Satuan
Tampilan

Balitoridae, Malaysia

Hillstream Loach Borneo

Gastromyzon lepidogaster

Nama lain: Borneo sucker, Borneo sucker loach, hillstream loach

Suhu
18–24°C
pH
6–8,5
Akuarium minimum
120 cm
Tingkat kesulitan
Sedang

Tabel data

Lihat tabel lengkap
Suhu
18–24°C
pH
6–8,5
Ukuran
10 cm
Tingkat kesulitan
Sedang 4/8 Kenapa?

Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:

  • RuangSulitakuarium mulai 120 cm, ikan sepanjang 10 cm
  • AirMudahpH 6–8,5, 2–12 dGH
  • SuhuSedangair sejuk · 18–24°C
  • PerilakuMudahdamai
  • KelompokMudahkelompok mulai 4 ekor

Tingkat kesulitan 4/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung

Sumber dan tingkat keandalan
Suhu
  • Seriously Fish
pH
  • Seriously Fish
Kesadahan (dGH)
  • Seriously Fish
Ukuran
  • Seriously Fish
Akuarium minimum
  • Seriously Fish
Tingkat kesulitan
  • Seriously Fish

Cara tabel memilih satu angka jika sumber-sumber berbeda

Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-11-04.

Info singkat

  • Butuh arus kuat, dengan filter yang memutar volume air akuarium 8–12 kali per jam
  • Butuh akuarium yang sudah matang; damai; wajib dipelihara berkelompok1

Layak dibeli?

Akuarium perlu tutup yang rapat karena spesies ini dikenal suka melompat. Karena butuh kondisi air yang stabil dan memakan biofilm, spesies ini sama sekali tidak boleh dimasukkan ke akuarium yang secara biologis belum matang. Tutup yang rapat juga diperlukan karena ikan ini benar-benar bisa memanjat kaca.

Gastromyzon lepidogaster adalah hillstream loach dari Kalimantan bagian utara dan merupakan anggota genusnya yang sebarannya paling luas. Ikan ini ditemukan di Sabah, Brunei, dan Kalimantan Timur. Warnanya bervariasi: individu dewasa yang besar bisa berwarna hijau cerah, oranye, atau bergaris, dan tampaknya mampu berubah dari bergaris menjadi polos hanya dalam beberapa detik. Spesies ini sesekali tersedia di pasaran, dan bentuk oranyenya paling dicari.1

Butuh akuarium seberapa besar?

Panjang standar: 100 mm SL (10 cm). Ukuran dasar akuarium: 120 × 30 cm. Volume: ~108 liter.

Akuarium dengan ukuran dasar 120 × 30 cm atau yang setara sudah cukup besar untuk memelihara satu kelompok.1

Kondisi air seperti apa?

  • Suhu: 18–24 °C
  • pH: 6,0–8,5
  • Kesadahan: 2–12 dGH

Untuk perawatan umum disarankan suhu 18–24 °C, tetapi ikan ini tahan suhu yang lebih hangat asalkan kadar oksigen terlarut tetap terjaga.1

Bagaimana cara merawatnya?

Yang paling penting, air harus bersih dan kaya oksigen, jadi filter berkapasitas berlebih disarankan sebagai syarat minimum.

Idealnya volume air berputar 10–15 kali per jam, jadi powerhead tambahan, batu aerasi, dan sebagainya juga perlu dipakai bila diperlukan.

Substrat dasar bisa berupa kerikil, pasir, atau campuran keduanya, lalu ditambah lapisan batu dan kerikil sungai yang membulat terkikis air dengan berbagai ukuran.

Kayu apung yang sudah lama juga bisa dipakai, tetapi hindari kayu baru karena biasanya melepaskan tanin yang mewarnai air dan mengurangi efektivitas lampu akuarium. Efek samping ini tidak diinginkan karena pencahayaan justru harus kuat untuk mendorong pertumbuhan alga dan mikroorganisme yang menyertainya.

Spons filter yang terbuka juga akan ikut dikerik, dan sebagian penghobi sengaja memasang filter terbuka di dalam akuarium khusus sebagai sumber pakan tambahan.

Meskipun jarang ada di habitat aslinya, tanaman air bisa dipakai; genus yang mudah beradaptasi seperti Microsorum, Crinum, dan Anubias spp. kemungkinan paling bisa bertahan. Anubias sangat berguna karena daunnya cenderung mudah ditumbuhi alga dan memberi tempat berlindung tambahan.

Karena butuh kondisi air yang stabil dan memakan biofilm, spesies ini sama sekali tidak boleh dimasukkan ke akuarium yang secara biologis belum matang. Tutup yang rapat juga diperlukan karena ikan ini benar-benar bisa memanjat kaca.

Ganti air sebagian secara rutin wajib dilakukan, tetapi aufwuchs boleh dibiarkan tumbuh di semua permukaan, kecuali mungkin kaca depan.1

Diberi pakan apa?

Sebagian besar makanan alaminya kemungkinan berupa alga dasar beserta mikroorganisme yang menyertainya, yang dikerik dari permukaan keras.

Di akuarium, ikan ini mau menerima pakan kering berkualitas baik dan pakan yang lebih berprotein seperti cacing darah hidup atau beku, tetapi bisa mengalami gangguan organ dalam jika pakannya mengandung protein berlebihan.

Pakan buatan sendiri dari campuran bahan alami yang diikat dengan gelatin sangat berguna karena komposisinya bisa diatur agar mengandung banyak sayuran segar, Spirulina, dan bahan sejenis.

Agar berhasil dalam jangka panjang, sebaiknya sediakan akuarium yang sudah matang dengan banyak batu dan permukaan lain yang ditumbuhi alga.

Jika alga tidak bisa tumbuh cukup di akuarium utama, atau akuarium komunitas Anda berisi banyak ikan herbivora yang cepat menghabiskan alga yang ada, mungkin perlu disiapkan akuarium terpisah untuk menumbuhkan alga di batu, lalu batu-batu itu ditukar secara bergiliran dengan batu di akuarium utama.

'Akuarium pembibitan' seperti ini tidak perlu besar, hanya butuh pencahayaan kuat, dan di daerah yang banyak sinar matahari bisa ditaruh di luar ruangan. Jenis alga juga penting: diatom dan alga hijau yang lebih lunak lebih disukai dibanding jenis yang lebih keras seperti alga rhodophyta 'black brush'.

Ikan gastromyzontid sering dijual dalam kondisi sangat kurus, dan ini bisa sulit dipulihkan. Penjual yang baik sudah menangani hal ini sebelum menjualnya, tetapi jika Anda memutuskan untuk mengambil risiko dengan ikan yang sangat lemah, ikan tersebut awalnya membutuhkan pasokan pakan yang sesuai secara terus-menerus tanpa ada pesaing agar bisa pulih.1

Adult specimen of the orange colour form in its natural habitat, Sabah state, Malaysia (Borneo).
©

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Sangat damai, meskipun kebutuhan lingkungannya agak membatasi pilihan tankmate yang cocok. Selain itu, ikan ini tidak boleh dicampur dengan ikan yang jauh lebih besar, lebih agresif, teritorial, atau yang bersaing dengannya dengan cara lain.

Pilihan yang mungkin antara lain ikan cyprinid kecil yang berenang di kolom air seperti Tanichthys, Danio, dan Rasbora, ikan goby penghuni sungai dari genus Rhinogobius, Sicyopterus, dan Stiphodon, serta ikan catfish penyuka arus seperti Glyptothorax, Akysis, dan Hara spp.

Beberapa loach dari famili Nemacheilidae, Balitoridae, dan Gastromyzontidae juga cocok, tetapi ada juga yang tidak, jadi pastikan Anda mempelajari pilihan Anda dengan teliti sebelum membeli.

Di alam, Gastromyzon spp. cenderung hidup dalam kumpulan yang longgar, jadi belilah kelompok berisi 4 ekor atau lebih jika ingin melihat perilakunya yang paling menarik.

Ikan ini teritorial sampai batas tertentu; beberapa individu tampak lebih gigih menjaga wilayahnya dibanding yang lain, dan wilayah itu sering berupa tempat makan yang paling bagus.1

Bagaimana membedakan jantan dan betina?

Betina dewasa jelas lebih gemuk dan sering sedikit lebih besar daripada jantan; perbedaan ini lebih terlihat bila ikan dilihat dari atas atau dari bawah.1

Bagaimana cara berkembang biaknya?

Belum pernah dipijahkan di akuarium, dan satu-satunya pengamatan yang diketahui untuk anggota genus ini dilakukan oleh akuaris Jerman Philipp Dickmann dan diterbitkan di sebuah majalah hobi pada tahun 2001.

Ia mengoleksi spesimen tangkapan alam G. scitulus (saat itu diidentifikasi sebagai G. punctulatus) dan G. monticola, lalu mencoba memijahkan keduanya dengan cara yang berbeda.

Awalnya sepasang G. scitulus ditempatkan di akuarium 30 liter tanpa substrat dan tanpa filter, tetapi dengan aerasi kuat serta beberapa pecahan pot bunga, bongkahan batu, dan tanaman apung sebagai tempat berlindung.

Ikan-ikan ini diberi pakan yang kaya, dengan banyak jentik nyamuk hidup dan beku, untuk mengondisikan mereka siap memijah.

Suhu kemudian dinaikkan menjadi 28 °C selama 8 minggu dan pemberian pakan ditambah; kondisi ini dipertahankan selama 3 minggu, dan selama itu suhu tanpa sengaja naik hingga 32 °C.

Setelah perilaku percumbuan terlihat, dilakukan ganti air dengan air yang lebih dingin untuk menurunkan suhu air ke 25 °C, dan ikan memijah pada saat tekanan udara rendah; pada puncak pemijahan, tubuh mereka digambarkan saling mengunci di atas dasar, tidak menempel pada substrat.

Setidaknya 100 telur kecil (diameter <1 mm) yang tenggelam dan tidak lengket terlihat, dan saat itu induknya dipindahkan.

Telur mulai menetas dalam sekitar 3 hari. Burayaknya awalnya menghindari cahaya dan membutuhkan pakan sejenis infusoria karena ukurannya yang sangat kecil (~3 mm SL). Tampaknya tanaman di akuarium mulai membusuk sehingga kualitas air menurun, dan setelah 3 minggu semua burayak mati.

Hasil yang lebih baik didapat dengan G. monticola, kali ini menggunakan akuarium 160 liter dengan substrat kerikil kasar, beberapa lempengan batu sabak yang disandarkan ke kaca belakang, serumpun Cryptocoryne sp., dan sepotong kayu apung.

Suhu air dipertahankan pada 24 °C dan GH 10–12°. Akuarium ini juga tanpa filter tetapi beraerasi kuat, dan dihuni juga oleh Ambastaia sidthimunki, Pangio sp., serta populasi besar siput penggali Melanoides tuberculata.

Kali ini burayak dalam jumlah kecil muncul begitu saja seiring waktu, dan pemijahan teramati terus-menerus selama 12 bulan.1

Di mana habitat aslinya?

Lokasi tipenya adalah 'Sungai Mengalong, Distrik Beaufort, Sabah, Kalimantan bagian utara', tetapi G. lepidogaster adalah anggota genusnya yang sebarannya paling luas. Di negara bagian Sabah (Malaysia), ikan ini juga diketahui hidup di Sungai Padas, Kimanis, Petagas, Labuk, Kinabatangan, Segama, Kalabakan, serta semua sungai yang bermuara ke Teluk Wallace.

Ada juga catatan tambahan dari Sungai Temburong di Brunei Darussalam serta daerah aliran sungai Sebuku, Sembakung, dan Sesayap di Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia.

Semua anggota genus ini endemik Kalimantan, dan lebih dari separuhnya hanya terdapat di satu daerah aliran sungai atau sub-DAS saja.1

Habitat alami

Gastromyzon spp. adalah penghuni wajib sungai kecil yang deras dan dangkal dengan air jernih yang jenuh oksigen. Ikan ini tercatat ditemukan dari ketinggian permukaan laut hingga 1350 m dpl di seluruh daerah perbukitan Kalimantan.

Biasanya ikan ini menghuni bagian riam (riffle) dan aliran deras (run), dan sering dijumpai di atas atau di bawah jeram dan air terjun.

Dasarnya umumnya berupa kerikil, batu, bongkahan batu besar, atau batuan dasar yang dilapisi biofilm tebal dari alga dan mikroorganisme lain.

Tanaman air jarang ada, dan meskipun mungkin ada vegetasi di tepi sungai, loach ini cenderung paling melimpah di zona yang teduh sebagian atau teduh sepenuhnya.

Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa ikan ini biasanya memposisikan diri menghadap arus, entah di sisi, di belakang, atau di bawah batu. Bentuk tubuhnya yang khusus (lihat 'Catatan') memungkinkannya mencari makan dan bertahan di satu titik tertentu tanpa terseret arus.

Di Lembah Danum, Sabah, G. lepidogaster dikoleksi dari anak sungai di hulu Sungai Kuamut dan Segama, di habitat riam yang dangkal (kedalaman maksimum 60 cm), berarus deras, dan tidak teduh. pH terukur berkisar 7,2–8,7.

Di Sungai Kuamut, spesies yang hidup bersama (simpatrik) antara lain spesies segenus G. aequabilis, G. ornaticauda, dan G. pariclavis, serta Homalopteroides stephensoni, Nemacheilus elegantissimus, N. olivaceus, Neogastromyzon crassiobex, Protomyzon griswoldi, dan P. whiteheadi.

Spesies yang sama juga ada di Sungai Segama, bedanya spesies segenus yang dijumpai di sana adalah G. danumensis dan G. spectabilis.

Di Hutan Lindung Batu Apoi, Brunei, G. lepidogaster ditemukan di anak-anak sungai kecil dari Sungai Belalong, berupa sungai perbukitan yang teduh sebagian, lebarnya 1–5 meter, dan diselingi jeram setinggi 2–3 meter hingga 15 meter.

Dasarnya bervariasi dari serpih lepas hingga batu besar dan bongkahan batu, dengan pH air 6,0 dan arus yang deras.

Di sini G. lepidogaster dijumpai pada sejenis batu berwarna gelap, biasanya berpasangan yang terdiri dari bentuk hijau dan bentuk bergaris (lihat 'Catatan').

Ikan lain yang ada di sana antara lain Barbonymus collingwoodi, Hampala bimaculata, Nematabramis steindachneri, Osteochilus cf. ingeri, Rasbora argyrotaenia, Tor tambra, Pangio cf. mariarum, Gastromyzon cranbrooki, G. punctulatus, Glaniopsis sp., Neogastromyzon brunei, Parhomaloptera microstoma, Protomyzon sp., Hemibagrus sp., Ompok platycephalus, Pterocryptis furnessi, Macrognathus maculatus, dan Mastacembelus unicolor.1

Catatan

G. lepidogaster sesekali tersedia di pasaran ikan hias, dan bentuk oranyenya paling dicari.

Spesies ini bisa dibedakan dari spesies segenus lewat kombinasi ciri berikut: spesimen besar bertubuh cokelat, abu-abu, atau hitam polos bila diawetkan, hijau atau oranye saat hidup dengan bagian atas kepala cokelat polos; ikan muda (juvenil) dan sub-dewasa bertubuh hitam atau cokelat tua dengan 8–9 garis melintang kekuningan hingga krem, sisi tubuh dengan garis utuh atau terputus yang membentuk deretan bercak, kepala cokelat tua dengan pola jala berwarna krem; tidak ada rostrum sekunder; tidak ada kantong pascamulut; tidak ada alur subopercular; celah insang berbentuk bulan sabit; ada alur sublacrymal; moncong membulat bila dilihat dari atas; perut seluruhnya tertutup sisik halus hingga pangkal sirip dada; 55–69 sisik gurat sisi; sirip perut tidak menutupi pangkal sirip dubur.

Warna spesies ini bervariasi. Individu dewasa yang besar bisa berwarna hijau cerah, oranye, atau bergaris, tetapi tampaknya mampu berubah dari bergaris menjadi polos hanya dalam beberapa detik.

Bentuk-bentuk yang berbeda ini tercatat di habitat alami yang sama, dan beberapa individu juga memiliki tuberkel kawin yang mencolok yang menutupi sebagian besar tubuh.

Gastromyzon spp. dikelompokkan ke dalam berbagai kelompok spesies (kumpulan spesies dugaan yang belum tentu monofiletik) agar mudah dirujuk, dan G. lepidogaster termasuk dalam kelompok G. lepidogaster yang juga mencakup G. psiloetron.

Anggotanya ditentukan oleh kombinasi ciri, antara lain: ada sisik di perut; ukuran dewasa besar; celah insang berbentuk bulan sabit; tidak ada alur subopercular; ikan muda (juvenil) dan sub-dewasa dengan garis krem pada punggung cokelat, terputus di sisi tubuh sehingga membentuk tanda berbentuk belah ketupat; individu dewasa bertubuh cokelat tua atau hitam bila diawetkan, cokelat, hijau limau, atau oranye saat hidup; tidak ada rostrum sekunder; tidak ada kantong pascamulut; bibir bawah dengan papila kecil bercabang yang tersusun rapat.

Susunan kelompok spesies saat ini adalah sebagai berikut:

Kelompok G. borneensis: G. borneensis, G. monticola, G. ornaticauda, G. cranbrooki, G. cornusaccus, G. extrorsus, G. introrsus, G. bario. Kelompok G. punctulatus: G. aeroides, G. punctulatus, G. katibasensis. Kelompok G. fasciatus: G. fasciatus, G. praestans. Kelompok G. contractus: G. contractus, G. megalepis, G. umbrus. Kelompok G. ctenocephalus: G. ctenocephalus, G. scitulus. Kelompok G. lepidogaster: G. lepidogaster, G. psiloetron. Kelompok G. ridens: G. ridens, G. crenastus, G. stellatus, G. zebrinus. Kelompok G. danumensis: G. danumensis, G. aequabilis, G. ingeri. Kelompok G. pariclavis: G. pariclavis, G. embalohensis, G. venustus, G. spectabilis, G. russulus, G. viriosus. Kelompok G. ocellatus: G. ocellatus, G. farragus. Kelompok G. auronigrus: G. auronigrus.

Gastromyzon spp. memiliki bentuk tubuh khusus yang beradaptasi untuk hidup di air berarus deras. Sirip berpasangannya mengarah horizontal, kepala dan tubuhnya pipih, dan sirip perutnya menyatu.

Ciri-ciri ini membentuk mangkuk pengisap yang kuat sehingga ikan bisa menempel erat pada permukaan keras. Kemampuannya berenang di air terbuka sangat berkurang, dan sebagai gantinya ikan ini 'merayap' di atas dan di bawah batu.

Famili Gastromyzontidae saat ini dianggap valid sesuai Kottelat (2012).

Famili ini mencakup sejumlah genus yang dulunya dimasukkan ke beberapa famili dan subfamili, terakhir ke Balitoridae. Yang paling dikenal di hobi akuarium antara lain Beaufortia, Formosania, Gastromyzon, Pseudogastromyzon, Hypergastromyzon, Liniparhomaloptera, Sewellia, dan Vanmanenia.1

Sumber

1 sumber dan pustaka
  1. Seriously Fish seriouslyfish.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.

Referensi

  • Inger, R. F. and P. K. Chin (1961). The Bornean cyprinoid fishes of the genus Gastromyzon Günther. Copeia 1961(2), 166-176
  • Rachmatika, I. (1998). Gastromyzon embalohensis, a new species of sucker loach (Teleostei: Balitoridae) from the Bentuang Karimun National Park, West Kalimantan, Indonesia. Raffles Bulletin of Zoology 46(2), 651-659
  • Tan, H. H. and K. M. Martin-Smith (1998). Two new species of Gastromyzon (Teleostei: Balitoridae) from the Kuamut headwaters, Kinabatangan basin, Sabah, Malaysia. Raffles Bulletin of Zoology 46(2), 361-371
  • Martin-Smith, K. M. and H. H. Tan (1998). Diversity of freshwater fishes from eastern Sabah: annotated checklist for Danum Valley and a consideration of inter- and intra-catchment variability. Raffles Bulletin of Zoology 46(2), 573-604
  • Roberts, T. R. (1982). The Bornean gastromyzontine fish genera Gastromyzon and Glaniopsis (Cypriniformes, Homalopteridae), with descriptions of new species. Proceedings of the California Academy of Sciences (Series 4) 42(20), 497-524
  • Tan, H.H. (2006). The Borneo suckers. Revision of the Torrent Loaches of Borneo (Balitoridae: Gastromyzon, Neogastromyzon). Natural History Publications (Borneo), Kota Kinabalu, 245 p.
  • Kottelat, M. (2012). Conspectus cobitidum: an inventory of the loaches of the world (Teleostei: Cypriniformes: Cobitoidei). Raffles Bulletin of Zoology Supplement 26, 1-199
  • Kottelat, M. (2013). The fishes of the inland waters of southeast Asia: a catalogue and core bibliography of the fishes known to occur in freshwaters, mangroves and estuaries. The Raffles Bulletin of Zoology Supplement 27, 1-6631