Cobitidae, Indonesia
Langli
Syncrossus hymenophysa
Nama lain: Botia macan, Botia tiger, Tiger botia, Green tiger loach
- Suhu
- 25–30°C
- pH
- 5–7,5
- Akuarium minimum
- 150 cm
- Tingkat kesulitan
- Sedang
Tabel data
Lihat tabel lengkap
- Suhu
- 25–30°C
- pH
- 5–7,5
- Kesadahan (dGH)
- 1–12
- Ukuran
- 21 cm
- Akuarium minimum
- 150 cm
- Tingkat kesulitan
Sedang 4/8 Kenapa?
Yang membuat spesies ini mudah atau sulit dipelihara, menurut tabel:
- RuangSulitakuarium mulai 150 cm, ikan sepanjang 21 cm
- AirMudahpH 5–7,5, 1–12 dGH
- SuhuMudah25–30°C
- PerilakuSedangagak agresif, suka menggigit sirip
- KelompokMudahkelompok mulai 5 ekor
Tingkat kesulitan 4/8 adalah nilai dari sumber. Sumber bisa ikut menimbang hal yang tidak ada di tabel, seperti pakan. Cara tingkat dihitung
Sumber dan tingkat keandalan
- Suhu
- Seriously Fish
- pH
- Seriously Fish
- Kesadahan (dGH)
- Seriously Fish
- Ukuran
- Seriously Fish
- Akuarium minimum
- Seriously Fish
- Tingkat kesulitan
- Seriously Fish
Diterjemahkan dan dirangkum dari Seriously Fish. Diperbarui 2026-10-30.
Layak dibeli?
Butuh akuarium yang sangat besar dan tutup yang rapat, karena spesies ini dikenal suka melompat.
Green tiger loach, Syncrossus hymenophysa, adalah loach botiid dari Sumatra dan Kalimantan, serta dari sistem sungai Pahang dan Perak di Semenanjung Malaysia. Spesies ini mungkin sudah hilang dari Semenanjung Malaysia, karena sejak 1955 hanya satu spesimen yang terkonfirmasi tercatat di sana. Ikan ini sering dijumpai di sekitar dahan, akar, dan batang kayu yang terendam. Kadang tertukar dengan S. helodes, tetapi punya bintik gelap di sirip punggung dan 12–15 garis tegak di tubuh dengan tepi kebiruan.1
Butuh akuarium seberapa besar?
Panjang standar: 210 mm SL. Alas akuarium: 150 × 45 cm. Volume: ~304 liter.
Untuk pemeliharaan jangka panjang, dibutuhkan ukuran alas minimal 150 × 45 cm atau yang setara.1
Kondisi air seperti apa?

Bagaimana cara merawatnya?
Semua botiid butuh tata letak akuarium yang banyak strukturnya, meskipun pilihan dekorasinya kurang lebih tergantung selera masing-masing. Susunan bergaya alami bisa berupa substrat pasir/kerikil halus dengan banyak batu dan kerikil halus yang licin terkikis air, ditambah satu atau dua potong kayu apung atau akar/dahan yang meliuk.
Pencahayaan bisa relatif redup, dan tanaman air yang sanggup tumbuh dalam kondisi seperti itu, misalnya Microsorum, Taxiphyllum barbieri, atau Anubias spp., boleh ditambahkan kalau mau. Tanaman ini punya keuntungan tambahan karena bisa diikatkan ke dekorasi sedemikian rupa sehingga memberi naungan yang berguna.
Selain itu, pastikan ada banyak tempat bersembunyi, karena Syncrossus spp. punya rasa ingin tahu tinggi dan tampaknya senang menjelajahi lingkungannya. Batu, kayu, pot bunga, dan ornamen akuarium bisa dikombinasikan sesuka hati untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
Ingat bahwa loach ini suka menyelinap ke celah dan rongga sempit, jadi hindari benda bersisi tajam, dan setiap celah/lubang yang cukup kecil sampai bisa membuat ikan terjepit sebaiknya ditutup dengan lem silikon khusus akuarium. Tutup yang rapat juga wajib karena sesekali ikan ini bisa melompat.
Walaupun botiid tidak memerlukan arus yang sangat deras seperti yang disukai banyak balitorid/nemacheilid, ikan ini paling baik dipelihara di air yang kaya oksigen dengan arus tertentu, tidak tahan terhadap penumpukan limbah organik, dan butuh air yang benar-benar bersih agar tumbuh baik. Karena itu, ikan ini jangan pernah dimasukkan ke akuarium yang siklus nitrogennya belum matang, dan paling mudah beradaptasi di akuarium yang stabil dan sudah matang. Untuk perawatan, ganti air mingguan sebanyak 30–50% volume akuarium sebaiknya dianggap rutinitas.1
Diberi pakan apa?
Meskipun Syncrossus spp. tampaknya pada dasarnya karnivora, ikan ini juga mau makan bahan nabati kalau tersedia, kadang termasuk tanaman air berdaun lunak.
Umumnya tidak pilih-pilih makanan, tetapi sebaiknya diberi pakan yang bervariasi, terdiri dari pakan kering berkualitas, cacing darah hidup/beku, cacing sutra, artemia, dan sebagainya, ditambah buah dan sayuran segar seperti mentimun, melon, bayam yang sudah direbus sebentar, atau zukini.
Cacing tanah yang dipotong-potong juga bisa jadi sumber protein yang berguna, tetapi sebaiknya diberikan secukupnya saja, sedangkan pakan gel buatan sendiri dari campuran bahan-bahan alami sangat dianjurkan. Ikan ini juga memangsa siput air, tetapi jangan dianggap sebagai solusi untuk wabah siput, karena kalau ada pilihan makanan lain, ikan ini akan memilih yang lain itu. Setelah betah di akuarium, ikan ini jadi berani saat makan dan sering naik sampai ke bagian tengah kolom air.1
Bisa dicampur dengan ikan apa?
Bisa agresif dan sebaiknya tidak dicampur dengan ikan yang jauh lebih kecil, karena ikan-ikan tersebut bisa terintimidasi oleh ukuran dan perilakunya yang kadang sangat aktif. Spesies yang lamban dan bersirip panjang seperti cupang hias, guppy, dan banyak jenis cichlid juga sebaiknya dihindari karena siripnya yang menjuntai bisa digigiti.
Pilihan yang lebih cocok adalah cyprinid perenang cepat yang hidup di kolom air, seperti banyak spesies Devario, Rasbora, 'Puntius', Mystacoleucus, dan beberapa Danio spp., sedangkan di akuarium yang lebih besar, genus Barilius, Luciosoma, Balantiocheilos, dan Barbonymus bisa jadi pilihan.
Untuk ikan penghuni dasar, spesies ini sering disebut cocok dicampur dengan spesies botiid lain yang kuat, meskipun pengalaman orang berbeda-beda dan ada yang melaporkan agresi berlebihan. Beberapa loach cobitid/nemacheilid juga bisa dipertimbangkan, begitu pula anggota Epalzeorhynchos, Crossocheilus, dan Garra, serta banyak lele/catfish yang tidak teritorial. Seperti biasa, riset yang teliti sebelum memilih komunitas ikan adalah cara terbaik untuk menghindari masalah.
Loach ini suka hidup berkelompok, membentuk hierarki sosial yang kompleks, dan sebaiknya dipelihara dalam kelompok minimal 5 atau 6 ekor, lebih baik 10 ekor atau lebih. Kalau dipelihara sendirian, ikan ini bisa jadi pemurung atau agresif terhadap ikan yang bentuk tubuhnya mirip, dan kalau hanya dibeli sepasang atau tiga ekor, individu yang dominan biasanya akan berulang kali menyerang yang lain dan bisa menghalangi mereka makan.
Meski begitu, sebagian besar botiid memang butuh kontak rutin dengan sesamanya, yang terlihat dari sejumlah ritual perilaku yang secara konsisten teramati di akuarium (lihat 'Catatan').1
Teman satu akuarium
- Perilaku
- Agak agresif
- Kelompok minimal
- 5 ekor
Hindari
Saran berdasarkan suhu, pH, ukuran, dan sifat tiap spesies. Cek kecocokan dengan spesies lain →

Bagaimana membedakan jantan dan betina?
Betina dewasa seharusnya tampak jelas lebih gemuk daripada jantan dan mungkin juga tumbuh lebih besar. Sejauh yang diketahui, perbedaan lain belum terdokumentasi.1
Bagaimana cara berkembang biaknya?
Tampaknya belum pernah dipijahkan di akuarium. Di alam diperkirakan memijah secara musiman sambil bermigrasi.1
Di mana habitat aslinya?
Dideskripsikan dari dekat kota Palembang, sehingga diperkirakan berasal dari daerah aliran Sungai Musi, Provinsi Sumatera Selatan, Sumatra, Indonesia. Sejak itu juga tercatat di bagian lain Sumatra, serta di Negara Bagian Sarawak (Malaysia) dan Provinsi Kalimantan Barat di Pulau Kalimantan.
Spesies ini juga diketahui ada di sistem sungai Pahang dan Perak di Semenanjung Malaysia, tetapi mungkin sudah hilang di sana karena sejak 1955 hanya satu spesimen yang terkonfirmasi tercatat. Kemungkinan keberadaannya di Jawa juga masih diragukan.1

Habitat alami
S. hymenophysa tercatat di berbagai tipe habitat, mulai dari anak sungai kecil di hulu dataran tinggi sampai alur utama sungai dan danau. Pada musim hujan, ikan ini bermigrasi ke daerah yang tergenang banjir untuk mencari makan dan memijah, sehingga biotop tempat ia ditemukan berbeda-beda tergantung waktu dalam setahun.
Habitatnya sendiri juga berubah-ubah; misalnya arus dan kedalaman air cenderung meningkat tajam saat musim hujan. Kekeruhan dan pH biasanya ikut naik pada periode ini, sementara suhu air turun. Menurut Kottelat dan Widjanarti (2005)[6], ikan ini sering dijumpai di sekitar benda-benda yang terendam seperti dahan pohon, akar, batang kayu yang mengapung, atau bagian dari struktur rumah.
Di Taman Nasional Danau Sentarum yang sangat kaya spesies, di daerah aliran Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, spesies ini hidup simpatrik dengan lebih dari 200 takson lain, antara lain Barbonymus schwanenfeldii, Crossocheilus oblongus, Cyclocheilichthys janthochir, Epalzeorhynchos kalopterus, Paracrossochilus vittatus, 'Puntius' endecanalis, 'P.' everetii, 'P.' kuchingensis, 'P.' trifasciatus, Rasbora caudimaculata, R. cephalotaenia, R. sarawakensis, R. trilineata, Trigonopoma gracile, T. pauciperforatum, Homaloptera nebulosus, H. orthogoniata, Nemacheilus saravacensis, N. spiniferus, Vaillantella cinnamomea, Chromobotia macracanthus, Pangio semicincta, Hemibagrus wyckii, Mystus castaneus, M. singaringan, Kryptopterus bicirrhis, Datnioides microlepis, Nandus nebulosus, Helostoma temminckii, Channa pleurophthalma, dan Mastacembelus erythrotaenia.1
Catatan
Spesies ini kadang tertukar dengan S. helodes, yang berasal dari Thailand, Laos, Kamboja, dan Vietnam bagian selatan, tetapi berbeda dalam beberapa hal. Yang paling jelas: S. hymenophysa punya bintik gelap di sirip punggung dan tidak punya tanda-tanda gelap kecil di separuh bawah tubuh. Selain itu, spesies ini punya 12–15 garis tegak di tubuh dengan tepi kebiruan, sedangkan S. helodes punya 10–12 garis tanpa tepi kebiruan.
Syncrossus dibedakan dari genus botiid lain dengan adanya tonjolan anterior berbentuk sabit yang unik pada premaxilla, yang mengelilingi rongga di antara tonjolan kiri dan kanan; selain itu tonjolan rostralnya pendek dan tanpa punggung (ridge) di sepanjang tepi dalamnya.
Anggota genus ini juga bisa dibedakan melalui kombinasi ciri berikut: lobus mental tidak berkembang menjadi sungut dan memiliki sepasang papila berdaging di tepi depannya; fontanel fronto-parietal besar dan lebar; ruang depan gelembung renang sebagian tertutup kapsul tulang dan ruang belakangnya besar; bagian atas supraethmoid sempit; foramen optik besar; duri suborbital tidak terlalu melengkung ke belakang dan bercabang dua (bifid); kepala tidak bersisik (berdasarkan Taki, 1972: 74, 76); pola warnanya berupa garis-garis tegak yang teratur dan sempit, sementara beberapa spesies memiliki tambahan deretan bintik hitam memanjang.
Famili Botiidae pertama kali diusulkan sebagai kelompok yang berbeda secara genetik oleh Nalbant (2002); sebelumnya kelompok ini dianggap sebagai subfamili (Botiinae) dari famili Cobitidae. Nalbant juga memindahkan beberapa anggota Botia ke genus baru Yasuhikotakia berdasarkan sejumlah ciri morfologi.
Kemudian Kottelat (2004) melakukan perubahan lebih lanjut pada taksonominya, dengan membentuk genus baru Chromobotia untuk B. macracanthus dan menegaskan bahwa spesies yang sebelumnya dimasukkan ke genus Hymenophysa seharusnya dimasukkan ke Syncrossus.
Perubahan yang pertama didasarkan pada pola warna ditambah beberapa ciri morfologi, sedangkan yang kedua karena Hymenophysa bukan hanya merupakan salah ejaan (ejaan asli McClelland adalah Hymenphysa) tetapi juga sinonim junior dari Botia. Sebagai hasil dari kajian-kajian ini, famili Botiidae mencakup tujuh genus yang terbagi menjadi dua tribus, dengan Botia tampaknya sebagai garis keturunan paling basal:
Tribus Leptobotiini - Leptobotia, Parabotia, Sinibotia. Tribus Botiini - Botia, Chromobotia, Syncrossus, Yasuhikotakia.
Studi filogenetik oleh Tang et al. (2005) dan Šlechtová et al. (2006) sebagian besar menegaskan bahwa sistem ini benar, meskipun studi yang kedua tidak setuju dengan penempatan Sinibotia dan mendapati genus ini lebih dekat kekerabatannya dengan tribus Botiini.
Menariknya, Yasuhikotakia nigrolineata dan Y. sidthimunki ternyata berkerabat lebih dekat dengan Sinibotia maupun Syncrossus dibandingkan dengan spesies Yasuhikotakia lainnya, meskipun tidak ada perubahan tata nama yang dilakukan, dengan alasan masih diperlukan kajian yang lebih rinci. Šlechtová et al. juga mengusulkan penggunaan nama subfamili dengan sistem berikut:
Subfamili Leptobotiinae - Leptobotia, Parabotia. Subfamili Botiinae - Botia, Chromobotia, Sinibotia, Syncrossus, Yasuhikotakia.
Di antara kelompok-kelompok ini, Botia tampaknya merupakan garis keturunan basal, yaitu yang paling tua, dan dalam analisis filogenetik yang lebih rinci, Šlechtová et al. (2007) menegaskan keabsahan famili Botiidae dengan semua genus di atas sebagai anggotanya, tanpa dikelompokkan ke dalam subfamili. Sistem terakhir yang lebih sederhana inilah yang saat ini diikuti di sini.
Beberapa pola perilaku Syncrossus spp. sudah cukup sering teramati sehingga diberi istilah non-ilmiah agar mudah dirujuk. Misalnya, saat perebutan dominasi (paling sering terjadi ketika ikan baru dimasukkan ke akuarium baru, atau saat individu baru ditambahkan ke kelompok yang sudah ada), ikan-ikan yang bertarung biasanya kehilangan sebagian besar pola dan warna tubuhnya, fenomena yang dikenal sebagai 'greying out' (memudar jadi abu-abu). Tampilan seperti ini kadang juga terjadi dalam kelompok yang sudah mapan ketika individu berusaha menaikkan peringkat sosialnya, tetapi biasanya tidak perlu dikhawatirkan.
Menariknya, beberapa pengamatan menunjukkan bahwa karakter ikan dengan peringkat tertinggi, atau alfa, tampaknya memengaruhi karakter seluruh kelompok, meskipun harus diakui bahwa studi ilmiah tentang perilaku loach botiid hampir tidak ada. Yang jelas, ikan ini tampaknya menunjukkan semacam 'kepribadian', dengan beberapa individu secara alami lebih berani/lebih agresif daripada yang lain. Ikan alfa biasanya adalah individu terbesar dalam kelompok dan sering kali betina.
Suara juga tampaknya menjadi faktor penting dalam komunikasi, karena loach ini mampu menghasilkan bunyi klik yang bisa terdengar, dan bunyinya makin keras saat ikan sedang bersemangat. Aspek perilaku dari fenomena ini sebagian besar belum diteliti, tetapi bunyi tersebut diduga dihasilkan dari gesekan gigi faring.
Semua Syncrossus spp. memiliki duri di bawah mata yang tajam dan bisa digerakkan, yang biasanya tersembunyi dalam kantong kulit tetapi akan ditegakkan saat ikan stres, misalnya ketika diangkat dari air. Karena itu perlu berhati-hati, sebab duri ini bisa tersangkut di jaring akuarium dan, terutama pada individu yang lebih besar, bisa melukai kulit manusia.
Botiid juga rentan terhadap kondisi yang biasa disebut 'skinny disease' (penyakit kurus), yang ditandai dengan penurunan berat badan. Kondisi ini terutama sering terjadi pada ikan yang baru diimpor dan diduga disebabkan oleh salah satu spesies flagelata dari genus Spironucleus. Penyakit ini bisa diobati, meskipun obat yang dianjurkan berbeda-beda tergantung negaranya. Misalnya, penghobi di Inggris cenderung memakai antibiotik Levamisole, sedangkan penghobi di Amerika Serikat memakai Fenbendazole (alias Panacur).1
Sumber
1 sumber dan pustaka
- Seriously Fish seriouslyfish.com
Bagian-bagian di atas diterjemahkan dari sumber-sumber ini. Setiap paragraf mencantumkan nomor sumbernya.
Referensi
- Alfred, E. R. (1961). Notes on a re-examination of some Bleeker type specimens of Indo-Malayan fresh-water fishes. Part 1, Cobitidae and Homalopteridae. Bulletin of the Raffles Museum 30, 32-37
- Bleeker, P. (1852). Diagnostische beschrijvingen van nieuwe of weinig bekende vischsoorten van Sumatra. Tiental I - IV. Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indië 3, 569-608
- Grant, S. (2007). Mainland fishes of the genus Syncrossus Blyth, 1860 (Teleostei: Botiidae). Ichthyofile Number 2, 1-106
- Kottelat, M. (1998). Fishes of the Nam Theun and Xe Bangfai basins, Laos, with diagnoses of twenty-two new species (Teleostei: Cyprinidae, Balitoridae, Cobitidae, Coiidae and Odontobutidae). Ichthyological Exploration of Freshwaters 9(1), 1-128
- Kottelat, M. (2004). Botia kubotai, a new species of loach (Teleostei: Cobitidae) from the Ataran River basin (Myanmar), with comments on botiine nomenclature and diagnosis of a new genus. Zootaxa 401, 1-18
- Kottelat, M. and E. Widjanarti (2005). The fishes of Danau Sentarum National Park and the Kapuas Lakes area, Kalimantan Barat, Indonesia. Raffles Bulletin of Zoology Supplement 13, 139-173
- Nalbant, T. T. (2002). Sixty million years of evolution. Part one: family Botiidae (Pisces: Ostariophysi: Cobitoidea). Travaux du Museum d'Histoire Naturelle 'Grigore Antipa' 44, 309-333
- Nalbant, T. T. (2004). Hymenphysa, Hymenophysa, Syncrossus, Chromobotia and other problems in the systematics of Botiidae. A reply to Maurice Kottelat. Travaux du Museum d'Histoire Naturelle 'Grigore Antipa' 47, 269-277
- Parenti, L. R. and K. K. P. Lim (2005). Fishes of the Rajang Basin, Sarawak, Malaysia. Raffles Bulletin of Zoology Supplement 13, 175-208
- Roberts, T. R. (1989). The freshwater fishes of western Borneo (Kalimantan Barat, Indonesia). Memoirs of the California Academy of Sciences 14, 1-210
- Šlechtová, V., J. Bohlen, J. Freyhof and P. Ráb (2006). Molecular phylogeny of the Southeast Asian freshwater fish family Botiidae (Teleostei: Cobitoidea) and the origin of polyploidy in their evolution. Molecular Phylogenetics and Evolution 39(2), 529-541
- Tan, H. H. and M. Kottelat (2009). The fishes of the Batang Hari drainage, Sumatra, with description of six new species. Ichthyological Exploration of Freshwaters 20(1), 13-69
- Tang, Q., B. Xiong, X. Yang and H. Liu (2005). Phylogeny of the East Asian botiine loaches (Cypriniformes, Botiidae) inferred from mitochondrial cytochrome b gene sequences. Hydrobiologia 544(1), 249-2581
Foto pembaca
Belum ada foto. Anda memelihara Langli? Kirim fotonya agar semua bisa ikut melihat.

Diskusi
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pengalaman.
Pemeriksaan antispam gagal dimuat sehingga komentar belum terkirim. Coba muat ulang halaman.
Sesuai ketentuan, komentar memerlukan verifikasi pengguna; fitur ini akan segera tersedia.