Satuan
Tampilan

Cyprinidae, Malaysia

Rasbora sarawakensis

Rasbora sarawakensis

Nama lain: Rasbora Sarawak, Sarawak rasbora

Suhu
22–26°C
pH
6–7,5
Akuarium minimum
60 cm
Tingkat kesulitan
Mudah

Tabel data

Lihat tabel lengkap
Suhu
22–26°C
pH
6–7,5
Ukuran
5 cm
Tingkat kesulitan
Mudah 2/8 Kenapa?

Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:

  • RuangMudahakuarium mulai 60 cm, ikan sepanjang 5 cm
  • AirMudahpH 6–7,5, 2–12 dGH
  • SuhuMudah22–26°C
  • PerilakuMudahdamai
  • KelompokSedangkelompok mulai 8 ekor

Tingkat kesulitan 2/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung

Sumber dan tingkat keandalan
Suhu
  • Seriously Fish
pH
  • Seriously Fish
Kesadahan (dGH)
  • Seriously Fish
Ukuran
  • Seriously Fish, Aquarium Glaser · setingkat
Akuarium minimum
  • Seriously Fish
Tingkat kesulitan
  • Seriously Fish

Cara tabel memilih satu angka jika sumber-sumber berbeda

Diterjemahkan dan dirangkum dari Aquarium Glaser, Seriously Fish. Diperbarui 2026-11-03.

Info singkat

Genus Rasbora sangat kaya spesies dan saat ini mencakup 82 spesies yang sudah dideskripsikan. Meski begitu, hanya sedikit spesies yang pernah dipelihara di akuarium. R. sarawakensis bisa mencapai panjang sekitar 5 cm. Ikan ini cantik, hidup bergerombol, dan sama sekali tidak rewel.1

Rasbora sarawakensis adalah rasbora kecil endemik Kalimantan (Borneo), ditemukan di Sarawak dan provinsi tetangganya di Indonesia, Kalimantan Barat. Sebagian besar hidup di sungai-sungai kecil hutan yang arusnya lambat dengan vegetasi tepi yang lebat, tempat airnya jernih tetapi sedikit kecokelatan karena tanin. Ikan ini jarang dibahas dalam literatur akuarium, sangat damai, dan tampaknya cukup umum di seluruh wilayah sebaran alaminya.2

Butuh akuarium seberapa besar?

Akuarium berukuran 60 × 38 × 30 cm (sekitar 68 liter) sudah cukup besar untuk memelihara satu kelompok kecil ikan ini.2

Kondisi air seperti apa?

  • Suhu: 22–26 °C
  • pH: 6,0–7,5
  • Kesadahan: 2–12 dGH2

Bagaimana cara merawatnya?

Pilihan dekorasi kemungkinan tidak terlalu menentukan, meskipun rasbora kecil lainnya cenderung menampilkan warna lebih bagus bila dipelihara di akuarium yang banyak tanaman airnya dengan substrat gelap. Menambahkan beberapa tanaman apung serta akar atau cabang kayu (driftwood) untuk meredam cahaya yang masuk ke akuarium juga tampaknya disukai dan membuat tampilan lebih alami. Filter tidak perlu terlalu kuat karena ikan ini sebagian besar berasal dari perairan berarus lambat dan mungkin kesulitan bila arus di akuarium deras.2

Diberi pakan apa?

Kemungkinan besar sebagian besar makanannya berupa invertebrata, baik yang hidup di air maupun di darat, seperti anggota genus lain yang serupa. Di akuarium, ikan ini seharusnya mau menerima pakan kering dengan ukuran yang sesuai, tetapi jangan hanya diberi pakan itu saja. Pemberian pakan hidup dan beku berukuran kecil setiap hari, seperti kutu air, cacing darah, dan sejenisnya, akan menghasilkan warna terbaik dan mendorong ikan masuk ke kondisi siap memijah.2

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Ikan yang hidup bergerombol.1

Spesies ini seharusnya sangat cocok dimasukkan ke akuarium komunitas damai berisi spesies Asia Tenggara/India, seperti Rasbora lain yang ukurannya serupa, Puntius, loach dari famili Botiidae/Cobitidae, dan gurami dari genus Trichogaster. Untuk akuarium biotop, ikan ini bisa dicoba bersama spesies Kalimantan lainnya; banyak pilihan yang cocok, tetapi beberapa yang lebih sering diekspor antara lain Rasbora borapetensis, R. einthovenii, Trichogaster trichopterus, dan Pangio semicincta.

Secara alami ikan ini hidup bergerombol dan sebaiknya dipelihara dalam kelompok minimal 8–10 ekor. Memeliharanya dalam jumlah yang cukup tidak hanya membuat ikan tidak mudah gugup, tetapi juga menghasilkan tampilan yang lebih menarik dan alami. Ikan jantan juga akan menampilkan warna terbaiknya saat bersaing satu sama lain untuk menarik perhatian betina.2

Bagaimana membedakan jantan dan betina?

Betina dewasa seharusnya tampak jelas lebih buncit perutnya dan mungkin sedikit lebih besar daripada jantan.2

Bagaimana cara berkembang biaknya?

Belum pasti apakah ikan ini sudah pernah dipijahkan oleh para hobiis, meskipun hal itu tentu seharusnya bisa dilakukan. Seperti kebanyakan cyprinid, spesies ini menebar telur, memijah terus-menerus, dan tidak mengasuh anaknya. Artinya, bila ikan dalam kondisi baik, mereka akan sering memijah, dan di akuarium yang matang serta padat tanaman, ada kemungkinan sejumlah kecil burayak mulai muncul tanpa campur tangan manusia.

Namun, jika ingin mendapatkan burayak lebih banyak, diperlukan cara yang sedikit lebih terkontrol, dimulai dengan metode yang terbukti berhasil untuk anggota genus ini yang berukuran kecil lainnya. Kelompok induk tetap bisa dikondisikan bersama, tetapi satu atau beberapa wadah panjang dan dangkal, misalnya 45 × 20 × 20 cm (29,5 liter), juga perlu disiapkan dan diisi air setengahnya. Wadah ini harus diberi pencahayaan yang sangat redup dan dasarnya ditutup dengan semacam jaring yang lubangnya cukup besar agar telur bisa jatuh melewatinya, tetapi cukup kecil agar induk tidak bisa menjangkaunya. Alas plastik model 'rumput' yang mudah didapat juga bisa digunakan dan bekerja sangat baik untuk spesies lain.

Airnya sendiri sebaiknya ber-pH sedikit asam hingga netral dengan suhu mendekati batas atas kisaran yang disarankan di atas. Pada awalnya bisa ditambahkan filter internal bermotor, yang diposisikan sedemikian rupa sehingga alirannya mengarah sepanjang akuarium. Bila induk sudah dikondisikan dengan baik dan betina tampak penuh telur, satu atau dua pasang kemudian dimasukkan ke setiap wadah. Pemijahan bisa dipicu dengan menambahkan sedikit air yang lebih dingin setiap beberapa jam sehingga akuarium perlahan-lahan terisi penuh, serta memberi sedikit pakan hidup dan beku. Kemungkinan akan terjadi beberapa kali pemijahan sebelum telur betina habis.

Induk kemungkinan akan memakan telur yang mereka temukan, jadi sebaiknya dipindahkan setelah beberapa hari. Pada saat itu, filter bermotor sebaiknya diganti dengan filter spons yang sudah matang agar burayak tidak tersedot ke dalam mesinnya. Lama inkubasi telur Rasbora sampai batas tertentu bergantung pada suhu, tetapi biasanya antara 18 dan 48 jam, dan burayak mulai berenang bebas 24 hingga 48 jam kemudian. Pakan awal sebaiknya berupa Paramecium atau sejenisnya, lalu diperkenalkan naupli artemia dan/atau microworm setelah burayak cukup besar untuk memakannya.2

Di mana habitat aslinya?

R. sarawakensis berasal dari bagian Pulau Kalimantan (Borneo) yang termasuk wilayah Malaysia.1

Endemik Pulau Kalimantan (Borneo). Meskipun namanya mungkin memberi kesan lain, ikan ini tidak hanya ditemukan di negara bagian Sarawak (Malaysia), tetapi sebarannya juga sampai ke provinsi tetangga, Kalimantan Barat (Indonesia). Ikan ini tercatat dari banyak sistem sungai, antara lain Batang Kayan dan Sungai Sarawak di Sarawak, serta Mempawah dan Melawi di Kalimantan Barat.2

Habitat alami

Sebagian besar hidup di sungai-sungai kecil hutan yang arusnya lambat dengan vegetasi tepi yang lebat. Perairan ini sering ternaungi oleh kanopi hutan hujan yang rapat di atasnya. Dasarnya paling sering berupa lapisan lumpur halus yang tebal, dipenuhi ranting pohon yang jatuh dan serasah daun, sedangkan airnya cukup jernih tetapi sedikit kecokelatan karena tanin yang dilepaskan bahan organik yang membusuk. Di salah satu lokasi khas di Sarawak, spesies yang hidup berdampingan dengannya antara lain Rasbora borapetensis, Puntius kuchingensis, P. sealei, Hemirhamphodon pogonognathus, Betta taeniata, dan satu spesies Nemacheilus yang belum teridentifikasi.2

Catatan

R. sarawakensis jarang dibahas dalam literatur akuarium dan belum pasti apakah ikan ini pernah diekspor untuk hobi, meskipun mungkin layak dicari di antara kiriman ikan tangkapan alam dari Kalimantan bagian selatan/barat. Hal ini agak aneh karena ikan ini menarik, sangat damai, cocok untuk banyak akuarium rumahan, dan tampaknya cukup umum di seluruh wilayah sebaran alaminya.

Rasbora sudah lama diakui sebagai garis keturunan polifiletik, seperti dicatat antara lain oleh Kottelat (1999), dan pada 2010 hasil analisis filogenetik oleh Liao et al. mengusulkan sejumlah perubahan untuk memperbaiki taksonominya. Dalam susunan mereka, R. sarawakensis ditempatkan dalam kelompok spesies R. trifasciata. Tidak lama kemudian, terbit makalah tentang sistematika subfamili Danioninae oleh Tang et al. (2010); hasil mereka sangat berbeda dengan hasil Liao et al., dan genus-genus baru tersebut beserta Boraras dan Trigonostigma disinonimkan dengan Rasbora, pendekatan yang mereka sebut 'lebih konservatif'. Kedua kesimpulan itu mungkin sama-sama belum memuaskan; sistem Liao et al. dipakai di sini sambil menunggu penelitian lebih lanjut.

Spesies tipe Rasbora adalah R. cephalotaenia (saat itu Leuciscus cephalotaenia), karena hanya empat spesies nominal yang dimasukkan ketika Bleeker pertama kali menggunakan nama tersebut pada 1859. Howes (1980) mengusulkan pemisahan sejumlah spesies ke dalam genus Parluciosoma, tetapi monofili kelompok tersebut tidak didukung oleh hasil Liao et al.2

Sumber

2 sumber dan pustaka
  1. Aquarium Glaser aquariumglaser.de
  2. Seriously Fish seriouslyfish.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.

Referensi

  • Mayden, R. L., K. L. Tang, K. W. Conway, J. Freyhof, S. Chamberlain, M. Haskins, L. Schneider, M. Sudkamp, R. M. Wood, M. Agnew, A. Bufalino, Z. Sulaiman, M. Miya, K. Saitoh, S. He (2007). Phylogenetic relationships of Danio within the order Cypriniformes: a framework for comparative and evolutionary studies of a model species. Journal of Experimental Zoology, Molecular Development and Evolution 308B, 642-654
  • Kottelat, M. (1999). Nomenclature of the genera Barbodes, Cyclocheilichthys, Rasbora and Chonerhinos (Teleostei: Cyprinidae and Tetraodontidae), with comments on the definition of the first reviser. Raffles Bulletin of Zoology Supplement 47(2), 591-600
  • Liao, T. Y., Kullander, S. O. and F. Fang (2010). Phylogenetic analysis of the genus Rasbora (Teleostei: Cyprinidae). Zoologica Scripta 39(2), 155-176
  • Tang, K. L., M. K. Agnew, W. J. Chen., M. V. Hirt, T. Sado, L. M. Schneider, J. Freyhof, Z. Sulaiman, E. Swartz, C. Vidthayanon, M. Miya, K. Saitoh, A. M. Simons, R. M. Wood and R. L. Mayden (2010). Systematics of the subfamily Danioninae (Teleostei: Cypriniformes: Cyprinidae). Molecular Phylogenetics and Evolution 57(1), 189-2142