa dibedakan dari kerabat segenusnya, V. cinnamomea dan V. euepiptera, lewat kombinasi ciri berikut: pola warna berupa tubuh cokelat kebiruan dengan garis oranye sampai kuning yang tegas, membentang di sepanjang punggung dari ujung moncong sampai pangkal sirip ekor; total 13-17 jari-jari sirip anal (disebut 16½ dalam Kottelat, 1994); total 61-74 (73½) jari-jari sirip punggung; 57-60 ruas tulang belakang.

Pada V. euepiptera pola warnanya mirip, tetapi garis punggungnya lebih pucat dan biasanya terputus-putus, membentuk deretan bercak yang tidak beraturan. Spesies ini memiliki 7-10 (9½ dalam Kottelat, 1994) jari-jari sirip anal, 58-65 (64½) jari-jari sirip punggung, dan 52-54 ruas tulang belakang.

Pola warna V. cinnamomea relatif polos dan kecokelatan tanpa pola mencolok di punggung, dengan 10 (9½) jari-jari sirip anal, 57-60 (59½) jari-jari sirip punggung, dan 51-52 ruas tulang belakang.

Ketiga spesies tampaknya pernah masuk ke perdagangan ikan hias, walaupun dalam jumlah terbatas.

Vaillantella terutama berbeda dari genus loach lainnya karena sirip punggungnya jauh lebih panjang, dengan 52-73 jari-jari bercabang (maksimum pada genus lain adalah 28 jari-jari sirip punggung bercabang). Sejarah taksonomi genus ini juga agak membingungkan.

V. euepiptera, spesies tipe genus ini, awalnya dideskripsikan sebagai Nemacheilus oleh Vaillant (1902). Namun pada 1977, Nalbant dan Bãnãrescu memasukkan anggota genus ini ke subfamili baru mereka, Vaillantellinae, di dalam famili Cobitidae berdasarkan ciri-ciri morfologi.

Penulis-penulis berikutnya (misalnya Roberts, 1989; Kottelat, 1994) menempatkan genus ini dalam subfamili Nemacheilinae, sementara Nalbant (2002) lebih memilih memasukkan Vaillantellinae bersama Botiinae sebagai subfamili dari famili Botiidae yang baru dibentuk, karena sejumlah ciri yang sama, termasuk susunan sungut, gurat sisi yang lengkap, sirip ekor bercagak, dan struktur gelembung renang.

Akan tetapi, Kottelat (2004) kemudian menunjukkan bahwa struktur sungut maupun gurat sisi Vaillantella spp. lebih mirip dengan anggota Nemacheilidae daripada Botiidae, dan bahwa genus ini tidak memiliki duri suborbital sehingga tidak semestinya dimasukkan ke Botiidae.

Posisi filogenetik Vaillantella pun tetap belum jelas sampai Šlechtová et al. (2007) mengungkap bahwa genus ini merupakan garis keturunan genetik tersendiri sehingga layak memiliki famili sendiri.

Famili ini sejak itu disebut Vaillantellidae, dan di antara kelompok loach lainnya, kerabat terdekatnya berturut-turut adalah Botiidae dan Cobitiidae.2

Sumber

2 sumber dan pustaka
  1. Aquarium Glaser aquariumglaser.de
  2. Seriously Fish seriouslyfish.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.

Referensi

  • Kottelat, M. (1994). Vaillantella cinnamomea, a new species of balitorid loach from eastern Borneo. Japanese Journal of Ichthyology 40(4), 427-431
  • Kottelat, M. (2004). Botia kubotai, a new species of loach (Teleostei: Cobitidae) from the Ataran River basin (Myanmar), with comments on botiine nomenclature and diagnosis of a new genus. Zootaxa 401, 1-18
  • Lim, K. K. P. (1993). A new record of Vaillantella euepiptera (Pisces: Osteichthyes: Balitoridae) from the Malay Peninsula. Raffles Bulletin of Zoology 41(1), 113-118
  • Nalbant, T. T. (2002). Vaillantellinae, a new sub-family of Cobitidae (Pisces, Cypriniformes). Travaux du Museum d'Histoire Naturelle, 309-333
  • Nalbant, T. T. (2004). Hymenphysa, Hymenophysa, Syncrossus, Chromobotia and other problems in the systematics of Botiidae. A reply to Maurice Kottelat. Travaux du Museum d'Histoire Naturelle 'Grigore Antipa' 47, 269-277
  • Nalbant, T. T. and P. M. Bãnãrescu (1977). Vaillantellinae, a new sub-family of Cobitidae (Pisces, Cypriniformes). Zoologische Mededelingen 52(8), 99-105
  • Ng, H. H. and H.-H. Tan (1999). The fishes of the Endau drainage, Peninsular Malaysia with descriptions of two new species of catfishes (Teleostei: Akysidae, Bagridae). Zoological Studies 38(3), 350-366
  • Roberts, T. R. (1989). The freshwater fishes of western Borneo (Kalimantan Barat, Indonesia). Memoirs of the California Academy of Sciences 14, 1-210
  • Šlechtová, V., J. Bohlen and H. H. Tan (2007). Families of Cobitoidea (Teleostei; Cypriniformes) as revealed from nuclear genetic data and the position of the mysterious genera Barbucca, Psilorhynchus, Serpenticobitis and Vaillantella. Molecular Phylogenetics and Evolution 44(3), 1358-1365
  • Tweedie, M. W. F. (1956). Notes on Malayan fresh-water fishes Nos. 6-8. Bulletin of the Raffles Museum 27, 56-64
  • Kottelat, M. (2012). Conspectus cobitidum: an inventory of the loaches of the world (Teleostei: Cypriniformes: Cobitoidei). Raffles Bulletin of Zoology Supplement 26, 1-1992