Satuan
Tampilan

Cobitidae, Indonesia

Kottelatlimia hipporhynchos

Kottelatlimia hipporhynchos

Nama lain: Kottelatlimia

Suhu
23–26°C
pH
4–6,5
Akuarium minimum
60 cm
Tingkat kesulitan
Sedang

Tabel data

Lihat tabel lengkap
Suhu
23–26°C
pH
4–6,5
Ukuran
5,2 cm
Tingkat kesulitan
Sedang 4/8 Kenapa?

Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:

  • RuangMudahakuarium mulai 60 cm, ikan sepanjang 5,2 cm
  • AirSulitair asam · pH 4–6,5, 0–10 dGH
  • SuhuSedangrentang suhu sempit · 23–26°C
  • PerilakuMudahdamai
  • KelompokMudahkelompok mulai 4 ekor

Tingkat kesulitan 4/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung

Sumber dan tingkat keandalan
Suhu
  • Seriously Fish
pH
  • Seriously Fish
Kesadahan (dGH)
  • Seriously Fish
Ukuran
  • Seriously Fish
Akuarium minimum
  • Seriously Fish
Tingkat kesulitan
  • Seriously Fish

Cara tabel memilih satu angka jika sumber-sumber berbeda

Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-11-04.

Info singkat

  • Pemijahan: Belum pernah tercatat dipelihara di akuarium.1

Layak dibeli?

Butuh substrat pasir yang lembut. Ikan ini wajib diberi substrat pasir yang lembut karena sebagian waktunya dihabiskan dengan terbenam sepenuhnya di dalam pasir, atau hanya matanya yang menyembul.

Kottelatlimia hipporhynchos adalah loach kecil dari famili Cobitidae yang sejauh ini hanya diketahui berasal dari Kalimantan Tengah, Borneo bagian Indonesia. Ikan ini hidup di sungai-sungai hutan berarus lambat dengan air jernih berwarna kecokelatan karena tanin di atas dasar pasir putih. Di sana ia beristirahat di atas substrat atau membenamkan diri ke dalamnya, jadi harus diberi substrat pasir yang lembut. Sebagai anggota terbesar dalam genusnya, ikan ini berbeda dari kerabat satu genusnya karena memiliki papila yang menutupi bibir, sungut, dan cuping mulutnya.1

Butuh akuarium seberapa besar?

Panjang standar: 52 mm SL (5,2 cm). Alas akuarium: 60 × 30 cm. Volume: ~54 liter.

Disarankan akuarium dengan ukuran alas 60 × 30 cm atau lebih.1

Like others in the genus this species seems to do best in groups...
©

Kondisi air seperti apa?

  • Suhu: 23–26 °C
  • pH: 4,0–6,5
  • Kesadahan: 0–10 dGH1

Bagaimana cara merawatnya?

Wajib diberi substrat pasir yang lembut karena sebagian waktunya dihabiskan dengan terbenam sepenuhnya, atau hanya matanya yang menyembul. Jika memakai kerikil yang lebih kasar, ikan ini bisa stres atau melukai dirinya sendiri saat mencoba menggali, dan perilaku makannya bisa terganggu.

Dekorasi lain tidak wajib, tetapi bisa berupa batu yang terkikis/halus oleh air (batu sungai) atau cabang kayu apung dan akar pohon. Dekorasi ini sebaiknya dipasang sebelum substrat agar tidak roboh akibat aktivitas menggali, dan pastikan menyisakan area pasir terbuka di antaranya sebagai ruang gerak ikan.

Pencahayaan boleh cukup redup kecuali jika ingin menanam tanaman air, yang idealnya dipilih dari jenis yang bisa tumbuh menempel pada dekorasi. Beberapa genggam serasah daun kering akan melengkapi kesan alami dan memberi tempat berlindung tambahan.

Seperti banyak ikan yang berasal dari habitat alami yang masih murni, ikan ini tidak tahan terhadap penumpukan limbah organik dan membutuhkan air yang benar-benar bersih agar bisa tumbuh baik. Karena itu, ikan ini jangan pernah dimasukkan ke akuarium yang secara biologis belum matang, dan paling mudah beradaptasi di akuarium yang stabil dan sudah matang.

Selama oksigenasi cukup, arus air tidak terlalu penting, meskipun spesies ini kemungkinan juga akan cocok di akuarium bergaya sungai (river tank) asalkan substratnya cukup halus untuk digali.1

Diberi pakan apa?

Pada dasarnya merupakan mikropredator yang menyaring suapan substrat melalui insangnya untuk mengambil larva serangga, krustasea kecil, dan sejenisnya.

Di akuarium, ikan ini tidak sulit diberi makan, tetapi berikan pakan yang bervariasi, terdiri dari pakan kering yang tenggelam ditambah artemia, cacing sutra, kutu air, cacing darah, dan sebagainya, baik hidup maupun beku.1

...prefers tannin-stained water...
©

Bisa dicampur dengan ikan apa?

Bukan ikan yang terlalu tangguh dan sebaiknya tidak dicampur dengan ikan yang jauh lebih besar atau lebih kompetitif. Ikan cyprinid kecil yang hidup bergerombol sangat ideal, begitu pula anabantoid seperti Sphaerichthys atau Parosphromenus spp.

Jika asal geografis bukan masalah, banyak characin kecil penghuni perairan blackwater juga semestinya cocok, sedangkan loach penghuni dasar lainnya bisa berupa Pangio, Acanthopsoides, atau Lepidocephalichthys spp. yang berukuran lebih kecil.

Beberapa nemacheilid juga cocok, tetapi riset yang matang sangat penting karena sebagian bisa terlalu teritorial atau agresif, membutuhkan kondisi air yang berbeda, atau sekadar tumbuh terlalu besar.

Kottelatlimia spp. damai baik terhadap sesamanya maupun ikan lain, dan tidak ada laporan bahwa ikan ini melukai teman setangkinya, meskipun mungkin memangsa telur atau burayak.

Ikan ini tampaknya paling baik bila ada sesama spesiesnya dan idealnya dipelihara dalam kelompok berisi 4 ekor atau lebih.1

Bagaimana membedakan jantan dan betina?

Pada jantan dewasa, jari-jari sirip dada bercabang yang pertama membesar dengan deretan tonjolan lebar yang saling bersambung di sisi belakangnya, membentuk struktur seperti bilah.

Betina dewasa biasanya bertubuh lebih berisi dan sedikit lebih besar daripada jantan.1

Di mana habitat aslinya?

Sejauh ini hanya diketahui dari Provinsi Kalimantan Tengah, Borneo bagian Indonesia, dan pernah dikoleksi dari daerah aliran Sungai Kahayan, Sampit, dan Kapuas.

Sungai Kapuas yang dimaksud di sini bukanlah sistem sungai yang jauh lebih besar dengan nama yang sama di Provinsi Kalimantan Barat, meskipun ejaannya persis sama.

Lokasi tipe disebutkan sebagai 'backwater stream at kilometer 80 on road from Palangka Raya to Tumbang Telakian, 1°37.324'S, 113°37.569'E, Kahayan River drainage, Kalimantan Tengah, Borneo'.1

This species is the largest member of the genus, seen here with the smaller congener K. pristes.
©

Habitat alami

Paling sering ditemukan di sungai-sungai hutan berarus lambat dengan air jernih berwarna kecokelatan karena tanin dan dasar pasir putih, tetapi juga pernah teramati di rawa gambut berair hitam (blackwater).

Habitat seperti ini biasanya terlindung dari sinar matahari oleh vegetasi di tepian dan kanopi pepohonan yang rapat di atasnya. Airnya umumnya nyaris tidak mengandung mineral terlarut, daya penyangganya (buffer) rendah, dan berwarna seperti teh akibat pelepasan tanin serta asam organik secara bertahap dari bahan tumbuhan yang membusuk.

Menurut Kottelat dan Tan (2008), ikan ini hidup simpatrik dengan K. pristes di beberapa lokasi. Namun, bila spesies tersebut menghuni hamparan serasah daun dan bahan organik lainnya, K. hipporhynchos teramati 'beristirahat di atas substrat pasir atau membenamkan diri ke dalamnya'.

Di hutan kerangas dataran rendah campuran dan rawa gambut di sistem Sungai Kahayan dekat kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, ikan ini pernah dikoleksi bersama sejumlah spesies ikan lain, antara lain Osteochilus pentalineatus, O. spilurus, O. bleekeri, Rasbora cephalotaenia, R. patrickyapi, Sundadanio sp., 'Puntius' rhomboocellatus, 'P.' johorensis, 'P.' trifasciatus, Kottelatlimia pristes, Nemacheilus sp., Ompok supernus, Silurichthys phaiosoma, Hemirhamphodon chrysopunctatus, Nandus nebulosus, Betta anabatoides, B. foerschi, Luciocephalus pulcher, Sphaerichthys selatanensis, Channa bankanensis, dan Macrognathus circumcinctus.1

Catatan

Spesies ini tersedia di perdagangan ikan hias secara sporadis.

Ikan ini berbeda dari kerabat satu genusnya karena adanya papila yang menutupi bagian-bagian mulut (bibir, sungut, dan cuping), yang tidak dimiliki spesies lain.

Ikan ini juga merupakan anggota terbesar dalam genusnya, dan tonjolan di sisi belakang jari-jari sirip dada bercabang pertama pada jantan membentuk struktur seperti bilah yang lebar dan bersambung, berbeda dengan deretan 8-11 gerigi runcing yang mengarah ke depan pada K. pristes, atau 6-7 gerigi halus dan sempit pada K. katik.

Genus Kottelatlimia dibentuk oleh Nalbant (1994) untuk menampung K. katik, yang sebelumnya dimasukkan ke dalam Lepidocephalichthys tetapi berbeda dalam berbagai aspek, antara lain: ukuran dewasa yang relatif kecil; kepala tanpa sisik; mata kecil; jari-jari sirip dada kedua yang membesar pada jantan; serta memiliki sungut hidung.

Lepidocephalichthys pristes kemudian dipindahkan oleh Kottelat dan Whitten (1996), dan kelompok ini saat ini berisi tiga spesies setelah K. hipporhynchos dideskripsikan oleh Kottelat dan Tan (2008).

Famili Cobitidae, yang sering disebut loach 'sejati', tersebar luas di sebagian besar Eurasia, dengan anak benua India, Asia Tenggara, dan Tiongkok sebagai pusat keanekaragaman spesiesnya.

Analisis filogenetik oleh Tang et al. (2006), Šlechtová et al. (2007), dan Šlechtová et al. (2008) mengungkap bahwa kelompok ini merupakan garis keturunan genetik yang terpisah dari famili Botiidae (keduanya dulu digabungkan di bawah Cobitidae sebagai subfamili Cobitinae dan Botiinae).

Dalam studi terbaru, Lepidocephalichthys ternyata tidak berkerabat sedekat yang sebelumnya diduga dengan Pangio, Lepidocephalus, atau Kottelatlimia, meskipun sayangnya para penulisnya tidak sampai mengajukan teori alternatif.

Semua cobitid memiliki duri tajam yang dapat digerakkan di bawah mata, yang biasanya tersembunyi di dalam kantong kulit tetapi akan ditegakkan saat ikan stres, misalnya ketika diangkat dari air. Karena itu perlu berhati-hati, sebab duri ini bisa tersangkut di jaring akuarium dan pada spesies yang lebih besar bahkan bisa menembus kulit manusia.1

Sumber

1 sumber dan pustaka
  1. Seriously Fish seriouslyfish.com

Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.

Referensi

  • Kottelat, M. and K. K. P. Lim (1992). A synopsis of the Malayan species of Lepidocephalichthys, with descriptions of two new species (Teleostei: Cobitidae). Raffles Bulletin of Zoology 40(2), 201-220
  • Kottelat, M. and H. H. Tan (2008). Kottelatlimia hipporhynchos, a new species of loach from southern Borneo (Teleostei: Cobitidae). Zootaxa 1967, 63-72
  • Nalbant, T. (1994). Studies on loaches (Pisces: Ostariophysi; Cobitoidea). I. An evaluation of the valid genera of Cobitinae. Travaux du Muséum d'Histoire Naturelle 'Grigore Antipa' 34, 375-380
  • Roberts, T. R. (1989). The freshwater fishes of western Borneo (Kalimantan Barat, Indonesia). Memoirs of the California Academy of Sciences 14, 1-210
  • Šlechtová, V., J. Bohlen and H. H. Tan (2007). Families of Cobitoidea (Teleostei; Cypriniformes) as revealed from nuclear genetic data and the position of the mysterious genera Barbucca, Psilorhynchus, Serpenticobitis and Vaillantella. Molecular Phylogenetics and Evolution 44(3), 1358-1365
  • Šlechtová, V., J. Bohlen and A. Perdices (2008). Molecular phylogeny of the freshwater fish family Cobitidae (Cypriniformes: Teleostei): delimitation of genera, mitochondrial introgression and evolution of sexual dimorphism. Molecular Phylogenetics and Evolution 47(2), 812-831
  • Tang, Q., H. Liu, R. Mayden and B. Xiong (2006). Comparison of evolutionary rates in the mitochondrial DNA cytochrome b gene and control region and their implications for phylogeny of the Cobitoidea (Teleostei: Cypriniformes). Molecular Phylogenetics and Evolution 39(2), 347-357
  • Kottelat, M. (2012). Conspectus cobitidum: an inventory of the loaches of the world (Teleostei: Cypriniformes: Cobitoidei). Raffles Bulletin of Zoology Supplement 26, 1-199
  • Tan, H. H. (2009). Rasbora patrickyapi, a new species of cyprinid fish from Central Kalimantan, Borneo. The Raffles Bulletin of Zoology 57(2), 505-509
  • Kottelat, M. (2013). The fishes of the inland waters of southeast Asia: a catalogue and core bibliography of the fishes known to occur in freshwaters, mangroves and estuaries. The Raffles Bulletin of Zoology Supplement 27, 1-6631

Video

  • Menangkap Ikan Hias Kalimantan dari Alam | Fish hunting | Eksplorasi Anak Sungai Kalimantan22:03, EN