Cyprinodontidae, Mesir
Arabian Toothcarp
Aphanius dispar
Butuh air payau: air tawar yang dicampur garam laut.
Nama lain: Arabian killifish, Arabian pupfish, Killifish Arab
- Suhu
- 4–30°C
- pH
- 7,5–9
- Akuarium minimum
- 120 cm
- Tingkat kesulitan
- Sedang
Tabel data
Lihat tabel lengkap
- Suhu
- 4–30°C
- pH
- 7,5–9
- Kesadahan (dGH)
- 15–35
- Ukuran
- 8 cm
- Akuarium minimum
- 120 cm
- Tingkat kesulitan
Sedang 4/8 Kenapa?
Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:
- RuangSulitakuarium mulai 120 cm, ikan sepanjang 8 cm
- AirSedangair basa, air sangat keras · pH 7,5–9, 15–35 dGH
- SuhuMudah4–30°C
- PerilakuSedangagak agresif
- KelompokMudahkelompok mulai 3 ekor
Tingkat kesulitan 4/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung
Sumber dan tingkat keandalan
- Suhu
- Seriously Fish
- pH
- Seriously Fish
- Kesadahan (dGH)
- Seriously Fish
- Ukuran
- Seriously Fish
- Akuarium minimum
- Seriously Fish
- Tingkat kesulitan
- Seriously Fish
Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-10-29.
Info singkat
Arabian toothcarp, Aphaniops dispar, ditemukan di sekitar pesisir Laut Merah dan Teluk Aden. Ada juga populasi di daratan, dan ikan ini tahan di kondisi apa pun, dari air tawar murni sampai air hipersalin (jauh lebih asin dari air laut). Sebuah studi filogenetik tahun 2003 menemukan bahwa spesies ini parafiletik. Sejak itu beberapa populasi yang dulu dimasukkan ke dalamnya sudah dideskripsikan sebagai spesies tersendiri, jadi tiap bentuk diberi label berdasarkan lokasi asalnya, misalnya 'Lake Assal'.1
Butuh akuarium seberapa besar?
Sepasang atau tiga ekor bisa dipelihara di wadah dengan ukuran dasar sekitar 60 × 30 cm. Namun, sebagai aturan umum, anggota genus ini lebih baik dipelihara dalam kelompok yang lebih besar di wadah berukuran mulai 120 × 30 cm.
Volume: sekitar 108 liter.1
Kondisi air seperti apa?
Suhu: Umumnya aktif di rentang suhu yang luas, 4–30 °C, tetapi beberapa populasi tidak akan baik kondisinya di bawah 15 °C. Studi menunjukkan bahwa spesies ini mampu bertahan pada suhu di atas 40 °C.
pH: 7,5–9,0. Kemungkinan tidak akan bertahan hidup di kondisi asam.
Kesadahan: 15–35 dGH1
Bagaimana cara merawatnya?
Bahkan untuk pemeliharaan jangka panjang, setup sederhana sudah cukup. Hal terpenting adalah menyediakan banyak tempat berlindung dan media yang cocok untuk menaruh telur. Ikan ini pemalu, dan betina serta jantan yang kalah dominan harus diberi kesempatan untuk menghindar dari jantan alfa yang agresif selama musim pemijahan. Karena itu, sebagian besar ruang yang ada bisa diisi rumpun Java moss atau tanaman air berdaun halus lainnya, dan idealnya juga alga berfilamen.
Jenis substrat sangat menentukan kalau ikan ini ingin dipijahkan, karena spesies ini sangat suka memijah di dasar akuarium (lihat bagian 'Pemijahan'). Menambahkan beberapa batu yang berlapis alga mungkin pilihan terbaik, karena di alam ikan ini diketahui menaruh telurnya di permukaan seperti itu. Alternatifnya, gunakan kerikil berukuran besar, atau biarkan saja dasar akuarium kosong dan biarkan lapisan detritus organik terbentuk dengan cara hanya menyedot air dari bagian atas akuarium saat ganti air. Filter tidak perlu terlalu kuat.
Di banyak negara, ikan ini bisa, dan lebih baik, dipelihara di luar ruangan sepanjang tahun. Warnanya dan kondisi tubuhnya secara keseluruhan akan lebih bagus kalau terkena sinar matahari alami setidaknya beberapa jam setiap hari. Usahakan cari tahu asal-usul ikan yang dimiliki, karena beberapa populasi paling cocok di air tawar. Namun kalau ragu, disarankan menambahkan garam laut dengan takaran 1–3 g/L, karena sebagian besar populasi membutuhkannya. Ikan dari lokasi hipersalin kemungkinan memerlukan konsentrasi di atas 20 g/L agar bisa memijah.1
Diberi pakan apa?
Omnivora, meski kecenderungan herbivoranya jauh lebih kuat dibanding sebagian besar kerabat segenusnya, dengan porsi besar makanan alaminya berupa alga dan bahan tumbuhan lainnya. Kalau di akuarium atau wadah tidak ada alga berfilamen, usahakan memasukkan pakan kering berkualitas baik yang mengandung Spirulina ke dalam menunya. Ikan ini juga sebaiknya rutin diberi pakan hidup atau beku berukuran kecil seperti artemia, kutu air, atau cacing darah. Hal ini terutama penting di bulan-bulan musim semi dan panas, saat ikan sedang giat-giatnya bereproduksi.1
Bisa dicampur dengan ikan apa?
Kebutuhan airnya yang khusus membuat A. dispar kurang cocok untuk akuarium komunitas. Mengingat ikan ini jarang ada di kalangan hobi, fokusnya juga sebaiknya pada pembiakan di penangkaran, dan sangat disarankan untuk memeliharanya tersendiri. Ikan ini sebaiknya dipelihara berkelompok, idealnya dengan perbandingan dua atau tiga betina untuk setiap jantan.1
Teman satu akuarium
- Perilaku
- Agak agresif
- Kelompok minimal
- 3 ekor
Hindari
Saran berdasarkan suhu, pH, ukuran, dan sifat tiap spesies. Cek kecocokan dengan spesies lain →
Bagaimana membedakan jantan dan betina?
Seperti semua anggota genusnya, perbedaan jantan dan betina sangat jelas, tetapi pada spesies ini polanya berbeda-beda tergantung asal ikannya. Sisi tubuh jantan memiliki deretan bintik tidak beraturan (biasanya keperakan). Pada beberapa bentuk, bintik ini makin besar dan/atau berubah menjadi garis vertikal tegas di bagian belakang tubuh, sementara pada bentuk lain bintiknya tetap ada di seluruh tubuh. Ciri yang sama pada semua varian adalah adanya 2–3 garis gelap di sirip ekor serta sirip punggung dan sirip dubur yang memanjang secara mencolok. Betina lebih besar dan jauh lebih polos, hanya punya deretan bercak atau garis gelap yang bervariasi di sisi tubuh dan sirip yang sepenuhnya bening.1
Bagaimana cara berkembang biaknya?
Pembiakan di penangkaran tidak sulit kalau akuarium atau wadahnya ditata dan dirawat dengan benar (lihat bagian 'setup akuarium'). Berbeda dengan Aphanius lainnya, A. dispar cenderung menaruh telurnya di substrat, jadi tidak perlu menambahkan spawning mop, meski alga berfilamen bisa membantu. Ikan ini memijah secara bertahap: betina menaruh telur kurang lebih terus-menerus antara bulan April dan September, meski beberapa bentuk dari Arab Saudi dan Iran diduga memijah sepanjang tahun.
Jantan membentuk teritori sementara yang mereka pertahankan dari saingan sambil berusaha memikat betina untuk memijah. Individu yang dominan akan menunjukkan warna yang lebih pekat. Telur dikeluarkan satu per satu atau dalam kelompok kecil dan biasanya dimakan oleh induknya kalau ketemu, jadi dasar akuarium sebaiknya diperiksa setiap hari selama masa pemijahan.
Telurnya sangat kecil dan harus ditangani dengan hati-hati. Gunakan pinset halus untuk mengambilnya perlahan tanpa menyentuh telurnya secara langsung. Alternatifnya, induk bisa dipindahkan saja setelah memijah dan burayak dibesarkan di akuarium pemijahan. Kalau telur dipindahkan, taruh di wadah berisi air dengan kimia air dan suhu yang sama dengan air induknya. Masa inkubasi bisa sedikit berbeda tergantung suhu, tetapi biasanya 10–14 hari. Burayak sudah cukup besar untuk menerima naupli artemia, microworm, dan sebagainya begitu terlihat berenang bebas.1
Sebaran alami
Hidup alami di: Mesir, Sudan, Eritrea, Djibouti, Arab Saudi, Somalia, Yaman1
Sungai, danau, wilayah: Sokotra, Danau Assal, Afar Depression1
Apa kata sumber
- Mesir, Sudan, Eritrea, Djibouti, Arab Saudi, Somalia, Yaman, Sokotra · Seriously Fish1: “Found around the coastlines of the Red Sea (Egypt, Sudan, Eritrea, Djibouti and western Saudi Arabia) and the Gulf of Aden (Somalia and Yemen, including Socotra).”
- Danau Assal, Afar Depression · Seriously Fish1: “Inland populations can be found in Egypt (oases of Siwa and Al-Faiyum), Saudi Arabia (oases of Al-Hasa and Al-Kharj) and the salt lakes of the Afar Depression in Djibouti, including Lake Assal.”
GBIF punya 405 catatan di alam liar: 111 di negara-negara di atas, 294 di tempat lain (terbanyak: Oman 81, Israel 75, Iran 50, Uni Emirat Arab 39, India 22). Catatan di tempat lain bisa jadi ikan yang dilepas orang, atau salah identifikasi.
- Catatan di negara asal
- Kotak berisi keduanya
- Catatan di tempat lain
- Negara asal
- Tiap kotak sekitar 160 km.
Data: GBIF.org, 405 catatan, diambil 2026-11-06 · CC0, CC BY 4.0. Peta dasar: Natural Earth.
Di mana habitat aslinya?
Ditemukan di sekitar garis pantai Laut Merah (Mesir, Sudan, Eritrea, Djibouti, dan Arab Saudi bagian barat) dan Teluk Aden (Somalia dan Yaman, termasuk Sokotra). Ikan ini sudah masuk ke Laut Tengah bagian timur lewat Terusan Suez dan kini menetap di pesisir Israel.
Populasi daratan bisa ditemukan di Mesir (oasis Siwa dan Al-Faiyum), Arab Saudi (oasis Al-Hasa dan Al-Kharj), serta danau-danau garam di Depresi Afar di Djibouti, termasuk Danau Assal. Ikan dari Teluk Persia, Teluk Oman, pesisir Pakistan dan India bagian barat, serta daratan Iran dan Irak (termasuk Fallujah) lama dimasukkan ke spesies ini, tetapi sekarang tergolong Aphaniops stoliczkanus (Freyhof et al., 2017). Populasi dari mata air sekitar Laut Mati di Israel dan Yordania adalah A. richardsoni, sedangkan ikan dari Danau Afrera di Etiopia adalah A. stiassnyae.
Sudah lama diragukan bahwa semua populasi ini merupakan satu spesies yang sama. Warna dan pola ikan ini juga berbeda-beda tergantung lokasinya. Beberapa populasi sudah dideskripsikan sebagai spesies tersendiri, dan kemungkinan besar yang lain akan menyusul di masa depan. Karena itu, penting bagi akuaris maupun ilmuwan untuk memberi label data koleksi pada tiap bentuk, misalnya 'Lake Assal', supaya garis keturunannya terjaga dan identitasnya tetap akurat.1
Habitat alami
Ditemukan di banyak tipe habitat, meski kebanyakan menghuni perairan pesisir yang dangkal seperti laguna dan aliran sungai orde pertama yang ditumbuhi lebat oleh vegetasi terendam atau alga berfilamen. Ikan ini sangat mudah beradaptasi dan tahan terhadap rentang salinitas yang luas, dari air tawar murni sampai kondisi hipersalin. Contohnya, di Uni Emirat Arab ikan ini diintroduksi ke perairan tawar, termasuk saluran buangan pertanian, kolam galian buldoser, bak air, dan tandon, sebagai pengendali nyamuk, dan terbukti tumbuh subur di semua lingkungan itu. Sementara itu, di Danau Afera salinitasnya pernah terukur sampai 160 g/L!
Sayangnya, di sebagian wilayah sebarannya ikan ini kalah bersaing dengan Gambusia affinis dan spesies introduksi lainnya, sedangkan di wilayah lain kerusakan habitat dan pencemaran terus berdampak. Beberapa populasi kemungkinan sudah punah, dan studi menunjukkan kondisinya kemungkinan besar hanya akan makin buruk ke depannya.1
Catatan
A. dispar sebaiknya hanya dianggap sebagai spesies nominal, seperti yang ditunjukkan oleh Hrbek dan Meyer (2003) dalam studi filogenetik mendalam yang mencakup sebagian besar genus ini. Ditemukan bahwa A. dispar merupakan kelompok parafiletik, artinya tidak bisa dianggap sebagai satu spesies menurut konsep spesies filogenetik. A. mento, A. sirhani, dan terutama A. ginaonis dan A. richardsoni ditemukan sebagai kerabat terdekatnya yang masih ada.
Hoedeman (1951) mengusulkan agar spesies ini dipindahkan ke genus tersendiri dengan nama Aphaniops, karena ciri morfologinya yang unik, seperti adanya 8–9 jari-jari sirip punggung (dibanding 10–14 pada Aphanius lainnya) dan 7–8 jari-jari sirip perut (dibanding 5–7). Kini Aphaniops diakui sebagai genus yang valid.
Ikan ini kecil kemungkinannya dijual di toko ikan hias, meski sesekali mungkin tersedia lewat breeder khusus atau perkumpulan. Meski killifish ini jelas tidak seberwarna sebagian kerabatnya, perilakunya yang menarik dan geraknya yang terus aktif membuatnya jadi penghuni akuarium yang memikat dan layak dicoba, asalkan punya komitmen untuk menjalani proyek pemeliharaan jangka panjang, karena konservasi adalah kunci bagi semua anggota genus ini.
Killifish Aphaniidae diduga berasal dari satu nenek moyang yang awalnya tersebar di sekitar tepian bekas Laut Tethys. Tidak ada yang terdokumentasi dengan baik dalam literatur akuarium, meski beberapa di antaranya sangat indah dan sebagian besar tidak terlalu sulit dipelihara maupun dipijahkan. Sayangnya, kebanyakan berada di ambang kepunahan karena berbagai alasan, dan beberapa hanya tersisa dalam populasi sisa yang sangat terlokalisasi.
Hampir dalam semua kasus, akar penyebab penurunan ini adalah aktivitas manusia. Meski beberapa spesies kini dilindungi undang-undang konservasi, salah kelola dan kerusakan habitatnya terus berlanjut dengan laju yang mengkhawatirkan. Anehnya, beberapa spesies masih dicantumkan sebagai spesies Lebias oleh sebagian sumber, padahal nama itu sudah lama dianggap sinonim Cyprinodon oleh sebagian besar otoritas, dan sebuah komite ICZN baru pada tahun 2003 memutuskan untuk menekan nama tersebut dan mendahulukan Aphanius.1
Sumber
1 sumber dan pustaka
- Seriously Fish seriouslyfish.com
Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.
Referensi
- Hrbek, T. and A. Meyer (2003). Closing of the Tethys Sea and the phylogeny of Eurasian killifishes (Cyprinodontiformes: Cyprinodontidae). Journal of Evolutionary Biology 16(1), 17-36
- Al-Kahem-Al-Balawi, H. F., K.A. Al-Ghanim, Z. Ahmad, T.A. Temraz, A.S. Al-Akel, F. Al-Misned and H. Annazri (2008). A Threatened Fish Species (Aphanius dispar) in Saudi Arabia, A Case Study. Pakistan Journal of Biological Sciences 11(19), 2300-2307.
- Campo, J.P. (2005). Aphanius dispar dispar (Rüppel 1829). SEI/GEVA Ficha.1
Foto pembaca
Belum ada foto. Anda memelihara Arabian Toothcarp? Kirim fotonya agar semua bisa ikut melihat.

Diskusi
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman.
Pemeriksaan antispam gagal dimuat sehingga komentar belum terkirim. Coba muat ulang halaman.
Sesuai ketentuan, komentar memerlukan verifikasi pengguna; fitur ini akan segera tersedia.