Perawatan · sekitar 7 menit baca

Planaria dan Hydra di Akuarium Udang: Cara Mengenali dan Membasminya

AquaTome merangkum dari 7 sumber lalu menulisnya sendiri

Ringkasan singkat

  • Planaria (cacing pipih) dan hydra (polip kecil bertentakel) adalah hama di akuarium udang. Keduanya mengincar anakan udang, dan planaria juga memangsa telur udang serta udang yang lemah atau baru ganti kulit.
  • Pastikan dulu jenis cacingnya lewat foto close-up yang jelas, lalu kurangi pakan dan ganti air sebagai langkah pertama. Kalau populasinya sudah banyak, baru gunakan obat (ekstrak pinang atau fenbendazole) dengan dosis tepat. Pindahkan siput sebelum mulai mengobati.

Apa itu planaria dan hydra, dan kenapa berbahaya

Planaria adalah cacing pipih yang hidup bebas, panjangnya sekitar 5–15 mm. Geraknya meluncur di permukaan kaca, batu, atau tanaman, dan kebanyakan aktif di malam hari. Planaria memakan telur udang dan anakan berukuran 1–3 mm, serta bisa menyerang udang yang lemah, sakit, atau baru ganti kulit. Selain itu, planaria juga bersaing dengan udang dalam memperebutkan pakan dan ruang.

Hydra adalah cnidaria air tawar, masih sekerabat dengan ubur-ubur, karang, dan anemon laut. Bentuknya berupa tangkai atau "kaki" dengan mulut yang dikelilingi tentakel bersel penyengat. Hydra bisa tumbuh lagi dari potongan tubuhnya dan berkembang biak dengan tunas maupun secara seksual lewat telur. Sengatannya terlalu lemah untuk membahayakan manusia.

Udang dewasa umumnya aman dari hydra. Anakan berukuran sekitar 2–3 mm lain cerita: cangkangnya masih lunak dan tubuhnya muat di mulut hydra, jadi mudah dimangsa. Sesekali udang dewasa yang tua atau sakit juga bisa tersengat. Seberapa parah dampaknya, sumber berbeda pendapat. Satu sumber menyebut serangan hydra bisa menurunkan tingkat hidup anakan secara drastis hanya dalam beberapa hari. Sumber lain, berdasarkan pengalaman, menilai hydra tidak terlalu banyak mengurangi populasi anakan ikan dan udang.

Cara mengenali: jangan langsung menganggap semua cacing putih itu planaria

Ciri planaria:

  • Tubuhnya pipih, tidak beruas, dan bergerak meluncur dengan mulus.
  • Kepalanya berbentuk panah atau segitiga dengan dua bintik mata gelap. Bentuk kepala saja belum cukup untuk memastikan, jadi gabungkan beberapa ciri dan ambil foto close-up yang jelas sebelum mengobati.
  • Warnanya bisa putih, putih kusam, atau cokelat kemerahan seperti karat. Pada dasarnya planaria berwarna putih, tetapi warnanya bisa berubah mengikuti pakan yang dimakannya. Jadi warna tidak bisa dijadikan patokan.
  • Tanda peringatan: udang betina sering terlihat bertelur, tetapi tidak pernah ada anakan yang bertahan hidup.

Yang mirip tetapi tidak berbahaya (tidak perlu diobati):

  • Cacing detritus: penampangnya bulat, tubuhnya beruas, dan geraknya menggeliat aktif. Cacing ini pengurai yang tidak berbahaya.
  • Rhabdocoela: cacing pipih yang sangat kecil dengan kepala dan ekor membulat. Tidak berbahaya bagi udang dan sering berkumpul di kaca saat lampu mati.

Ciri hydra:

  • Bentuknya seperti tangkai kecil transparan dengan tentakel, menempel di kaca, tanaman, hardscape, dan peralatan.
  • Ukurannya biasanya 5–15 mm. Satu sumber menyebut hingga sekitar 1 cm, sumber lain menyebut hydra dewasa bisa mencapai sekitar 3 cm dan tampak seperti batang dengan tentakel mirip ubur-ubur.
  • Warnanya putih transparan, hijau (bisa hijau limau), atau cokelat muda. Hydra hijau mendapat warnanya dari alga Chlorella yang hidup bersimbiosis di tubuhnya (disebut Hydra viridissima). Ada sumber lain yang menyebut dua jenis hydra yang umum di akuarium sebagai hydra hijau (H. vulgaris) dan hydra cokelat (H. oligactis).

Dari mana asalnya dan kenapa bisa meledak

  • Jalur masuk planaria: tanaman air, substrat, dan kayu yang terkontaminasi; pakan hidup seperti cacing sutra dan blackworm; serta jaring, selang sifon, atau air dari akuarium yang sudah terinfeksi. Tanaman, ikan, atau air dari toko yang sudah ada planarianya, juga substrat berkualitas buruk, bisa ikut membawanya. Kapsul telurnya hampir tidak terlihat di tanaman dan dekorasi.
  • Pemicu ledakan planaria: pemberian pakan berlebih adalah pendorong utamanya, terutama sisa pakan berprotein tinggi. Bahan organik yang menumpuk dan substrat yang jarang dirawat juga menguntungkan planaria. Pada suhu 28–32 °C, beberapa ekor planaria bisa menjadi ratusan dalam hitungan minggu.
  • Jalur masuk hydra: tanaman baru, kayu, dan air dari kantong ikan. Berbagi jaring atau peralatan antar-akuarium juga bisa menyebarkannya.
  • Pemicu ledakan hydra: pakan berlebih menyuburkan kopepoda, kutu air, dan cacing detritus yang menjadi makanan hydra. Pakan bubuk yang berlebihan juga menguntungkan hydra. Hydra bisa dorman berbulan-bulan, lalu tiba-tiba meledak ketika anakan artemia diberikan dalam jumlah banyak.

Langkah pertama

  • Kurangi pakan dan rutin ganti air. Cara ini aman bagi udang dan selalu jadi langkah awal melawan planaria, tetapi tidak cukup kalau populasinya sudah mapan.
  • Beberapa ekor hydra bukan keadaan darurat, tetapi jumlahnya perlu ditekan.
  • Pastikan identifikasinya dulu (lihat bagian di atas) sebelum memakai obat apa pun.

Pilihan pengobatan

Penting soal siput: aman untuk udang tidak berarti aman untuk siput. Obat hydra umumnya merugikan siput karena secara biologis siput mirip dengan hydra. Seorang pemelihara kehilangan siput Malaysian trumpet setelah memakai fenbendazole, siput ramshorn-nya terus mati selama berbulan-bulan, dan butuh sekitar satu tahun sampai akuariumnya aman lagi untuk siput.

1. Ekstrak pinang (areca/betel nut)

  • Dosis: 1 sendok takar (yang disertakan) per 50 L, atau ikuti petunjuk label produk dengan tepat. Aman untuk udang pada dosis anjuran.
  • Soal siput, sumber berbeda pendapat. Satu sumber menyebut siput umumnya aman dan menyarankan mulai dari setengah dosis kalau ada siput berharga. Sumber lain menyebut siput sangat sensitif terhadap produk ini, jadi siput nerite, ramshorn, dan Malaysian trumpet sebaiknya dipindahkan dulu. Sumber ketiga juga menyarankan memindahkan siput terlebih dahulu.
  • Sebagian pemelihara Caridina melihat udangnya sedikit stres. Untuk crystal red dan Taiwan bee, ada saran memakai dosis 20% lebih rendah.

2. Fenbendazole

Fenbendazole sebenarnya obat cacing untuk hewan darat yang dipakai di luar label (off-label). Label obat cacing anjing tidak menetapkan dosis untuk akuarium maupun keamanannya bagi udang dan siput, sehingga ada sumber yang menyarankan berkonsultasi dengan dokter hewan akuatik. Dosis yang beredar berbeda-beda:

TujuanDosis menurut sumberCatatan
Planaria0,1 g fenbendazole murni per 100 L, atau sekitar 0,45 g granul fenbendazole 22,2% per 100 LLarutkan dulu di air hangat bebas klorin. Mematikan siput.
Hydra0,1 g per 40 L, dilarutkan di air hangatHydra mati dalam 48–72 jam. Aman untuk udang pada dosis yang tepat.
HydraCairan fenbendazole 10% (100 mg/ml): 1 tetes per galon, kocok duluBekerja dalam 24 jam. Menurut pengalaman sumber ini aman untuk siput, udang, ikan, tanaman, dan bakteri baik, tetapi ini bersifat anekdot.
HydraSetengah tetes cairan fenbendazole per galonDisebut sudah cukup. Konsentrasi tinggi bisa membunuh ikan, jadi lebih baik pilih dosis rendah.

Setelah dosis fenbendazole, tunggu minimal 3 hari dan lakukan ganti air 50% sebelum mengulang dosis. Untuk hydra, satu sumber menyarankan ganti air 50% setelah 72 jam, memasang kembali karbon, menyedot hydra yang mati, lalu mengulang dosis seminggu kemudian untuk membasmi yang masih hidup.

3. Cara tanpa obat dan bantuan hewan

  • Perangkap planaria: masukkan daging mentah, udang, atau ikan ke wadah kecil, tutup dengan kasa halus yang diberi lubang di tengah. Pasang semalaman, angkat pagi harinya. Perangkap bisa mengurangi jumlah planaria, tetapi tidak bisa membasmi tuntas karena telur dan planaria yang tinggal di bawah substrat tidak ikut terjebak.
  • Garam bukan pilihan untuk mengobati planaria di akuarium udang.
  • Membuat hydra kelaparan: kurangi pakan dengan memberi pakan secara terarah, memakai wadah pakan, rutin ganti air, dan menyedot substrat. Dengan cara ini sebagian besar hydra akan mati. Hydra hijau lebih sulit dibuat kelaparan karena mendapat makanan dari alganya.
  • Menyedot hydra secara manual dengan suntikan dan selang aerator. Kalau hanya sebagian yang tersedot, hydra bisa tumbuh lagi dalam beberapa hari.
  • Pemangsa: loach dan buntal memakan planaria, tetapi tidak cocok untuk akuarium udang. Honey gourami dan sparkling gourami memakan hydra dalam beberapa hari, tetapi sparkling gourami juga memangsa anakan udang. Siput physa kadang memakan hydra, tetapi hasilnya tidak konsisten, jadi anggap saja sebagai pelengkap. Satu sumber menyebut siput ramshorn, siput pond, dan siput spixi memakan hydra dan terlalu lambat untuk menangkap burayak atau udang. Siput spixi memang memakan hydra, tetapi tidak cepat membersihkannya.

Urutan langkah protokol planaria

  1. Hari 0: ganti air 20%, keluarkan karbon aktif dan media kimia, hitung volume air yang sebenarnya, pindahkan siput (kalau memakai fenbendazole), matikan UV, beri dosis, dan tambah sedikit gerakan di permukaan air.
  2. Hari 1–2: planaria yang mati terlihat sebagai cacing putih yang meringkuk. Udang mungkin kurang aktif, tetapi harus tetap bergerak dan mau makan. Kalau udang terlihat sangat stres, segera ganti air 50%.
  3. Hari 3: beri dosis kedua dengan konsentrasi yang sama.
  4. Hari 5–6: dosis ketiga bersifat opsional, tetapi dianjurkan untuk serangan berat.
  5. Hari 7: ganti air 50% dengan suhu dan TDS yang disamakan, sedot cacing yang mati, pasang kembali karbon, dan nyalakan lagi UV.

Pemeriksaan setelah pengobatan

  • Planaria: tes amonia dan nitrit setiap hari selama seminggu. Telur planaria bisa butuh waktu sampai dua minggu untuk menetas, jadi periksa setiap malam dengan senter. Pengobatan dianggap berhasil kalau tidak terlihat planaria selama dua minggu berturut-turut, mulai dihitung dari minggu ke-4.
  • Hydra: gunakan karbon atau resin penyerap (seperti Purigen) untuk membuang sisa obat. Tes amonia, nitrit, dan TDS selama seminggu, dan tunggu minimal dua minggu sebelum memasukkan hewan baru.

Kesalahan yang sering terjadi

  • Menganggap setiap cacing putih kecil itu planaria dan mengobati sebelum identifikasinya pasti.
  • Membiarkan karbon tetap di filter saat memberi dosis, sehingga obat kurang efektif.
  • Menghitung dosis tanpa mengurangi volume yang terpakai oleh substrat, hardscape, dan peralatan. Contohnya, memberi dosis untuk 40 L padahal air sebenarnya hanya 30 L berarti overdosis sekitar 30%.
  • Berhenti setelah satu atau dua dosis, sehingga telur yang selamat menetas belakangan.
  • Memakai jadwal dosis dari merek lain atau panduan lama, atau mengonversi dosis untuk anjing menjadi dosis akuarium.
  • Membiarkan cacing mati tetap di akuarium setelah pengobatan, sehingga berisiko terjadi lonjakan amonia.
  • Mengerik hydra dengan tangan. Potongan yang patah bisa tumbuh lagi.
  • Memakai siput hidup untuk menguji apakah sisa obat sudah hilang.

Mitos yang perlu diluruskan

  • Siput ramshorn belum terbukti bisa mengobati atau mencegah planaria.
  • Pakan beku tidak menjamin hama air tidak ikut masuk.
  • Celup singkat, menunggu waktu tertentu, atau air yang terlihat jernih tidak membuktikan telur sudah habis atau akuarium sudah aman untuk siput.

Pencegahan

  • Karantina tanaman baru selama 1–2 minggu dan periksa dengan teliti, atau gunakan tanaman kultur jaringan.
  • Celup tanaman baru dalam larutan tawas (kalium alum) 1 sendok makan per liter selama 2–3 jam, lalu bilas sampai bersih.
  • Beri pakan secukupnya, hanya sebanyak yang habis dimakan udang dalam dua jam, dan segera angkat sisanya.
  • Pilih pakan padat seperti pelet atau wafer alga daripada pakan bubuk, dan gunakan wadah pakan.
  • Rebus dan sikat hardscape baru, dan jangan berbagi jaring atau peralatan antar-akuarium.
  • Ambil pakan hidup dari kultur yang terawat, dan jangan ikut memasukkan air kultur atau kotorannya.
  • Perlu diingat, tidak ada masa karantina atau celup peroksida yang dijamin membuang semua cacing atau kapsul telur.

Pertanyaan umum

Bagaimana membedakan planaria dengan cacing detritus?

Planaria bertubuh pipih, tidak beruas, dan bergerak meluncur mulus. Kepalanya berbentuk segitiga dengan dua bintik mata gelap. Cacing detritus penampangnya bulat, beruas, dan geraknya menggeliat. Cacing detritus tidak berbahaya. Bentuk kepala atau warna saja tidak cukup untuk memastikan, jadi ambil foto close-up yang jelas sebelum mengobati.

Apakah hydra berbahaya untuk udang dewasa?

Udang dewasa umumnya aman. Yang paling rentan adalah anakan sekitar 2–3 mm karena cangkangnya masih lunak dan tubuhnya muat di mulut hydra. Udang tua atau sakit sesekali bisa tersengat. Hydra tidak berbahaya bagi manusia.

Apakah obat planaria aman untuk siput?

Belum tentu. Fenbendazole mematikan siput, dan efeknya bisa bertahan lama: ada pemelihara yang butuh sekitar satu tahun sampai akuariumnya aman lagi untuk siput. Untuk ekstrak pinang, pendapat sumber berbeda. Ada yang menyebut siput umumnya aman (mulai dari setengah dosis kalau ada siput berharga), ada juga yang menyebut siput sangat sensitif. Pilihan paling aman adalah memindahkan siput sebelum mengobati.

Apakah garam bisa dipakai untuk membasmi planaria?

Tidak. Garam bukan pilihan yang layak untuk mengobati planaria di akuarium udang.

Kenapa planaria muncul lagi setelah diobati?

Biasanya karena pengobatan berhenti setelah satu atau dua dosis, sehingga telur yang selamat menetas belakangan. Telur bisa butuh waktu sampai dua minggu untuk menetas. Ikuti protokol sampai hari ke-7, periksa setiap malam dengan senter, dan anggap berhasil kalau tidak terlihat planaria selama dua minggu berturut-turut mulai minggu ke-4.

Sumber referensi

  1. How to Treat Planaria in a Shrimp Tank Safely (Gensou, Singapore)
  2. Eliminating Planaria in Your Aquarium: A Comprehensive Guide (Superior Shrimp & Aquatics)
  3. How to Deal With Hydra in a Shrimp Tank: Safe Removal (Gensou)
  4. How to Get Rid of Hydra in Your Aquarium (Aquarium Co-Op)
  5. Hydra in shrimp tank (ShrimpScience)
  6. Using Fenbendazole to Control Hydra (PVAS)
  7. Tìm hiểu về sán trong bể nuôi tép cảnh (tepcanh.com) (bahasa Vietnam)