Badidae, India
Badis assamensis
Badis assamensis
Nama lain: Assam badis, Badis assam
- Suhu
- 15–25°C
- pH
- 6–7,5
- Akuarium minimum
- 75 cm
- Tingkat kesulitan
- Mudah
Tabel data
Lihat tabel lengkap
- Suhu
- 15–25°C
- pH
- 6–7,5
- Kesadahan (dGH)
- 3–10
- Ukuran
- 7,5 cm
- Akuarium minimum
- 75 cm
- Tingkat kesulitan
Mudah 2/8 Kenapa?
Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:
- RuangSedangakuarium mulai 75 cm, ikan sepanjang 7,5 cm
- AirMudahpH 6–7,5, 3–10 dGH
- SuhuSedangair sejuk · 15–25°C
- PerilakuSedangagak agresif
Tingkat kesulitan 2/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung
Sumber dan tingkat keandalan
- Suhu
- Seriously Fish
- pH
- Seriously Fish
- Kesadahan (dGH)
- Seriously Fish
- Ukuran
- Seriously Fish
- Akuarium minimum
- Seriously Fish
- Tingkat kesulitan
- Seriously Fish
Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-10-31.
Info singkat
Badis assamensis adalah ikan badid dari daerah aliran Sungai Brahmaputra di negara bagian Assam, India timur laut, dan merupakan spesies terbesar dalam genusnya. Seperti kebanyakan badid, ikan ini masih minim dokumentasinya. Pola tubuhnya hampir sama persis dengan B. blosyrus, tetapi ukurannya sedikit lebih besar, mencapai 65–75 mm, dan profil rahangnya jelas lebih pendek. Neotipenya dikoleksi dari sebuah sungai kecil berarus lambat di hutan, di daerah aliran Sungai Dibru. Ikan ini lamban dan pemalu, sehingga bisa kalah bersaing soal pakan dengan teman satu akuarium yang lebih agresif.1
Butuh akuarium seberapa besar?
Satu pasang atau kelompok kecil bisa dipelihara di akuarium dengan ukuran dasar 75 × 30 cm atau lebih. Volumenya sekitar 68 liter.1
Kondisi air seperti apa?
Suhu: Di alam, spesies ini mengalami naik-turun suhu musiman dan nyaman di kisaran 15–25 °C, bahkan masih tahan terhadap suhu yang lebih ekstrem untuk waktu singkat. Karena itu, di banyak negara/rumah yang terinsulasi baik, ikan ini bisa dipelihara tanpa pemanas sepanjang tahun. Namun, suhu di batas atas kisaran ini diketahui memicu aktivitas memijah, jadi pemanas diperlukan bila ingin memijahkan ikan di luar musim semi dan musim panas. Atur di sekitar 20–24 °C untuk pemeliharaan jangka panjang dan pemijahan.
pH: Paling baik di air sedikit asam hingga netral dengan nilai 6,0–7,5.
Kesadahan: 3–10 dGH1

Bagaimana cara merawatnya?
B. assamensis akan tumbuh baik di akuarium yang tertata dengan dasar pasir atau kerikil, ditambah banyak batu dan kerikil sungai yang membulat sebagai tempat berlindung. Tanaman air yang bisa ditempelkan pada dekorasi, seperti Microsorum, Taxiphyllum, atau Anubias, boleh ditambahkan bila mau, tetapi tidak wajib. Ranting dan cabang kayu apung, tanaman apung, serta serasah daun juga bisa dipakai agar tampilannya lebih alami, sementara filter dan pencahayaan tidak perlu terlalu kuat. Sediakan beberapa struktur mirip gua sebagai calon tempat memijah; banyak peternak memakai batok kelapa yang dibelah dua atau pot tanah liat terbalik yang dilubangi atau sebagian bibirnya dipotong supaya ikan bisa masuk.1
Diberi pakan apa?
Spesies Badis adalah mikropredator yang memangsa krustasea air kecil, cacing, larva serangga, dan zooplankton lainnya. Di akuarium mereka bisa agak pilih-pilih dan mungkin tidak mau menerima pakan kering, walaupun dalam beberapa kasus lama-lama mau belajar memakannya. Bagaimanapun, mereka sebaiknya selalu diberi pakan hidup atau beku berukuran kecil secara rutin, seperti artemia, kutu air, atau glassworm, agar warna dan kondisinya optimal. Mereka agak pemalu dan makan dengan pelan (lihat 'kecocokan'), dan perlu diperhatikan juga bahwa semua spesies cenderung mengalami obesitas dan lebih rentan penyakit bila diberi larva chironomid (cacing darah) dan/atau cacing sutra, jadi keduanya sebaiknya tidak diberikan.1
Bisa dicampur dengan ikan apa?
Bisa dipelihara di akuarium komunitas asalkan teman satu akuariumnya dipilih dengan hati-hati. Ikan ini lamban dan pemalu, sehingga bisa terintimidasi atau kalah bersaing soal pakan oleh ikan yang lebih besar/lebih agresif, sementara ikan yang sangat kecil bisa dimangsa. Ikan cyprinid yang damai dan bergerombol merupakan pilihan yang baik, begitu pula kebanyakan gurami, karena ikan-ikan ini cenderung menghuni bagian atas akuarium. Memeliharanya dalam komunitas bergaya biotop berisi ikan-ikan Assam lebih sulit, meskipun spesies yang cocok dari kawasan tersebut antara lain Pethia gelius, Chanda ranga, Trichogaster lalius, dan T. chuna. Jelas jangan dicampur dengan ikan penghuni dasar teritorial yang mirip penampilannya seperti cichlid kerdil, kecuali akuariumnya sangat besar, dan jangan pernah menyatukannya dengan spesies Badis lain karena bisa terjadi hibridisasi. Perlu dicatat juga bahwa udang air tawar dari genus populer Caridina dan Neocaridina, apalagi anakannya, bisa dimangsa.
Ikan ini tidak suka bergerombol dan jantan-jantan saingan bisa sangat agresif satu sama lain, terutama di akuarium yang lebih kecil. Dalam kondisi ini sebaiknya hanya membeli satu pasang atau satu jantan dengan beberapa betina, tetapi di akuarium yang lebih lega satu kelompok bisa hidup berdampingan asalkan tiap jantan punya ruang untuk membentuk teritori dan ada banyak penghalang pandangan. Penempatan gua yang cerdik sangat membantu dalam hal ini; misalnya, jangan tergoda mengumpulkan semua tempat memijah di satu area akuarium.1
Teman satu akuarium
- Perilaku
- Agak agresif
Hindari
Saran berdasarkan suhu, pH, ukuran, dan sifat tiap spesies. Cek kecocokan dengan spesies lain →

Bagaimana membedakan jantan dan betina?
Betina lebih kecil, polanya lebih kusam, dan profil tubuhnya jelas lebih pendek dan tampak lebih bulat dibanding jantan. Jantan juga mengembangkan sirip yang sedikit lebih panjang seiring bertambah dewasa.1
Bagaimana cara berkembang biaknya?
Anggota genus ini adalah pemijah gua yang membentuk ikatan pasangan sementara dan biasanya tidak terlalu sulit dipijahkan asalkan akuariumnya ditata dengan benar (lihat 'penataan akuarium'). Spesies lain sebaiknya tidak disertakan bila ingin membesarkan burayak dalam jumlah banyak, walaupun di akuarium komunitas yang sudah matang dan tertata lengkap beberapa ekor mungkin bisa bertahan sampai dewasa. Bisa memakai satu pasang atau satu kelompok indukan, tetapi bila memakai beberapa jantan, pastikan masing-masing punya gua untuk dipertahankan. Parameter air sebaiknya berada dalam kisaran yang disarankan di atas. Beri ikan banyak pakan hidup dan beku, dan pemijahan seharusnya tidak terlalu bermasalah.
Saat memasuki kondisi siap memijah, jantan-jantan saingan akan makin sering berkelahi dan mulai menunjukkan perilaku merayu terhadap betina yang memasuki teritori pilihannya. Selama proses ini mereka menampilkan perubahan pola yang indah dengan warna tubuh yang makin pekat. Saling mengunci mulut juga umum terjadi; jantan benar-benar berusaha menarik pasangannya masuk ke gua. Betina yang siap akan masuk dan pemijahan terjadi, biasanya dengan 30-100 telur.
Setelah memijah, betina diusir dan jantan sendirian bertanggung jawab atas telur dan burayak, mempertahankan teritori dari penyusup dan mengipasi telur dengan siripnya. Bila mau, ikan dewasa lainnya bisa dipindahkan pada tahap ini, meskipun belum benar-benar perlu. Telur biasanya menetas dalam 2-3 hari, tetapi burayak belum berenang bebas sampai berumur 6-8 hari dan mungkin belum meninggalkan sekitar gua sampai kira-kira seminggu setelahnya. Sejak saat itu ikan dewasa (termasuk jantan induknya) bisa mulai menganggap mereka sebagai makanan, jadi burayak sebaiknya dipindahkan ke akuarium terpisah. Ikan muda cukup diam di beberapa hari pertama sehingga microworm adalah pakan awal yang ideal, tetapi begitu terlihat berenang di kolom air, naupli artemia bisa mulai diberikan.1
Sebaran alami
Apa kata sumber
- India, Brahmaputra · Seriously Fish1: “Badis assamensis is a badid from the Brahmaputra River basin in Assam state, northeast India, and the largest species in its genus.”
- Dibru · Seriously Fish1: “The neotype was collected from a slow-moving forest stream in the Dibru River drainage, and it is a slow-moving, retiring fish that more boisterous tankmates can outcompete for food.”
GBIF punya 15 catatan di alam liar, semuanya di negara-negara di atas.
- Catatan di negara asal
- Negara asal
- Tiap kotak sekitar 160 km.
Data: GBIF.org, 15 catatan, diambil 2026-11-06 · CC0, CC BY 4.0. Peta dasar: Natural Earth.
Di mana habitat aslinya?
Batas sebaran lengkapnya masih belum begitu jelas. Awalnya ikan ini dianggap endemik di daerah aliran Sungai Brahmaputra di negara bagian Assam, India timur laut, tetapi mungkin juga ada di bagian utara Benggala Barat dekat perbatasan dengan Assam. Saat meneliti untuk revisi genus ini pada 2002, Kullander dan Britz tidak berhasil menemukan spesimen tipe apa pun dalam catatan museum, sehingga mereka menetapkan neotipe yang dikoleksi dari anak sungai Dibru di Distrik Dibrugarh, Assam utara. Sebelum gempa Assam-Tibet tahun 1950, Sungai Dibru dulunya mengalir ke Brahmaputra.1

Habitat alami
Lokasi neotipe berupa sungai kecil berarus lambat yang mengalir melalui kawasan hutan, dengan pepohonan yang tumbuh sampai ke tepi sungai dan di beberapa tempat sampai masuk ke air. Airnya digambarkan "tergenang" dan "kecokelatan", dengan dasar pasir yang ditumbuhi hamparan teratai. B. badis juga ditemukan di lokasi tersebut.1
Catatan
Seperti kebanyakan badid, spesies ini masih minim dokumentasinya dan belum terlalu populer di hobi akuarium. Sekilas ikan ini mudah tertukar dengan B. blosyrus karena pola tubuh keduanya hampir sama persis, tetapi bisa dibedakan dari ukuran dewasanya yang sedikit lebih besar, profil rahang yang jelas lebih pendek, dan beberapa ciri meristik lain yang kebanyakan bersifat internal.
Sebelum 2002, famili Badidae hanya mencakup lima spesies, dan hanya B. badis serta, dalam tingkat lebih rendah, Badis dario (oleh beberapa sumber disebut B. bengalensis) yang populer di hobi akuarium. Namun, makalah revisi menyeluruh oleh Kullander dan Britz yang terbit tahun itu menghasilkan tidak kurang dari sepuluh spesies baru serta genus Dario, tempat B. dario dipindahkan dan ditetapkan sebagai spesies tipe. Saat ini Dario hanya berisi tiga anggota, yang paling mudah dibedakan dari Badis lewat ukuran dewasanya yang kecil (biasanya kurang dari 2,5 cm), warna yang dominan merah, beberapa jari-jari sirip punggung pertama/sirip dada yang memanjang pada jantan, sirip ekor bertepi lurus (bukan membulat), tidak adanya gurat sisi yang terlihat, dan perilaku mengasuh anak yang kurang intensif. Spesies Badis kini berjumlah lima belas, dengan beberapa spesies baru dideskripsikan baru-baru ini dan lainnya masih menunggu deskripsi.
Sebagian di antaranya tidak selalu mudah diidentifikasi dengan benar. Contohnya, B. badis, B. chittagongis, B. ferrarisi, B. kanabos, B. khwae, B. ruber, B. siamensis, dan B. tuivaiei semuanya memiliki bintik kleitral gelap tepat di atas pangkal sirip dada. Namun, B. khwae, B. ruber, dan B. siamensis semuanya punya bercak tambahan di batang ekor, dan B. badis bisa dibedakan dari B. kanabos karena memiliki serangkaian tanda gelap di sirip punggung dan/atau di pangkalnya (bukan satu tanda di bagian depan sirip) serta hanya garis vertikal samar atau tidak jelas di sisi tubuh (bukan serangkaian garis gelap yang sempit). B. badis, B. chittagongis, B. dibruensis, B. tuivaiei, dan B. ferrarisi hanya berbeda dalam beberapa hitungan morfologis, meskipun B. ferrarisi memiliki pola yang sangat khas, yaitu serangkaian garis vertikal hitam di sepanjang bagian tengah sisi tubuh.
Dulu badid dianggap anggota famili Nandidae atau Pristolepididae, dan baru pada 1968 Barlow mengusulkan pengelompokan tersendiri untuk mereka. Mereka memiliki beberapa kesamaan ciri dengan anabantoid, nandid, dan channid; yang paling menonjol bagi para aquarist adalah pelukan memijah khas di mana jantan melingkarkan tubuhnya ke tubuh betina. Studi yang lebih baru menyimpulkan bahwa perilaku ini adalah sifat kuno yang diwariskan dari nenek moyang bersama semua famili tersebut. Dalam makalah revisi 2002, semua spesies Badis, Dario, dan Nandus ternyata memiliki duri hemal bercabang dua (terbelah) yang unik pada ruas tulang belakang kedua dari belakang, dan para penulisnya berhipotesis bahwa ini mungkin menjadi bukti monofili kelompok ini. Mereka juga mengusulkan agar famili Nandidae dibatasi hanya untuk spesies Nandus, sedangkan genus lainnya (Polycentrus, Monocirrhus, Afronandus, dan Polycentropsis) dikelompokkan bersama dalam Polycentridae. Menurut sistem ini, Nandidae dan Badidae hanya dipisahkan oleh perbedaan morfologi dan struktur telur, meskipun hubungan filogenetik di antara keduanya belum diteliti sepenuhnya.
Studi-studi terbaru ini juga menunjukkan adanya beberapa kelompok/klad dalam genus ini, masing-masing berisi spesies yang paling dekat kekerabatannya satu sama lain. Kelompok B. badis hanya dibedakan oleh bintik kleitral dan berisi B. badis, B. chittagongis, B. dubruensis, B. ferrarisi, B. kanabos, dan B. tuivaiei. B. ruber, B. siamensis, dan B. khwae membentuk kelompok B. ruber dan paling mudah dikenali dari kombinasi bintik kleitral ditambah bercak di batang ekor. Kelompok B. assamensis terdiri dari B. assamensis dan B. blosyrus dengan pola tubuh unik berupa belang terang dan gelap, sedangkan kelompok B. corycaeus mencakup B. corycaeus dan B. pyema yang memiliki tanda berbentuk mata (oselus) di pangkal sirip ekor serta jumlah pori sensorik di kepala yang berkurang.
Ada dua spesies unik yang tidak masuk ke kelompok mana pun: B. kyar dibedakan oleh bentuk tubuhnya yang relatif memanjang, pola garis vertikal, dan tanda berbentuk pita di sirip ekor; B. juergenschmidti mirip B. kyar dalam beberapa hal, tetapi garis vertikal pertama di tubuhnya lurus (bukan melengkung), garis vertikal 5, 6, dan 7 utuh (bukan terbelah secara vertikal), dan sirip punggung serta cuping bawah sirip ekor pada jantan bertepi putih (bukan tanpa pola putih). Dalam studi filogenetik, B. kyar ternyata merupakan kelompok saudara dari klad B. ruber atau klad B. badis/B. assamensis, tergantung uji yang dilakukan, dan studi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan posisi pasti kedua spesies ini dalam genus.1
Sumber
1 sumber dan pustaka
- Seriously Fish seriouslyfish.com
Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.
Referensi
- Kullander, S. O. and R. Britz (2002). Revision of the family Badidae (Teleostei: Perciformes), with description of a new genus and ten new species. Ichthyological Exploration of Freshwaters 13(4), 295-372
- Rüber, L., R. Britz, S. O. Kullander and R. Zardoya (2004). Evolutionary and biogeographic patterns of the Badidae (Teleostei: Perciformes) inferred from mitochondrial and nuclear DNA sequence data. Molecular Phylogenetics and Evolution 32(3), 1010-1022
- Geetakumari, K.H. and W. Vishwanath (2010). Badis dilbruensis, a new species (Teleostei: Badidaae) from northeastern India. Journal of Threatened Taxa 2(1), 644-647
- Schindler, I. and H. Linke (2010). Badis juergenschmidti - a new species of the Indo-Burmese fish family Badidae (Teleostei: Perciformes) from Myanmar. Vertebrate Zoology 60(3), 209-216
- Vishwanath, W. and K. Shanta (2004). A new fish species of the Indo-Burmese genus Badis Bleeker (Teleostei: Perciformes) from Manipur, India. Zoos' Print Journal 19(9), 1619-16211
Foto pembaca
Belum ada foto. Anda memelihara Badis assamensis? Kirim fotonya agar semua bisa ikut melihat.

Diskusi
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman.
Pemeriksaan antispam gagal dimuat sehingga komentar belum terkirim. Coba muat ulang halaman.
Sesuai ketentuan, komentar memerlukan verifikasi pengguna; fitur ini akan segera tersedia.