Satuan
Tampilan

Cyprinidae, Malaysia

False Spanner Barb

Barbodes kuchingensis

Nama lain: Puntius kuchingensis, Kuching barb, Spanner barb

Suhu
20–28°C
pH
5–7,5
Akuarium minimum
120 cm
Tingkat kesulitan
Sedang

Tabel data

Lihat tabel lengkap
Suhu
20–28°C
pH
5–7,5
Ukuran
12 cm
Tingkat kesulitan
Sedang 4/8 Kenapa?

Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:

  • RuangSulitakuarium mulai 120 cm, ikan sepanjang 12 cm
  • AirMudahpH 5–7,5, 1–12 dGH
  • SuhuMudah20–28°C
  • PerilakuMudahdamai
  • KelompokSedangkelompok mulai 8 ekor

Tingkat kesulitan 4/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung

Sumber dan tingkat keandalan
Suhu
  • Seriously Fish
pH
  • Seriously Fish
Kesadahan (dGH)
  • Seriously Fish
Ukuran
  • Seriously Fish
Akuarium minimum
  • Seriously Fish
Tingkat kesulitan
  • Seriously Fish

Cara tabel memilih satu angka jika sumber-sumber berbeda

Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-10-31.

Info singkat

False spanner barb, Barbodes kuchingensis, adalah ikan cyprinid yang tampaknya endemik di Kalimantan bagian barat, mulai dari Sarawak sampai sistem Sungai Kapuas. Ikan ini terutama hidup di sungai hutan yang dangkal dan jernih, dan jarang diekspor. Sebaliknya, B. everetti yang belum dewasa dan beberapa populasi Striuntius lateristriga sering diperdagangkan dengan nama ini. B. kuchingensis sensu stricto punya deretan bintik gelap yang mencolok di sepanjang gurat sisi, plus garis pendek yang memanjang dari bagian atas tutup insang.

  • Pemijahan: Belum tercatat.1

Butuh akuarium seberapa besar?

Dibutuhkan ukuran alas minimal 120 × 45 cm atau yang setara (sekitar 243 liter).1

Kondisi air seperti apa?

  • Suhu: 20–28 °C
  • pH: 5,0–7,5
  • Kesadahan: 1–12 dGH1

Bagaimana cara merawatnya?

Tidak sulit dipelihara di akuarium yang dirawat dengan baik, tetapi disarankan untuk menata aquascape yang menyerupai sungai berarus, dengan dasar berupa batu-batu terkikis air berbagai ukuran, pasir, kerikil halus, dan mungkin beberapa bongkahan batu kecil.

Tata letak ini bisa dilengkapi dengan akar atau cabang kayu (driftwood). Kebanyakan tanaman air tidak akan tumbuh baik di kondisi seperti ini, tetapi jenis yang tangguh seperti Microsorum, Bolbitis, atau Anubias spp. bisa ditanam dengan diikatkan pada dekorasi.

Karena di alam ikan ini hidup di habitat yang relatif masih alami dan bersih, ia tidak tahan terhadap penumpukan polutan organik dan butuh air yang nyaris bersih sempurna agar bisa tumbuh baik.

Arus deras seperti jeram memang tidak perlu, tetapi ikan ini paling baik dipelihara dengan kadar oksigen terlarut yang tinggi dan arus sedang. Ganti air mingguan sebanyak 30–50% volume akuarium juga sebaiknya dijadikan rutinitas.1

Diberi pakan apa?

Di alam, ikan ini kemungkinan besar mencari makan dengan memakan diatom, alga, detritus organik, serangga kecil, cacing, krustasea, dan zooplankton lainnya.

Di akuarium ikan ini mudah diberi pakan, tetapi untuk kondisi dan warna terbaik, berikan secara rutin pakan hidup dan beku berukuran kecil seperti cacing darah, kutu air, dan artemia, ditambah pakan serpihan dan butiran kering berkualitas baik, yang sebagian di antaranya sebaiknya mengandung tambahan bahan nabati atau alga.1

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Spesies ini sangat cocok untuk akuarium komunitas damai berisi ikan-ikan sungai, termasuk cyprinid damai lain yang berukuran serupa, serta loach dari famili botiid, nemacheilid, atau hillstream loach (balitorid) yang tangguh.

Kalau asal geografis tidak jadi masalah, ikan ini sebenarnya bisa digabung dengan sebagian besar ikan damai yang ukurannya terlalu besar untuk dianggap mangsa dan cukup berani sehingga tidak terintimidasi oleh ukuran dan sifat aktifnya.

Seperti biasa, riset yang menyeluruh adalah cara terbaik untuk menghindari masalah saat memilih ikan yang cocok untuk satu komunitas.

Secara alami ikan ini suka hidup berkelompok, jadi idealnya dibeli 8–10 ekor.

Memeliharanya dalam jumlah yang cukup tidak hanya membuat ikan tidak mudah kaget, tetapi juga menghasilkan tampilan yang lebih menarik dan alami.

Selain itu, perilaku agresif biasanya akan tetap terkendali karena ikan-ikan sibuk mempertahankan posisi hierarki mereka di dalam kelompok.1

Bagaimana membedakan jantan dan betina?

Jantan dewasa memiliki pola warna yang lebih pekat daripada betina dan menunjukkan tuberkel (bintil) yang jelas di kepala saat siap memijah.

Betina dewasa cenderung tumbuh sedikit lebih besar, bertubuh lebih gemuk, dan warnanya kurang cerah.1

Sebaran alami

Hidup alami di: Malaysia, Indonesia1

Sungai, danau, wilayah: Kalimantan, Kapuas, Danau Sentarum1

Apa kata sumber
  • Malaysia, Indonesia, Kapuas, Danau Sentarum · Seriously Fish1: “Described from '18 miles east of Kuching, Sarawak state, Borneo, East Malaysia' and apparently endemic to western Borneo with a range extending into the Indonesian province of West Kalimantan (Kalimantan Barat) where it's known from the Kapuas River system, including the lake system of Danau Sentarum.”
  • Kalimantan · Seriously Fish1: “The false spanner barb, Barbodes kuchingensis, is a cyprinid apparently endemic to western Borneo, from Sarawak into the Kapuas system.”

GBIF punya 5 catatan di alam liar, semuanya di negara-negara di atas.

  • Catatan di negara asal
  • Negara asal
  • Tiap kotak sekitar 160 km.

Data: GBIF.org, 5 catatan, diambil 2026-11-06 · CC0, CC BY 4.0. Peta dasar: Natural Earth.

Di mana habitat aslinya?

Dideskripsikan dari '18 mil sebelah timur Kuching, negara bagian Sarawak, Borneo, Malaysia Timur' dan tampaknya endemik di Kalimantan bagian barat, dengan sebaran sampai ke Provinsi Kalimantan Barat. Di sana ikan ini dikenal dari sistem Sungai Kapuas, termasuk sistem danau Danau Sentarum.1

Habitat alami

Kebanyakan ditemukan di sungai hutan yang dangkal dengan air jernih, kadang juga di kolam-kolam yang terbentuk di kaki air terjun.

Dasarnya bisa berupa batu dan bongkahan batu halus yang terkikis air dengan berbagai ukuran, pasir, atau kerikil, sering disertai kayu yang terendam, serasah daun, dan tanaman air dari genus seperti Cryptocoryne atau Barclaya.

Kecepatan arus cenderung bervariasi, tergantung lokasi dan waktu dalam setahun.

Ikan ini juga pernah tercatat di rawa gambut purba dan sungai air hitam di sekitarnya, dengan air berwarna kecokelatan karena tanin, kandungan mineral yang sangat rendah, dan pH serendah 3,0 atau 4,0.

Spesies yang biasa hidup bersamanya antara lain Rasbora sarawakensis, Barbodes banksi, B. sealei, Hemirhamphodon pogonognathus, Betta taeniata, dan Nemacheilus saravacensis.1

Catatan

Spesies ini jarang diekspor untuk hobi akuarium, tetapi sesekali tersedia.

Namun, nama B. kuchingensis sering dipakai secara keliru: B. everetti yang belum dewasa dan beberapa populasi Striuntius lateristriga, yang bervariasi menurut wilayah, sering diperdagangkan dengan nama ini.

S. lateristriga dideskripsikan dari Jawa dan mungkin merupakan kompleks yang berisi beberapa spesies yang belum diberi nama.

Meski berkerabat dekat dan sekilas sangat mirip dengan S. lateristriga, B. kuchingensis sensu stricto bisa dibedakan dari adanya deretan bintik gelap yang mencolok di sepanjang gurat sisi, plus garis pendek mendatar yang memanjang dari bagian atas tutup insang. Pada S. lateristriga, tanda di sisi tubuh biasanya membentuk garis utuh dan tidak ada garis yang memanjang dari tutup insang.

Spesies ini dulunya dimasukkan ke genus Puntius, yang selama beberapa tahun dianggap sebagai kelompok "keranjang sampah" polifiletik berisi lebih dari 100 spesies cyprinid berukuran kecil hingga sedang, sampai Pethiyagoda et al. (2012) menerbitkan tinjauan parsial yang mencakup anggota dari Asia Selatan.

Sebagian besar spesies Puntius dari kawasan sub-Himalaya diklasifikasi ulang, dan genus baru Dawkinsia, Dravidia (kemudian diubah menjadi Haludaria), serta Pethia dibentuk untuk menampung sebagian di antaranya. Sisanya tetap di Puntius atau dipindahkan ke kelompok Systomus yang sudah ada, meskipun definisi Systomus diubah sehingga beberapa spesies Asia Tenggara yang sebelumnya dimasukkan ke sana tidak bisa lagi dianggap sebagai anggotanya.

Kottelat (2013) menerbitkan pembaruan tata nama yang menyeluruh untuk ikan-ikan Asia Tenggara, dan di dalamnya spesies ini termasuk salah satu dari sejumlah bekas anggota Puntius yang dipindahkan ke genus Barbodes. Anggota genus ini dibedakan dari genus kerabatnya berdasarkan aspek perkembangan dan pola warna berikut: anakan kecil memiliki 3–5 bintik di sepanjang deret sisik tengah sisi tubuh, termasuk satu di tengah pangkal sirip ekor, dan satu bintik tambahan di pangkal depan sirip punggung; seiring bertambahnya ukuran, bintik-bintik di deret tengah sisi tubuh bisa bertambah banyak dan bisa menyatu membentuk garis atau pita lebar, dan bintik di pangkal depan sirip punggung bisa menjadi bercak besar atau pita tegak yang lebar.

Selain itu, ciri-ciri berikut berguna untuk identifikasi Barbodes spp.: jari-jari sirip punggung tak bercabang yang terakhir bergerigi di bagian belakang; ada sungut rostral (kecuali pada B. aurotaeniatus); ada sungut maksila; bibir halus dan tipis, alur di belakang bibir terputus di bagian tengah; gurat sisi lengkap atau tidak, dengan 22–32 sisik pada deret gurat sisi di tubuh; ½4/1/4½ deret sisik antara pangkal depan sirip punggung dan garis tengah perut di depan pangkal sirip perut; 12 deret sisik di sekeliling batang ekor; 12–15 tapis insang pada lengkung insang pertama.1

Sumber

1 sumber dan pustaka
  1. Seriously Fish seriouslyfish.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.

Referensi

  • Kottelat, M. and E. Widjanarti (2005). The fishes of Danau Sentarum National Park and the Kapuas Lakes area, Kalimantan Barat, Indonesia. Raffles Bulletin of Zoology Supplement 13, 139-173
  • Herre, A. W. C. T. (1940). New species of fishes from the Malay Peninsula and Borneo. Bulletin of the Raffles Museum No. 16, 5-26
  • Tweedie, M. W. F. (1961). Notes on Malayan Fresh-water Fishes. 9. Regional differentiation in the colour pattern of Puntius lateristriga. Bulletin of the Raffles Museum No. 26, 178-182
  • Roberts, T. R. (1989). The freshwater fishes of western Borneo (Kalimantan Barat, Indonesia). Memoirs of the California Academy of Sciences 14, 1-210
  • Pethiyagoda, R., M. Meegaskumbura, and K. Maduwage (2012). A synopsis of the South Asian fishes referred to Puntius (Pisces: Cyprinidae). Ichthyological Exploration of Freshwaters 23(1), 69-95
  • Pethiyagoda, R. (2013). Haludaria, a replacement generic name for Dravidia (Teleostei: Cyprinidae). Zootaxa 3646(2), 199
  • Kottelat, M. (2013). The fishes of the inland waters of southeast Asia: a catalogue and core bibiography of the fishes known to occur in freshwaters, mangroves and estuaries. The Raffles Bulletin of Zoology Supplement 27, 1-6631